28 September 2017

Benarkah Mengoreksi Penguasa Wajib Empat Mata Karena Ada Kata 'Inda dalam Hadits Afdhal al-Jihad?


Pertanyaan

Kata 'inda pada kalimat 'inda sulthân[in] jâ'ir[in], dalam hadits afdhal al-jihâd apakah berkonotasi empat mata, yakni dihadapan penguasa empat mata saja? Yakni menyoal hadits ini, Rasulullah Saw. bersabda:
«أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»
“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar pada pemimpin yang zhalim.” (HR. Al-Hakim, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud, al-Thabrani, al-Baihaqi)

Ada pertanyaan menarik dari persepektif bahasa:

"Kata 'inda sulthon' dipahami lain oleh sebagian orang yang justru melarang aktivitas mengoreksi penguasa di depan umum, mohon dijelaskan ustadz... ”

Jawaban

Pertama, Kesimpulan tersebut bisa dinilai sebagai kesimpulan prematur, mengingat kesimpulan tersebut bertolak belakang dengan riwayat-riwayat yang menjadi argumentasi kokoh kebolehan mengoreksi penguasa zhalim secara terbuka, mencakup keteladanan Rasulullah Saw dan para sahabatnya.

Selengkapnya silahkan ditela'ah pada link berikut ini: Mengoreksi Penguasa Secara Terbuka dalam Islam dan 
Teladan Imam 'Abdul Qadir al-Jaylani Mengoreksi Penguasa di Atas Mimbar Masjid

Kedua, Kata 'inda, tak harus menunjukkan keharusan empat mata, sesuai dengan kajian dalam persepektif ilmu nahwu, dimana lafal ini berlaku untuk kata benda yang hâdhir (di hadapan mata) atau ghâib (tidak berada di hadapan mata).  

Lafal ’inda merupakan keterangan tempat (zharf makân[in]), berlaku untuk kata benda yang hadhir (di hadapan mata) atau ghaib (tidak berada di hadapan mata), sebagaimana keterangan yang disebutkan oleh Syaikh al-Adib al-Nahwi Mushthafa al-Ghulayaini (w. 1364 H):

أمّا "عند" فتكون للحاضر والغائب
“Adapun lafal ’inda, maka ia berlaku baik untuk sesuatu yang berada di depan mata atau ghaib.”[1]

Misalnya pada kalimat:
عِنْدِيْ مَالٌ
“Di sisiku terdapat uang.”

Artinya saya memiliki uang, meskipun uang tersebut sifatnya gaib, tersimpan jauh di suatu tempat
misalnya tidak ada di hadapan mata (misalnya di ATM, dsb). Berbeda dengan lafal لدن, yang berlaku untuk kata benda yang “hadhir”, dan hadits ini menggunakan diksi عِنْد, bukan لدن. Maka, kalimatu haqq[in] ’inda sulthân jâ’ir, bisa jadi kalimat yang haq tersebut disampaikan di hadapan penguasa (hâdhir) atau tidak di hadapannya (yakni ghâib namun sampai kepadanya dengan berbagai sarana).

Pada aspek ini, kita pun tidak menemukan adanya petunjuk lain keharusan empat mata, kita berbicara di hadapan seseorang, bisa jadi di depan orang banyak atau hanya berdua, sehingga untuk sampai pada kesimpulan keharusan empat mata, diperlukan petunjuk (qarînah) lainnya yang mendukung, dan realitasnya, tidak ditemukan adanya petunjuk tegas tersebut.

Misalnya kalimat:
جلَسْتُ عِنْدَ فُلانٍ
"Saya telah duduk di samping/di sisi seseorang."

Pada kalimat tersebut, kita tidak menemukan petunjuk apakah "saya" duduk berdua saja, atau duduk di samping orang lain di tempat publik, misalnya di bandara. Kita bisa tentukan jika ada keterangan lebih lanjut yang menunjukkan bahwa kebersamaan tersebut berdua saja, atau dihadapan banyak orang. Maka jelas bahwa dari sisi manapun, mengoreksi penguasa tidak wajib empat mata, boleh secara terbuka, sesuai dengan kemaslahatan yang harus dipertimbangkan dengan timbangan syari’ah. []


📜 Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

Khadim Ma'had Du'at al-Furqan
Penulis Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah: Tafsir & Balaghah Ayat-Ayat al-Qur'an & Hadits-Hadits Dakwah"



[1] Mushthafa bin Muhammad Salim Al-Ghulayaini, Jâmi’ al-Durûs al-‘Arabiyyah, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet. Ke-28, 1414 H, juz III, hlm. 61.

27 September 2017

Testimoni DR. KH. Ahmad Nawawi MA Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"

Info Pemesanan: WA/Telegram: +62 85861833427
"Buku yang Anda baca ini sangat diperlukan untuk menambah semangat da'wah yang sedikitpun tidak mengendur di kalangan kaum Muslim.  Inti yg terinspirasi di buku ini, tidak akan mungkin terwujud melainkan dengan berjamaah. Dan ini membutuhkan pemahaman tersendiri.  Insyaalloh di buku ini diungkapkan dengan detail..." 

