06 September 2017

Napak Tilas Haji: Aspek Hukum, Sejarah dan Pelajaran

Dipublikasikan oleh Majalah Tsaqafia

Catatan Irfan Abu Naveed al-Atsari, M.Pd.I

Gambar terkait
Source: pinterest.com
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang mengandung banyak pelajaran, bagaikan limpahan permata yang tak boleh terkubur dalam lembaran sejarah yang terlupakan.

Sekilas Fikih Ibadah Haji
Keagungan ibadah haji ditandai oleh kedudukannya sebagai rukun Islam, difardhukan sekali seumur hidup kepada setiap muslim yang baligh, berakal, merdeka dan memiliki kemampuan, mencakup kemampuan fisik dan harta benda.[1] Disyari’atkan berdasarkan nas al-Qur’an dan al-Sunnah, ditegaskan konsensus para ulama[2], Allah SWT berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ {٩٧}
“Dan kewajiban bagi manusia terhadap Allah, mengerjakan haji, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Âli Imrân [3]: 97).

Kalimat ”wa liLlâhi ’ala al-nâs” dalam ayat ini, menandai perintah fardhu dari Allah, yakni perintah berhaji bagi siapa saja yang memiliki kemampuan (man istathâ’a), dengan indikasi tegas (qarînah jâzimah) adanya kalimat ”wa man kafara, berupa ancaman bagi siapa saja yang mengingkari ibadah agung ini. Diperjelas dalil al-Sunnah, dari Ibnu ‘Umar r.a., Nabi Saw. bersabda:

«بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ»
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Muttafaqun ’Alaihi)

Dengan ketentuan syari’at di antaranya mencakup:

Pertama, Syarat-Syarat
Ibadah haji difardhukan bagi mereka yang memenuhi syaratnya, yakni muslim, baligh, berakal sehat, merdeka dan memiliki kemampuan, mencakup kemampuan fisik dan materil untuk biaya perjalanan dan tanggungan yang ditinggalkan. Kelima syarat tersebut adalah syarat yang disepakati oleh para ulama, sebagaimana ditegaskan Ibn Qudamah al-Maqdisi (w. 620).[3]
Syarat sahnya ibadah haji: Islam, berakal, memenuhi miqat zamani, yakni dilakukan di waktu yang disyari’atkan (pada bulan-bulan haji), serta memenuhi miqat makani, artinya penunaian rukun dan wajib haji dilakukan di tempat tertentu yang telah ditetapkan, tidak sah dilakukan tempat lainnya: wukuf di Arafah, thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i di antara Shafa dan Marwah, dsb.
Kedua, Rukun-Rukun & Kewajiban-Kewajiban
          Rukun haji ada enam: Ihram haji yakni niat mengawali ibadah haji, wukuf di padang Arafah yakni berada di padang Arafah, thawaf ifadhah, sa’i yakni berlari-lari kecil di antara dua bukit (Shafa & Marwah), tahallul yakni memotong rambut kepala, tertib di antara kebanyakan rukun-rukunnya.[4] Seluruhnya ditunaikan semata-mata ittiba’ terhadap Rasulullah Saw.[5]
Disamping itu ada kewajiban-kewajiban: ihram dari miqat, bermalam di Muzdalifah meski hanya sejenak, bermalam di Mina, thawaf wada’, melontar jumrah Aqabah 7 kali.[6] Itu semua dilakukan pada hari-hari yang ditentukan syari’ah didukung berbagai kesunahan, yang dilakukan semata-mata demi mendekatkan diri kepada Allah, meraih keridhaan-Nya.

Sejarah Ka’bah & Pensyari’atan Ibadah Haji
Keagungan ibadah haji pun didukung oleh keagungan Ka’bah baituLlâh itu sendiri, kata al-hajj secara bahasa berkonotasi al-qashd (menuju), yakni banyak menuju sesuatu yang diagungkan[7], secara syar’i ia berkonotasi qashd al-Ka’bah li al-nusuk (menuju Ka’bah untuk menunaikan manasik).[8] Ka’bah dibangun fondasinya pertama kali oleh Nabi Adam a.s. berdasarkan riwayat yang dikuatkan Syaikh Atha bin Khalil.[9] Kemudian dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma’il a.s., berdasarkan isyarat dalam firman-Nya:

وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ {١٢٥}
“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud.” (QS. Al-Baqarah [2]: 125)

