01 Oktober 2017

Hukum Mengemban Panji Al-Râyah & Al-Liwâ’ dalam Aksi Unjuk Rasa (Di Luar Jihad)


Pertanyaan

Assalamu'alaikum, ustadz, saya ada pertanyaan (sekaligus pernyataan) begini:

Bendera rosul biasanya dikibarkan untuk perang jihad fi sabilillah, klo buat demo ada hadistx tidak?.. mohon pencerahannya dari mas2 senior.

Kalau bendera Rosul lebih pas untuk berhadapan dg orang kafir yg shorih (jelas) seperti Jihad Afghan awal waktu melawan komunis + Rusia, penjajah Israil, Budha penjajah/pembantai muslim rohingya.

Lah kalau demo ini lawan siapa? Secara dzahir semua muslim, cuma beda aspirasi politiknya. Yang pas pakai bendara qobilah/ormas masing-masing....

Jawaban
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Pertama, Mengemban Panji Al-Râyah & Bendera Al-Liwâ’ dalam Jihad Merupakan Mandat Resmi Kenegaraan dari Khalifah

Terkait mengemban panji al-Raayah, kalau dengan logika penanya yang mempertanyakan dalil penggunaannya ketika aksi unjuk rasa mengoreksi penguasa, maka pertanyaan serupa sebenarnya muncul terkait penggunaan panji al-Raayah yang diemban dalam jihad tanpa ada mandat dari Khalifah, karena hadits-hadits nabawiyyah terkait mengemban panji al-Raayah dalam jihad, menunjukkan bahwa mengemban al-Raayah dan al-Liwa’ itu adalah mandat khusus kenegaraan, yang diserahkan secara resmi oleh Khalifah kepada komandan para kata’ib, disamping bendera al-Liwa’ yang diserahkan kepada Komandan jihad, mengingat keduanya merupakan simbol kepemimpinan resmi negara dalam aktivitas jihad. 

Berdasarkan dalil-dalil al-sunnah dan atsar, tak dapat dipungkiri bahwa al-liwâ dan al-râyah, merupakan simbol kenegaraan Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam-, hal itu ditandai dengan praktik Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam- sebagai kepala negara sekaligus komandan pasukan perang, yang menjadikan al-liwâ’ ditangannya semisal ketika Fathu Mekkah, atau diserahkan kepada orang yang ditunjuknya secara resmi untuk memimpin pasukan perang, di antara dalilnya adalah sabda Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam- ketika Perang Khaibar:

«لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ»
”Sungguh aku akan memberikan al-râyah kepada seseorang, ditaklukkan (benteng) melalui kedua tangannya, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya)[1]

Ketika bendera al-liwâ’ diserahkan Khalifah kepada pemimpin pasukan perang, maka ia menjadi simbol pemegang komando peperangan, sekaligus pemersatu para komandan detasemen pemegang al-râyah dan para pasukan itu sendiri. Ibn Bathal menjelaskan bahwa hadits di atas menunjukkan bahwa tidak ada yang berhak memegang bendera dan panji ini (dalam jihad) kecuali orang yang ditunjuk oleh al-Imam (Khalifah) saja, tidak diemban seseorang pun kecuali dengan adanya mandat kekuasaan (kewenangan dan kedudukan Khalifah-pen.).[2]

Ibn Bathal pun menukil penuturan al-Muhallab bahwa dalam hadits al-Zubair r.a., terdapat petunjuk bahwa al-râyah tidak diserahkan kecuali dengan izin al-Imam (Khalifah); karena ia merupakan simbol kekuasaan Khalifah, dan kedudukannya. Maka tidak boleh ada penyerahan mandat bendera dan panji ini kecuali berdasarkan perintah Khalifah. Semua penjelasan tersebut, secara spesifik dirinci oleh Ibn Bathal dalam satu bab khusus (مَا قِيلَ فِى لِوَاء النَّبِىِّ (صلى الله عليه وسلم)).[3]

          Hadits ini merupakan nas yang menunjukkan mandat resmi tersebut.[4] Ibn Hajar al-’Asqalani (w. 852 H) pun mencontohkan, bahwa Qais bin Sa’ad r.a. adalah salah seorang yang pernah menerima mandat memegang bendera Nabi r[5], dan hal itu tidak dilakukan kecuali berdasarkan perintah Nabi -shallaLlahu 'alayhi wa sallam-.[6] Sebagaimana Ali bin Abi Thalib r.a dan Sa’ad bin Ubadah r.a yang juga pernah menerima mandat al-râyah dari Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam-.[7] Selengkapnya di sini: Inilah Bendera & Panji Rasulullah SAW: Al-Liwâ’ & Al-Râyah