Menjadi salah seorang pelaku sejarah kejayaan kaum Muslim di bawah khilafah nubuwah, sekecil apapun peranannya, merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang pejuang (mujahid). Baginya menjadi penyesalan yang tidak terkirakan andaikan dirinya hanya sebagai penonton, apalagi sebagai penghalang munculnya sistem khilafah tersebut sebagai mana berita yang dijanjikan Rosululloh saw (bisyaroh nubuwah).  Menurut para ahli sejarah, fase yang kita alami sekarang sudah berada di fase ke-4, yaitu mulk adhl, suatu keadaan super biadab ditandai dengan terjadinya penjajahan suatu bangsa (kaum kafir) terhadap bangsa lain (negeri kaum Muslim).  Tetapi selangkah lagi (fase ke-5) janji Rosululloh saw tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Inilah yang dikenal dengan fase khilafah ala minhajinnubuwah dan terjadi menjelang akhir zaman.  Ini suatu fase yang sebenarnya dirindukan semua umat manusia, apapun agamanya.  Inilah fase tegaknya keadilan dan kebenaran yang sempurna.

Dalam rangka mensukseskan cita-cita mulia tersebut, buku yang Anda baca ini sangat diperlukan untuk menambah semangat da'wah yang sedikitpun tidak mengendur di kalangan kaum Muslim.  Inti yg terinspirasi di buku ini, tidak akan mungkin terwujud melainkan dengan berjamaah. Dan ini membutuhkan pemahaman tersendiri.  Insyaalloh di buku ini diungkapkan dengan detail. Usaha ini sebagai tugas utama dalam hidup setiap muslim dalam menggoreskan sejarah hidup yang sangat fana.  Ini dilakukan sebagai bekal pulang ke kampung akhirat, membuka pintu surga Alloh SWT.

Depok, Zulhijjah 1438

Salam takzim dari seorang murid (thâlib al-’ilm)

DR. Ir. KH. Ahmad Nawawi, MA

Ketua MUI Kota Depok

Pengantar KH. Drs. Hafidh Abdurrahman Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"

Info Pemesanan: WA/Telegram: +62 85861833427

"Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah buku yang luar biasa, yang ditulis untuk mengokohkan nafsiah para pengemban dakwah. Buku yang ditulis bukan saja oleh orang yang berilmu [al-‘alim], tetapi juga seorang pejuang [al-‘amil] dan pengemban dakwah [hamilu ad-da’wah]. Lebih terasa lagi nuansanya, karena tulisan-tulisan yang tertuang dalam buku ini merupakan hasil dialektika intelektual penulisnya dengan mereka-mereka yang menentang dakwah, baik karena tidak paham, salah paham maupun karena pahamnya salah."

PENGANTAR BUKU NAFSIYAH

Kepribadian manusia, siapapun dia, sesungguhnya sama. Tiap kepribadian manusia terbentuk dari dua hal, yang tak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Pertama, adalah akliah [cara berpikir]. Kedua, nafsiah [cara mengendalikan diri]. Kedua hal ini juga harus dibentuk dan didasari dengan dasar dan kaidah yang sama, yaitu akidah, jika kepribadiannya ingin menjadi kepribadian yang khas, dan unik. Bukan kepribadian yang tidak jelas dan amburadul. Ini berlaku untuk semua kepribadian, baik kepribadian Islam maupun non-Islam.

Dua hal inilah yang harus benar-benar diperhatikan oleh siapun yang ingin membentuk dan mempunyai kepribadian yang unik, kuat dan tinggi. Karena kedua faktor inilah yang menentukan semuanya, yaitu akliah dan nafsiah. Bagi seorang Muslim, terutama pengemban dakwah, membentuk, menjaga dan meningkatkan akliah dan nafsiah Islam adalah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena pengemban dakwah bukan pribadi biasa, tetapi pribadi seorang pemimpin, inspirator, penggerak, motivator, bahkan penutan dan teladan umat.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana agar akliah dan nafsiah Islam pengemban dakwah itu tetap terjaga dan meningkat kualitasnya? Kuncinya adalah terus belajar dan meningkatkan pemahaman [ad-dirasah wa al-fahm], serta yakin dan menerapkan [al-yakin wa at-tathbiq] apa yang dipahami dan diyakininya. Terus belajar dan meningkatkan pemahaman adalah cara yang tepat untuk menjaga dan meningkatkan kualitas akliah pengemban dakwah. Begitu juga meyakini dan menerapkan apa yang dipahami dan diyakininya itu adalah cara untuk menjaga dan meningkatkan kualitas nafsiahnya. Inilah kunci utama dalam menjaga dan meningkatkan kepribadian kita.

Hanya saja, dari keempat kunci tersebut, yaitu ad-dirasah wa al-fahm dan al-yakin wa at-tathbiq, yang paling berat adalah yang terakhir, yaitu at-tathbiq  [menerapkan]. Untuk belajar, memahami hingga yakin relatif lebih mudah, tetapi menerapkan apa yang telah dipelajari, dipahami dan diyakini itu jauh lebih berat. Karena masalah yang terakhir ini adalah masalah pembuktian iman. Karena tanpa bukti kongkrit dalam bentuk tindakan dan perbuatan, apa yang diyakini, dipahami dan dipelajari itu tak akan tampak wujudnya. Bagian yang terakhir ini merupakan wilayah nafsiah. Karena itu, masalah nafsiah ini sangat sulit.

Bagaimana tidak, banyak orang yang berilmu, bahkan ilmunya sundul langit, tetapi keilmuannya tidak tercermin dalam sikap dan perilakunya. Karena keilmuan adalah hasil proses belajar dan memahami, sedangkan sikap dan perilaku adalah proses mengamalkan ilmu yang dipelajari, dipahami dan diyakini. Karena itu, tidak semua orang yang mempelajari, memahami dan meyakini ilmu, kemudian menggunakan dan menerapkannya dalam sikap dan perilakunya. Karena antara ilmu dan sikap adalah dua hal yang berbeda, bahkan dua wilayah yang berbeda.

Karena itu, jangan heran, jika ada orang alim melakukan kesalahan, bahkan pada level sahabat pun bisa mengalami hal yang sama. Karena mereka tetap manusia, bukan Malaikat. Manusia, dengan akal dan nafsunya bisa berubah, apalagi tidak ada satu pun manusia yang maksum, kecuali Rasulullah saw. Meksi akal dan nafsunya telah dibentuk menjadi akliah dan nasfiah Islam, tetapi faktor ketidakmaksuman itu membuat potensi manusia melakukan kesalahan tetap ada. Lihatlah, bagaimana Hatib bin Abi Balta’ah yang membocorkan rahasia Nabi saw. kepada kaum Kafir Quraisy di Makkah. Begitu juga pasukan kaum Muslim telah melarikan diri dari medan Perang Hunain. Semuanya ini membuktikan, bahwa potensi melakukan kesalahan tetap ada pada kepribadian manusia.

Kesalahan itu boleh jadi karena tidak tahu, atau tahu, tetapi akidah yang seharusnya digunakan sebagai kaidah berpikir tidak digunakan, atau tahu, dan akidahnya juga digunakan sebagai kaidah berpikirnya, tetapi syaitan dalam waktu singkat berhasil memerosokkannya, sehingga dia pun tergelincir. Inilah tiga faktor yang menyebabkan, mengapa seseorang yang mempunyai kepribadian Islam bisa juga melakukan kesalahan. Siapapun dia, apakah sahabat, tabiin, tabiit tabiin, ulama’, pengemban dakwah maupun orang awam.

Karena itu, menjaga konsistensi dalam bersikap, berperilaku dan bertindak jauh lebih sulit. Tetapi, justru karena itu, pahalanya besar, dan mereka dicintai bukan hanya oleh manusia, tetapi juga para malaikat. Tidak hanya itu, konsistensi dalam bersikap, berperilaku dan bertindak, termasuk mengemban dakwah, itu sesungguhnya refleksi dari keimanan. Keimanan yang membuat mereka tidak lagi mempunyai rasa takut dan sedih dalam menghadapi tantangan hidup. Bahkan, mereka pun menatap masa depannya dengan optimisme yang membumbung, karena janji Allah, yaitu surga, sudah di depan mata.

Begitulah, Allah menuturkan tentang mereka dalam Q.s. Fusshilat: 30:

﴿إنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ﴾ [فصلت: 30]

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Malaikat turun menghampiri mereka, karena kemuliaan mereka, karena keyakinan dan sikap mereka yang begitu luar biasa. Para malaikat itu pun akan membantu mereka. Bagaimana caranya? Itu adalah urusan Allah SWT. Keyakinan dan sikap mereka yang luar biasa itulah yang membuat mereka tidak lagi mempunyai rasa takut, sedih, dan tetap teguh dengan pendiriannya, karena surga telah menanti mereka. Ketika pandangan mereka jauh ke akhirat, maka dunia pun dalam genggaman mereka.

Mata dan hati mereka tak lagi terbelenggu oleh dunia, karena pandangan mata dan hati mereka jauh menatap ke akhirat, setelah kematian mereka. Mereka pun menjadi orang yang paling cerdas, karena telah sanggup mengalahkan dirinya, dan dunia. Dunia benar-benar dalam genggamannya, tetapi dunia itu tidak menyandera hatinya. Karena itu, dia menjadi penakluk dunia, yang tetap tawadhu’, ahli ibadah yang khusyu’, dan tak tergoda dengan godaan dunia.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah buku yang luar biasa, yang ditulis untuk mengokohkan nafsiah para pengemban dakwah. Buku yang ditulis bukan saja oleh orang yang berilmu [al-‘alim], tetapi juga seorang pejuang [al-‘amil] dan pengemban dakwah [hamilu ad-da’wah]. Lebih terasa lagi nuansanya, karena tulisan-tulisan yang tertuang dalam buku ini merupakan hasil dialektika intelektual penulisnya dengan mereka-mereka yang menentang dakwah, baik karena tidak paham, salah paham maupun karena pahamnya salah.

Semoga buku yang ditulis oleh Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pdi ini bermanfaat, setidaknya bagi penulisnya, yang akan semakin mengokohkan keilmuannya. Juga bermanfaat bagi umat, khususnya para pengemban dakwah dalam mengarungi berbagai onak dan duri dalam mengemban dakwah. Setidaknya, apa yang dituangkan dalam buku ini bisa menjadi bekal dalam mengarungi berbagai ujian yang akan selalu menyertai perjalanan dakwah.


