18 October 2017

Keistimewaan Potensi Bahasa Arab [KH. Drs. Hafidz Abdurrahman MA]


Mafahim Islamiyyah
Buku Mafahim Islamiyyah
Cuplikan dalam Buku Mafahim Islamiyyah: Pokok-Pokok Pemikiran Islam (hlm. 33-35)

Mengenai kedudukan bahasa Arab sebagai potensi yang tidak boleh dipisahkan dengan potensi Islam, atau dengan kata lain harus diintegrasikan menjadi satu kekuatan (mazj at-thaqah al-Iughawiyyah ma'a at-thaqah aI-Islamiyyah) ini ditegaskan oleh Amirul Mukminin, 'Umar bin al-Khatthab r.a.. Abu Bakar bin Abi Syibah menyatakan, “Kami telah diberitahu oleh 'Isa bin Yunus dari Tsaur dari 'Umar bin Yazid berkata, “Khalifah 'Umar telah menulis surat Abu Musa al-Asy’ari ra.

أَمَّا بَعْدُ فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ , وَتَفَقَّهُوا فِي الْعَرَبِيَّةِ , وَأَعْرِبُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ عَرَبِيٌّ[1] ...وفي رواية: تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ، وَتَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ
“Amma ba’du, perdalamlah as-Sunnah, dan perdalamlah bahasa Arab. Kuasailah bahasa Arab aI-Qur'an, karena al-Qur'an adalah kitab berbahasa Arab.” Dalam riwayat lain, “Pelajarilah bahasa Arab, karena bahasa Arab itu bagian dari agama kalian. Pelajarilah berbagai kefardhuan, karena ia pun bagian dari agama kalian.”

Karena itu, di masa lalu, para sahabat menyebarkan Islam, dengan membawa al-Qur'an di tangan kanan, dan bahasa Arab di tangan kirinya. Imam as-Syafii (w. 204 H), hukum mempelajari bahasa Arab adalah fardhu “ain: “Wajib bagi tiap Muslim untuk mempelajari bahasa Arab hingga kemampuannya bisa mengantarkannya untuk menunaikan kefarduan (yang ditetapkan kepada)-nya.”[2]

Demikian halnya, Imam al-Mawardi (w. 450 H) juga mengatakan hal yang sama: “Mengetahui bahasa Arab hukumnya fardhu bagi tiap kaum Muslim, baik mujtahid maupun bukan.”[3]

Syaikh Islam, Ibn Taimiyyah, mengatakan: “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama, dan mengetahuinya hukumnya fardhu yang diwajibkan. Sebab, memahami aI-Kitab dan as-Sunnah hukumnya fardhu. Sementara semuanya itu tidak bisa dipahami, kecuali dengan memahami bahasa Arab. “Suatu kewajiban yang tidak bisa sempurna, kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib.“![4]

Meskipun ulama' kemudian memilah menjadi dua: Pertama, hukumnya fardhu ‘ain, bagi tiap Muslim agar bisa menjalankan kewajibannya dengan baik dan benar. Kedua, hukumnya fardhu kifayah, jika lebih dari kewajiban yang pertama, misalnya untuk berijtihad. Mengingat hukum ijtihad itu sendiri adalah fardhu kifayah.

Begitulah keistimewaan bahasa Arab, sebagai potensi yang tidak bisa dipisahkan dari potensi Islam. Keduanya ibarat dua sisi mata uang, yang saling terkait. ]ika Islam dipisahkan dari bahasa Arab, maka terjadilah apa yang terjadi sebelumnya. Sebaliknya, jika Islam disatukan dengan potensi bahasa Arab, maka berbagai kemajuan intelektual umat Islam akan berhasil diraih kembali, sebagaimana zaman kejayaannya. []

۝ Artikel Penting Terkait:
  • Mengenal Ilmu Bahasa Arab: Ilmu Nahwu: Link
  • Menggugah Nafsiyyah, Mendalami Al-Lughah al-‘Arabiyyah: Motivasi Al-Qur’an: Link
  • Menggugah Nafsiyyah, Mendalami Al-Lughah al-‘Arabiyyah: Motivasi Al-Sunnah: Link
  • Audio Motivasi Belajar Bahasa Arab: Dasar Memahami Ilmu Syar'i: Link
  • Audio: Motivasi Belajar Bahasa Arab: Bahasa Al-Qur'an Al-Karim: Link
  • Audio: Motivasi Belajar Bahasa Arab Bahasa Hadits Rasulullah SAW: Link




[1] Tambahan Irfan Abu Naveed: Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Syaibah dalam Mushannaf-nya (no. 30534, dan no. 26164 tanpa teks “وَأَعْرِبُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ عَرَبِيٌّ”).
[2] Lihat, al-Imam Muhammad ‘Ali as-Syaukani, Op. Cit., hal. 1232;
[3] Lihat, Ibid, hal. 1232;
[4] Lihat, Ibid, hal. 1232;

16 October 2017

Soal Jawab Perbedaan Kata al-Insan & al-Basyar (Kajian Diksi Bahasa Arab)


(Soal Jawab Telegram Bahasa Arab)

Soal

Assalamu'alaikum wrwb, ustadz..membaca uraian tafsir tematik tsb, terbetik pertanyaan : apa makna dari ungkapan 'an-naas', 'al-basyar' dan 'al-insaan' dalam al-Qur'an yang dlm bhs kita diartikan 'manusia'? Syukran ust sebelumnya.

Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد


Manusia, misalnya dalam QS. Al-‘Ashr [103]: 2 diungkapkan dalam bahasa arab dengan diksi berupa kata al-insân (الإنسان) dimana kata ini merupakan derivat dari kata al-nisyân (النسيان)[1] yang berarti lupa, karena sebagaimana disebutkan oleh ulama pakar bahasa, Abu Hilal al-‘Askari (w. 395 H), bahwa nisyân tidak terjadi kecuali setelah sampainya ilmu maka dikatakan manusia disebut sebagai insân[an] karena ia (bisa) melupakan apa yang telah diketahuinya.[2]
Dimana kata al-insân, banyak digunakan al-Qur’an untuk mengungkapkan beragam kelalaian manusia, termasuk kondisi dalam QS. Al-‘Ashr, yakni dalam kerugian (لفي خسر). Imam Abu al-Baqa’ al-Hanafi (w. 1094 H) menjelaskan:
وَأكْثر مَا أَتَى الْقُرْآن باسم الْإِنْسَان عِنْد ذمّ وَشر نَحْو: {قتل الْإِنْسَان مَا أكفره} {وَكَانَ الْإِنْسَان عجولا} {يَا أَيهَا الْإِنْسَان مَا غَرَّك بِرَبِّك الْكَرِيم}
Banyak dari apa yang al-Qur’an sebutkan dengan nama al-insân ketika disebutkan celaan dan perkara buruk, misalnya: (binasalah manusia (al-insân); alangkah amat sangat kekafirannya?)[3], (Dan adalah manusia (al-insân) bersifat tergesa-gesa)[4], (Hai manusia (al-insân) apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabb-mu Yang Maha Pemurah)[5].[6]
Poin di atas sudah semestinya menjadi bahan muhasabah, karena manusia (human) itu sendiri, sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji bermakna:
الإنسان: المخلوق الحي المفكر للمذكر والمؤنث (human being)
Al-Insân (manusia) adalah makhluk yang hidup dan bisa berpikir, (dua jenis) laki-laki dan perempuan.[7]
Penjelasan hampir serupa dipaparkan dalam al-Mu’jam al-Wasîth.[8] Artinya manusia merupakan makhluk yang diberi anugerah bisa berpikir dengan akalnya yang merupakan potensi kehidupan (al-thâqah al-hayâwiyyah) dari Allah S.W.T. Potensi ini sudah seharusnya digunakan oleh manusia untuk mempertimbangkan baik dan buruk pilihannya dan konsekuensi dari pilihannya tersebut.

Maka lafal الناس adalah jamak taksir dari الإنسان, secara lugas bisa dikatakan menitikberatkan pada sifat batinnya. Sedangkan lafal البشر lebih kepada sifat fisiknya, yakni kepada sifat khalq yakni sifat penciptaannya. Dimana kata basyar, disebutkan dalam banyak kamus arab klasik berkonotasi:

(بشر) ظهور الشيء مع حسن وجمال...وسمي البشر بشرا لظهورهم.
(Basyar) yakni tampaknya sesuatu dengan keelokkan dan keindahannya... al-basyar dinamakan basyar karena sifat tampaknya.       

Pengertian di atas disebutkan dalam Maqayis al-Lughah/Majmal al-Lughah karya Ibn Faris dan juga kamus-kamus arab klasik yang semisalnya, yang juga mengidentikkan kata basyar dengan sifat fisik terluar (kulit). Hal ini senada dengan julukan yang diberikan kepada Adam a.s. sebagai Abu al-basyar (nenek moyangnya manusia) dan isyarat dalam firman-Nya:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ {١٨}
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (QS. Al-Mâ'idah [5]: 18)

Perhatikan potongan kalimat: { بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ} yang mengaitkan kata basyar dengan penciptaan. WaLlâhu a'lam bi al-shawâb.

Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Penulis “Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama’ah: Tafsir & Balaghah Ayat-Ayat Qur’aniyyah & Hadits-Hadits Nabawiyyah”





[1] Abu Hilal al-Hasan bin ‘Abdullah al-‘Askari, Mu’jam al-Furûq al-Lughawiyyah, Kairo: Dâr al-‘Ilm wa al-Tsaqâfah, t.t., hlm. 274.
[2] Ibid.
[3] TQS. ‘Abasa [80]: 17
[4] TQS. Al-Isrâ’ [17]: 11
[5] TQS. Al-Infithâr [82]: 6
[6] Abu al-Baqa’ al-Hanafi Ayyub bin Musa al-Husaini, Al-Kulliyyât Mu’jam fî al-Mushthalahât wa al-Furûq al-Lughawiyyah, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, t.t., hlm. 200.
[7] Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, juz I, hlm. 92.
[8] Ibrahim Mushthafa, Al-Mu’jam al-Wasîth, Dâr al-Da’wah, juz I, hlm. 29.

Inilah Alasan Pentingnya Buku Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah



إن الحمد لله نحمده ونستعينه من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

D
inamika positif gerakan-gerakan dakwah pasca runtuhnya Khilafah ’Utsmaniyyah tahun 1924 M, semakin solid dan terarah dalam upaya meninggikan kalimatuLlâh, yakni kalimat agung yang mampu menyatukan kaum Muslim di tengah perpecahan umat disekat oleh fitnah nation state warisan kolonial (‘ashabiyyah wathaniyyah), dan fitnah fanatisme golongan (‘ashabiyyah hizbiyyah).

Dinamika positif ini relevan dengan kenyataan bahwa al-Qur’an dan al-Sunnah menjadikan ikatan akidah Islam sebagai ikatan hakiki yang mengikat kaum Muslim (QS. Al-Hujurât [49]: 10), menjadi inspirasi bagi persatuan umat (wihdat al-ummah) dan menjunjung tinggi ukhuwwah Islâmiyyah. Sebagaimana al-Qur’an pun mendorong umatnya menjadi ummat[an] dâ’iyyat[an] (umat yang berdakwah), meraih predikat khayra ummat[in] (QS. Âli Imrân [3]: 104).

Aktivitas agung mendakwahkan Islam itu sendiri, merupakan jawaban atas seruan Allah ’Azza wa Jalla dalam al-Qur’an[1], dan upaya meniti jalan Rasulullah SAW dan para sahabatnya –radhiyaLlâhu ‘anhum- yang solid berdakwah dalam jama’ah dakwah terorganisir (jamâ’ah dâ’iyyah mutakattilah), sekaligus menjadi langkah awal membangun proyek besar “kebangkitan umat”, membangkitkan umat yang besar ini dari tidurnya yang panjang.

Namun sayang beribu-ribu sayang, mulianya jalan dakwah ini, terusik fenomena menyedihkan adanya mereka yang berguguran, terpalingkan oleh dunianya sendiri, atau berpaling dari idealisme menuju pragmatisme, apa-apa yang dikenal dalam dunia dakwah dengan istilah futûr. Suatu kondisi ketika seorang da’i mengalami stagnasi, terpukul mundur kembali kepada masa ketika ia seakan tertidur, wal ‘iyâdzu biLlâh.

