27 September 2017

Pengantar KH. Drs. Hafidh Abdurrahman Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"

Info Pemesanan: WA/Telegram: +62 85861833427

"Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah buku yang luar biasa, yang ditulis untuk mengokohkan nafsiah para pengemban dakwah. Buku yang ditulis bukan saja oleh orang yang berilmu [al-‘alim], tetapi juga seorang pejuang [al-‘amil] dan pengemban dakwah [hamilu ad-da’wah]. Lebih terasa lagi nuansanya, karena tulisan-tulisan yang tertuang dalam buku ini merupakan hasil dialektika intelektual penulisnya dengan mereka-mereka yang menentang dakwah, baik karena tidak paham, salah paham maupun karena pahamnya salah."

PENGANTAR BUKU NAFSIYAH

Kepribadian manusia, siapapun dia, sesungguhnya sama. Tiap kepribadian manusia terbentuk dari dua hal, yang tak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Pertama, adalah akliah [cara berpikir]. Kedua, nafsiah [cara mengendalikan diri]. Kedua hal ini juga harus dibentuk dan didasari dengan dasar dan kaidah yang sama, yaitu akidah, jika kepribadiannya ingin menjadi kepribadian yang khas, dan unik. Bukan kepribadian yang tidak jelas dan amburadul. Ini berlaku untuk semua kepribadian, baik kepribadian Islam maupun non-Islam.

Dua hal inilah yang harus benar-benar diperhatikan oleh siapun yang ingin membentuk dan mempunyai kepribadian yang unik, kuat dan tinggi. Karena kedua faktor inilah yang menentukan semuanya, yaitu akliah dan nafsiah. Bagi seorang Muslim, terutama pengemban dakwah, membentuk, menjaga dan meningkatkan akliah dan nafsiah Islam adalah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena pengemban dakwah bukan pribadi biasa, tetapi pribadi seorang pemimpin, inspirator, penggerak, motivator, bahkan penutan dan teladan umat.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana agar akliah dan nafsiah Islam pengemban dakwah itu tetap terjaga dan meningkat kualitasnya? Kuncinya adalah terus belajar dan meningkatkan pemahaman [ad-dirasah wa al-fahm], serta yakin dan menerapkan [al-yakin wa at-tathbiq] apa yang dipahami dan diyakininya. Terus belajar dan meningkatkan pemahaman adalah cara yang tepat untuk menjaga dan meningkatkan kualitas akliah pengemban dakwah. Begitu juga meyakini dan menerapkan apa yang dipahami dan diyakininya itu adalah cara untuk menjaga dan meningkatkan kualitas nafsiahnya. Inilah kunci utama dalam menjaga dan meningkatkan kepribadian kita.

Hanya saja, dari keempat kunci tersebut, yaitu ad-dirasah wa al-fahm dan al-yakin wa at-tathbiq, yang paling berat adalah yang terakhir, yaitu at-tathbiq  [menerapkan]. Untuk belajar, memahami hingga yakin relatif lebih mudah, tetapi menerapkan apa yang telah dipelajari, dipahami dan diyakini itu jauh lebih berat. Karena masalah yang terakhir ini adalah masalah pembuktian iman. Karena tanpa bukti kongkrit dalam bentuk tindakan dan perbuatan, apa yang diyakini, dipahami dan dipelajari itu tak akan tampak wujudnya. Bagian yang terakhir ini merupakan wilayah nafsiah. Karena itu, masalah nafsiah ini sangat sulit.

Bagaimana tidak, banyak orang yang berilmu, bahkan ilmunya sundul langit, tetapi keilmuannya tidak tercermin dalam sikap dan perilakunya. Karena keilmuan adalah hasil proses belajar dan memahami, sedangkan sikap dan perilaku adalah proses mengamalkan ilmu yang dipelajari, dipahami dan diyakini. Karena itu, tidak semua orang yang mempelajari, memahami dan meyakini ilmu, kemudian menggunakan dan menerapkannya dalam sikap dan perilakunya. Karena antara ilmu dan sikap adalah dua hal yang berbeda, bahkan dua wilayah yang berbeda.

