Skip to main content

Soal Jawab Makna Kata Sharf & Tauzi’ dalam Kitab Al-Amwâl


Arsip Soal Jawab Bahasa Arab Ma'had Du'at al-Furqan [1]
Soal

assalamualaikum... ustadz mau tanya, di dlm kitab al amwal daulah khilafah bnyk digunakan lafadz
 صرف  dan   توزيع
diartikan sama  = belanja, distribusi. sebenarnya perbedaan penggunaanya ada atau tidak?. syukron jwbnya. (Peserta Bhs Arab OL Ma’had Du’at al-Furqan)

Jawaban
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Terkait kedua kata ini, ada sejumlah perbedaan pada poin-poin:

Pertama, Kata صَرْفٌ merupakan mashdar (kata kerja yang dibendakan) dari kata kerja: صَرَفَ:
صرَفَ يصرِف صَرْفًا

Ia memiliki konotasi dengan perincian makna dalam penggunaannya yang berbeda dengan kata tauzi’ (تَوْزِيْع), dalam almaany.com dirinci contohnya:
صرَف المالَ ونحوَه : أنفقه
(Sharf al-mâl dan yang semisalnya: menginfakkan/mengeluarkan harta), pengertian ini yang digunakan dalam konotasi membelanjakan harta, yakni mengeluarkannya dalam pembahasan kitab terkait keuangan tersebut, al-Amwal.

صرف وقتَه في القراءة : قضاه
(Sharf al-maal dan yang semisalnya: menginfakkan/mengeluarkan harta)

صرَف العُملةَ : حوَّلها وبدَّلها بمثلها ، باعها بعملة أخرى
صرَف همَّه إليه : انقطع له
صرَف الشَّخصَ : خلَّى سبيله
صَرَفَ العُمَّالَ : سَرَّحَهُمْ
صرَف الشَّخصَ : ردَّه ، أمره بالابتعاد صرَف الشحَّاذََ اللحوحَ
صرَف اللهُ قلوبَهم : أضلَّهم
صَرَفَ الكلام : زيَّنه
صَرَفَ الشراب : لم يمزُجْهُ

Kata صَرْف, pun bisa berkonotasi ”perbuatan memalingkan (sesuatu)”, misalnya dalam pengertian sihir yang disebutkan para ulama termasuk Syaikh ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam al-Taisîr-nya.

Perbedaannya dengan kata tauzi’ (توزيع), ia adalah mashdar dari kata kerja: وَزَّعَ - يُوَزِّعُ – تَوْزِيْعًا. Ia berkonotasi mendistribusikan, membagi, memisahkan (التفريق), memetakan sesuatu, dan yang semisalnya sesuai konotasinya dalam setiap kalimat.

Ini termasuk contoh kekayaan kosakata bahasa arab.

===========
Ust Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Khadim Ma'had Du'at al-Furqan

Comments

Popular posts from this blog

Buku Menarik "Risalah Nikah & Walimah"

"RISALAH NIKAH & WALIMAH" Dilengkapi dengan Sajian Kitab Kuning (Turats) & Ilmu Kesehatan Reproduksi Pra Nikah Ikhwah fillah, bi fadhliLlahi Ta'ala wa bi tawfiqihi,  telah terbit buku Risalah Nikah & Walimah, menggambarkan kajian turats menyoal topik-topik pernikahan dan syari'at walimah dalam Islam, berikut ilmu menyoal Kesehatan Reproduksi Pra Nikah, ditulis bersama istri yang berlatarbelakang pendidikan kebidanan. Sajian menyoal fikih walimah, penyusun uraikan dalam bentuk soal jawab, disertai ibarat kitab kuning (turats), dipercantik dengan berbagai gambaran walimah syar'i. Daftar Isi Buku: Bab I Keagungan Pernikahan & Hidup Berpasang-Pasangan Bab II Tuntunan Agung Menjemput Pasangan Idaman Bab III Buah Pernikahan; Sakînah, Mawaddah dan Rahmah Bab IV Walimah Nikah Sesuai Syari'ah Bab V Sunnah Mulia; Do'a Pengantin Bab VI Tips Kesehatan Reproduksi Pra Nikah   Info & Pemesanan: wa.me/6285735533668

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.