16 October 2017

Inilah Alasan Pentingnya Buku Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah



إن الحمد لله نحمده ونستعينه من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

D
inamika positif gerakan-gerakan dakwah pasca runtuhnya Khilafah ’Utsmaniyyah tahun 1924 M, semakin solid dan terarah dalam upaya meninggikan kalimatuLlâh, yakni kalimat agung yang mampu menyatukan kaum Muslim di tengah perpecahan umat disekat oleh fitnah nation state warisan kolonial (‘ashabiyyah wathaniyyah), dan fitnah fanatisme golongan (‘ashabiyyah hizbiyyah).

Dinamika positif ini relevan dengan kenyataan bahwa al-Qur’an dan al-Sunnah menjadikan ikatan akidah Islam sebagai ikatan hakiki yang mengikat kaum Muslim (QS. Al-Hujurât [49]: 10), menjadi inspirasi bagi persatuan umat (wihdat al-ummah) dan menjunjung tinggi ukhuwwah Islâmiyyah. Sebagaimana al-Qur’an pun mendorong umatnya menjadi ummat[an] dâ’iyyat[an] (umat yang berdakwah), meraih predikat khayra ummat[in] (QS. Âli Imrân [3]: 104).

Aktivitas agung mendakwahkan Islam itu sendiri, merupakan jawaban atas seruan Allah ’Azza wa Jalla dalam al-Qur’an[1], dan upaya meniti jalan Rasulullah SAW dan para sahabatnya –radhiyaLlâhu ‘anhum- yang solid berdakwah dalam jama’ah dakwah terorganisir (jamâ’ah dâ’iyyah mutakattilah), sekaligus menjadi langkah awal membangun proyek besar “kebangkitan umat”, membangkitkan umat yang besar ini dari tidurnya yang panjang.

Namun sayang beribu-ribu sayang, mulianya jalan dakwah ini, terusik fenomena menyedihkan adanya mereka yang berguguran, terpalingkan oleh dunianya sendiri, atau berpaling dari idealisme menuju pragmatisme, apa-apa yang dikenal dalam dunia dakwah dengan istilah futûr. Suatu kondisi ketika seorang da’i mengalami stagnasi, terpukul mundur kembali kepada masa ketika ia seakan tertidur, wal ‘iyâdzu biLlâh.

Tak hanya itu, perasaan terdalam kita pun terusik oleh fenomena yang tak kalah menyedihkan, ketika gerakan-gerakan dakwah Islam divonis buruk sebagian oknum yang terjangkit fanatisme golongan (‘ashabiyyah hizbiyyah), dengan beragam vonis yang cukup menyedihkan, ‘satir’ bagi mereka yang menjunjung tinggi ukhuwwah Islâmiyyah. Tak jarang pandangan mata kita dibuat perih dan telinga kita dibuat sakit, membaca dan mendengar vonis: “kelompok sesat pemecah belah agama (firqah dhalâlah)”, “hizbiyyun” (dalam konotasi negatif), “ahli bid’ah” (harakah mubtadi’ah), “kelompok batil” (min al-ahzâb al-bâthilah), dan beragam vonis buruk lainnya yang sudah cukup mendorong kita semua mengucapkan, a’âdzanaLlâhu minhâ, ghafaraLlâhu lanâ wa lahum. Lebih jauh lagi, kaum Muslim pun diuji ketahanannya menghadapi suara-suara sumbang rezim yang menyuarakan pembubaran gerakan dakwah Islam.

Padahal tiada keraguan bahwa dakwah adalah sunnah para rasul utusan Allah –’alayhim al-salâm-. Hingga sejarah agung kaum Muslim pun tak lepas dari langkah demi langkah dakwah yang telah dititi oleh sebaik-baiknya teladan, Rasulullah SAW dan para sahabatnya, yang bersinergi membangun kelompok dakwah, mendakwahkan Islam kepada umat manusia. Diteruskan dari generasi ke generasi, dipelopori oleh para pewaris para nabi, al-ulamâ’ waratsat al-anbiyâ’, disokong oleh hamba-hamba-Nya yang mukhlish, hingga Islam menebarkan rahmatnya sampai ke berbagai penjuru dunia, termasuk Bumi Nusantara tercinta, bi fadhliLlâhi Ta’âlâ.

Bukan jalan mudah semudah membalikkan telapak tangan, torehan tinta emas Rasulullah SAW, para sahabatnya, dan para ulama dalam sejarah peradaban Islam, menjadi bukti kuat tak terbantahkan kesungguhan (jiddiyyah) dan pengorbanan (tadhiyyah) mereka di jalan dakwah. Syaikh Hamd Fahmi Thabib dalam salah satu Risaalah-nya menggambarkan, Para Nabi dan Rasul telah menghadapi berbagai tantangan yang enggan dipikul oleh gunung-gunung yang kokoh sekali pun. Hal itu terjadi di tengah upaya para Nabi dan Rasul menghadapi realita yang rusak, dengan menggunakan pemikiran yang kuat dan tertunjuki. Dan di antara para Nabi dan Rasul itu yang paling besar tantangannya adalah utusan untuk umat ini yaitu Muhammad SAW.”[2]

Maka diperlukan upaya serius mendudukkan persoalan dakwah dan eksistensi gerakan-gerakan Islam ini, dengan mengembalikan topik ini kepada ashl (pokok) ajaran Islam yakni al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah, salah satunya al-Qur’an surat Âli Imrân [3]: 104, diperjelas petunjuk-petunjuk agung dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah dalam topik yang sama. Itu semua  dikaji dan disajikan secara mendalam dalam buku ini, sebagai motivasi nafsiyyah berdakwah, dan solid berjama’ah dalam gerakan dakwah, -bi ‘auniLlâhi wa bi taufîqihi-.

