11 November 2017

Konsepsi Ukhuwah Islamiyah


Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
[Penulis Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah: Tafsir & Balaghah Ayat-Ayat Qur'aniyyah & Hadits-Hadits Nabawiyyah"]


B
erbagai tragedi memilukan yang menimpa kaum Muslim di berbagai penjuru dunia: Rohingya, Suriah, Palestina, dan lainnya, sudah seharusnya mengingatkan kembali kaum Muslim kepada urgensi ukhuwah Islamiyah yang menyokong persatuan, berpijak pada taujih Qur’ani dan Nabawi yang mensyari’atkan ukhuwah yang luhur nilainya, bagaikan cahaya di tengah gelapnya kehidupan individualistik produk kapitalisme.

A.  Pengertian Ukhuwah Islam: Lughawi & Syar’i
Al-Ukhuwwah al-Islâmiyyah terdiri dari dua kata: Pertama, Kata al-ukhuwwah, secara bahasa adalah mashdar dari kata akhâ, bermakna ikatan antara seseorang dengan saudaranya[1]. Kedua, Kata al-Islâmiyyah yang menjadi sifat al-ukhuwwah. Sifat Islami yang melekat kepada ukhuwah merupakan konsep rabbani al-Qur’an dan al-Sunnah, sehingga ia digambarkan sebagai ikatan persaudaraan agung di antara orang beriman yang diikat oleh keimanan (akidah Islam):

هي رابطة شرعيّة ربّانيّة، وثيقة دائمة، تجمع بين كلّ مسلم وجميع المسلمين في كل ناحية وجزء من العالم
Ukhuwah Islamiyah adalah ikatan syar’i nan rabbani, kokoh dan konsisten, yang menyatukan setiap muslim dengan seluruh kaum Muslim di seluruh sisi dan bagian dari dunia ini.[2]

Keimanan yang menjadi landasan ukhuwah ini, mendasari istilah semakna yang digunakan para ulama yakni al-ukhuwwah al-îmâniyyah.

B.  Konsepsi Ukhuwah Islamiyah Menurut Al-Qur’an & Al-Sunnah
Besarnya perhatian al-Qur’an dan al-Sunnah terhadap ukhuwah Islamiyah, ditunjukkan oleh banyaknya dalil-dalil yang mendasari konsep tersebut dalam dua klasifikasi: Pertama, Dalil-dalil yang menegaskan ukhuwah berasaskan akidah Islam dan memerintahkan persatuan. Kedua, Dalil-dalil yang mencela ashabiyyah, serta melarang perpecahan dan permusuhan. Allah Swt berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {١٠}
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kalian menjadi golongan yang dirahmati.” (QS. Al-Hujurât [49]: 10)

Allah SWT mengumpamakan hubungan di antara orang-orang yang beriman sebagai hubungan saudara senasab (ikhwah). Kata ikhwah (إخوة) adalah jamak dari akh[un] (أخ)[3], yang berkonotasi ikatan persaudaraan karena nasab atau sedarah, sebagaimana diisyaratkan dalam Mukhtâr al-Shihâh: “Kata al-ikhwân banyak digunakan untuk menggambarkan hubungan pertemanan, sedangkan kata al-ikhwah banyak digunakan untuk hubungan sedarah (saudara kandung).”[4]
Artinya, orang-orang beriman bagaikan saudara senasab dalam hal saling mengasihi.[5] Menurut Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, dalam ilmu balaghah ungkapan ini merupakan penyerupaan yang kuat (tasybîh balîgh), yang diungkapkan tanpa menyertakan perangkat penyerupaan (adat al-tasybîh) dan gambaran dari irisan kesamaannya (wajh al-syabah).[6] Imam al-Jurjani al-Nahwi (w. 474 H) dalam Dalâ’il al-I’jâz,[7] menjelaskan bahwa tasybîh berfaidah menguatkan makna dan pengaruhnya dalam benak pikiran.[8] Diperkuat adanya pengkhususan (qashr) dari ungkapan huruf innamâ (إِنَّمَا) yang mengawali topik informasi, yang menegaskan makna yang dimaksud, meringkas perkataan.[9]
Allah SWT mengaitkan persaudaraan dengan keimanan, menunjukkan bahwa ikatan persaudaraan tersebut lahir dari keimanan (akidah Islam), sehingga bisa disimpulkan bahwa akidah Islam menjadi pengikat satu sama lain. Ikatan ini yang ditegaskan al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1396 H) sebagai ikatan yang benar untuk mengikat kaum Muslim[10], ikatan ideologis yang kokoh, dilandasi oleh prinsip yang mengakar dan menghujam dalam dada-dada orang beriman.
Persaudaraan karena dîn ini (al-ukhuwwah fî al-dîn), ditegaskan al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) lebih kokoh daripada persaudaraan karena nasab[11], dan ia menjadi ’illat (alasan) perintah untuk mengadakan perbaikan (ishlâh), sehingga petunjuk terhadap ukhuwah ini dilanjutkan dengan perintah ishlâh.[12] Istimewanya, Allah Swt menutup ayat ini dengan perintah bertakwa, sekaligus menginformasikan hikmah dibaliknya pada kalimat la’allakum turhamûn, yakni agar dirahmati Allah. Perintah takwa di akhir ayat ini hukumnya fardhu, sehingga menjadi petunjuk tegas (qarînah jâzimah) atas kewajiban menegakkan ukhuwah Islamiyah.
Dr. Abdullah Nashih Ulwan pun menegaskan bahwa ukhuwah adalah konsekuensi keimanan dan buah agung ketakwaan, dimana tiada ukhuwah tanpa iman, tiada iman tanpa ukhuwah (lihat: QS. Al-Hujurât [49]: 10), dan tiada kedekatan (dengan saudara seiman) tanpa ketakwaan dan tiada ketakwaan tanpa kedekatan (lihat: QS. Al-Zukhruf [43]: 67).[13] Allah Swt. pun menjadikan pertaubatan, penegakkan shalat dan penunaian zakat sebagai syarat bagi persaudaraan dalam dîn ini (fa ikhwânukum fi al-dîn):

