Skip to main content

Mengenal Ilmu Bahasa Arab: Ilmu Nahwu

Hasil gambar untuk ‫علم النحو‬‎

Penjelasan Syaikh Ahmad bin Umar al-Hazimi

            Syaikh Ahmad menguraikan sepuluh prinsip dalam setiap disiplin ilmu yang hendaknya diketahui oleh setiap penuntut ilmu:
إِنَّ مَبادِئ كُلِّ ... فَنٍّ عَشَرَه ... الحَدُّ وَالموضُوعُ ثُمَّ الثَّمَرَه
وَنِسْبَةٌ وَفَضْلُهُ وَالوَاضِعْ ... وَالاِسْمُ الِاسْتِمْدَادُ حُكْمُ الشَّارِعْ
مَسَائِلٌ والبَعْضُ بِالبَعْضِ اكْتَفَى ... وَمَنْ دَرَى الجَمِيعَ حَازَ الشَّرَفَا
          Begitu pula dengan disiplin ilmu nahwu, perinciannya:

A.   Definisi Ilmu Nahwu
1.    Definisi Secara Bahasa
Definisi ilmu nahwu secara bahasa:
النحو له معنيان معنىً لغوي، ومعنىً اصطلاحي، وهو من جهة اللفظ مصدرٌ على وزن فَعْلٍ بمعنى اسم المفعول أي المَنْحُوّ، من إطلاق المصدر وإرادة اسم المفعول، وهذا مجازٌ مرسلٌ عندهم، والأصل في إطلاق النحو في لغة العرب بمعنى القصد، فسمي هذا العلم نحوًا لأنه مقصود، لأن النحو بمعنى القصد، ويأتي على ستِّ معاني وهي أشهرها: قَصْدٌ وَمِثْلٌ جِهَةٌ مِقْدَارُ ... قَسْمٌ وَبَعْضٌ قَالَهُ الأَخْيَارُ
”Nahwu memiliki dua makna, makna bahasa dan makna istilah. Dari segi bahasa, ia adalah mashdar dari wazan fa’l[un], yang maknanya ism al-maf’ûl, yakni al-manhuwwu, menyebutkan mashdar namun yang dikehendaki adalah ism al-maf’ûl, ini termasuk bentuk kiasan (majaz mursal) bagi mereka (para ulama). Asal-usul kata al-nahwu dalam bahasa orang arab bermakna al-qashdu (maksud), sehingga disiplin ilmu ini dinamai nahwu karena ia merupakan maksud tujuan, dan ada enam konotasi nahwu (secara bahasa) yang paling diketahui:
قَصْدٌ وَمِثْلٌ جِهَةٌ مِقْدَارُ ... قسْمٌ وَبَعْضٌ قَالَهُ الأَخْيَارُ
Qashdun (maksud), mitslun (pemisalan), jihatun (arah), miqdârun (kadar)… qismun (bagian), ba’dhun (sebagian); para ulama terpilih telah menjelaskannya.”

2.    Definisi Secara Istilah
Definisi ilmu nahwu secara istilah:
فهو علم بأصول يعرف بها أحوال أواخر الكلم إعرابًا وبناءًا.
“Ilmu mengenai kaidah pokok yang diketahui dengannya kondisi-kondisi akhir suatu kalimat sebagai i’râb atau binâ’.”

Catatan:
·         I’rab: harakah-harakat pada akhir kata-kata bahasa arab yang berubah-ubah/tidak tetap.
·         Bina’: harakat-harakat pada akhir kata-kata bahasa arab yang bersifat tetap.

B.   Ruang Lingkup Ilmu Nahwu
Ruang lingkup atau topik ilmu nahwu:
الكَلِمَاتُ العَرَبِيَّةُ مِنْ حَيْثُ البِنَاءِ والإِعْرَابِ.
“Kata-kata bahasa arab, dari segi binâ’ dan i’râb-nya.”