Kedua, Mengemban Panji Al-Râyah dan Al-Liwâ’ dalam Rangka Syi’ar Islam, Dakwah Memperkenalkan Apa yang Dilupakan Kaum Muslim dari Warisan Nabinya

Berdasarkan penjelasan poin pertama di atas, menyi’arkan panji al-Rayah dan al-Liwa konteksnya saat ini, ketika tiada Khalifah sebagai pemegang kewenangan mandat panji ini dalam jihad, baik diemban oleh mujahidin ataupun para du’at ketika mengoreksi penguasa, jelas tidak sedang mengemban panji mandat dari sosok Khalifah, namun di luar pembahasan ini, yakni dalam konteks syi’ar Islam. Jika dipertanyakan apakah hukumnya boleh atau tidak?

Maka jawabannya boleh, karena mengemban panji al-Rayah dan al-Liwa’, memperkenalkannya kepada masyarakat luas baik ketika unjuk rasa atau selainnya bagian dari dakwah, mengkampanyekan SYI'AR ISLAM berupa panji dan bendera Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam-, yang belum dipahami dan sudah lama dilupakan oleh sebagian kaum Muslim. Dan syi’ar Islam, sebagaimana firman-Nya:

ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ {٣٢}
“Demikianlah (perintah Allah) dan siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu. (QS. Al-Hajj [22]: 32)

Yakni sikap yang lahir dari ketakwaan kepada Allah, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H) menjelaskan bahwa di antara sifat terpuji yang melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, yakni syi’ar-syi’ar Din-Nya.[8] Sifat takwa ini, ditunjukkan oleh sikap para sahabat, dari Anas bin Malik r.a., bahwa Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam- bersabda:

«أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيْبَ، ثُمَّ أَخَذَ جَعْفَرٌ فَأُصِيْبَ، ثُمَّ أَخَذَ اِبْنُ رَوَاحَةٍ فَأُصِيْبَ»
“Zaid mengambil al-Râyah lalu ia gugur, kemudian Ja’far mengambil (al-Râyah) lalu ia gugur, kemudian Ibn Rawahah mengambil (al-Râyah) lalu ia gugur.” (HR. Al-Bukhari & Ahmad)[9]

Ketiga, Aktivitas Unjuk Rasa, Bagian dari Upaya Meraih Keutamaan Aktivitas Dakwah Muhasabah Li al-Hukkam

Di sisi lain, aktivitas mengoreksi penguasa bagian dari upaya meraih keutamaan seutama-utamanya jihad (afdhal al-jihâd), mengingat poin ini sebagaimana penjelasan Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) menyoal bentuk jihad, mencakup jihad dengan hujjah (dakwah):

وَإِنَّمَا جعل طلب الْعلم من سَبِيل الله لَان بِهِ قوام الاسلام كَمَا ان قوامه بِالْجِهَادِ فقوام الدّين بِالْعلمِ وَالْجهَاد وَلِهَذَا كَانَ الْجِهَاد نَوْعَيْنِ جِهَاد بِالْيَدِ والسنان وَهَذَا المشارك فِيهِ كثير وَالثَّانِي الْجِهَاد بِالْحجَّةِ وَالْبَيَان وَهَذَا جِهَاد الْخَاصَّة من اتِّبَاع الرُّسُل وَهُوَ جِهَاد الائمة وَهُوَ افضل الجهادين لعظم منفعَته وَشدَّة مُؤْنَته وَكَثْرَة اعدائه
"Sesungguhnya Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam- menuntut ilmu bagian dari amal perbuatan di jalan Allah, karena dengannya tegak fondasi-fondasi Islam, sebagaimana ia tegak dengan jihad, maka Din ini tegak dengan ilmu dan jihad, dan oleh karena itu, jihad ada dua macam:

Pertama, Jihad dengan tangan dan tombak (senjata), ini yang diikuti oleh banyak orang (yakni pada umumnya awam dan ahli ilmu).

