Skip to main content

Buku Bekal Dakwah; Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah


Buku Serial Bekal Dakwah:

Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah
Tafsir & Balaghah Ayat-Ayat Al-Qur'an & Hadits-Hadits Dakwah

  • Bab I Terabaikannya Dakwah, Terpuruknya Umat
  • Bab II Tegaknya Dakwah, Terwujudnya Kemuliaan Umat.
  • Bab III Motivasi Dakwah, Mutiara al-Qur'an & Hadits-Hadits Nabawiyyah
  • Bab IV Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah (Tafsir & Balaghah QS. Âli Imrân [3] 104)
  • Bab V Meneladani Uswah Hasanah, Menegakkan Islam Kâffah.
  • Bab VI Menggugah Tanggung Jawab Dakwah Umara & Ulama
  • Bab VII Menampik Syubhat, Teguh Mendakwahi Umat.
  • Bab VIII Optimis Berdakwah, Memahami Potensi Objek Dakwah.
  • Bab IX Menjemput Nashrullah dengan Dakwah IlaLlah

Pengantar:
1. KH Drs Hafidz Abdurrahman, MA (Pimpinan Majelis Syaraful Haramain)
"Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah buku yang luar biasa, yang ditulis untuk mengokohkan nafsiah para pengemban dakwah. Buku yang ditulis bukan saja oleh orang yang berilmu [al-‘alim], tetapi juga seorang pejuang [al-‘amil] dan pengemban dakwah [hamilu ad-da’wah]. Lebih terasa lagi nuansanya, karena tulisan-tulisan yang tertuang dalam buku ini merupakan hasil dialektika intelektual penulisnya dengan mereka-mereka yang menentang dakwah, baik karena tidak paham, salah paham maupun karena pahamnya salah."
2. DR KH Ahmad Nawawi, MA (Ketua MUI Kota Depok)
"Buku yang Anda baca ini sangat diperlukan untuk menambah semangat da'wah yang sedikitpun tidak mengendur di kalangan kaum Muslim.  Inti yg terinspirasi di buku ini, tidak akan mungkin terwujud melainkan dengan berjamaah. Dan ini membutuhkan pemahaman tersendiri.  Insyaalloh di buku ini diungkapkan dengan detail..." 

Buku ini mengulas ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits nabawiyyah dengan persepektif tafsir dan balaghah (sastra arab) menurut para ulama mu'tabar, mencakup sajian tafsir & balaghah: QS. Ali Imran [3]: 104, QS. Muhammad [47]: 7, QS. Al-Nûr [24]: 55, hadits Hudzaifah Ibn al-Yaman r.a. tentang memisahkan diri dari jama'ah, dan ayat-ayat al-Qur'an serta hadits-hadits terkait dakwah lainnya, disamping penjelasan rinci membantah syubhat dan tuduhan atas kelompok dakwah sebagai hizb pemecah belah, seluruhnya diulas secara apik bi fadhliLlahi Ta'ala.

Selamat membaca! Berminat menyisihkan sebagian kecil hartanya untuk memahami ilmu berharga para ulama dalam buku ini? Silahkan dipesan, isi dan kirim:

Jumlah                 :
A.n                        :
No. Kontak           :
Alamat Tujuan     :


Kirim sms/WA ke : +62858 6183 3427

Comments

Popular posts from this blog

Balaghah Hadits [4]: Ganjaran Agung Menghidupkan Sunnah Kepemimpinan Islam

Kajian Hadits: Man Ahya Sunnati Oleh: Irfan Abu Naveed [1] S alah satu dalil al-Sunnah, yang secara indah menggambarkan besarnya pahala menghidupkan sunnah, termasuk di antaranya sunnah baginda Rasulullah ﷺ dalam hal kepemimpinan umat (imamah) adalah hadits dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:   «مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ» “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Marwazi, al-Thabarani, al-Lalika’i, Ibn Baththah dan Ibn Syahin) Keterangan Singkat Hadits HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan- nya (no. 2678, bab بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَخْذِ بِالسُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ البِدَعِ ), ia berkata: “Hadits ini hasan gharib dari jalur ini.”; Abu Abdillah al-Marwazi dalam Ta’zhîm Qadr al-Shalât (no. 714); Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (no. 9439); Al-Lalika’i d

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia”

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل