14 Maret 2017

Menggugah Nafsiyyah, Mendalami Al-Lughah al-‘Arabiyyah: Motivasi Al-Qur’an

Oleh: Irfan Abu Naveed al-Atsari, M.Pd.I
(Pengajar Bahasa Arab, Pengisi Kajian Rutin Tafsir & Balaghah Al-Qur’an di KPP Cianjur)

Al-Lughah al-‘arabiyyah lughat al-Islâm, tidak berlebihan ungkapan ini yang menempatkan bahasa arab sebagai bahasa Islam, sangat relevan dengan kedudukan bahasa arab hubungannya dengan tsaqafah Islam. Bahasa itu sendiri adalah pengantar berkomunikasi,  Aiman Amin Abd al-Ghani menuturkan:
اللغة هي وسيلة التفاهم بين الناس، وأداة التعبير عن المعاني الموجودة في النفس
“Bahasa adalah sarana untuk saling memahami di antara manusia (bca: sarana komunikasi-pen.), dan media pengungkapan makna-makna yang ada dalam benak.”[1]
Hal ini menjadikan bahasa arab, bahasa yang sangat penting sebagai wasîlah memahami dan mendalami tsaqafah Islam, khususnya al-Qur’an dan al-Sunnah yang memang diungkapkan dalam bahasa arab. Syaikh Ahmad bin Umar al-Hazimi menuturkan bahwa buah dan faidah mempelajari ilmu nahwu (bahasa arab) adalah menjadi kunci untuk memahami syari’ah. Adapun memelihara lisan dari kesalahan ketika bertutur kata, maka ia adalah buah cabang.[2] Sehingga sudah seharusnya para penuntut ilmu, menjadikan bahasa arab sebagai kunci memahami syari’ah, dan para penuntut ilmu meniatkan hal tersebut agar meraih ganjaran pahala.[3]  
Alasan ini pun tergambar dalam penjelasan Al-’Allamah Ibrahim al-Baijuri al-Syafi’i (w. 1277 H), yang menguraikan faidah mempelajari bahasa arab:

صون اللسان عن الخطأ في الكلام، والاستعانة به على فهم كلام الله تعالى وكلام رسوله
Pertama, Memelihara lisan dari kesalahan ketika berbicara. Kedua, Menggunakannya sebagai alat bantu memahami KalâmiLlâh Ta’âlâ (al-Qur’an) dan Kalâmirasûlihi (al-Hadits).[4]

Namun alasan utama dan yang pertama untuk mempelajari bahasa arab, adalah kedudukannya sebagai kunci memahami ilmu-ilmu syari’ah[5], bahasa al-Qur’an dan al-Sunnah. Bahkan, menurut Syaikh Ibrahim al-Baijuri, para ulama sepakat bahwa ilmu nahwu adalah pengantar untuk seluruh disiplin ilmu (ilmu syar’i), terlebih ilmu tafsir dan ilmu hadits.[6] Bait-bait sya’ir Syaikh Syarfuddin Yahya bin Nuruddin al-’Imrithi (w. 989 H) pun menekankan:

وَكَانَ مَطْلُوباً أَشَدَّ الطَّّلَبِ * مِنَ الْوَرَى حِفْظُ اللِّسَانِ الْعَرَبي
كَيْ يَفْهَمُوا مَعَانِيَ الْقُرْءَانِ * وَالسُّنَّةِ الدَّقِيقَةِ المَعَانِي
وَالنَّحْوُ أَوْلَى أَوَّلاً أَنْ يُعْلَمَا * إذِ الْكَلاَمُ دونَهُ لَنْ يُفْهَمَا
”Dan menjadi tuntutan, sekuat-kuatnya tuntutan # bagi makhluk adalah memelihara bahasa arab.”
”Semata-mata untuk memahami makna-makna al-Qur’an dan al-Sunnah yang mendalam.”
”Dan ilmu nahwu didahulukan sebagai permulaan yang dipelajari # yang mana perkataan tanpanya takkan pernah bisa dipahami”[7]

Bagaimana perinciannya? Hal itu terjawab dalam penjelasan ringkas berikut ini:

Al-Qur’an: Mukjizat yang Diturunkan dengan Bahasa Arab yang Unggul

Al-Qur’an merupakan mukjizat abadi Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- sepanjang zaman, keagungannya tak disangsikan lagi terbukti dari masa Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- hingga saat ini, dimana al-Qur’an telah menarik perhatian banyak umat manusia karena ungkapan dan kandungan pesan-pesannya yang agung dari Allah Rabb Alam Semesta. Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا {١١٣}
“Dan demikianlah Kami menurunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al-Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (QS. Thâhâ [20]: 113)

قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
(Adalah) Al-Qur’an yang berbahasa Arab, tidak ada penyimpangan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.(QS. Al-Zumar [39]: 28)

Lihat pula: QS. Al-Ra’du [13]: 37, QS. Fushshilat [41]: 3, QS. Al-Syûrâ’ [42]: 7, QS. Al-Zukhruf [43]: 3, QS. Al-Ahqâf [46]: 12. Allah ’Azza wa Jalla pun berfirman:

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ {١} إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ {٢}
“Alif, laam, raa, ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS. Yûsuf [12]: 1-2)

            Dalam ayat-ayat yang agung di atas, Allah ‘Azza wa Jalla menginformasikan bahwa al-Qur’an diturunkan berbahasa arab. Bahkan informasi dalam QS. Yûsuf [12]: 2, Allah tegaskan dengan tawkîd (inna), dengan maksud agar manusia memahaminya. Ayat ini jelas menerangkan bahwa bahasa al-Qur’an adalah bahasa arab, sehingga cukup menjadi motivasi bagi hamba Allah yang beriman, yang memiliki perhatian besar terhadap agamanya, untuk mempelajari dan mendalami ilmu bahasa arab, sebagai titik tolak memahami kandungan al-Qur’an. Sebagaimana ungkapan:

إذ لولا الإعراب لم يعلم المراد
Kalaulah tiada ilmu al-i’râb (nahwu) maka takkan diketahui apa yang menjadi al-murâd (maksud).[8]

Di sisi lain, kalimat la’allakum ta’qilûn, mengisyaratkan bahwa al-Qur’an, bahasa arab, bisa dipahami, sehingga cukup menjadi jawaban bagi orang yang enggan belajar al-Qur’an dan bahasa arab, namun bersembunyi dibalik ungkapan “al-Qur’an dan bahasa arab sulit!”. Maka jelas bahwa ayat yang agung ini, merupakan motivasi yang agung, mengingat ia menjadi bahasa pengantar memahami pesan-pesan agung dari Allah ‘Azza wa Jalla. Adakah pesan yang lebih agung daripada pesan dari Pencipta Alam Semesta, Allah ‘Azza wa Jalla?!

Dr. Samih ’Athif Al-Zayn menuturkan:

Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan bahasa arab yang unggul[9], wahyu yang diterima oleh Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam-, dan ia adalah firman Allah ’Azza wa Jalla, turun melalui perantaraan Ar-Rûh Al-Amîn Jibril a.s. dengan lafazh berbahasa arab dan makna-makna yang sesuai, sebagai bukti bahwa Muhammad shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- adalah utusan Allah, dan rujukan bagi manusia mengambil petunjuk dengan petunjuknya, dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya, tersusun di antara lembaran-lembaran mushhaf, diawali Surat al-Fâtihah, ditutup dengan Surat al-Nâs, dan dinukil kepada kita secara mutawatir.[10]

Tentu menjadi hal yang lumrah dipahami, ketika al-Qur’an diturunkan dengan bahasa arab, maka salah satu ilmu terpenting untuk membantu mendataburi al-Qur’an adalah ilmu bahasa arab, diantaranya ilmu nahwu-sharf dan balaghah. Dengan ilmu ini pula, seorang muslim takkan pernah dihinggapi kebosanan mentadaburi seluk beluk ungkapan, untaian demi untaian kalimat al-Qur’an, dan kandungan di balik itu semua. 
Al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha bin Khalil pun membantah pemahaman yang menafikan pentingnya pemahaman bahasa arab dalam penafsiran terhadap al-Qur’an. Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil pun menegaskan:

Dan di antara hal yang sudah semestinya disampaikan bahwa siapa saja yang ingin memahami al-Qur’an tanpa ada kemauan untuk memahami bahasanya (bahasa arab) yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa tersebut, pasti akan gagal memahami al-Qur’an dan mengamalkannya, dan karena faktor ini ia telah berdosa dengan dosa yang besar karena al-Qur’an telah turun dengan bahasa arab dan tanpa memahami bahasa arab tidak mungkin ia memahami al-Qur’an dengan pemahaman yang benar.[11]

Syaikh Atha bin Khalil lalu merinci penjelasannya: Dan oleh karena itu, para ulama ahli fikih memerhatikan bahasa arab dan ilmu-ilmunya, belum lagi  para mujtahidin, sehingga mampu memahami al-Qur’an dan menggali hukum-hukum syari’ah darinya.”[12]

