16 Januari 2017

Spirit Keimanan & Sinyalemen Persatuan Umat Menyongsong Tegaknya Al-Khilafah

Dipresentasikan Oleh: Irfan Hilmy[1]
Tahqîq & Ta’lîq: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (LTS DPD II HTI Sukabumi)


A
ksi 212 tanggal 2 Desember 2016, menjadi momen bersejarah bagi umat Islam, khususnya umat Islam di Indonesia. Inilah momen ketika terjadi pertemuan akbar umat Islam di jantung Ibukota Jakarta. Umat Islam tumpah ruah menggitari Monumen Nasional (Monas Jakarta) dan wilayah-wilayah sekitarnya dari berbagai penjuru wilayah di Indonesia. Bukan sekadar berjumpa untuk bertutur sapa, mereka menuntut keadilan dalam kasus penistaan agama (al-Qur’an) yang dilakukan Ahok, Basuki Tjahya Purnama.
Spirit keimanan kentara melatarbelakangi aksi ini, tak sirna tersapu oleh guyuran air hujan. Bahkan air hujan yang turun dari langit menjadi berkah tersendiri, terutama bagi sebagian orang yang menggunakannya sebagai air bersuci (berwudhu) untuk menunaikan ibadah shalat Jum’at. Mereka tetap bertahan, sebagaimana mereka pun mau bersabar, melangkahkan kaki dari berbagai daerah, menempuh perjalanan untuk satu tujuan dilatarbelakangi keimanan.
Upaya sistematis yang digawangi sebagian oknum, untuk mencekal partisipasi massa dari berbagai daerah dalam aksi ini, tak mampu menyurutkan semangat juang dan pengorbanan mereka. Bahkan semakin ditekan, umat Islam semakin kokoh dalam perjuangan, ibarat bola dalam air yang semakin ditekan ke bawah semakin terdorong ke atas. Karena sifat dorongan keimanan takkan goyah oleh celaan orang-orang yang mencela. Bahkan ribuan umat Islam dari Ciamis, Jawa Barat, menjadi pendobrak kebuntuan. Setelah tak bisa mendapatkan akses transportasi bus ke Jakarta, mereka mengambil keputusan di luar prediksi: berjalan kaki. Sikap ini, membungkam upaya-upaya pencekalan, yang akhirnya berbalik merugikan para oknum ini, kekalahan opini dan mengalirnya dukungan dari berbagai pihak atas umat Islam, sekaligus mengobarkan spirit umat Islam lainnya dari berbagai daerah. Sehingga menjadikan aksi 212, sebagai pertemuan akbar di luar prediksi.
Aksi 212, membuktikan umat Islam mampu bersatu untuk satu tujuan, mereka berkumpul dan berbagi tanpa memandang siapa yang mereka beri. Mereka rela memungut sampah- sampah orang lain. Di tengah lautan manusia, mereka saling menghormati dan menjaga ketertiban dan kedamaian, sehingga tak bisa dipungkiri bahwa aksi 212 sekaligus membuktikan betapa umat Islam dalam sepak terjangnya mampu menjadi umat yang damai, tertib, dan bermartabat, di tengah carut marut kehidupan umat yang tertindas di negeri sendiri.
Poin ini sudah seharusnya semakin mendorong para pengemban dakwah untuk bergerak, bahwa masih ada di antara umat Islam (objek dakwah), di tengah-tengah kehidupan di bawah naungan kapitalisme yang menyebarkan virus mematikan penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati), yang masih memiliki semangat dan tanggung jawab membela agamanya, untuk diseru bersama-sama memperjuangkan penegakkan Islam secara totalitas dalam kehidupan. Dalam perinciannya, ada poin-poin penting yang perlu diulas sebagai berikut:

A.   Pentingnya Spirit Keimanan

Umat Islam bisa bersatu, padahal selama ini seringkali distigma sebagai umat yang berpecah belah, karena ragam perbedaan yang melatarbelakanginya. Namun aksi 212 menguatkan bukti bahwa umat Islam masih bisa dipersatukan, menepis batas-batas madzhab, kelompok dan organisasi, seluruhnya bisa bersatu sebagai gerakan bersama. Dari seruan-seruan yang digaungkan, lisan dan tulisan, serta peristiwa demi peristiwa yang terjadi sebelum dan selama berlangsungnya aksi, serta kesudahannya, bisa disimpulkan bahwa spirit yang menjadi arus utama dalam aksi 212 adalah spirit keimanan, dorongan akidah Islam yang diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab membela al-Qur’an dan kecintaan terhadapnya.
Dorongan keimanan (akidah) dan kecintaan mereka terhadap Islam adalah poin terpenting dalam upaya membangun kesadaran politik umat. Dalam catatan sejarah keemasan Islam, dorongan akidah ini mampu menggerakan seorang muslim, hingga rela mengorbankan jiwa, waktu dan harta bendanya untuk berjuang di jalan Allah, kisah-kisah heroik dari zaman Nabi –shallallâhu ’alayhi wa sallam- dan para sahabatnya adalah bukti paling nyata atas kekuatan akidah yang agung ini. Dari dorongan keimanan dan kesadaran, akan lahir keta’atan dan pengorbanan, dan dari keta’atan dan pengorbanan, akan turun pertolongan Allah ’Azza wa Jalla. Bukankah dalam shalat, kita berulang-ulang kali membaca kalimat:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {٥}
”Hanya Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS, Al-Fâtihah [1]: 5)
Inti dua kalimat ini, adalah kalimat tauhid, sebagaimana dijelaskan Ibn Abbas r.a. makna: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) yakni kami mentauhidkan-Mu dan mena’ati-Mu, dan makna (وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) yakni kami memohon pertolongan-Mu untuk beribadah kepada-Mu dan memohon sandaran untuk senantiasa mena’ati-Mu.[2]
Terlebih jika dirinci lebih jauh, kata al-’ibâdah berkonotasi keta’atan dan ketundukan. Kata ibadah dan pertolongan dalam ayat ini, menunjukkan bahwa aspek peribadatan, keta’atan dan ketundukan terhadap Allah (dalam kata na’budu), lebih didahulukan daripada aspek meminta pertolongan (dalam kata nasta’în), menurut Imam Dhiya’uddin bin al-Atsir al-Katib (w. 637 H), hal ini termasuk bentuk taqdîm al-sabab ’alâ al-musabbab, yakni mengedepankan sebab daripada akibat, hal itu karena ibadah (keta’atan dan ketundukan) merupakan sebab turunnya pertolongan Allah. Sikap mendahulukan ibadah yang hakikatnya mendekatkan diri pada Allah, dan menjadi perantara hubungan hamba dengan-Nya, sebelum meminta apa yang dibutuhkan jelas lebih menjamin keberhasilan meraih apa yang diminta, dan lebih cepat memperoleh pengabulan do’a.[3]
Bahkan potensi kekuatan ini pula yang mampu merekatkan seluruh umat Islam, dimana Allah dan Rasul-Nya mengaitkan antara keimanan dan persaudaraan di antara orang beriman, dengan menyifatinya sebagai dasar ukhuwwah (persaudaraan) umat. Bukankah Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {١٠}
”Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurât [49]: 10)
Maka untuk menyempurnakan spirit keimanan dalam aksi 212, umat harus didorong untuk bersatu dengan spirit keimanan, akidah Islam untuk memperjuangkan penerapan Islam dalam kehidupan. Ghîrah yang ditanamkan dalam diri umat tak boleh berhenti dalam menghadapi penghinaan terhadap al-Qur’an saja, tapi juga menyoal penegakkan hukum-hukum al-Qur’an, yang secara sistematis disisihkan dalam pengaturan kehidupan saat ini yang sekularistik. Maka peranan para ulama sangat dibutuhkan dalam membangun kesadaran politik umat, membumikan al-Qur’an dalam kehidupan sebagai jawaban atas konsekuensi keimanan. Ini merupakan tugas para ulama dan da’i sebagai bagian dari kesadaran politik, dan sebagai pemegang peranan penting dalam proyek kebangkitan umat.