Kedua, Jihad dengan hujjah (argumentasi syar'i) dan penjelasan, ini merupakan jihad orang pilihan yang meniti jalan Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam-, ini adalah jihadnya para pemimpin umat (al-Imam), dan seutama-utamanya jihad, karena besar manfaatnya, banyak persiapan bekalnya dan banyak musuhnya."[10]

Hal ini sebagaimana isyarat agung dalam hadits-hadits yang mulia:

«أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»
“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang haq pada pemimpin yang zhalim.” (HR. Al-Hakim, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud, al-Thabrani, al-Baihaqi)[11]

Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam- dalam hadits ini secara khusus telah memuji aktivitas mengoreksi penguasa zhalim, untuk mengoreksi kesalahannya dan menyampaikan kebenaran kepadanya. Frasa afdhal al-jihâd dalam hadits ini merupakan penilaian dari Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam-, yang diungkapkan dalam bentuk tafdhîl (pengutamaan), menunjukkan secara jelas keutamaan mengoreksi penguasa, menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang berbuat zhalim.

Imam al-Khaththabi (w. 388 H) menguraikan:

إنما صار ذلك أفضل الجهاد لأن من جاهد العدو وكان متردداً بين رجاء وخوف لا يدري هل يغلب أو يغلب وصاحب السلطان مقهور في يده فهو إذا قال الحق وأمره بالمعروف فقد تعرض للتلف وأهدف نفسه للهلاك فصار ذلك أفضل أنواع الجهاد من أجل غلبة الخوف والله أعلم
Rasulullah -shallaLlahu 'alayhi wa sallam- menjadikan hal tersebut sebagai sebaik-baiknya jihad, karena siapa saja yang berjihad menghadapi musuh maka ia akan dibayang-bayangi antara harapan dan kecemasan, tidak tahu apakah ia akan menang, atau tidak, dan penguasa jelas memiliki kekuatan di tangannya, dimana jika seseorang menyampaikan kebenaran dan memerintahkannya kepada yang ma’ruf, maka ia melemparkan dirinya ke dalam bahaya, dan menggiring dirinya kepada kebinasaan, sehingga jadilah hal tersebut sebagai sebaik-baiknya jenis jihad, karena dominasi kecemasan di dalamnya, waLlahu a’lam.[12]

Dalam hadits lainnya lebih diperjelas lagi keutamaan dakwah:

«سَيِّدُ الشُهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدُ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ»
“Penghulu para syuhada’ adalah Hamzah bin ‘Abd al-Muthallib dan orang yang mendatangi penguasa zhalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian ia (penguasa zhalim itu) membunuhnya.” (HR. Al-Hakim, al-Thabrani)[13]

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه
والله أعلم بالصواب
           




[1] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (2847), Muslim dalam Shahîh-nya (6299), Ahmad dalam Musnad-nya (1608), Ibn Majah dalam Sunan-nya (121), lafal al-Bukhari.
[2] Ibn Bathal, Syarh Shahîh al-Bukhâri, Riyadh: Maktabat al-Rusyd, cet. II, 1423 H/2003, juz V, hlm. 141.
[3] Ibid., hlm. 140-141.
[4] Ibid.
[5] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (2811).
[6] Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379, juz VI, hlm. 127.
[7] Ibid.
[8] Nawawi al-Bantani, Syarh Sullam al-Tawfîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 103.
[9] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (1189), Ahmad dalam Musnad-nya (12114).
[10] Syamsuddin Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Miftâh Dâr al-Sa'âdah, Beirut: Dâr al-Kutub al-'Ilmiyyah, juz I, hlm. 70.
[11] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (no. 8543); al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2174), al-Tirmidzi mengomentari: “Sanad hadits ini hasan gharib” dengan lafal «إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةَ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»; Ibn Majah dalam Sunan-nya (no. 4011) dengan lafal: «أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»; Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4346); al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabîr (no. 8081);  al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Îmân (no. 7174) secara mursal dengan sanad jayyid.
[12] Abu Sulaiman al-Khaththabi, Ma’alim al-Sunan, juz IV, hlm. 350.
[13] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (no. 4884), al-Hakim mengomentari: “Hadits ini sanadnya shahih, meski al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya” dari Jabir bin Abdillah r.a., Alwi bin Abdul Qadir al-Saqqaf mengomentari: ”Hasan” (Alwi bin Abdul Qadir al-Saqqaf, Takhrîj Ahâdîts wa Âtsâr Kitâb fî Zhilâl al-Qur’ân, Dâr al-Hijrah, cet. II, 1416 H, hlm. 80); dan al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath (no. 4079) dari Ibn Abbas r.a., al-Haitsami mengomentari, dalam riwayat al-Thabrani ada perawi dha’if (Nuruddin ’Ali al-Haitsami, Majma’ al-Zawâ’id wa Manba’ al-Fawâ’id, juz VII, hlm. 535)