    Terlebih bahasa arab al-Qur’an adalah bahasa yang unggul, fashih dan baligh. Keagungannya tak disangsikan lagi mencakup kandungannya, maupun untaian-untaian kalimat yang diungkapkannya. Allah ‘Azza wa Jalla pun memerintahkan hamba-hamba-Nya mentadaburi al-Qur’an, sebagai jembatan untuk memahami dan mengamalkannya. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ {٨٢}
“Maka apakah mereka tidak memikirkan al-Qur’an?” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 82)

     Kata kunci dalam ayat ini yang menunjukkan al-Qur'an sebagai sumber ilmu adalah kata kerja tadabbara-yatadabbaru, dimana pokok kata ini mengandung konotasi al-tafakkur yakni berpikir mengenai sesuatu, dan aktivitas tadabbur al-Qur’ân tidak akan terwujud kecuali dengan menghadirkan kalbu dan memfokuskan perhatian terhadapnya.[13]
Menafsirkan ayat yang agung ini, al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memikirkan al-Qur’an, dan melarang mereka berpaling darinya.[14] Tuntutan ini semakin jelas dengan memperhatikan permulaan ayat ini yang diawali dengan tanda tanya (afalâ) yang maksudnya mengingkari (istifhâm inkâri).[15]
Keagungannya pasti karena dipastikan oleh Rabbul ’Izzati, Allah ’Azza wa Jalla (lihat: QS. Fushshilat [41]: 41), dan menjadi seagung-agung dan sebenar-benarnya kalimat. Keagungan ungkapan dan kandungan al-Qur’an pun, tergambar dalam banyak ayat-ayat al-Qur’an, hadits dan aqwâl. Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H):
كالبدر من حيث التَفَتَّ رأيتَه * يُهْدى إلى عينَيك نورًا ثاقبًا
كالشمس في كَبِدِ السماء وضوؤُها * يَغْشَى البلادَ مَشَارِقًا ومغاربًا
“Bagaikan rembulan kemanapun engkau berpaling memerhatikannya * memancarkan kepada kedua matamu cahaya yang kuat.”
“Bagaikan matahari di langit dan sinarnya * yang menaungi negeri-negeri di Timur dan Barat.”[16]

Bahkan setiap huruf dari al-Qur’an mengandung rahasia (hikmah dan pelajaran), benar apa yang diungkapkan seorang doktor balaghah dari Al-Azhar Kairo, Dr. Hesham Mohamed Taha el-Shanshouri al-Mishri, ketika kami berdiskusi mengenai tafsir al-Qur’an menuturkan:

لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ
“Setiap huruf dari huruf-huruf al-Qur’an mengandung pelbagai rahasia (kandungan makna).”[17]

Prof. Dr. Fadhil Shalih al-Samara’i pun menegaskan bahwa setiap kosakata (mufradat) dalam al-Qur’an mengandung ilmu dan maksud yang sesuai dalam setiap tempatnya.[18] Termasuk kesesuaian kandungannya sebagai pedoman hidup manusia. Secara lebih spesifik,  Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili (w. 1436 H), mengungkapkan secara mapan hubungan erat kandungan setiap ayat al-Qur’an dengan kehidupan ini:

Tidak ada dalam al-Qur’an satu ayat pun yang tidak bermakna, tidak berfaidah, atau tidak memiliki hikmah dan kandungan hukum, karena ia adalah firman Allah yang agung, seperangkat aturan kehidupan bagi manusia. Oleh karena itu, ayat-ayat Qur’aniyyah bermaksud mewujudkan kebaikan bagi manusia dalam kehidupan agama, duniawi dan ukhrawi mereka, kaitannya dengan kehidupan. Maka berkenaan dengan hal tersebut, adanya hukum-hukum yang ditarik dari makna-makna ayat-ayat al-Qur’an, memiliki keterkaitan yang kuat, apakah dengan akidah, peribadatan, akhlak, tingkah laku, atau pensyari’atan hukum yang sesuai bagi individu dan kelompok.[19]

Sampai-sampai mengundang decak kagum salah satu tokoh kaum Musyrik Arab, seorang ahli sastra arab, yang keras dalam kekafiran dan permusuhannya, al-Walid bin al-Mughirah, yang bertutur kata: “Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian (Bangsa Quraisyi) yang lebih mengenal sya’ir-sya’ir dariku, dan tidak ada pula yang lebih mengetahui rajaz dan qashid-nya selain diriku, Demi Allah tidak ada satupun dari apa yang dibaca Muhammad menyerupai ini semua, Demi Allah sesungguhnya ungkapan yang disampaikannya sangat manis dan apa yang dituturkannya sangat indah.”[20]
Mengomentari kisah ini, al-Qadhi al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani menuturkan bahwa i’jaz al-Qur’an itu terdapat dalam al-Qur’an itu sendiri. Orang yang telah mendengarkan al-Qur’an, dan mendengarnya hingga hari kiamat akan terus merasa kagum dengan kekuatan daya tarik dan balaghah-nya, walaupun hanya sekedar mendengar satu kalimat saja dari al-Qur’an.[21]
Maka sangat relevan atsar dari ‘Utsman bin Affan r.a. yang menggambarkan kesenangan berinteraksi dengan al-Qur’an dalam perkataannya:

«لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
“Jika kalbu kalian telah suci maka kalian tidak akan pernah merasa puas membaca Firman Rabb kalian (al-Qur’an).[22]

            Yakni sangat senang membaca, mentadaburi, memahami dan mengamalkan ajaran al-Qur’an. Dimana sahabat ’Utsman r.a. pun menegaskan bahwa tidak ada yang lebih ia cintai ketika tiba waktu siang dan malam kecuali digunakan untuk membaca al-Qur’an (juga mentadaburinya-pen.).[23]
Ketika jelas keagungan bahasa al-Qur’an yang diungkapkan dengan bahasa arab, diperkuat adanya dorongan untuk mentadaburi al-Qur’an, menjadikannya sebagai pedoman hidup manusia yang wajib dipahami dengan benar, maka tidak ada jalan lain untuk mendukung pemahaman terhadap al-Qur’an, mentadaburinya dan mengamalkannya, kecuali diawali dengan memahami ilmu bahasa arab, nahwu-sharf dan balaghahnya. Tak hanya itu, mempelajari bahasa arab pun penting sebagai dasar memahami bahasa al-Sunnah, yang diungkapkan pula dalam bahasa arab yang unggul, bahasanya Rasulullah shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- yang mengandung jawâmi’ al-kalim.




[1] Ayman Amin ‘Abd al-Ghani, Al-Nahwu Al-Kâfi, Kairo: Dâr al-Tawfîqîyyah li al-Turâts, 2010, hlm. 23.
[2] Ahmad bin Umar al-Hazimi, Fath Rabb al-Bariyyat fî Syarh Nazhm al-Âjurrûmiyyah, Makkah: Maktabat al-Asadi, cet. I, 1431 H, hlm. 4.
[3] Ibid.
[4] Ibrahim bin Muhammad al-Baijuri, Fath Rabb al-Bariyyat ‘Alâ al-Durrat al-Bahiyyat Nazhm al-Âjurrûmiyyah (Syarh ‘Imrîthi), Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1434 H, hlm. 18.
[5] Ahmad bin Umar al-Hazimi, Fath Rabb al-Bariyyat fî Syarh Nazhm al-Âjurrûmiyyah, hlm. 4.
[6] Ibrahim bin Muhammad al-Baijuri, Fath Rabb al-Bariyyat ‘Alâ al-Durrat al-Bahiyyat Nazhm al-Âjurrûmiyyah (Syarh ‘Imrîthi), hlm. 25.
[7] Ibrahim bin Muhammad al-Baijuri, Fath Rabb al-Bariyyat ‘Alâ al-Durrat al-Bahiyyat Nazhm al-Âjurrûmiyyah (Syarh ‘Imrîthi), hlm. 24.
[8] Ibid., hlm. 23.
[9] Yakni mampu mengalahkan bantahan-bantahan atau tantangan-tantangan kaum penentang (kuffar) atasnya.
[10] Dr. Samih ‘Athif al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr al-Kitâb al-Mishri, Cet. I, 1410 H, hlm. 308.
[11] ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, Beirut: Dâr Al-Ummah, cet. III, 1436 H hlm. 22.
[12] Ibid.
[13] Muhammad Shiddiq Khan bin Hasan al-Husaini, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, Beirut: Al-Maktabah al-’Ashriyyah, 1412 H/1992, juz XIII, hlm. 71.
[14] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr al-Thayyibah, cet. II, 1420 H/1999, juz VIII, hlm. 480.
[15] Muhammad Shiddiq Khan al-Husaini, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, juz XIII, hlm. 71.
[16] Abu al-Qâsim bin Muhammad al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafa al-Bâz, juz I, hlm. 3.
[17] Salah seorang doktor di bidang ilmu balaghah dari salah satu Universitas Islam terkemuka di dunia, Universitas al-Azhar.
[18] Prof. Dr. Fadhil Shalih al-Samara’i, Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âni, Kairo: Syirkat al-‘Âtik, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 4.
[19] Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Dâr al-Fikr al-Mu’âshir, cet. II, 1418 H, juz I, hlm. 62.
[20] Taqiyuddin bin Ibrahim Al-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, jilid I, hlm. 170.
[21] Ibid.
[22] Ahmad bin Hanbal, Al-Zuhd, Dâr Ibn Rajab, cet. II, 2003, hlm. 244.
[23] Ibid.