Tak hanya itu, perasaan terdalam kita pun terusik oleh fenomena yang tak kalah menyedihkan, ketika gerakan-gerakan dakwah Islam divonis buruk sebagian oknum yang terjangkit fanatisme golongan (‘ashabiyyah hizbiyyah), dengan beragam vonis yang cukup menyedihkan, ‘satir’ bagi mereka yang menjunjung tinggi ukhuwwah Islâmiyyah. Tak jarang pandangan mata kita dibuat perih dan telinga kita dibuat sakit, membaca dan mendengar vonis: “kelompok sesat pemecah belah agama (firqah dhalâlah)”, “hizbiyyun” (dalam konotasi negatif), “ahli bid’ah” (harakah mubtadi’ah), “kelompok batil” (min al-ahzâb al-bâthilah), dan beragam vonis buruk lainnya yang sudah cukup mendorong kita semua mengucapkan, a’âdzanaLlâhu minhâ, ghafaraLlâhu lanâ wa lahum. Lebih jauh lagi, kaum Muslim pun diuji ketahanannya menghadapi suara-suara sumbang rezim yang menyuarakan pembubaran gerakan dakwah Islam.

Padahal tiada keraguan bahwa dakwah adalah sunnah para rasul utusan Allah –’alayhim al-salâm-. Hingga sejarah agung kaum Muslim pun tak lepas dari langkah demi langkah dakwah yang telah dititi oleh sebaik-baiknya teladan, Rasulullah SAW dan para sahabatnya, yang bersinergi membangun kelompok dakwah, mendakwahkan Islam kepada umat manusia. Diteruskan dari generasi ke generasi, dipelopori oleh para pewaris para nabi, al-ulamâ’ waratsat al-anbiyâ’, disokong oleh hamba-hamba-Nya yang mukhlish, hingga Islam menebarkan rahmatnya sampai ke berbagai penjuru dunia, termasuk Bumi Nusantara tercinta, bi fadhliLlâhi Ta’âlâ.

Bukan jalan mudah semudah membalikkan telapak tangan, torehan tinta emas Rasulullah SAW, para sahabatnya, dan para ulama dalam sejarah peradaban Islam, menjadi bukti kuat tak terbantahkan kesungguhan (jiddiyyah) dan pengorbanan (tadhiyyah) mereka di jalan dakwah. Syaikh Hamd Fahmi Thabib dalam salah satu Risaalah-nya menggambarkan, Para Nabi dan Rasul telah menghadapi berbagai tantangan yang enggan dipikul oleh gunung-gunung yang kokoh sekali pun. Hal itu terjadi di tengah upaya para Nabi dan Rasul menghadapi realita yang rusak, dengan menggunakan pemikiran yang kuat dan tertunjuki. Dan di antara para Nabi dan Rasul itu yang paling besar tantangannya adalah utusan untuk umat ini yaitu Muhammad SAW.”[2]

Maka diperlukan upaya serius mendudukkan persoalan dakwah dan eksistensi gerakan-gerakan Islam ini, dengan mengembalikan topik ini kepada ashl (pokok) ajaran Islam yakni al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah, salah satunya al-Qur’an surat Âli Imrân [3]: 104, diperjelas petunjuk-petunjuk agung dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah dalam topik yang sama. Itu semua  dikaji dan disajikan secara mendalam dalam buku ini, sebagai motivasi nafsiyyah berdakwah, dan solid berjama’ah dalam gerakan dakwah, -bi ‘auniLlâhi wa bi taufîqihi-.

Bagaimana mendudukkan persoalan dakwah berdasarkan al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah? Bagaimana memahami syar’iyyah berdirinya gerakan-gerakan dakwah? Bagaimana karakteristik gerakan-gerakan dakwah yang dikehendaki al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah? Bagaimana menampik syubhat-syubhat vonis buruk terhadap gerakan dakwah? Apa kaitan antara dakwah dan nashruLlâh? Itu semua menjadi pertanyaan penting, yang kemudian penyusun jawab berdasarkan kajian ilmiah atas al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah dalam buku sederhana ini, dengan catatan:

Pertama, Tinjauan tafsir dan hukum yang digali dari al-Qur’an dan hadits-hadits  nabawiyyah dengan metode tafsir maudhu’i (tafsir tematik), dengan berupaya merujuk kepada kajian tafsir al-Qur’an dan syarah hadits para ulama mu’tabar.

Kedua, Pendekatan kajian tafsir balaghi (ma’ani dan bayani) serta pendekatan kajjian siyasi, untuk membumikan pesan-pesan agung nan mendalam dalil-dalil al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah, sebagai motivasi kuat dari Allah ’Azza wa Jalla untuk berdakwah dan solid berjama’ah.