C.   Buah & Faidah Ilmu Nahwu
Buah dan faidah mempelajari ilmu nahwu:
ثمرة علم النحو وفائدته: أنه مفتاحٌ لفهم الشريعة، وأما صيانة اللسان عن الخطأ في الكلام فهذه ثمرة فرعية، ولا ينبغي لطالب العلم أن يجعل غايته صيانة اللسان عن الخطأ في الكلام، وإنما يكون هذا تبعًا، والأصل أن يكون علم النحو مفتاحًا للشريعة وينوي طالب العلم ذلك حتى يؤجر، لأن هذا العلم ليس من المقاصد وإنما هو علم آلة، ووسيلة والوسائل لها أحكام المقاصد.
“Buah ilmu nahwu dan faidahnya: bahwa sesungguhnya ia menjadi kunci untuk memahami syari’ah. Adapun memelihara lisan dari kesalahan ketika bertutur kata, maka ia adalah buah cabang. Sehingga sudah seharusnya para penuntut ilmu, menjadikan tujuan mempelajarinya untuk memelihara lisan dari kesalahan ketika berbicara, namun hal ini merupakan tujuan cabang (ikutan), tujuan pokoknya menjadikan ilmu nahwu sebagai kunci memahami syari’ah, dan para penuntut ilmu meniatkan hal tersebut agar diberikan ganjaran pahala. Karena ilmu ini bukan termasuk tujuan akhir itu sendiri, melainkan sebagai ilmu alat, perantara di antara berbagai perantara yang dengannya dicapai berbagai tujuan.”

D.   Hukum Mempelajari Ilmu Nahwu
Hukum mempelajari ilmu nahwu dalam Islam:
حكمه: فرضُ كفاية، وقيل: فرض عين على من أراد علم التفسير، ونقل السيوطيُّ رحمه الله الإجماعَ على أنه لا يجوز لأحدٍ أن يتكلم في التفسير إلا إذا كان مليًّا باللغة العربية، وليس النحو فحسب، ولذلك من شروط المفسر كما هو مذكور في موضعه أن يكون عالمًا بلغة العرب.
“Hukum mempelajari ilmu nahwu: fardhu kifayah, disebutkan pula: fardhu ’ain bagi orang yang hendak menguasai ilmu tafsir, al-Hafizh al-Suyuthi menukil adanya konsensus bahwa tidak boleh bagi siapapun berbicara dalam topik tafsir, kecuali jika ia sangat kuat menguasai ilmu bahasa arab, bukan ilmu nahwu semata, karena ia termasuk syarat untuk ahli tafsir, sebagaimana disebutkan dalam topik terkait, harus memahami ilmu bahasa arab.”

E.   Hubungan Ilmu Nahwu dengan Disiplin Ilmu Lainnya
Hubungan atau keterkaitan ilmu nahwu dengan disiplin ilmu lainnya:
نسبته إلى سائر الفنون: التباين، فهو مخالف لعلم الأصول، ولعلم الحديث، ولسائر العلوم، وقد يشترك مع بعضها.
“Hubungan ilmu nahwu dengan berbagai disiplin ilmu lainnya: berbeda (disiplin ilmu tersendiri-pen.), karena ia berbeda dengan ilmu ushul fiqih, ilmu mushthalah hadits, dan ilmu-ilmu lainnya, meskipun terkadang ada irisan dengan berbagai disiplin ilmu tersebut.”

F.   Topik Bahasan Ilmu Nahwu
Topik pembahasan yang diulas ilmu nahwu:
مسائله: هي أبوابه التي ستذكر فيما بعد في ضمن النظم.
“Topik yang diulas ilmu nahwu: bab-bab bahasan ini akan disebutkan kemudian, dalam untaian-untaian nazham ini.”

G.   Peletak Dasar Ilmu Nahwu
Peletak dasar ilmu nahwu:
والواضع: هو أبو الأسود الدؤلي، وقيل: علي رضي الله عنه. وقيل: أبو الأسود بأمر علي رضي الله عنه.
“Peletak dasar ilmu nahwu: ia adalah Abu al-Aswad al-Du’ali, disebutkan pula yakni Ali bin Abi Thalib r.a.. Disebutkan pula yakni Abu al-Aswad al-Du’ali dengan instruksi dari Ali r.a.”
فنشرع في المقصود وبالله التوفيق.

المرجع:
الكتاب: فتح رب البرية في شرح نظم الآجرومية (نظم الآجرومية لمحمد بن أبَّ القلاوي الشنقيطي)
المؤلف (مؤلف الشرح): أحمد بن عمر بن مساعد الحازمي
الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرمة
الطبعة: الأولى، 1431 هـ - 2010 م

Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  Oleh: Irfan Abu Naveed D ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam . Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}    “ Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan .” (QS. Al-Baqarah [2]: 191) Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ} “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kam