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ {١١}
“Dan jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu dalam Din ini.” (QS. Al-Taubah [9]: 11)

Dalam ayat lainnya, Allah SWT menyebut orang-orang yang beriman satu sama lain sebagai auliyâ’ (teman setia), yang direalisasikan dalam bentuk saling menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar (QS. Al-Taubah [9]: 71), serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al-’Ashr [103]: 1-3). Itu semua menunjukkan bahwa keimanan dan ketakwaan adalah landasan ukhuwah Islamiyah, dan dakwah adalah cerminan ukhuwah yang tak boleh dipandang sebelah mata. Diperjelas perintah untuk berpegang teguh kepada tali dînuLlâh dengan berdakwah, yang menyatukan qalbu, menjauhkan dari perpecahan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا {١٠٣}
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Âli Imrân [4]: 103)

Dalam ayat ini, Allah Swt. memerintahkan bersatu, berpegang teguh pada dînuLlâh, dimana hal tersebut menjauhkan dari perpecahan, menguatkan terjalinnya kalbu dan persaudaraan di antara orang beriman, yang Allah Swt sifati sebagai kenikmatan dari-Nya (lihat pula: QS. Al-Anfal [8]: 63), al-Hafizh Ibn al-Jauzi (w. 597 H) menuturkan: “Ketahuilah bahwa kalimat bermakna yang menyatukan antara kaum Muslim adalah Islam, sungguh mereka meraih ukhuwah yang prinsipil dengan Islam, dimana Islam mewajibkan mereka dengan ukhuwah ini hak-hak satu sama lain.”[14] Ibn al-Jauzi lalu menukil hadits shahih:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
“Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling cinta, kasih sayang dan simpati di antara mereka seperti satu tubuh; jika salah satu organ sakit maka seluruh tubuh demam dan tak bisa tidur.” (HR Muslim dan Ahmad)

Diperindah dengan perumpamaan-perumpamaan Rasulullah Saw. yang menggambarkan kaum Muslim layaknya satu bangunan yang saling menguatkan, satu tubuh yang saling menyatu:

«إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
“Sesungguhnya orang beriman bagi orang beriman lainnya, bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, al-Nasai, al-Tirmidzi dan Ahmad)

«إِنَّ الْمُؤْمِنَ مِنْ أَهْلِ الإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ يَأْلَمُ الْمُؤْمِنُ لأَهْلِ الإِيمَانِ كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ لِمَا فِى الرَّأْسِ»
“Sesungguhnya seorang Mukmin bagi Mukmin yang lain berposisi seperti kepala bagi tubuh. Seorang Mukmin akan merasakan sakitnya Mukmin yang lain seperti tubuh ikut merasakan sakit yang menimpa kepala.” (HR. Ahmad)

Hadits-hadits di atas, merupakan hadits yang kuat dan mendalam maknanya diungkapkan oleh semulia-mulianya insan dan sefasih-fasihnya lisan, yang mulia Rasulullah Saw., dalam bentuk tasybîh (penyerupaan) yang menegaskan maknanya dan membuahkan pengaruh kuat dalam benak pikiran. Diperkuat adanya taukîd huruf inna yang mengawali informasi, menegaskan kebenarannya dan menafikan keraguan atasnya.
Tuntutan penegakkan ukhuwah Islamiyah dipertegas al-Qur’an dan al-Sunnah yang mencela perpecahan di atas kesesatan, dan fanatisme terhadap kesesatan (ashabiyyah) yang membuahkan permusuhan (’adâwah). Allah Swt berfirman:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {٣١} مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ {٣٢}
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Al-Rûm [30]: 31-32)

