Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2017

[Bag. III] Jawaban atas Berbagai Syubhat Fatwa Tak Wajibnya Mengorganisasi Dakwah

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد Pembentukan kelompok dakwah terorganisir merupakan perkara fardhu kifayah, wajib ada di antara umat ini, tidak bisa dihukumi sebatas mubah! Perincian bantahan: Pertama, Jawaban atas Tuduhan Menyoal Penukilan, Meluruskan Pemahaman Membaca komentar-komentar mereka yang memfatwakan tidak wajibnya mengorganisasi dakwah ( link diskusi ), ana menyimpulkan mereka terlihat seperti orang yang tidak memahami alur penjelasan artikel yang telah saya jelaskan di sini ( artikel I , artikel II ), berkali-kali mempertanyakan seperti orang yang tak membaca keseluruhan, atau membaca tapi tergesa-gesa untuk melahirkan asumsi baru terkait penukilan, terbukti dengan kesalahan memahami alur penukilan, sama seperti gegabahnya memfatwakan mudahnya dakwah tak wajib diorganisasi, padahal ini masalah hukum syara', yang tak sepele, menyangkut kehidupan umat, dalam protek nahdhah al-ummah al-islamiyyah . Di sisi l

[Bag. II] Hujjah Fardhu Kifayahnya Mendirikan Gerakan Dakwah Terorganisir

Koreksi atas Fatwa "Mubah" & Perincian Pembahasan Menurut Para Ulama Ahli Syari’ah Penyusun: Al-Faqir ilaLlâh Ta’âlâ  Irfan Abu Naveed, M.Pd.I Disarikan dari kajian, Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama'ah, (Bab Tafsir & Balaghah QS. Ali Imran [3]: 104)  Bag I:  Perintah Mengadakan Kelompok Dakwah, Tak Hanya Soal Aktivitas Dakwah II.       Dalil-Dalil Wajibnya Mengadakan Kelompok Dakwah Terorganisir ( Jamâ’ah Dâ’iyyah Mutakattilah ) a.     Makna Bahasa Kata Ummah Kata ( أُمَّةٌ ) dalam ayat ini berkonotasi jama’ah atau kelompok, hal ini ditegaskan oleh para ulama. Meskipun dalam perinciannya, jika ditelusuri kata ummah dalam bahasa arab, termasuk satu kata yang mengandung lebih dari satu makna ( lafzh musytarak ) [1] yakni berserikat di dalamnya lebih dari satu makna [2] . Lafal musytarak, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) yakni:   ما وضع لأكثر من معنى ولا يتعين المراد منه إلا بقرينه “Lafal