B.   Tak Boleh Berhenti Pada Kasus Ahok

Kasus Ahok, sebenarnya merupakan efek domino dari pengabaian hukum-hukum Islam dalam kehidupan. Ketika umat Islam tidak memiliki pemimpin yang satu untuk seluruh dunia (Khalifah), dan tidak tegak kepemimpinan umat yang menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai dasar negara (Khilafah), sehingga tegak sebagai penggantinya sistem dan kepemimpinan jahiliyyah yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. Kenyataan pahit ini menjadikan umat Islam, bagaikan anak ayam kehilangan induknya, besar namun tercerai berai dan tak memiliki sosok yang dipuji Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- sebagai junnah, penjaga umat.
Apa yang diinformasikan Allah ’Azza wa Jalla dalam al-Qur’an sebagai pengaduan Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- pun terjadi, yakni pengabaian terhadap hukum-hukum al-Qur’an (hajr al-Qur’an) sekaligus penistaan berupa verbal dan sikap terhadap al-Qur’an al-Karim (hujr al-Qur’an), yang hakikatnya merupakan peringatan atas kedua bentuk kemungkaran tersebut, sebagaimana Allah informasikan dalam  firman-Nya:
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا {٣٠}
“Berkatalah Rasul, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang dicampakkan.” (QS. Al-Furqân [25]: 30)
            Para ulama tafsir merinci dua kemungkinan konotasi makna kata mahjûr[an], ia berasal dari kata al-hajr, atau dari kata al-hujr. Kata al-hajr yakni al-tark (mencampakkan). Jadi, mahjûr[an] berarti matrûk[an], sesuatu yang dicampakkan, dengan tidak mengimaninya, tidak mau menerimanya, atau tidak mengamalkan ajarannya.[4] Sedangkan kata al-hujr, yakni kata-kata keji.[5] Maksudnya, perkataan yang batil dan keji terhadap al-Quran, seperti stigma sihir atau sya’ir.[6] Dalam perinciannya, para ulama merinci sikap dan perilaku yang dikategorikan sebagai hajr al-Qur’ân (mencampakkan al-Quran), di antaranya menolak untuk mengimani dan membenarkannya; tidak mau men-tadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya; berpaling darinya, di antaranya dengan mengambil jalan hidup dari selainnya.[7]
Dalam kondisi saat ini, menegakkan sistem hukum jahiliyyah yang menyalahi QS. Al-Mâ’idah [5]: 50, dan menyokong kepemimpinan jahiliyyah yang menyalahi QS. Al-Mâ’idah [5]: 51, termasuk perbuatan mengabaikan al-Qur’an yang wajib dihindari dengan segenap kemampuan.  Tanpa menerapkan QS. Al-Mâ’idah [5]: 50-51 dalam konteks bernegara yang diatur dengan aturan Islam, maka akan muncul Ahok-Ahok baru. Maka umat harus terus maju, dan bangkit untuk kemuliaan Islam, spirit 212 harus diarahkan untuk melanjutkan perjuangan menegakkan kembali kehidupan Islam.
Terlebih aksi 212, menguatkan sinyalemen persatuan umat yang begitu kentara, didukung alasan bahwa pelaku penistaan al-Qur’an ini masih bebas berkampanye, dan dapat dipastikan takkan dihukum dengan sanksi yang adil dari Allah Yang Maha Adil, yakni sanksi hukum Islam. Maka diperlukan upaya serius pengemban dakwah, untuk mengarahkan spirit 212 agar berada pada jalur yang seharusnya, yakni spirit untuk memperjuangkan kehidupan Islam, memperjuangkan penerapan hukum-hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