Bagaimana mendudukkan persoalan dakwah berdasarkan al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah? Bagaimana memahami syar’iyyah berdirinya gerakan-gerakan dakwah? Bagaimana karakteristik gerakan-gerakan dakwah yang dikehendaki al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah? Bagaimana menampik syubhat-syubhat vonis buruk terhadap gerakan dakwah? Apa kaitan antara dakwah dan nashruLlâh? Itu semua menjadi pertanyaan penting, yang kemudian penyusun jawab berdasarkan kajian ilmiah atas al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah dalam buku sederhana ini, dengan catatan:

Pertama, Tinjauan tafsir dan hukum yang digali dari al-Qur’an dan hadits-hadits  nabawiyyah dengan metode tafsir maudhu’i (tafsir tematik), dengan berupaya merujuk kepada kajian tafsir al-Qur’an dan syarah hadits para ulama mu’tabar.

Kedua, Pendekatan kajian tafsir balaghi (ma’ani dan bayani) serta pendekatan kajjian siyasi, untuk membumikan pesan-pesan agung nan mendalam dalil-dalil al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah, sebagai motivasi kuat dari Allah ’Azza wa Jalla untuk berdakwah dan solid berjama’ah.

Metodologi penelitian buku ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan library research. Secara umum data-data yang digunakan adalah data-data primer dan sekunder mencakup mushaf al-Qur’ân al-Karîm dan literatur-literatur ilmiah yang mengkaji ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah yang membicarakan topik dakwah, mencakup literatur kajian tafsir al-Qur’an, syarah hadits serta balaghah al-Qur’an dan hadits, diantaranya:

1.    Buku tafsir Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân karya al-Hafizh Muhammad bin Jarir al-Thabari (w. 310 H), yang merupakan induk dari semua kitab tafsir, dengan corak bi al-ma’tsûr yaitu dengan menukil pendapat para sahabat dan tabi’in disertai sanadnya.[3]
2.    Buku tafsir Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân karya al-Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi (w. 671 H), tafsir ini menggunakan metodologi bi al-ra’y (al-dirâyah)[4], dengan corak penulisan hampir serupa dengan penulisan ulama fikih dan membahas suatu permasalahan fiqhiyyah secara detail.[5]
3.    Buku Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm karya al-Hafizh Abu al-Fida’ Isma’il bin ’Umar -Ibnu Katsir- al-Dimasyqi (w. 774 H), dengan metode bi al-ma’tsûr.[6]
4.    Buku tafsir Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr: Sûrat al-Baqarah karya al-’Alim al-Syaikh ’Atha bin Khalil Abu Al-Rasythah.
5.    Buku Al-Tafsîr al-Munîr fî al-’Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, karya Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili (w. 1436 H), buku tafsir ini memuat tinjauan manhaj, akidah dan syari’ah, dengan ulasan mencakup kajian mufradat dan balaghah.[7]
6.    Buku h al-Ma’âni fî Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm wa al-Sab’u al-Matsani, Imam Syihabuddin Mahmud bin Abdullah Al-Alusi (w. 1342 H), dengan corak tafsir ma’ani-bayani.

       Begitu pula referensi-referensi mu’tabarah lainnya, yang tak bisa disebutkan satu persatu, bisa dilihat pada daftar pustaka buku ini, dengan kerangka penulisan tematik yang satu sama lain saling terkait, semata-mata mengambil keberkahan dan faidah ilmu para ulama, melestarikan turats mereka dengan mengikat ilmu yang tak boleh hilang dimakan zaman, tenggelam dalam kubangan kejahilan. Umar bin al-Khaththab r.a. berpesan:
«قيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ»
Ikatlah ilmu dengan buku (menuliskannya).”[8]

Pengantar & Testimoni KH. Hafidz Abdurrahman MA & Lainnya: Link
Selamat membaca! Berminat menyisihkan sebagian kecil hartanya untuk memahami ilmu berharga para ulama dalam buku ini? Silahkan dipesan, isi dan kirim:

Jumlah                 :
A.n                        :
No. Kontak           :
Alamat Tujuan     :

Kirim sms/WA ke : +62858 6183 3427




[1] Salah satunya QS. Âli Imrân [3]: 104.
[2] Hamd Fahmi Thabib, Al-Khilâfah al-Râsyidah al-Mau’ûdah wa al-Tadhhiyât, _________
[3] Akhmad Alim, Tafsir Pendidikan Islam, Jakarta Selatan: AMP Press, cet. I, 2014, hlm. 19.
[4] Ibid, hlm. 15-16.
[5] Ibid, hlm. 19-20. Buku ini membuang kisah dan sejarah diganti dengan hukum dan istinbath dalil, juga i’rab, qira’ah, nasikh dan mansukh
[6] Ibid, hlm. 19. Buku ini hampir sama dengan metode dalam buku tafsir al-Thabari, hanya saja tafsir ini lebih ringkas dan lebih mudah dipahami.
[7] Buku ini menggunakan sistematika pembahasan yang memaparkan keterkaitan dengan ayat sebelumnya (munâsabah), kandungan makna kosakata (mufradât lughawiyyah), kajian i’rab dan balaghah al-Qur’an (al-i’râb wa al-balâghah), dan kandungan makna tafsir (al-tafsîr wa al-bayân).
[8] Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘alâ al-Shahîhain, (no. 360). Disebutkan pula bahwa atsar tersebut dari Ibn Abbas r.a. dan Anas bin Malik r.a.

No comments :

Post a Comment