Karena itu, jangan heran, jika ada orang alim melakukan kesalahan, bahkan pada level sahabat pun bisa mengalami hal yang sama. Karena mereka tetap manusia, bukan Malaikat. Manusia, dengan akal dan nafsunya bisa berubah, apalagi tidak ada satu pun manusia yang maksum, kecuali Rasulullah saw. Meksi akal dan nafsunya telah dibentuk menjadi akliah dan nasfiah Islam, tetapi faktor ketidakmaksuman itu membuat potensi manusia melakukan kesalahan tetap ada. Lihatlah, bagaimana Hatib bin Abi Balta’ah yang membocorkan rahasia Nabi saw. kepada kaum Kafir Quraisy di Makkah. Begitu juga pasukan kaum Muslim telah melarikan diri dari medan Perang Hunain. Semuanya ini membuktikan, bahwa potensi melakukan kesalahan tetap ada pada kepribadian manusia.

Kesalahan itu boleh jadi karena tidak tahu, atau tahu, tetapi akidah yang seharusnya digunakan sebagai kaidah berpikir tidak digunakan, atau tahu, dan akidahnya juga digunakan sebagai kaidah berpikirnya, tetapi syaitan dalam waktu singkat berhasil memerosokkannya, sehingga dia pun tergelincir. Inilah tiga faktor yang menyebabkan, mengapa seseorang yang mempunyai kepribadian Islam bisa juga melakukan kesalahan. Siapapun dia, apakah sahabat, tabiin, tabiit tabiin, ulama’, pengemban dakwah maupun orang awam.

Karena itu, menjaga konsistensi dalam bersikap, berperilaku dan bertindak jauh lebih sulit. Tetapi, justru karena itu, pahalanya besar, dan mereka dicintai bukan hanya oleh manusia, tetapi juga para malaikat. Tidak hanya itu, konsistensi dalam bersikap, berperilaku dan bertindak, termasuk mengemban dakwah, itu sesungguhnya refleksi dari keimanan. Keimanan yang membuat mereka tidak lagi mempunyai rasa takut dan sedih dalam menghadapi tantangan hidup. Bahkan, mereka pun menatap masa depannya dengan optimisme yang membumbung, karena janji Allah, yaitu surga, sudah di depan mata.

Begitulah, Allah menuturkan tentang mereka dalam Q.s. Fusshilat: 30:

﴿إنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ﴾ [فصلت: 30]

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Malaikat turun menghampiri mereka, karena kemuliaan mereka, karena keyakinan dan sikap mereka yang begitu luar biasa. Para malaikat itu pun akan membantu mereka. Bagaimana caranya? Itu adalah urusan Allah SWT. Keyakinan dan sikap mereka yang luar biasa itulah yang membuat mereka tidak lagi mempunyai rasa takut, sedih, dan tetap teguh dengan pendiriannya, karena surga telah menanti mereka. Ketika pandangan mereka jauh ke akhirat, maka dunia pun dalam genggaman mereka.

Mata dan hati mereka tak lagi terbelenggu oleh dunia, karena pandangan mata dan hati mereka jauh menatap ke akhirat, setelah kematian mereka. Mereka pun menjadi orang yang paling cerdas, karena telah sanggup mengalahkan dirinya, dan dunia. Dunia benar-benar dalam genggamannya, tetapi dunia itu tidak menyandera hatinya. Karena itu, dia menjadi penakluk dunia, yang tetap tawadhu’, ahli ibadah yang khusyu’, dan tak tergoda dengan godaan dunia.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah buku yang luar biasa, yang ditulis untuk mengokohkan nafsiah para pengemban dakwah. Buku yang ditulis bukan saja oleh orang yang berilmu [al-‘alim], tetapi juga seorang pejuang [al-‘amil] dan pengemban dakwah [hamilu ad-da’wah]. Lebih terasa lagi nuansanya, karena tulisan-tulisan yang tertuang dalam buku ini merupakan hasil dialektika intelektual penulisnya dengan mereka-mereka yang menentang dakwah, baik karena tidak paham, salah paham maupun karena pahamnya salah.

Semoga buku yang ditulis oleh Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pdi ini bermanfaat, setidaknya bagi penulisnya, yang akan semakin mengokohkan keilmuannya. Juga bermanfaat bagi umat, khususnya para pengemban dakwah dalam mengarungi berbagai onak dan duri dalam mengemban dakwah. Setidaknya, apa yang dituangkan dalam buku ini bisa menjadi bekal dalam mengarungi berbagai ujian yang akan selalu menyertai perjalanan dakwah.


Bogor, 25 Agustus 2017 M
  3 Dzulhijjah 1438 H

Al-Faqir ila-Llah wa ‘Aunihi



KH Drs. Hafidz Abdurrahman, MA
Khadim Ma’had-Majlis Syaraful Haramain