C.    Panji Ar-Rayah, Disambut Hangat Umat

Salah satu sinyalemen kesatuan umat yang didorong oleh keimanan, adalah momen mengharukan ketika mereka menyambut panji hitam yang bertuliskan kalimat tauhid, syahâdatayn. Panji hitam ini, adalah panji Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits-hadits, salah satunya hadits dari Ibnu ‘Abbas r.a.:
«كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ» 
“Bendera (liwâ’) Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- berwarna putih, dan panjinya (râyah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak)
Dalam momen 212, panji hitam yang disambut berukuran raksasa, 15 x 10,5 m bertuliskan kalimat syahadat: Lâ  ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh, berwarna putih diarak berkeliling diatas kepala massa yang memenuhi pelataran Monumen Nasional Jakarta dalam aksi 212. Bendera produksi syabab Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Chapter Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, bergerak bak gelombang dari tangan ke tangan. Tak ada satu pun yang risih terhadap bendera tersebut. Semua saling membantu membentangkan Ar-Raayah sampai akhirnya Ar-Raayah menjadi ikon foto di sejumlah media baik dalam maupun luar negeri. Pengambilan gambar oleh drone tak hanya memfokuskan pada jumlah massa yang besar, tapi juga membidik Ar-Raayah yang terbentang di tengah-tengah massa.
Sambutan massa yang luar biasa ini pun mengisyaratkan bahwa stigmasisasi negatif terhadap bendera Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- oleh aparat kepolisian khususnya Densus 88 –selalu berusaha mengidentikan bendera itu dengan bendera ISIS– tak berhasil. Umat sangat memahami, panji itu bagian dari syi’ar Islam. Makanya, sebagaimana bisa dilihat dan didengar di youtube, massa melafalkan kalimat tahmiid ketika memindahkan panji raksasa ini.
Penisbatan panji seperti ini dalam hadits-hadits sebagai panji Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam-, memperjelas kedudukannya sebagai bagian dari syi’ar Islam. Terlebih konten dari panji tersebut adalah kalimat tauhid, lâ ilâha illaLlâh, yang menjadi kalimat pemisah antara iman, Islam dan kekufuran. Maka jelas bahwa bendera dan panji agung ini termasuk syi’ar Islam yang wajib dijunjung tinggi, dibela dan dibersihkan dari berbagai stigma negatif kaum Kafir dan sekutunya dari kaum Munafik, yang menstigmanya sebagai bendera teroris, stigma tersebut jelas kebatilannya.
Seorang muslim wajib menjunjung tinggi panji ini di atas panji-panji syi’ar jahiliyyah, yang menjadi simbol perpecahan dan simbol paham-paham kufur, karena mengagungkan dan menjunjung tinggi syi’ar Islam bagian dari apa yang Allah firmankan: 
ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ {٣٢}
”Demikianlah (perintah Allah) dan siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu. (QS. Al-Hajj [22]: 32)
Yakni sikap yang lahir dari ketakwaan kepada Allah, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Syafi’i (w. 1316 H) pun menjelaskan di antara sifat terpuji (الصفات المحمودية) yang tentunya melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah (تعظيم شعائر الله) yakni syi’ar-syi’ar Din-Nya.[8] Syi’ar ini pun menjadi simbol persatuan, mengingat kalimat yang termaktub di dalamnya merupakan kalimat tauhid yang menyatukan umat Islam.