Bogor, 25 Agustus 2017 M
  3 Dzulhijjah 1438 H

Al-Faqir ila-Llah wa ‘Aunihi



KH Drs. Hafidz Abdurrahman, MA
Khadim Ma’had-Majlis Syaraful Haramain





13 September 2017

Soal Jawab Ungkapan Al-Tijârah (Berniaga) dengan Allah (Ilmu Balaghah)


Arsip Soal Jawab Ma'had Du'at al-Furqan
Soal

Assalamualaikum
Afwan, sedikit bertanya Ustadz.
Tijaaroh,
تِجَارَة = perdagangan, perniagaan, bisnis
~~~
Jika membuat kalimat:
Bertijaaroh dengan Allah Swt : yaitu dengan Iman/ilmu/amal sholih sesuai syara'.
Apakah kata tijaaroh tersebut boleh dimasukkan dalam kalimat motivasi seperti tersebutkah, Ustadz? (Peserta Bahasa Arab Online Ma'had Du'at al-Furqan)

Jawaban

 وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته  

Hukumnya boleh, dengan konotasi majazi (kiasan), dalam ilmu balaghah termasuk bentuk isti'arah. Isti'arah itu lugasnya dalam ilmu balaghah yakni meminjam istilah karena ada irisan kesamaan; perniagaan seakan bermu'amalah dengan Allah untuk meraih pahala.

Istilah ini pun digunakan al-Qur'an baik dgn makna hakiki maupun majazi. Makna hakiki misalnya dalam QS. Al-Taubah [9]: 24. Sedangkan dgn makna majazi misalnya QS. Fâthir [35]: 29 dan QS. Al-Shaff [61]: 10, menggunakan bentuk isti'arah.

Isti'arah dgn istilah tijarah untuk menggambarkan upaya manusia 'menukar' amal shalihnya dgn pahala dari Allah pun menggambarkan istilah yg umumnya dicintai manusia; perniagaan dan meraih keuntungan sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Al-Taubah [9]: 24.

Ini dalam ilmu balaghah merupakan diksi pilihan, al-iqtidha li ahwal al-mukhathabin, yakni sesuai keadaan org yg diajak bicara dengan ungkapan yg sudah seharusnya menggiurkan mereka yang berakal.

Jawaban Lanjutan

Ungkapan menarik dibalik kiasan isti'arah di balik kata tijârah dalam QS. Fâthir [35]: 29 dan QS. Al-Shaff [61]: 10:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ {٢٩}
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.(QS. Fâthir [35]: 29)

Dalam ayat yang agung ini, Allah memilih diksi kata tijârah (perniagaan), ia merupakan bentuk isti’ârah. Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili (w. 1436 H) dalam kitab tafsirnya, al-Munir (juz ke-22, hlm. 258), menjelaskan balaghah ayat ini:

يَرْجُونَ تِجارَةً لَنْ تَبُورَ استعارة، استعار التجارة للمعاملة مع الله لنيل ثوابه، وشبهها بالتجارة الدنيوية، وأيدها بقوله: لَنْ تَبُورَ
Kalimat (يَرْجُونَ تِجارَةً لَنْ تَبُورَ) merupakan bentuk isti’ârah, yakni meminjam istilah al-tijârah (perniagaan) terhadap bentuk mu’amalah (interaksi) dengan Allah untuk meraih pahala dari-Nya, Allah menyerupakan mu’amalah ini dengan istilah al-tijârah al-dunyawiyyah (perniagaan duniawi), dan menguatkannya dengan kalimat firman-Nya: lan tabûr[a] (لَنْ تَبُورَ).

Kalimat lan tabûr[a] (لَنْ تَبُورَ), menurut Prof. Wahbah al-Zuhaili pun merupakan sifat (karakter) dari kata tijârah yang disebutkan dalam ayat ini (يَرْجُونَ تِجارَةً خبر إن. ولَنْ تَبُورَ صفة للتجارة), yakni perniagaan yang tidak akan pernah merugi.

Huruf lan itu pun berkonotasi menguatkan bentuk penafian, sebagaimana disebutkan Syaikh Mushthafa al-Ghalayayni dalam Jâmi’ al-Durûs al-‘Arabiyyah.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Lanjutan II

Ungkapan tijârah (perniagaan) dengan konotasi majâzi pun kita temukan dalam ayat lainnya:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ {١٠}
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?” (QS. Al-Shaff [61]: 10)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah SWT menyeru orang-orang beriman, seruan mulia dari Rabb Yang Maha Mulia, seruan mengandung pelajaran yang diungkapkan dalam bentuk pertanyaan untuk menarik perhatian dan dorongan untuk berpikir, Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili (w. 1436 H) menjelaskan bahwa bentuk pertanyaan ini dalam ilmu balaghah merupakan bentuk istifhâm li al-targhîb wa al-tasywîq {استفهام للترغيب والتشويق} mengandung targhîb (dorongan motivasi), dan tasywîq (penarik perhatian yang menguatkan kecintaan).

Dalam ilmu balaghah, faidah dari al-tasywiq ini adalah mengarahkan pihak yang diseru untuk tertarik pada suatu hal (وإنما يريد أن يوجه المخاطب ويشوقه إلى أمر من الأمور).[1]

