19 December 2017

Cinta Rasulullah ﷺ (Bag. I): Hidupkan Sunnahnya ﷺ

Oleh: Irfan Abu Naveed al-Atsari
[Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat]

Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.

T
ahun berganti tahun, kaum Muslim senantiasa memperingati momentum peringatan mawlid Sayyidinâ al-Mushthafa Muhammad –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, kelahiran sosok agung pembawa risalah Islam yang diutus Allah –Ta’âlâ- untuk seluruh umat manusia (kâffata li al-nâs, lihat: QS. Saba’ [34]: 28) dan sebagai rahmat bagi semesta alam (lihat: QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107).
Perhatian kaum Muslim terhadap momentum peringatan mawlid, diakui sebagai salah satu bentuk ekspresi kecintaan (mahabbah) terhadap beliau –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, dimana kecintaan (mahabbah) tersebut memang wajib ditumbuhkan dan dipupuk, serta dibuktikan dengan benar sesuai taujih nabawi itu sendiri, bagaimana sebenarnya mendudukkan persoalan mahabbah ini dalam persepektif nabawi?
A.  Menghidupkan Sunnah Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, Bukti Mahabbah Kepadanya
          Salah satu hadits yang mengandung taujih nabawi membuktikan kecintaan terhadap Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, adalah hadits dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- bersabda:   
«مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ»
“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Marwazi, al-Thabrani, al-Lalika’i, Ibn Baththah dan Ibn Syahin)[1]
Hadits yang agung ini, mengandung informasi berharga bagi mereka yang mengaku mencintai Sayyid al-Mursalîn Muhammad al-Mushthafa –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, mengingat hadits yang agung ini mengandung petunjuk dari beliau –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, berkaitan dengan cara membuktikan kecintaan tersebut, berikut ganjaran dari Allah bagi siapa saja yang benar-benar membuktikan cintanya.
Istimewanya, hadits yang agung di atas diungkapkan Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dalam bentuk kalimat syarat (jumlah syarthiyyah), dimana syarat harus senantiasa melekat dan mengiringi apa yang menjadi objek (jawab) syarat[2], sebagaimana diuraikan ulama pakar bahasa, Imam Abu Hilal al-Askari (w. 395 H), ditandai dengan adanya huruf man dan fa jawab syarat:
Pertama, Menghidupkan sunnah nabi –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- adalah syarat mencintainya, berdasarkan ungkapan (مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي), dimana informasi (khabar) agung ini pun diungkapkan Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dengan penegasan berupa huruf qad di depan kata kerja lampau (al-fi’l al-madhi), yang berfaidah menafikan adanya keraguan atas kebenaran informasi tersebut, kebenaran cinta bagi siapa saja yang menghidupkan sunnah Nabi –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-.
Kata kerja ahya dalam ungkapan (مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي), berkonotasi “menghidupkan”, yakni dengan mengamalkan sunnah tersebut.[3] Syaikh Abdurrahman al-Mubarakfuri (w. 1353 H) menegaskan, yakni dengan mengunggulkannya dan menyebarkannya dengan perkataan atau perbuatan.[4]
Namun penjelasan lebih terperinci, diuraikan Imam Izzuddin al-Shan’ani (w. 1182 H) bahwa menghidupkan sunnah, terwujud dengan mengamalkannya, menyiarkannya, dan menafikan penyimpangan kaum yang menyimpang atasnya.[5] Sehingga taujih nabawi ini menunjukkan secara jelas, motivasi yang kuat bagi setiap hamba Allah yang mengaku cinta pada nabi –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, untuk mempelajari sunnahnya, mengamalkannya, menyiarkannya serta membelanya dari penyimpangan kaum sesat dengan meluruskan penyimpangannya, sesuatu yang lazim dilakukan oleh seseorang yang mengaku mencintai sesuatu, sebagai pembuktian bagi pengakuan cintanya.
Kata sunnati, berkonotasi thariqi, yakni jalan hidupku,[6] mencakup seluruh ajaran-ajaran yang beliau gariskan untuk umatnya, baik berupa ucapan (qauliyyah), perbuatan (fi’liyyah) yang dicontohkan Rasulullah–shallâLlahu ’alayhi wa sallam- bagi umatnya. Al-Hafizh Ibn al-Atsir (w. 606 H) menguraikan:
Sunnah asalnya bermakna thariqah (metode) dan sirah (jalan hidup), dan disebutan secara syar’i, yang dimaksud dengannya adalah apa-apa yang Nabi Saw perintahkan, dan beliau Saw larang, serta puji baik berupa perkataan, maupun perbuatan, selain ungkapan ayat al-Qur’an.[7]
Dimana gambaran hidup Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, menggambarkan keteladanan praktis penegakkan Islam secara totalitas (kâffah) dalam seluruh aspek kehidupan, dari mulai kehidupan pribadi, keluarga, hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dari mulai perkara syahadat dan shalat, hingga urusan imamah dan siyasah.
Kedua, Mencintai Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- adalah syarat menjadi penghuni surga, sebagaimana Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- memasukinya, berdasarkan ungkapan (مَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ).
          Kalimat siapa saja yang mencintaiku (مَنْ أحَّنِي), berkonotasi mencintai Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- dan sunnahnya, menjadi pertanda kecintaan terhadapnya, sebagaimana cinta membutuhkan pembuktian dan bukti cinta kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- adalah menegakkan sunnahnya. Dimana hal tersebut diganjar Allah Ta’âlâ- dengan surga-Nya, sebagaimana Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- memasukinya. Diungkapkan dengan ungkapan kata kerja lampau (كَانَ), sebagai penekanan kepastian ganjaran tersebut bagi mereka yang memenuhi syarat agung ini.
Imam Izzuddin al-Shan’ani menguraikan makna (فَقَدْ أَحَبَّنِي), yakni benar-benar cinta kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-, karena sesungguhnya siapa saja yang mencintai seseorang, maka ia akan bertingkah laku seperti pihak yang dicintainya, maka tanda cinta seseorang kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- adalah bertingkah laku sesuai sunnahnya, menolong sunnahnya, serta menyeru manusia kepadanya.[8]
Dimana Al-Shan’ani lalu menegaskan, “Siapa saja yang mengaku mencintai Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- namun tidak menegakkan sunnahnya, maka pengakuan tersebut adalah pengakuan dusta, dan angan-angan batil semata.”[9]
          Padahal mencintai Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- merupakan tuntutan keimanan dan sifat yang terpuji. Al-‘Allamah al-Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi’i (w. 1314 H) menguraikan bahwa cinta kepada Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- termasuk sifat yang terpuji, berdasarkan hadits dari Anas bin Malik r.a., dari Nabi –shallâLlahu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا»
“Tidak beriman salah satu di antara kamu, hingga menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada kepada selain keduanya.” (HR. Ahmad, al-Bazzar)[10]
          Frasa (لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ) berkonotasi tidak beriman dengan iman yang sempurna (îmân[an] kâmil[an]), yang menunjukkan kesempurnaan iman dibuktikan dengan menjadikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya, dimana kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya, dibuktikan dengan cara ittiba’ terhadap Rasulullah –shallâLlahu ’alayhi wa sallam-:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٣١}
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Âli Imrân [3]: 31)