Menafsirkan ayat ini, Syaikh ’Atha bin Khalil menjelaskan yakni“telah Kami wahyukan kepada Ibrahim a.s. dan Isma’il a.s., agar keduanya mendirikan Baitul Haram dan menyucikannya untuk mereka yang Allah SWT sebutkan dalam ayat tsb.” Kata thahhirâ yakni jadikanlah ia tempat yang bersih yakni suci dan bersih untuk mereka yang thawaf, i’tikaf, ruku’ dan sujud kepada-Nya, kata thâhir[an] mengandung makna kiasan, yakni khâlish[an] naqiyy[an] (suci bersih), karena tempat dibangunnya BaituLlâh, tidak boleh ditinggali seseorang pun di dalamnya, tidak berhala-berhala, dan tidak pula berbagai perbuatan keji, harus disucikan dari itu semua (lihat: QS. Ibrâhîm [14]: 37).[10]
Sisi ini menunjukkan bahwa Ka’bah al-Musyarrafah memiliki sejarah yang agung, dibangun oleh tangan-tangan mulia berdasarkan perintah dari Allah SWT, relevan dengan informasi bahwa Allah telah mensyari’atkan ibadah haji kepada para rasul dan umat terdahulu (min al-syarâi’i al-qadîmah)[11], sebagaimana disyari’atkan kepada Rasulullah saw. dan umatnya. Perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya untuk beribadah haji ketika Mekkah di bawah bayang-bayang kekuasaan politik kaum Kafir Quraisyi, menunjukkan pentingnya ibadah ini di sisi mereka. Sehingga tak mengherankan jika penyelenggaraan ibadah haji pun difasilitasi dari masa ke masa oleh para Khalifah kaum Muslim, sebagai ri’âyah penguasa atas urusan rakyatnya.

Pelajaran Agung Di Balik Ritual Ibadah Haji
Banyak sekali pelajaran agung di balik ritual haji, relevan dengan keagungan tempat yang dikunjungi, BaituLlâh Ka’bah al-Musyarrafah.

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا {١٢٥}
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.” (QS. Al-Baqarah [2]: 125)

Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil menafsirkan ayat ini, menguraikan agungnya kedudukan baituLlâh. Beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan Ka’bah disifati dengan dua sifat yang sudah seharusnya melekat padanya:
Pertama, Sifat matsâbat[an] yakni tempat kembali manusia, mereka mengunjunginya setiap tahun, untuk kembali kepadanya, tidak akan pernah berhenti angan-angan terhadapnya. Maka siapa saja yang mengunjunginya sekali, takkan timbul anggapan sebagai akhir perjalanan mengunjunginya. Akan tetapi akan timbul keingian dalam dirinya untuk kembali kepadanya untuk yang kedua kalinya (dan seterusnya) (lihat: QS. Ibrâhîm [14]: 37)
Kedua, Sifat amn[an], ia adalah mashdar dari kata kerja amina-ya’manu-amn[an], mashdar di sini berkedudukan sebagai kata benda subjek (ism al-fâ’il) sebagai bentuk superlatif (mubâlaghah) dari kata al-amn (keamanan), yakni Kami menjadikan Baitul Haram sebagai tempat yang aman sentausa, sebagaimana isyarat dalam QS. Al-’Ankabût [29]: 67)[12]
          Poin ini menguatkan mulianya pengorbanan yang dikeluarkan untuk menunaikan ibadah yang agung ini, sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ {٢٨}
“Supaya mereka (orang yang haji) menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj [22]: 28)

Kata manafi’a, bentuk plural dari manfa’ah, diungkapkan dalam bentuk nakirah (tanpa alif lam), menunjukkan keluasan keberkahan di balik ibadah haji bagi mereka yang melaksanakannya, diantaranya:

Pertama, Dasar Kesadaran Politik Umat: Aspek Rûhiyyah Di Balik Talbiyyah & Ihram
Ibadah haji menanamkan dan menguatkan aspek rûhiyyah dalam setiap aktivitas, membangun kesadaran hubungannya dengan Allah yang berperan besar dalam membentuk sikap tunduk dan patuh pada syari’at-Nya secara totalitas, dimulai dari seruan talbiyyah ”labbaikaLlâhumma labbaik, labbaika lâ syarîka laka labbaik” yang mengandung jawaban atas seruan Allah sebagai tamu-Nya, dimulai dengan mengagungkan-Nya, mentauhidkan-Nya dan memuji-Nya. Seruan ini melatih hamba-Nya menyambut seluruh seruan Allah dan Rasul-Nya baik berupa perintah maupun larangan, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ {٢٤}
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfâl [8]: 24)