Dalam buku Al-Balâghah untuk Universitas Islam Madinah diuraikan dengan menukil ayat di atas salah satu contohnya, bahwa ayat ini termasuk ayat-ayat mulia yang mengandung dorongan bagi pihak yang diseru dan tertarik untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, sehingga ia berpikir, tersibukkan dengannya, menantikannya dengan berbagai pendekatan dan penela’ahan, lalu tiba jawaban tersebut menimbulkan penerimaan yang baik dalam diri pihak yang diseru.[2] Di sisi lain, faidah dari bentuk pertanyaan ini adalah pengagungan terhadap persoalan (al-ta’zhim).[3]

Luar biasanya, jawabannya pun Allah jelaskan kemudian pada ayat selanjutnya:

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ {١١}
“(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Shaff [61]: 11)

Dalam ilmu balaghah, bentuk pertanyaan lalu jawaban ini termasuk bentuk al-ithnâb, bentuk al-îdhâh ba’da al-ibhâm {الإِيضاح بعد الإبهام}, yakni kejelasan setelah sebelumnya samar, sebagai metode pengajaran luar biasa yang menuntun hamba-Nya untuk memperhatikan dan berpikir. Benar apa yang disebutkan dalam buku al-Balâghah:

ففي الإبهام إثارة للمخاطب وتحريك لفكره، فيتطلع إلى إيضاح ما أبهم، وعندئذ يأتي الإيضاح، فيتقرر المعنى في ذهن المخاطب ويقع موقعه، وفي هذا تفخيم وتهويل للعذاب الذي حل بهم؛ لأنه ذُكر مرتين؛ مرة على طريق الإجمال والإبهام ومرة على طريق التفصيل والإيضاح، والشيء إذا ذُكر مرتين كان آكد في النفس وأشد تعلقًا والتصاقًا بالنفس

Kalimat tunjîkum min ’adzab[in] ’alîm[ (تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ), merupakan sifat dari kata tijarah yang dimaksud dalam ayat, sesuai kaidah bahasa arab:

الجمل بعد النكرات صفات
“Kalimat-kalimat setelah kata-kata benda nakirah itu sifat-sifatnya.

Kata alîm adalah sifat dari adzab tersebut, ia merupakan bentuk mubâlaghah (superlatif) untuk menunjukkan adzab yang sangat pedih.

Dimana perniagaan yang menyelamatkan dari adzab yang sangat pedih ini, bisa diraih dengan dua hal (QS. Al-Shaff [61]: 11):

Pertama, Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
Kedua, Berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwanya.

Luar biasanya, pada akhir ayat Allah Azza wa Jalla memuji perniagaan tersebut sebagai pilihan yang lebih baik bagi mereka yang mengetahui (ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ), berniaga dengan Allah ’Azza wa Jalla dengan iman dan amal shalih, termasuk pula aktivitas dakwah, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, yang dilakukan semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya, meniti jalan Rasul-Nya –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-.

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا يحبه

والله أعلم بالصواب

===========
Ust Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Khadim Ma'had Du'at al-Furqan



[1] Abdul Aziz Atiq, ‘Ilm al-Ma’ani, Beirut: Dar al-Nahdhah al-Arabiyyah, cet. I, 1430 H, hlm. 106.
[2] Tim Pakar Universitas Islam Madinah, Al-Balaghah II: Al-Ma’ani, Madinah: Universitas Islam Madinah, t.t., hlm. 391.
[3] Ibid.

Soal Jawab Makna Kata Sharf & Tauzi’ dalam Kitab Al-Amwâl


Arsip Soal Jawab Bahasa Arab Ma'had Du'at al-Furqan [1]
Soal

assalamualaikum... ustadz mau tanya, di dlm kitab al amwal daulah khilafah bnyk digunakan lafadz
 صرف  dan   توزيع
diartikan sama  = belanja, distribusi. sebenarnya perbedaan penggunaanya ada atau tidak?. syukron jwbnya. (Peserta Bhs Arab OL Ma’had Du’at al-Furqan)

Jawaban
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Terkait kedua kata ini, ada sejumlah perbedaan pada poin-poin:

Pertama, Kata صَرْفٌ merupakan mashdar (kata kerja yang dibendakan) dari kata kerja: صَرَفَ:
صرَفَ يصرِف صَرْفًا

Ia memiliki konotasi dengan perincian makna dalam penggunaannya yang berbeda dengan kata tauzi’ (تَوْزِيْع), dalam almaany.com dirinci contohnya:
صرَف المالَ ونحوَه : أنفقه
(Sharf al-mâl dan yang semisalnya: menginfakkan/mengeluarkan harta), pengertian ini yang digunakan dalam konotasi membelanjakan harta, yakni mengeluarkannya dalam pembahasan kitab terkait keuangan tersebut, al-Amwal.

صرف وقتَه في القراءة : قضاه
(Sharf al-maal dan yang semisalnya: menginfakkan/mengeluarkan harta)

صرَف العُملةَ : حوَّلها وبدَّلها بمثلها ، باعها بعملة أخرى
صرَف همَّه إليه : انقطع له
صرَف الشَّخصَ : خلَّى سبيله
صَرَفَ العُمَّالَ : سَرَّحَهُمْ
صرَف الشَّخصَ : ردَّه ، أمره بالابتعاد صرَف الشحَّاذََ اللحوحَ
صرَف اللهُ قلوبَهم : أضلَّهم
