07 Mei 2017

Harga Mati Menurut Al-‘Allamah Syaikhul Masyayikh Nawawi Al-Bantani Al-Syafi'i

Foto Irfan Abu Naveed Al-Atsari.
Data Original Kitab Syarh Sullam al-Taufiq

Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Keturunan (Cicit) dari Almarhum KH. Sholeh Madani (Ulama Sepuh Kota Santri, Cianjur)


I
slam, itulah harga mati, kesimpulan itu yang didapat dari salah satu kitabnya yang masyhur di dunia pesantren, "kitab kuning", Syarh Sullam al-Tawfiq. Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi'i, merupakan ulama nusantara yang mendunia, ia dijuluki sebagai Sayyid ’Ulama Al-Hijaz (tokoh ulama Hijaz), beliau wafat di Mekkah tahun 1316 H, (versi lain menyebutkan tahun 1314 H/1897 M).

Kitab-kitabnya merupakan salah satu rujukan di dunia pesantren, beliau pun tak kelu untuk menegaskan wajibnya menegakan Dinul Islam, akidah syari'ah, dan berpegang teguh padanya hingga maut menjemput, dan konsisten menegakkan hukum-hukum syari'ah Islam dalam kehidupan dalam maqalahnya:

 (يجب) وجوبًا محتمًا (على كافة المكلفين) أي جميعهم (الدخول في دين الإسلام) وهو شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله، والإقرار بما جاء به من عند الله. (والثبوت) أي الملازمة (فيه على الدوام) أي بلا انقطاع إلى الموت على الإسلام. عن علي رضي الله عنه أنه قال: تمام النعمة الموت على الإسلام.
”(Wajib) dengan kewajiban yang pasti (atas seluruh orang yang mukallaf (dikenal taklif kewajiban) yakni seluruhnya (masuk ke dalam Dinul Islam) yakni ikrar bahwa tiada sesembahan kecuali hanya Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan membenarkan segala hal yang datang dari sisi Allah (al-tsubut) yakni konsisten (di dalam hal tersebut secara konsisten) yakni tidak pernah melepaskan Islam hingga maut menjemput. Dari Ali bin Abi Thalib r.a.: Sesempurnanya kenikmatan adalah mati dalam keadaan Islam."

Syaikh Nawawi pun merinci:
(والتزم) أي قبول (ما) أي شيء (لزم) أي ثبت (عليه) أي كافة المكلفين (من الأحكام) وهي ما بينه الله تعالى لنا على لسان نبيه مما يتعلق بأفعال المكلفين، وهو الواجب والسنة والمباح والمكروه والحرام
"...Dan (berpegang teguh) yakni menerima (apa-apa) yakni hal (lazim) yakni yang ditetapkan (atasnya) yakni atas seluruh orang yang mukallaf (berupa hukum-hukum) yakni apa-apa yang Allah jelaskan kepada kita melalui lisan Nabi-Nya berupa hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan orang yang telah ditaklif, berupa hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.”

Syaikh Nawawi pun menegaskan dalam maqalahnya yang lain, ketika menafsirkan firman Allah ’Azza wa Jalla:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
”Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107)

Beliau menegaskan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam- dengan syari’at Islam yang diembannya merupakan sebab kebaikan dunia dan akhirat:

وما أرسلناك يا أشرف الخلق بالشرائع، إلّا رحمة للعالمين أي إلّا لأجل رحمتنا للعالمين قاطبة في الدين والدنيا                  
”Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syari’at-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”

Penjelasan di atas, semakin diperkuat dan dipertegas lagi dengan aqwâl senada dari para ulama mu’tabar, yang tidak memberikan celah kepada siapapun untuk mengingkarinya, karena kejelasan nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah yang menegaskan kewajiban menegakkan Al-Islam dalam kehidupan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ  {٢٤}
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfâl [8]: 24)


Referensi:
·         Muhammad bin Umar Nawawi al-Syafi’i, Mirqât Shu'ûd al-Tashdîq fi Syarh Sullam al-Taufîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431, hlm. 8
·         Muhammad bin ‘Umar Nawawi al-Syafi’i, Mirâh Labîd li Kasyf Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîd, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1417 H, juz II, hlm. 62.


Gambar terkait

Data Original Cuplikan Kitab Tafsir Murah Labid



Catatan Tambahan Irfan Abu Naveed:
Menyatakan selain Islam sebagai harga mati adalah KHURAFAT! Ingat dengan "Sumpah" ikrar seorang muslim:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {١٦٢}‏
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta.” (QS. Al-An’âm [6]: 162)

Lafal qul merupakan lafal perintah (fi’l al-’amr) untuk mengatakan sesuatu, perintah dari siapa? Perintah dari Allah, Rabb Penguasa Alam Semesta. Benar, dan jelas kebenarannya dari Allah Yang Maha Benar.

Dalam ayat lainnya:
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ {١٠٢}
“(wahai orang-orang yang beriman)... dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran [3]: 102)

"ISLAM HARGA MATI"