Skip to main content

Testimoni DR. KH. Ahmad Nawawi MA Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"

Info Pemesanan: WA/Telegram: +62 85861833427
"Buku yang Anda baca ini sangat diperlukan untuk menambah semangat da'wah yang sedikitpun tidak mengendur di kalangan kaum Muslim.  Inti yg terinspirasi di buku ini, tidak akan mungkin terwujud melainkan dengan berjamaah. Dan ini membutuhkan pemahaman tersendiri.  Insyaalloh di buku ini diungkapkan dengan detail..." 

Menjadi salah seorang pelaku sejarah kejayaan kaum Muslim di bawah khilafah nubuwah, sekecil apapun peranannya, merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang pejuang (mujahid). Baginya menjadi penyesalan yang tidak terkirakan andaikan dirinya hanya sebagai penonton, apalagi sebagai penghalang munculnya sistem khilafah tersebut sebagai mana berita yang dijanjikan Rosululloh saw (bisyaroh nubuwah).  Menurut para ahli sejarah, fase yang kita alami sekarang sudah berada di fase ke-4, yaitu mulk adhl, suatu keadaan super biadab ditandai dengan terjadinya penjajahan suatu bangsa (kaum kafir) terhadap bangsa lain (negeri kaum Muslim).  Tetapi selangkah lagi (fase ke-5) janji Rosululloh saw tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Inilah yang dikenal dengan fase khilafah ala minhajinnubuwah dan terjadi menjelang akhir zaman.  Ini suatu fase yang sebenarnya dirindukan semua umat manusia, apapun agamanya.  Inilah fase tegaknya keadilan dan kebenaran yang sempurna.

Dalam rangka mensukseskan cita-cita mulia tersebut, buku yang Anda baca ini sangat diperlukan untuk menambah semangat da'wah yang sedikitpun tidak mengendur di kalangan kaum Muslim.  Inti yg terinspirasi di buku ini, tidak akan mungkin terwujud melainkan dengan berjamaah. Dan ini membutuhkan pemahaman tersendiri.  Insyaalloh di buku ini diungkapkan dengan detail. Usaha ini sebagai tugas utama dalam hidup setiap muslim dalam menggoreskan sejarah hidup yang sangat fana.  Ini dilakukan sebagai bekal pulang ke kampung akhirat, membuka pintu surga Alloh SWT.

Depok, Zulhijjah 1438

Salam takzim dari seorang murid (thâlib al-’ilm)

DR. Ir. KH. Ahmad Nawawi, MA

Ketua MUI Kota Depok

Comments

Popular posts from this blog

Buku Menarik "Risalah Nikah & Walimah"

"RISALAH NIKAH & WALIMAH" Dilengkapi dengan Sajian Kitab Kuning (Turats) & Ilmu Kesehatan Reproduksi Pra Nikah Ikhwah fillah, bi fadhliLlahi Ta'ala wa bi tawfiqihi,  telah terbit buku Risalah Nikah & Walimah, menggambarkan kajian turats menyoal topik-topik pernikahan dan syari'at walimah dalam Islam, berikut ilmu menyoal Kesehatan Reproduksi Pra Nikah, ditulis bersama istri yang berlatarbelakang pendidikan kebidanan. Sajian menyoal fikih walimah, penyusun uraikan dalam bentuk soal jawab, disertai ibarat kitab kuning (turats), dipercantik dengan berbagai gambaran walimah syar'i. Daftar Isi Buku: Bab I Keagungan Pernikahan & Hidup Berpasang-Pasangan Bab II Tuntunan Agung Menjemput Pasangan Idaman Bab III Buah Pernikahan; Sakînah, Mawaddah dan Rahmah Bab IV Walimah Nikah Sesuai Syari'ah Bab V Sunnah Mulia; Do'a Pengantin Bab VI Tips Kesehatan Reproduksi Pra Nikah   Info & Pemesanan: wa.me/6285735533668

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.