صَرَفَ الكلام : زيَّنه
صَرَفَ الشراب : لم يمزُجْهُ

Kata صَرْف, pun bisa berkonotasi ”perbuatan memalingkan (sesuatu)”, misalnya dalam pengertian sihir yang disebutkan para ulama termasuk Syaikh ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam al-Taisîr-nya.

Perbedaannya dengan kata tauzi’ (توزيع), ia adalah mashdar dari kata kerja: وَزَّعَ - يُوَزِّعُ – تَوْزِيْعًا. Ia berkonotasi mendistribusikan, membagi, memisahkan (التفريق), memetakan sesuatu, dan yang semisalnya sesuai konotasinya dalam setiap kalimat.

Ini termasuk contoh kekayaan kosakata bahasa arab.

===========
Ust Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Khadim Ma'had Du'at al-Furqan

11 September 2017

Khilafah dalam Persepektif Islam (Penjelasan Para Ulama Mu'tabar)

Gambar terkait


Irfan Abu Naveed, M.Pd.I[1]

P
rinsip yang harus diperhatikan kaum Muslim untuk memahami hakikat Khilafah di tengah gencarnya syubhat adalah: mengembalikan topik agung ini kepada pokok pembahasannya dalam Islam. Sehingga mendudukkannya sebagaimana sikap Rasulullah SAW dan para sahabat, tak terpedaya penyesatan opini yang digencarkan oleh mereka yang gelap mata, mendikte Khilafah dengan kacamata kuda peradaban Barat. Padahal topik ini telah diulas para ulama rabbani pewaris para nabi, dengan pembahasan yang mapan tak mengandung kecacatan, gamblang tak mengandung kesamaran, Allah al-Musta’an.

A.   Pengertian Khilafah
Asal usul kata khilâfah, kembali kepada ragam bentukan kata dari kata kerja khalafa. Al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H) mengungkapkan: fulân[un] yakhlufu fulân[an] fî ‘iyâlihi bi khilâfat[in] hasanat[in].[2] Yang menggambarkan estafeta kepemimpinan, hal senada diungkapkan oleh al-Qalqasyandi (w. 821 H),[3] salah satu contohnya dalam QS. Al-A’râf [7]: 142. Al-Qalqasyandi menegaskan bahwa khilafah secara ’urf lantas disebut untuk kepemimpinan agung, memperkuat makna syar’inya yang menggambarkan kepemimpinan umum atas umat, menegakkan berbagai urusan dan kebutuhannya.[4]
Namun bukan sembarang kepemimpinan, melainkan kepemimpinan yang menjadi pengganti kenabian dalam memelihara urusan Din ini, dan mengatur urusan dunia dengannya, ditegaskan Imam al-Mawardi (w. 450 H)[5], Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H)[6] dan para ulama lainnya. Dari Abu Hurairah r.a., Nabi SAW bersabda:
«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ» 
“Adalah bani Israil, urusan mereka diatur oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain, sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada para Khalîfah yang banyak.” (HR. Muttafaqun ’alayh)
Dengan kata lain, kepemimpinan dengan ruh Islam ini menjadi menjadi ciri khas mulia, membedakannya dengan sistem sekular yang mengundang malapetaka. Inilah yang diungkapkan Al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani, menjelaskan makna syar’i secara mapan digali dari nas-nas syar’i, bahwa Khilafah adalah “kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syari’at Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.”
Yakni mengemban dakwah dengan hujjah dan jihad.[7]

B.   Istilah Khilâfah dan Imâmah
Istilah khilafah, diungkapkan pula oleh para ulama dengan istilah imamah, yakni al-imâmah al-’uzhmâ, keduanya bentuk sinonim (mutarâdif) karena esensinya sama, yakni topik kepemimpinan dalam Islam. Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan bahwa al-imâmah al-’uzhmâ, al-khilâfah, atau imârat al-mu’minîn, seluruhnya semakna.[8] Hal ini pun ditegaskan oleh Dr. Shalah al-Shawi.[9] Hal itu terbukti ketika sebagian ulama mengeksplorasi kedua istilah ini secara bersamaan, semisal Imam al-Mawardi.[10]
Hal ini menggugurkan klaim orang yang menyimpangkan aqwâl ulama dalam topik al-imâmah, untuk menjustifikasi kepemimpinan di luar Islam yang sekularistik. Padahal setiap sistem politik, dibangun dari berbagai karakteristik yang membedakan satu sama lain, dari persoalan prinsip hingga cabangnya: antara Islam dan sekularisme yang menjadi pijakan Demokrasi jelas bertentangan secara asasi. Karakteristik ini ditegaskan para pakar kontemporer, semisal Dr. Shalah Al-Shawi.[11]

C.   Dasar Kewajiban Menegakkan Khilafah