Metodologi penelitian buku ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan library research. Secara umum data-data yang digunakan adalah data-data primer dan sekunder mencakup mushaf al-Qur’ân al-Karîm dan literatur-literatur ilmiah yang mengkaji ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits nabawiyyah yang membicarakan topik dakwah, mencakup literatur kajian tafsir al-Qur’an, syarah hadits serta balaghah al-Qur’an dan hadits, diantaranya:

1.    Buku tafsir Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân karya al-Hafizh Muhammad bin Jarir al-Thabari (w. 310 H), yang merupakan induk dari semua kitab tafsir, dengan corak bi al-ma’tsûr yaitu dengan menukil pendapat para sahabat dan tabi’in disertai sanadnya.[3]
2.    Buku tafsir Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân karya al-Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi (w. 671 H), tafsir ini menggunakan metodologi bi al-ra’y (al-dirâyah)[4], dengan corak penulisan hampir serupa dengan penulisan ulama fikih dan membahas suatu permasalahan fiqhiyyah secara detail.[5]
3.    Buku Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm karya al-Hafizh Abu al-Fida’ Isma’il bin ’Umar -Ibnu Katsir- al-Dimasyqi (w. 774 H), dengan metode bi al-ma’tsûr.[6]
4.    Buku tafsir Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr: Sûrat al-Baqarah karya al-’Alim al-Syaikh ’Atha bin Khalil Abu Al-Rasythah.
5.    Buku Al-Tafsîr al-Munîr fî al-’Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, karya Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili (w. 1436 H), buku tafsir ini memuat tinjauan manhaj, akidah dan syari’ah, dengan ulasan mencakup kajian mufradat dan balaghah.[7]
6.    Buku h al-Ma’âni fî Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm wa al-Sab’u al-Matsani, Imam Syihabuddin Mahmud bin Abdullah Al-Alusi (w. 1342 H), dengan corak tafsir ma’ani-bayani.

       Begitu pula referensi-referensi mu’tabarah lainnya, yang tak bisa disebutkan satu persatu, bisa dilihat pada daftar pustaka buku ini, dengan kerangka penulisan tematik yang satu sama lain saling terkait, semata-mata mengambil keberkahan dan faidah ilmu para ulama, melestarikan turats mereka dengan mengikat ilmu yang tak boleh hilang dimakan zaman, tenggelam dalam kubangan kejahilan. Umar bin al-Khaththab r.a. berpesan:
«قيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ»
Ikatlah ilmu dengan buku (menuliskannya).”[8]

Pengantar & Testimoni KH. Hafidz Abdurrahman MA & Lainnya: Link
Selamat membaca! Berminat menyisihkan sebagian kecil hartanya untuk memahami ilmu berharga para ulama dalam buku ini? Silahkan dipesan, isi dan kirim:

Jumlah                 :
A.n                        :
No. Kontak           :
Alamat Tujuan     :

Kirim sms/WA ke : +62858 6183 3427




[1] Salah satunya QS. Âli Imrân [3]: 104.
[2] Hamd Fahmi Thabib, Al-Khilâfah al-Râsyidah al-Mau’ûdah wa al-Tadhhiyât, _________
[3] Akhmad Alim, Tafsir Pendidikan Islam, Jakarta Selatan: AMP Press, cet. I, 2014, hlm. 19.
[4] Ibid, hlm. 15-16.
[5] Ibid, hlm. 19-20. Buku ini membuang kisah dan sejarah diganti dengan hukum dan istinbath dalil, juga i’rab, qira’ah, nasikh dan mansukh
[6] Ibid, hlm. 19. Buku ini hampir sama dengan metode dalam buku tafsir al-Thabari, hanya saja tafsir ini lebih ringkas dan lebih mudah dipahami.
[7] Buku ini menggunakan sistematika pembahasan yang memaparkan keterkaitan dengan ayat sebelumnya (munâsabah), kandungan makna kosakata (mufradât lughawiyyah), kajian i’rab dan balaghah al-Qur’an (al-i’râb wa al-balâghah), dan kandungan makna tafsir (al-tafsîr wa al-bayân).
[8] Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘alâ al-Shahîhain, (no. 360). Disebutkan pula bahwa atsar tersebut dari Ibn Abbas r.a. dan Anas bin Malik r.a.