[1] HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2678, bab بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَخْذِ بِالسُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ البِدَعِ), ia berkata: “Hadits ini hasan gharib dari jalur ini.”; Abu Abdillah al-Marwazi dalam Ta’zhîm Qadr al-Shalât (no. 714); Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (no. 9439); Al-Lalika’i dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah (no. 8); Ibn Baththah dalam al-Ibânah al-Kubrâ (no. 51); Ibn Syahin dalam Al-Targhîb fi Fadha’il al-A’mal (no. 527).
[2] Abu Hilal al-Hasan bin Abdullah al-‘Askari, Mu’jam al-Furûq al-Lughawiyyah, Mu’assasat al-Nasyr al-Islâmi, cet. I, 1424 H, hlm. 271.
[3] Ubaidullah al-Rahmani al-Mubarakfuri, Mirât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, India: Idarat al-Buhuts al-‘Ilmiyyah, cet. III, 1404 H, hlm. 281.
[4] Abdurrahman al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jâmi’ al-Tirmidzi, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz VII, hlm. 371.
[5] Muhammad bin Isma’il ‘Izzuddin al-Shan’ani, Al-Tanwîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabah Dar al-Salam, cet. I, 1432 H, juz X, hlm. 55.
[6] Ubaidullah al-Rahmani al-Mubarakfuri, Mirât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, India: Idarat al-Buhuts al-‘Ilmiyyah, cet. III, 1404 H, hlm. 281.
[7] Majduddin Abu al-Sa’adat Al-Mubarak Ibn al-Atsir, Al-Nihâyah fi Gharib al-Hadîts, Beirut: Al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, 1399 H, juz II, hlm. 409.
[8] Muhammad bin Isma’il ‘Izzuddin al-Shan’ani, Al-Tanwir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz X, hlm. 55.
[9] Ibid.
[10] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 13151) Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari “Sanadnya shahih sesuai syarat Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim)”; Al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 7540).         

No comments :

Post a Comment