Lihat pula QS. Al-Mu’minûn [23]: 52-53, QS. Âli Imrân [3]: 105. Dalam ayat-ayat di atas, disebutkan salah satu karakter dari kelompok-kelompok yang berpecah belah, menyimpang dari kebenaran adalah berbangga-bangga dengan kelompoknya masing-masing, dengan kesesatan yang ada di sisi mereka berupa kesesatan dan kekufuran. Kebanggaan ini merupakan ta’ashub yang dicela syari’ah. Rasulullah Saw. pun bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ»
“Tidaklah termasuk golongan kami, siapa saja yang menyeru kepada ‘ashabiyyah, dan bukanlah termasuk golongan kami, siapa saja yang berperang di atas ‘ashabiyyah, dan bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang mati di atas ‘ashabiyyah.” (HR. Abu Dawud)

Frasa laysa minnâ, ”bukan golongan kami” merupakan ancaman serius bagi siapa saja yang terjangkit penyakit ashabiyyah, menjadi indikasi tegas keharaman atas keyakinan dan perilaku ashabiyyah, yang ditegaskan oleh al-Mulla al-Qari (w. 1014 H) sebagai semangat jahiliyah (hamiyyat al-jahiliyyah).[15] Ashabiyyah dalam hadits ini diungkapkan dalam bentuk nakirah, menunjukkan keluasan cakupannya, mencakup fanatisme buta terhadap ikatan-ikatan yang menyalahi dan merusak ukhuwah Islamiyah.

C.  Membangun Kembali Spirit Ukhuwah Islamiyah
Menegakkan ukhuwah Islamiyah merupakan konsekuensi keimanan, yang membuktikan kecintaan terhadap persatuan kaum Muslim di atas asas Islam, dan membenci perpecahan karena kesesatan. Berkaca dari proses tatsqif Rasulullah Saw., maka menegakkan ukhuwah:
Pertama, Dimulai dari meluruskan keyakinan dan memurnikan pemikiran dari berbagai unsur perusak, semisal keyakinan dan pemikiran jahiliyah yang mengunggulkan ikatan-ikatan lain di atas ikatan akidah Islam, berpijak dari konsep asas keimanan sebagai asas ukhuwah Islamiyah, dan keimanan yang mencakup prinsip al-walâ’ wa al-bara’.
Kedua, Dari asas yang jernih mengakar kokoh dalam jiwa seorang Mukmin, akan tumbuh buah manis ukhuwah Islamiyah yang mendorong kepeduliannya terhadap Mukmin lainnya, melampaui jauh sekat-sekat ’ashabiyyah. Ukhuwah ini harus dipupuk dengan ilmu dan amal, mengikuti pembinaan Islam, dan riyâdhah berdakwah untuk menumbuhkan kepedulian.
Dakwah yang juga harus menyentuh aspek keimanan, meluruskan keyakinan dan pemikiran umat dari berbagai kotoran dan debu jahiliyah, serta menyeru mereka untuk kembali bersatu: menjalin keterikatan kalbu dengan ikatan akidah dan pemikiran Islam, hingga bersatu dalam satu kepemimpinan Islam.
Ketiga, Mewujudkan persatuan kaum Muslim di bawah satu panji kepemimpinan Islam, berpegang teguh di atas tali dînuLlâh, yang kokoh dengan menerapkan Islam kâffah dalam kehidupan, membentuk masyarakat Islam: satu pemikiran, satu perasaan, satu sistem hukum yakni Islam. Wa biLlâhi al-taufîq. []



[1] Dr. Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-’Arabiyyah al-Mu’âshirah, ’Alam al-Kutub, cet. I, 1429 H, I/73.
[2] Prof. Dr. Isma’il Ali Muhammad, Al-Ukhuwwah al-Islâmiyyah, Dâr al-Kalimah, cet. II, 1433 H, hlm. 10.
[3] ‘Ali Ibn Sidah al-Mursi, Al-Mukhashshish, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts, cet. I, 1417 H, IV/145.
[4] Muhammad Abu Bakr al-Razi, Mukhtâr al-Shihâh, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet. V, 1420 H, hlm. 14.
[5] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, Damaskus: Dâr al-Fikr, cet. II, 1418 H, XXVI/235.
[6] Ibid.
[7] Abdul Qahir al-Jurjani, Dalâ’il al-I’jâz, Kairo: Maktabah al-Khanji, cet. V, 2004, hlm. 425.
[8] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, KSA: Univ. Islam Ibn Su’ud, hlm. 126-127.
[9] Dr. Abdul Aziz al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, Beirut: Dâr Ibn Hazm, cet. II, 1432 H, hlm. 37.
[10] Taqiyuddin al-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, Beirut: Dâr al-Ummah, hlm. 12.
[11] Syamsuddin al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Kairo: Dâr al-Kutub al-Mishriyyah, cet. II, 1384 H, XVI/322.
[12] Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, XXVI/235.
[13] Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Al-Ukhuwwah al-Islamiyyah, Dâr al-Salâm, hlm. 4.
[14] Ibn al-Jauzi, Al-Tabshirah, Beirut: Dâr al-Kutub, cet. I, 1406 H, II/273.
[15] Abu al-Hasan Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, VII/3068.

No comments :

Post a Comment