14 October 2017

Download CD Majalah Al-Wa'ie Arab Juz I s.d. III (Edisi Tahun 1987 s.d. 2015)

 
Link Download Juz I (Nomor 1 s.d. 110 dari Tahun 1987 s.d. 1996):

اسطوانة الوعي – الجزء الأول – الأعداد 1 – 110

Ukuran File: 252 MB (RAR)

Link Info: Link Info

Link Download Langsung: Link Download Langsung

~~~ * ~~~
Link Download Juz II (Nomor 111 s.d. 220 dari Tahun 1996 s.d. 2005):
اسطوانة مجلة الوعي – الجزء الثاني – الأعداد 111 – 220

Ukuran File: 310 MB (RAR)

Link Info: Link Info

Link Download Langsung: Link Download Langsung


~~~ * ~~~
Link Download Juz III (Nomor 221 s.d. 340 dari Tahun 2005 s.d. 2015):
اسطوانة مجلة الوعي – الجزء الثالث – الأعداد 221 – 340

Ukuran File: 1,5 GB (RAR)

Link Info: Link Info

Link Download Langsung: Link Download Langsung


04 October 2017

Buku Bekal Dakwah; Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah


Buku Serial Bekal Dakwah:

Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah
Tafsir & Balaghah Ayat-Ayat Al-Qur'an & Hadits-Hadits Dakwah

  • Bab I Terabaikannya Dakwah, Terpuruknya Umat
  • Bab II Tegaknya Dakwah, Terwujudnya Kemuliaan Umat.
  • Bab III Motivasi Dakwah, Mutiara al-Qur'an & Hadits-Hadits Nabawiyyah
  • Bab IV Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah (Tafsir & Balaghah QS. Âli Imrân [3] 104)
  • Bab V Meneladani Uswah Hasanah, Menegakkan Islam Kâffah.
  • Bab VI Menggugah Tanggung Jawab Dakwah Umara & Ulama
  • Bab VII Menampik Syubhat, Teguh Mendakwahi Umat.
  • Bab VIII Optimis Berdakwah, Memahami Potensi Objek Dakwah.
  • Bab IX Menjemput Nashrullah dengan Dakwah IlaLlah

Pengantar:
1. KH Drs Hafidz Abdurrahman, MA (Pimpinan Majelis Syaraful Haramain)
"Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah buku yang luar biasa, yang ditulis untuk mengokohkan nafsiah para pengemban dakwah. Buku yang ditulis bukan saja oleh orang yang berilmu [al-‘alim], tetapi juga seorang pejuang [al-‘amil] dan pengemban dakwah [hamilu ad-da’wah]. Lebih terasa lagi nuansanya, karena tulisan-tulisan yang tertuang dalam buku ini merupakan hasil dialektika intelektual penulisnya dengan mereka-mereka yang menentang dakwah, baik karena tidak paham, salah paham maupun karena pahamnya salah."
2. DR KH Ahmad Nawawi, MA (Ketua MUI Kota Depok)
"Buku yang Anda baca ini sangat diperlukan untuk menambah semangat da'wah yang sedikitpun tidak mengendur di kalangan kaum Muslim.  Inti yg terinspirasi di buku ini, tidak akan mungkin terwujud melainkan dengan berjamaah. Dan ini membutuhkan pemahaman tersendiri.  Insyaalloh di buku ini diungkapkan dengan detail..." 

Buku ini mengulas ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits nabawiyyah dengan persepektif tafsir dan balaghah (sastra arab) menurut para ulama mu'tabar, mencakup sajian tafsir & balaghah: QS. Ali Imran [3]: 104, QS. Muhammad [47]: 7, QS. Al-Nûr [24]: 55, hadits Hudzaifah Ibn al-Yaman r.a. tentang memisahkan diri dari jama'ah, dan ayat-ayat al-Qur'an serta hadits-hadits terkait dakwah lainnya, disamping penjelasan rinci membantah syubhat dan tuduhan atas kelompok dakwah sebagai hizb pemecah belah, seluruhnya diulas secara apik bi fadhliLlahi Ta'ala.

Selamat membaca! Berminat menyisihkan sebagian kecil hartanya untuk memahami ilmu berharga para ulama dalam buku ini? Silahkan dipesan, isi dan kirim:

Jumlah                 :
A.n                        :
No. Kontak           :
Alamat Tujuan     :


Kirim sms/WA ke : +62858 6183 3427