D.   Ayat Suci di Atas Ayat Konstitusi

Salah satu momen terpenting lain yang harus diarahkand dan dikobarkan adalah materi khutbah shalat jumat, yang menekankan pada aspek keluhuran ayat suci di atas “ayat konstitusi”, Habib Rizieq Shihab mengingatkan, “Bagaimana Allah menyindir di Surat Al-Maidah ayat 50 terhadap mereka yang tidak mau menggunakan hukum Allah, yang tidak mau tunduk kepada hukum Allah. Apa yang Allah katakan untuk mereka? Apakah mereka menghendaki hukum Jahiliyyah? Apakah mereka menghendaki ketetapan jahiliyah? Selanjutnya Allah menyatakan, tidak ada satu pun hukum, dari makhluk manapun, yang lebih baik dari hukum Allah, bagi mereka yang yakin beriman kepada Allah. Karena itu kepada segenap kaum Muslimin Indonesia, tancapkan dalam sanubarimu yang paling dalam, bahwa hukum Allah diatas segalanya. Bahwa ayat suci adalah diatas ayat    konstitusi. Kenapa? Karena ayat suci adalah kalam ilahi. Firman ilahi. Hingga menjadi harga mati untuk dipatuhi, untuk ditaati. Tidak boleh diganti. Tidak boleh direvisi. Sedangkan konstitusi itu adalah produk akal basyari (manusia –red), produk akal insani. Sehingga tidak boleh bertentangan dengan ayat suci.”
Hal ini mengingatkan kita pada wasiat agung yang mulia Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam-:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
”Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim, al-Baihaqi dan lainnya)
Imam al-Munawi (w. 1031 H) menjelaskan bahwa al-Qur’an dan al-Sunnah merupakan perkara prinsipil, dimana tidak ada seseorang pun yang boleh berpaling dari keduanya, dan tidak ada yang bisa meraih petunjuk kecuali dari petunjuk keduanya, dan terpeliharanya seseorang dari kemaksiatan serta diraihnya keberhasilan adalah dengan berpegang teguh terhadap keduanya, maka kewajiban kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, merupakan hal yang diketahui bagian dari agama ini secara pasti.[9] Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (w. 852 H) pun mengisyaratkan hal yang sama yakni berpegang teguh padanya dan mengamalkan tuntutan-tuntutan di dalamnya.[10] Maka dengan demikian kita membutuhkan petunjuk, pedoman dan standar nilai dari al-Qur’an dan al-Sunnah secara pasti.
Wasiat Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- terhadap umat manusia untuk berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan al-Sunnah, mencakup kewajiban menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai dasar negara dan hukum perundang-undangan, mencakup aspek politik dalam negeri maupun politik luar negeri. Kata yâ ayyuhannâs (wahai manusia), dengan ungkapan seruan harf al-nidâ’ (kata seru yâ ayyuha_) dengan objek seruan yakni al-nâs (bentuk plural yang artinya manusia), menunjukkan bahwa wasiat Nabi shallallâhu ’alayhi wa sallam- ini merupakan wasiat agung yang ditujukan kepada umat manusia secara umum, termasuk pemimpin kaum Muslim dan kaum Muslim pada umumnya.
            Bahkan wasiat Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- kepada pemimpin untuk menegakkan hukum al-Qur’an dan al-Sunnah merupakan perkara yang sangat krusial, mengingat kedudukan pemimpin yang menentukan arah kehidupan masyarakat luas, hal ini disaksikan oleh hadits-hadits lainnya. Para ulama pun menjelaskan kewenangan penguasa menegakkan hukum persanksian.

