Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2017

Benarkah Mengoreksi Penguasa Wajib Empat Mata Karena Ada Kata 'Inda dalam Hadits Afdhal al-Jihad?

Pertanyaan Kata 'inda pada kalimat 'inda sulthân[in] jâ'ir[in] , dalam hadits afdhal al-jihâd apakah berkonotasi empat mata, yakni dihadapan penguasa empat mata saja?  Yakni menyoal hadits ini, Rasulullah Saw. bersabda: «أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ» “Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar pada pemimpin yang zhalim.” (HR. Al-Hakim, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud, al-Thabrani, al-Baihaqi) Ada pertanyaan menarik dari persepektif bahasa: "Kata 'inda sulthon' dipahami lain oleh sebagian orang yang justru melarang aktivitas mengoreksi penguasa di depan umum, mohon dijelaskan ustadz... ” Jawaban Pertama, Kesimpulan tersebut bisa dinilai sebagai kesimpulan prematur, mengingat kesimpulan tersebut bertolak belakang dengan riwayat-riwayat yang menjadi argumentasi kokoh kebolehan mengoreksi penguasa zhalim secara terbuka, mencakup keteladanan Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Selengkapnya silahkan d

Testimoni DR. KH. Ahmad Nawawi MA Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"

Info Pemesanan: WA/Telegram: +62 85861833427 "Buku yang Anda baca ini sangat diperlukan untuk menambah semangat da'wah yang sedikitpun tidak mengendur di kalangan kaum Muslim.  Inti yg terinspirasi di buku ini, tidak akan mungkin terwujud melainkan dengan berjamaah. Dan ini membutuhkan pemahaman tersendiri.  Insyaalloh di buku ini diungkapkan dengan detail..."  Menjadi salah seorang pelaku sejarah kejayaan kaum Muslim di bawah khilafah nubuwah, sekecil apapun peranannya, merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang pejuang (mujahid). Baginya menjadi penyesalan yang tidak terkirakan andaikan dirinya hanya sebagai penonton, apalagi sebagai penghalang munculnya sistem khilafah tersebut sebagai mana berita yang dijanjikan Rosululloh saw (bisyaroh nubuwah).  Menurut para ahli sejarah, fase yang kita alami sekarang sudah berada di fase ke-4, yaitu mulk adhl, suatu keadaan super biadab ditandai dengan terjadinya penjajahan suatu bangsa (kaum kafir) terhadap bangsa lain

Pengantar KH. Drs. Hafidh Abdurrahman Buku "Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah"

Info Pemesanan: WA/Telegram: +62 85861833427 "Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah buku yang luar biasa, yang ditulis untuk mengokohkan nafsiah para pengemban dakwah. Buku yang ditulis bukan saja oleh orang yang berilmu [ al-‘alim ], tetapi juga seorang pejuang [ al-‘amil ] dan pengemban dakwah [ hamilu ad-da’wah ]. Lebih terasa lagi nuansanya, karena tulisan-tulisan yang tertuang dalam buku ini merupakan hasil dialektika intelektual penulisnya dengan mereka-mereka yang menentang dakwah, baik karena tidak paham, salah paham maupun karena pahamnya salah." PENGANTAR BUKU NAFSIYAH Kepribadian manusia, siapapun dia, sesungguhnya sama. Tiap kepribadian manusia terbentuk dari dua hal, yang tak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Pertama , adalah akliah [cara berpikir]. Kedua , nafsiah [cara mengendalikan diri]. Kedua hal ini juga harus dibentuk dan didasari dengan dasar dan kaidah yang sama, yaitu akidah, jika kepribadiannya ingin menjadi kepribadian

Soal Jawab Ungkapan Al-Tijârah (Berniaga) dengan Allah (Ilmu Balaghah)

Arsip Soal Jawab Ma'had Du'at al-Furqan Soal Assalamualaikum Afwan, sedikit bertanya Ustadz. Tijaaroh, تِجَارَة = perdagangan, perniagaan, bisnis ~~~ Jika membuat kalimat: Bertijaaroh dengan Allah Swt : yaitu dengan Iman/ilmu/amal sholih sesuai syara'. Apakah kata tijaaroh tersebut boleh dimasukkan dalam kalimat motivasi seperti tersebutkah, Ustadz? (Peserta Bahasa Arab Online Ma'had Du'at al-Furqan) Jawaban   وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته    Hukumnya boleh, dengan konotasi majazi (kiasan), dalam ilmu balaghah termasuk bentuk isti'arah. Isti'arah itu lugasnya dalam ilmu balaghah yakni meminjam istilah karena ada irisan kesamaan; perniagaan seakan bermu'amalah dengan Allah untuk meraih pahala. Istilah ini pun digunakan al-Qur'an baik dgn makna hakiki maupun majazi. Makna hakiki misalnya dalam QS. Al-Taubah [9]: 24. Sedangkan dgn makna majazi misalnya QS. Fâthir [35]: 29 dan QS. Al-Shaff

Soal Jawab Makna Kata Sharf & Tauzi’ dalam Kitab Al-Amwâl

Arsip Soal Jawab Bahasa Arab Ma'had Du'at al-Furqan [1] Soal assalamualaikum... ustadz mau tanya, di dlm kitab al amwal daulah khilafah bnyk digunakan lafadz   صرف   dan   توزيع diartikan sama  = belanja, distribusi. sebenarnya perbedaan penggunaanya ada atau tidak?. syukron jwbnya. (Peserta Bhs Arab OL Ma’had Du’at al-Furqan) Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Terkait kedua kata ini, ada sejumlah perbedaan pada poin-poin: Pertama, Kata صَرْفٌ merupakan mashdar (kata kerja yang dibendakan) dari kata kerja: صَرَفَ : صرَفَ يصرِف صَرْفًا Ia memiliki konotasi dengan perincian makna dalam penggunaannya yang berbeda dengan kata tauzi’ ( تَوْزِيْع ), dalam almaany.com dirinci contohnya: صرَف المالَ ونحوَه : أنفقه ( Sharf al-mâl dan yang semisalnya: menginfakkan/mengeluarkan harta), pengertian ini yang digunakan dalam konotasi membelanjakan harta, yakni mengeluarkannya dalam pembahasan kitab terkait keuangan tersebut, al-Amwal. صرف

Khilafah dalam Persepektif Islam (Penjelasan Para Ulama Mu'tabar)

Irfan Abu Naveed, M.Pd.I [1] P rinsip yang harus diperhatikan kaum Muslim untuk memahami hakikat Khilafah di tengah gencarnya syubhat adalah: mengembalikan topik agung ini kepada pokok pembahasannya dalam Islam. Sehingga mendudukkannya sebagaimana sikap Rasulullah SAW dan para sahabat, tak terpedaya penyesatan opini yang digencarkan oleh mereka yang gelap mata, mendikte Khilafah dengan kacamata kuda peradaban Barat. Padahal topik ini telah diulas para ulama rabbani pewaris para nabi, dengan pembahasan yang mapan tak mengandung kecacatan, gamblang tak mengandung kesamaran, Allah al-Musta’an. A.    Pengertian Khilafah Asal usul kata khilâfah, kembali kepada ragam bentukan kata dari kata kerja khalafa. Al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H) mengungkapkan: fulân[un] yakhlufu fulân[an] fî ‘iyâlihi bi khilâfat[in] hasanat[in]. [2] Yang menggambarkan estafeta kepemimpinan, hal senada diungkapkan oleh al-Qalqasyandi (w. 821 H), [3] salah satu contohnya dalam QS. Al-