Dalam perinciannya, kewajiban menegakkan khilafah merupakan perkara yang ma’lûm disepakati salaful ummah dan ulama ahlus sunnah, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kefardhuan agama tersebar, diuraikan dalam turâts para ulama dengan perincian dalil:
Pertama, Al-Qur’an
Dalil pertama, Allâh memerintahkan kita mena’ati ulil amri dalam QS. Al-Nisâ’ [4]: 59. Maka berdasarkan dalâlah al-iltizam, perintah menta’ati ulil amri pun merupakan perintah mewujudkannya sehingga kewajiban tersebut terlaksana. Maka ayat tersebut pun mengandung petunjuk, wajibnya mengadakan ulil amri (Khalifah) dan sistem syar’inya (Khilafah).
Dalil kedua, Dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah mewajibkan kaum Muslim menegakkan syari’at Islam (lihat: QS. Al-Baqarah [2]: 208, QS. Al-Mâ’idah [5]: 48), namun penerapannya takkan sempurna kecuali dengan tegaknya Khilafah, maka menegakkannya wajib, sesuai kaidah syar’iyyah:
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Hal-hal dimana suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya pun wajib.[12]
Para ulama pun menjadikan kaidah ini: penguat hujjah wajibnya khilafah, penerapannya dijelaskan oleh Imam al-Naisaburi (w. 850 H): Umat ini (ulama) bersepakat bahwa yang diseru dari firman-Nya: ”Jilidlah” adalah Imam hingga mereka pun berhujjah dengannya atas kewajiban mengangkat Imam (Khalifah), karena sesungguhnya hal dimana kewajiban takkan sempurna kecuali dengannya maka hal tersebut menjadi wajib adanya.”[13]
Kedua, Al-Sunnah
Banyak dalil-dalil al-Sunnah yang mendasarinya: hadits dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi SAW bersabda:
«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»
Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alaih)
Hadits ini mengandung pujian yang sangat kuat terhadap sosok Khalifah, karena maksud dari al-Imâm dalam hadits ini adalah Khalîfah, ditegaskan al-Mulla al-Qari (w. 1041 H),[14] dimana pujian tersebut -dalam ilmu balaghah- ditunjukkan oleh dua hal: ungkapan qashr (pengkhususan) dan tasybîh mu’akkad (penyerupaan tegas) yang menyerupakan Khalifah sebagai perisai kaum Muslim. Jika adanya “hal yang dipuji” tersebut menjadi sebab tegaknya hukum Islam, sebaliknya jika ia tiada menyebabkan hukum Islam terbengkalai, maka pujian tersebut merupakan qarînah jazîmah (indikasi tegas) bahwa “hal yang dipuji” tersebut hukumnya wajib. Yakni tegaknya sistem Khilafah. Dalil lainnya, Rasulullah SAW bersabda:
«مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»
“Barangsiapa yang mati sedangkan dipundaknya tiada bai’at (kepada Khalîfah), maka ia mati seperti mati jahiliyyah.” (HR. Muslim)
            Bai’at secara terminologis adalah hak umat dalam melaksanakan akad penyerahan kekhilafahan. Para ulama menegaskan bahwa bai’at merupakan metode syar’i mengangkat Khalîfah.[15] Nabi SAW telah mewajibkan adanya bai’at di pundak setiap muslim, dengan qarînah jâzimah adanya ancaman tasybîh: mati seperti mati jahiliyyah, menurut al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) yakni mati dalam keadaan bermaksiat.[16]
Hadits ini mewajibkan adanya bai’at di atas pundak setiap Muslim, dan bai’at tidak diberikan kecuali kepada Khalifah, maka ini menjadi dalil wajibnya mengadakan Khalifah, menegakkan sistem Khilafah dengan tempo tiga hari. Imam Ibn Hubairah (w. 560 H) menjelaskan hadits ini menegaskan:
“Yakni jika tiada Imam/Khalifah baginya, dan ini menunjukkan bahwa tidak boleh terjadi kekosongan yang meliputi kaum Muslim, lebih dari tiga hari sebagai tempo syura’ (dari ketiadaan khilafah), kecuali di pundak mereka terdapat bai’at terhadap seorang Khalifah tempat kembali mereka.”[17]
Ketiga, Ijma’ Sahabat
Jika konsep khilafah dipertentangkan dengan konsep lain yang mengatasnamakan kesepakatan, maka harus kembali kepada prinsip bahwa ijma’ sahabat, menurut ahl al-’ilm, menjadi hujjah syar’i berdasarkan dalil QS. Al-Taubah [9]: 100, diunggulkan atas kesepakatan manusia manapun. Dimana sahabat berijma’ atas wajibnya menegakkan khilafah, mengangkat khalifah. Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra (w. 458 H) ketika mengomentari peristiwa bersejarah diskusi alot antara tokoh-tokoh Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin menegaskan: Jika seandainya al-Imamah (Khilafah) itu tidak wajib, maka takkan berlangsung diskusi alot tersebut dan dialog tentangnya.”[18]