E.    Mengembalikan Ayat Suci Ke Posisi Tertinggi

Sikap negara yang meletakan konstitusi di atas ayat suci, menurut Ketua DPP HTI Shidiq Al-Jawi akibat penerapan prinsip demokrasi dalam bernegara. Demokrasi, prinsip utamanya adalah kedaulatan di tangan rakyat, maknanya manusia yang membuat hukum, bukan yang lain Penerapan demokrasi ini yang sebenarnya menjungkirbalikan segala norma agama, yang kemudian menjadi subordinat atau dtundukan di bawah hukum buatan manusia.
Dengan prinsip demokrasi  ini, negara berusaha menempatkan ayat konstitusi (hukum positif) di atas ayat suci (norma syariah Islam), Jelas ini adalah pandangan yang bermasalah. Bagi seorang Muslim, hukum Islam itu posisinya lebih tinggi daripada hukum buatan manusia. Bahkan merupakan masalah yang serius, karena sudah menyangkut urusan keimanan bagi seorang Muslim.
Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurrahman menegaskan, hukum dan aturan Allah SWT pun harus ditempatkan di atas hukum dan aturan buatan manusia. Apalagi hukum dan aturan Allah SWT yang sempurna pasti membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Sehingga jelas bahwa tidak layak umat Islam berpijak pada paham Demokrasi sekularistik yang sesat dan menyesatkan, yang telah merendahkan kedudukan Al-Qur’an dibawah konstitusi.
Padahal Allah SWT telah berfirman:
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ {٦١}
Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi diatas semua hamba-Nya (QS. Al-Anâm [6]: 61)
Kemudian firman allah SWT dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 49:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ {٤٩}
”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 49)
Ayat itu, mengharuskan kaum Muslim tunduk dan ridha terhadap syariah Allah SWT. Adapun langkah menuju upaya menjadikan ayat suci sebagai konstitusi tertinggi bisa disimpulkan sebagai berikut:
Pertama, Harus ada dakwah Islam kepada publik yang terus menerus untuk menjelaskan keunggulan dan keutamaan syariah Islam, termasuk dakwah untuk menjelaskan kebatilan demokrasi yang menjadi sumber penolakan keunggulan syariah islam.
Kedua, Harus ada formulasi syariah Islam yang komprehensif dalam segala bidang kehidupan, yang terwujud dalam sebuah rancangan konstitusi syariah islam.
Ketiga, Harus ada negara yang berkomitmen kuat untuk menerima rancangan konstitusi syariah islam tersebut. Dan tak ada negara yang paling layak untuk menerapkan rancangan konstitusi syariah Islam itu, kecuali negara khilafah.

F.    Khatimah

Berdasarkan pemaparan poin-poin penting di atas, ghirah umat Islam dalam aksi 212, harus benar-benar diarahkan ke arah perubahan hakiki, tak berhenti menyoal kasus penistaan al-Qur’an, tapi juga harus sampai pada permasalahan inti, terabaikannya penerapan hukum-hukum al-Qur’an dan al-Sunnah (syari’at Islam) dalam kehidupan, oleh sebab tiadanya sistem Islam al-Khilafah, digantikan dengan sistem sekular Demokrasi. Umat Islam harus disadarkan dan dibangunkan dari tidurnya yang panjang, untuk bersegera menyongsong abad kebangkitan umat ini, dengan berjuang menegakkan al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah, bi nashriLlaah.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ {٥٥}
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Nûr [24]: 55)
            Wa biLlâhi al-Tawfîq. []





[1] Dikumpulkan dari berbagai sumber, berikut catatan-catatan tambahan dari LTS DPD II HTI Kab. Sukabumi, disampaikan dalam Halqah Syahriyyah DPD II HTI Kab. Sukabumi, 15 Januari 2017.
[2] Abdullah bin Abbas, Tanwîr al-Miqbâs Min Tafsîr Ibn ‘Abbâs, Lebanon: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., hlm. 2.
[3] Dhiya’uddin bin al-Atsir al-Katib, Al-Mitsl al-Sâ’ir fî Adab al-Kâtib wa al-Syâ’ir, Kairo: Dâr al-Nahdhah, juz II, hlm. 182.
[4] Abu Thayyib al-Qinuji, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1412 H, juz IX, hlm. 305.
[5] Al-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Qalam, cet. I, 1412 H, juz I, hlm. 833.
[6] Ibn Jarir al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz XIX, hlm. 264.
[7]  Abu al-Fida’ Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Dâr Thayyibah, cet. II, 1420 H, juz VI, hlm. 108.
[8] Muhammad Nawawi bin Umar, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq fî Syarh Sullam al-Tawfîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 103.
[9] ‘Abdurra’uf bin Tajul ’Arifin al-Munawi, Al-Taysîr bi Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabat al-Imâm al-Syâfi’i, cet. III, 1408 H, juz I, hlm. 447.
[10] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz V, hlm. 361.