Kedua, Kesadaran Politik Umat: Menunaikan Manasik Haji Menanamkan Ketundukkan Total Terhadap Hukum Syari’ah
Ritual ibadah haji yang dimulai dengan ihram berniat haji, menjadi penanda kesiapan meninggalkan perkara-perkara yang pada asalnya mubah menjadi terlarang. Hal ini jelas melatih keteguhan meninggalkan perkara-perkara yang pada asalnya telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yang sudah seharusnya dijauhi seperti perbuatan anti terhadap syari’at Islam, menjegal dakwah Islam, bertransaksi ribawi, dsb.
Di sisi lain salah satu prasyarat meraih predikat haji mabrur dan maqbul, adalah konsisten mengikuti tatacara manasik haji yang dicontohkan Rasulullah Saw., dimana syari’at menegaskan kewajiban ittiba’ terhadap beliau Saw., sebagaimana sabda beliau Saw.:

«لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ»
“Hendaklah kalian ambil tata cara ibadah haji kalian (dari tata cara ibadah hajiku).” (HR. Muslim, Abu Dawud)

Kata lam pada hadits ini merupakan lam perintah, yang menandai perintah wajib dari Rasulullah saw. untuk mengadopsi tata cara ritual ibadah haji berdasarkan contoh darinya (ittibâ’). Ibadah haji pun merefleksikan rasa syukur atas berbagai kenikmatan, baik nikmat iman, Islam, akal sehat, usia, serta kemampuan fisik maupun harta benda, yang keseluruhannya menjadi syarat bagi kefardhuan ibadah haji. Diwujudkan tak hanya dengan menyucikan kalbu tapi juga menyucikan aktivitas lahiriah, dimana orang yang melaksanakan ibadah haji didorong mengikhlaskan niatnya semata-mata karena Allah, sebagaimana mereka didorong untuk banyak beribadah, berdo’a, berzikir, menggantikan berbagai aktivitas yang melalaikan dari-Nya, itu semua dilakukan dengan tatacara dan waktu-waktu yang ditentukan syari’ah, melatih ketundukkan kepada aturan-aturan Islam. Aspek ini sudah seharusnya membuahkan kesadaran politik umat untuk mengatur kehidupannya dengan syari’at Islam.
Ketundukkan totalitas sebagai wujud ketakwaan, dimana ketakwaan pun Allah tegaskan sebagai sebaik-baiknya perbekalan ibadah haji sebelum menuju kehidupan abadi:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ {١٩٧}
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)

Kata khair menunjukkan bentuk tafdhîl (pengutamaan), yakni sebaik-baiknya bekal kehidupan adalah ketakwaan, bukan harta benda duniawi yang ada dalam genggaman. Ketakwaan itu sendiri diwujudkan dalam bentuk sikap menegakkan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ketiga, Pentingnya Persatuan Umat Dilandasi Akidah Islam
Ibadah haji yang ditegakkan oleh umat Islam dari berbagai penjuru dunia, tanpa sekat ashabiyyah wathaniyyah jelas menumbuhkan dan menguatkan rasa persaudaraan dilandasi ikatan akidah Islam, ketika mereka semua bersama-sama ihram, thawaf, sa’i, wukuf dan lain sebagainya, disamping bersama-sama takbir, rukuk dan sujud kepada-Nya, tak memandang warna kulit dan asal usul seluruhnya menyatu dalam lautan hamba-hamba-Nya yang tunduk kepada-Nya, menunaikan amanah-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ {١٠}
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurât [49]: 10)

Dalam ayat yang agung ini, Allah SWT mengumpamakan hubungan di antara orang-orang yang beriman sebagai hubungan saudara senasab (ikhwah), berkonotasi ikatan persaudaraan karena nasab atau saudara kandung.[13] Dalam ilmu balaghah, ini termasuk bentuk penyerupaan yang kuat (tasybîh balîgh).[14] Realitas ini sudah seharusnya membuahkan kesadaran politik umat, pentingnya persatuan yang dibangun dari asas akidah Islam, bersatu dalam satu kepemimpinan Islam, wa biLlâhi al-taufîq. []







[1] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’în, hlm. 283.
[2] Ibn Qudamah al-Maqdisi, Al-Mughni, (III/164).
[3] Ibid.
[4] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’în, hlm. 285-288.
[5] Ibid, hlm. 288.
[6] Ibid.
[7] Al-Khalil bin Ahmad, Kitâb al-‘Ain, (III/9).
[8] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’în, hlm. 282.
[9] ‘Atha bin Khalil Abu Al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, hlm. 159.
[10] Ibid, hlm. 157.
[11] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’în, hlm. 282.
[12] ‘Atha bin Khalil, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, hlm. 155-156.
[13] Muhammad al-Razi, Mukhtâr al-Shihâh, hlm. 14.
[14] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr, (XXVI/235).