Sebelumnya, al-Farra menegaskan bahwa Khilafah hukumnya wajib berdasarkan dalil al-sam’u (yakni dalil-dalil naqli).[19] Penjelasan senada ditegaskan oleh al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) dalam kitab tafsirnya.[20] Di sisi lain, para sahabat pun lebih mendahulukan pengangkatan Khalifah daripada pemakaman jenazah Rasulullah SAW, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Khaththabi (w. 388 H). Setelah menjelaskan ijma’ sahabat ini, al-Khaththabi (w. 388 H) lalu menegaskan:
وذلك من أدل الدليل على وجوب الخلافة وأنه لا بد للناس من إمام يقوم بأمر الناس ويمضي فيهم أحكام الله ويردعهم عن الشر ويمنعهم من التظالم والتفاسد
“Dan dalil tersebut (ijma’ sahabat) merupakan sejelas-jelasnya dalil atas wajibnya menegakkan al-Khilafah dan bahwa harus ada seorang Imam (Khalifah) bagi masyarakat yang berdiri memerintah dan mengatur mereka dengan hukum-hukum Allah, menjauhkan mereka dari keburukan, menghalangi mereka saling menzhalimi dan merusak.”[21]
Maka tak mengherankan jika para ulama pun menegaskan kesepakatan mereka atas wajibnya menegakkan Khilafah. Imam Ibn Hazm (w. 456 H) mendokumentasikan: Mereka (para ulama) sepakat bahwa imamah itu fardhu dan adanya Imam itu merupakan  suatu keharusan.[22]

D.   Pilar-Pilar Khilafah
Para ulama, menjelaskan empat pilar politik Islam dalam sistem Khilafah:

Pertama, Kedaulatan di tangan syara’ (al-siyâdah li al-syar’i), yang menjamin penegakkan hukum al-Qur’an dan al-Sunnah dalam kehidupan, mengundang keberkahan dari Allah, menebarkan rahmat bagi alam semesta.

Kedua, Kekuasaan milik umat (al-sulthân li al-ummah), yakni dengan adanya hak bai’at untuk mengangkat khalifah, yang dibai’at untuk menegakkan hukum al-Qur’an dan al-Sunnah, yang menjamin terealisasinya kepemimpinan yang amanah menegakkan syari’at Islam.

Ketiga, Kewajiban adanya satu kepemimpinan Khalifah untuk seluruh umat (wujûb al-khalîfah al-wahîd li al-muslimîn), yang menjamin realisasi kesatuan kaum Muslim dalam satu institusi super power untuk menegakkan Islam dalam kehidupan.

Keempat, Khalifah berhak mengadopsi hukum (li al-khalîfah haq al-tabanni), yang menjamin kesatuan kaum Muslim, menjaganya dari ancaman perpecahan. Adopsi hukum yang berkaitan dengan kesatuan kaum Muslim, dimana tanpa kesatuan ini kaum Muslim akan berpecah belah.

E.   Khatimah
          Khilafah, terang benderang sebagai bagian dari ajaran Islam yang mulia, memuliakan mereka yang mengemban dan memperjuangkannya, seterang mentari terbit tak terhalang awan bagi ia yang teguh meniti jalan Rasul-Nya.



[1] Mudir & Pengasuh Ma’had Du’at al-Furqan
[2] Al-Khalil bin Ahmad, Kitâb al-‘Ain, Dâr al-Hilâl, IV/268
[3] Ahmad bin Ali al-Qalqasyandi, Ma’âtsir al-Inâfah fî Ma’alim al-Khilâfah, Hukumat al-Kuwait, I/8
[4] Ibid.
[5] Abu al-Hasan al-Mawardi, Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah, Dâr al-Hadîts, I/15
[6] Abu al-Ma’ali al-Juwaini, Ghiyâts al-Umam fî al-Tiyâts al-Zhulm, Maktabat al-Imâm, I/22
[7] Al-Juwaini, Ghiyâts al-Umam, I/22
[8] Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, Dâr al-Fikr, VIII/6144
[9] Dr. Shalah Al-Shawi, Al-Wajîz fî Fiqh Al-Khilâfah, Dâr al-I’lâm, hlm. 5
[10] Al-Mawardi, Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah, I/15
[11] Dr. Shalah Al-Shawi, Al-Wajîz, hlm. 7
[12] Tajuddin ‘Abdul Wahhab al-Subki, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, II/88
[13] Nizhamuddin al-Naisaburi, Gharâ’ib al-Qur’ân wa Raghâ’ib al-Furqân, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, V/148
[14] Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh, Dâr al-Fikr, VI/2391
[15] Hal ini disimpulkan dari ulasan para ulama terkait bai’at untuk khalifah, misalnya dalam kitab al-Ahkâm al-Sulthaniyyah karya Imam al-Mawardi.
[16] Ahmad bin Ali al-Asqalani, Fath al-Bâri, Dâr al-Ma’rifah, XIII/7
[17] Yahya bin Hubairah al-Syaibani, Al-Ifshâh ‘An Ma’âni al-Shihâh, Dâr al-Wathan, IV/262
[18] Abu Ya’la al-Farra, Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, I/19
[19] Ibid
[20] Abu Abdullah Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Dâr ‘Âlam al-Kutub, I/264
[21] Abu Sulaiman al-Khathabi, Ma’âlim al-Sunan, Al-Mathba’ah al-‘Ilmiyyah, III/6
[22] Ibn Hazm Al-Andalusi, Marâtib al-Ijmâ’, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, I/124