03 Oktober 2017

Kesempurnaan Islam: Hingga Membimbing Insan Menghadapi Kematian

📜 Irfan Abu Naveed al-Atsari, M.Pd.I
Penulis "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah: Tafsir & Balaghah Ayat-Ayat Al-Qur'an & Hadits-Hadits Dakwah"


Tiada kenikmatan yang lebih agung daripada nikmat iman dan Islam? Hingga Islam pun membimbing insan mempersiapkan diri menjemput tibanya kematian. Hingga Allah ’Azza wa Jalla pun berfirman:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ {١٠٢}
“Dan janganlah sekali-kali kamu (wahai orang-orang yang beriman) mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

          Ayat ini, bukan larangan untuk mati dan tak bisa dipahami sebagai perintah untuk menghindari kematian, karena kematian sesuatu yang pasti datang. Fadhilatusy Syaikh ’Atha bin Khalil -hafizhahuLlâh- menguraikan:

Yakni hendaklah kalian senantiasa teguh di atas Islam, hingga kematian menjemput kalian. Yakni tidaklah tiba kematian dan kalian benar-benar golongan yang tunduk dan kepada Allah. Maka larangan dalam ayat ini hakikatnya adalah apa yang bertolak belakang dengan ke-Islaman, ketika tibanya kematian. Bukan larangan terhadap tibanya kematian mereka sendiri. Ungkapan ini seperti perkataan ” لا تصلّ إلا وأنت خاشع” (janganlah engkau shalat kecuali dalam keadaan khusyu’). Maknanya jangan kalian melarang orang tersebut shalat, akan tetapi melarang orang tersebut meninggalkan sikap khusyu’ ketika shalat, sama seperti ungkapan ini, maka larangan dalam ayat di atas bukan larangan terhadap tibanya kematian mereka, melainkan larangan untuk meninggalkan Islam.[1]

Penjelasan senada ditegaskan oleh Imam Tajuddin al-Fakihani (w. 734 H) bahwa ayat ini mendorong hamba-hamba-Nya yang beriman untuk meniti sebab-sebab mati dalam keadaan Islam, yakni mena’ati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.[2] Dimana tiada kenikmatan yang lebih sempurna kecuali tibanya kematian dalam keadaan Islam, sebagaimana diuraikan oleh al-Mulla Ali al-Qari (w 1014 H).[3] Serta Imam al-Munawi (w. 1031 H) menjelaskan atsar dari Ali bin Abi Thalib r.a.[4]

Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإسْلاَمِ ديناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ»
“Siapa saja yang ridha Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai Din-nya, Muhammad sebagai rasul baginya, maka wajib baginya ganjaran surga.”

Maka Abu Sa’id merasa takjub, lalu ia berkata: “Tolong ulang kembali untukku wahai Rasulullah SAW?” Kemudian Rasulullah SAW mengulang kembali perkataannya (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Hibban, al-Nasa’i)[5]

Imam Muhammad Ali Ibn ’Allan al-Syafi’i (w. 1057 H) menjelaskan bahwa di dalam hadits ini terdapat dorongan untuk mati dalam keadaan Islam.[6] Dimana hal tersebut bisa diraih di antaranya dengan menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan, menolong tegaknya DinuLlah dalam kehidupan. Mengapa dakwah?

Dakwah ilaLlâh merupakan salah satu amal shalih yang menjadi sebab turunnya pertolongan Allah. Allah ’Azza wa Jalla berjanji meneguhkan kedudukan mereka yang menolong Din-Nya dan ini menjadi prasyarat bagi datangnya pertolongan dari-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ {٧}
“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)

Perbuatan menolong agama Allah dalam kalimat {إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ} QS. Muhammad [47]: 7, diungkapkan dengan kata kerja al-mudhâri’, yang berfaidah menunjukkan perlunya kesinambungan, konsistensi hingga ajal menjemput. Kalimat {يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} merupakan jawaban (jawâb al-syarth) jika terpenuhinya apa yang menjadi syarat yakni ”menolong dînuLlâh” {إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ}, sehingga Allah memberikan ganjaran berupa pertolongan dari-Nya dan keteguhan diri dalam Islam.

Ungkapan agung yutsabbit aqdâmakum (Dia akan meneguhkan kaki-kaki kalian), merupakan bentuk kiasan (majâz mursal), disebutkan sebagian yakni aqdâm (kaki-kaki) padahal yang dimaksud adalah keseluruhan diri orang yang Allah teguhkan (ithlâq al-juz’i wa irâdat al-kulli). Digunakan istilah kaki-kaki ini, karena ia adalah alat untuk berpijak (adât al-tsabât), sebagaimana diuraikan oleh Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili[7].

Hal ini dimaksudkan untuk menguatkan rasa, menggambarkan keteguhan, yakni teguh dalam Islam, dan dalam peperangan (jihad)[8], serta teguh dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk tantangan-tantangan dalam berdakwah, sebagaimana dialami oleh para nabi dan rasul –’alayhi al-salâm-. Konsisten hingga tiba saatnya untuk memetik hasil jerih payah, tiba waktu yang tepat untuk beristirahat, termasuk golongan yang Allah firmankan dalam ungkapan yang indah:

يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ {٢٧} ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً {٢٨} فَادْخُلِي فِي عِبَادِي {٢٩} وَادْخُلِي جَنَّتِي {٣٠}
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.(QS. Al-Fajr [89]: 27-30)

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ {٦}
“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.” (QS. Al-’Ankabût [29]: 6)

اللّهمّ اجعل آخر كلامنا من الدنيا عند انتهاء أجلنا: أشهد أن لا إلٰه إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله



[1] Ibid.
[2] Abu Hafsh Umar bin Ali Tajuddin al-Fakihani, Riyâdh al-Afhâm fî Syarh ‘Umdat al-Ahkâm, Suriah: Dâr al-Nawâdir, cet. I, 1431 H/2010, juz III, hlm. 177.
[3] Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz IV, hlm. 1688-1689.
[4] Abdurra’uf bin Tajul Arifin al-Munawi, Al-Fath al-Samâwî bi Takhrîj Ahâdîts al-Qâdhi al-Baidhâwi, Riyadh: Dâr al-‘Âshimah, t.t., hlm. 195-196.
[5] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (no. 1884); Ahmad dalam Musnad-nya (no. 11117); Ibn Hibban dalam Shahîh-nya (no. 4612), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Hadits hasan gharib”; Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (no. 8742); Al-Nasa’i dalam Sunan-nya (no. 3131).
[6] Muhammad Ali Ibn ‘Allan al-Syafi’i, Dalîl al-Fâlihîn Li Thuruq Riyâdh al-Shâlihîn, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. IV, 1425 H, juz VII, hlm. 102-103.
[7] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, juz ke-26, hlm. 83.
[8] Ahmad bin Muhammad al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, juz IX, hlm. 31.