14 Maret 2017

Menggugah Nafsiyyah, Mendalami Al-Lughah al-‘Arabiyyah: Motivasi Al-Sunnah

Oleh: Irfan Abu Naveed al-Atsari, M.Pd.I
(Pengajar Bahasa Arab, Pengisi Kajian Rutin Tafsir & Balaghah Al-Qur’an di KPP Cianjur)

     Al-Sunnah: Mengandung Bahasa Arab yang Unggul dengan Jawâmi’ al-Kalim

Gambar terkaitRasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- dikenal dengan kefasihan berbahasa, sehingga apa yang disampaikan Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- dalam hadits-haditsnya, mengandung jawâmi’ al-kalim, dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:

«بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَبَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيتُ بِمَفَاتِيحِ خَزَائِنِ الأَرْضِ، فَوُضِعَتْ فِي يَدَيَّ»
“Aku diutus dengan jawâmi’ al-kalim, dan ditolong dengan adanya rasa takut (pada musuh), dan ketika aku tertidur didatangkan kepadaku kunci-kunci pembendaharaan bumi, dan diletakkan pada kedua tanganku.” (HR. Muslim, al-Bukhari dll)[1]

Yang dimaksud dengan jawâmi’ al-kalim bahwa Allah mengumpulkan bagi beliau –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- banyak hal yang tertulis dalam kitab-kitab sebelumnya dalam satu atau dua hal saja.[2] Yakni sabda beliau –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- sedikit kata-katanya namun sarat dengan makna.[3] Artinya, ringkas padat makna dan faidah, serta kaya dengan keindahan gaya bahasa.
Hal itu didukung dengan kenyataan bahwa masa kecil Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-, dihabiskan dalam lingkungan yang memelihara kefasihan berbahasa, yakni berada dalam didikan lingkungan terpilih -Bani Sa’ad-, yakni selama lima tahun pertama masa kecilnya, Bani Sa’ad adalah salah satu suku di tengah Jazirah Arab yang terpelihara -lingkungannya- dari pengaruh suku-suku lainnya yang tinggal di tepi-tepi Jazirah Arab, dan Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- menghabiskan periode pertama kehidupannya di tengah-tengah mereka, dididik dengan kefashihan berbahasa.[4]
Sehingga benar apa yang terkandung dalam bait sya’ir Syaikh Syarfuddin Yahya bin Nuruddin al-’Imrithi (w. 989 H), yang memuji Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- sebagai makhluk-Nya yang paling fashih berbahasa:

ثُمَّ الصَّلاَةُ مَع سَلاَمٍ لاَئِقِ * عَلَى النَّبِيِّ أَفْصَحِ الْخَلاَئِقِ
“Kemudian shalawat serta salam yang layak # atas Nabi shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-, sefasih-fasihnya makhluk.”[5]

Menjelaskan bait sya’ir ini, Syaikh Ibrahim al-Baijuri menguraikan yakni sosok yang paling fashih, dalam arti memiliki kemampuan untuk bertutur kata secara fashih[6], artinya ungkapannya secara bahasa benar dan tidak mengandung kesalahan. Maka jelas bahwa bahasa Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- pun unggul, luhur kandungannya dan tinggi nilai bahasanya, bagaikan pembendaharaan harta yang tak ternilai harganya, dan bisa diterus digali untuk diambil intisarinya dengan menggunakan berbagai perangkat terkait. Salah satunya, ilmu bahasa arab (diantaranya ilmu nahwu, sharf dan balaghah).
Adapun kaitannya dengan bahasa arab, Imam al-Ashma’i, dinukil oleh Syaikh Ibrahim al-Baijuri, menuturkan bahwa di antara hal yang dikhawatirkannya atas penuntut ilmu, adalah ketika ia tidak memahami ilmu nahwu, maka tergolong orang yang disebutkan dalam hadits Nabi –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-: 

«مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا ، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Siapa saja yang berdusta atas namaku, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari api neraka.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya)[7]

Mengapa? Syaikh Ibrahim menjelaskan, karena pada asalnya tidak ada kesalahan (lahn) dari apa yang diriwayatkan dari Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-, maka ketika ada kesalahan, ia merupakan kedustaan mengatasnamakan beliau –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-.[8]
Keunggulan bahasa hadits pun ditandai oleh banyaknya sajian balaghah terkait, yang disusun para ulama dan pakar balaghah, yang semakin menambah khazanah peradaban kaum Muslim. Ia bagaikan air mengalir yang tiada henti, siap sedia mengobati dahaga dan menajamkan pandangan mata. Dan hal tersebut tak bisa diraih, dicicipi, kecuali dengan kembali kepada asasnya, yakni kemampuan terhadap ilmu bahasa arab.
Sebagai penutup, penyusun mengingatkan diri sendiri dan para pembaca dengan pesan yang dituturkan yang mulia Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- dalam khutbah Haji Wada’:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
”Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibnu ’Abbas r.a.[9])
          
        Pesan yang agung ini, jelas menjadi dorongan untuk menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai pedoman hidup, dimana hal tersebut takkan terwujud kecuali dengan memahami keduanya, dan memahaminya dengan benar takkan terwujud kecuali dengan memahami bahasa keduanya yang diturunkan dengan bahasa arab. Maka tidak ada alasan untuk menunda mempelajari bahasa al-Qur’an dan al-Sunnah, bahasa arab, yang diawali dengan mendalami nahwu-sharf dan balaghah. []



[1] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (II/64, hadits 1104); al-Bukhari dalam Shahîh-nya (III/1087, hadits 2815); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (XIV/277, hadits 6363); dan lainnya.
[2] Ibnu Bathal Abu al-Hasan ’Ali bin Khalaf, Syarh Shahîh al-Bukhâri, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, Cet. II, 1423 H/2003, juz IX, hlm. 535.
[3] Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syarf al-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, cet. II, 1392 H, juz V, hlm. 5.
[4] Dr. Abdul Fattah Lasyin, Min Balâghat al-Hadîts al-Syarîf, Riyadh: Syirkat Maktabât ‘Ukâzh, Cet. I, 1402 H/1982, hlm. 15.
[5] Ibrahim bin Muhammad al-Baijuri, Fath Rabb al-Bariyyat ‘Alâ al-Durrat al-Bahiyyat Nazhm al-Âjurrûmiyyah (Syarh ‘Imrîthi), hlm. 21-22.
[6] Ibid., hlm. 22.
[7] HR. al-Bukhari dalam Shahiih-nya (hadits no. 1229), Muslim dalam Shahiih-nya (hadits no. 5), Ahmad dalam Musnad-nya (hadits no. 16916).
[8] Ibrahim bin Muhammad al-Baijuri, Fath Rabb al-Bariyyat ‘Alâ al-Durrat al-Bahiyyat Nazhm al-Âjurrûmiyyah (Syarh ‘Imrîthi), hlm. 25.
[9] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/171, hadits no. 318) sanadnya shahih dan disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi, Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’  (X/114, hadits no. 20833)