Skip to main content

Hukum Islam atas Ragam Kesalahan Terhadap Al-Qur'an

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I 
(LTS DPD II HTI Kab. Sukabumi, Staf STIBA Ar-Raayah)

Al-Qur’an adalah firman Rabb Yang Maha Agung, keagungannya secara pasti (qath’i) disaksikan sendiri oleh firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ {٤١} لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ {٤٢}
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Qur’an ketika al-Qur’an itu datang kepada mereka (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya al-Qur’an adalah sebenar-benarnya kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (QS. Fushshilat [41]: 41-42)
         Kalimat wa innahu lakitâb[un] ’azîz[un] diawali dengan dua penegasan (tawkîd), lafal inna dan lâm, menegaskan bahwa al-Qur’an adalah Kitab Suci-Nya yang mulia, sekaligus meruntuhkan pengingkaran dan keraguan terhadapnya (dalam disiplin ilmu balaghah disebut al-khabar al-inkâri), dari Allah yang Maha Terpuji. Maka perbuatan menghina al-Qur’an jelas menyalahi firman-Nya yang qath’i sekaligus penghinaan terhadap Allah SWT, sehingga dihukumi sebagai bentuk kekufuran.
         Penghinaan atau penistaan, dalam bahasa arab diantaranya diistilahkan al-istihzâ’ (الاستهزاء), berasal dari kata kerja هَزَأَ - يَهْزَأُ, yang berkonotasi sakhira (menistakan)[1]. Dimana perbuatan istihzâ’ mengandung penghinaan terhadap pihak yang dihina disertai i’tiqâd (keyakinan atau maksud) menistakan.[2] Ungkapan verbal yang mengandung penghinaan terhadap al-Qur’an yaitu terhadap mushhafnya, ayat-ayatnya atau kandungannya, misalnya menyifati al-Qur’an sebagai alat berbohong dan menuduh ajarannya mengandung kebohongan, jelas termasuk perbuatan menistakan al-Qur’an al-’Azhim dan pengembannya, yakni para ulama dan da’i.

A.   Hukum Menghina Al-Qur’an & Bentuk-Bentuknya
Islam secara pasti mengecam keras perbuatan menghina al-Qur’an, baik terhadap mushhaf, ayat-ayatnya maupun kandungannya. Di antara ayat al-Qur’an yang menjadi dalil para ulama menyoal penghina al-Qur’an adalah QS. Al-Tawbah [9]: 65-66, Ibn Qudamah al-Maqdisi (w. 620 H) misalnya menuturkan bahwa siapa saja mencaci Allah SWT maka ia telah kafir, sama saja dilakukan dengan senda gurau atau serius. Begitu juga orang yang mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, para rasul-Nya, atau kitab-kitab-Nya.[3] Hal senada ditegaskan al-Qadhi Iyadh (w. 544 H), “Ketahuilah, siapa saja yang meremehkan al-Qur’an, mushafnya atau bagian dari al-Qur’an, atau mencaci-maki al-Qur’an dan mushafnya.. maka ia kafir (murtad) menurut para ulama dengan konsensusnya.”[4]
Maka jelas, menghina al-Qur’an merupakan perbuatan kufur yang dikecam keras oleh Islam, ia suatu kemungkaran dan tindak kriminalitas yang wajib dicegah dan dikenai sanksi hukum Islam, sama saja pelakunya muslim atau non muslim, pejabat atau rakyat. Namun wajib dipahami bahwa perbuatan tercela terhadap al-Qur’an tidak terbatas dalam konteks penghinaan terhadapnya, tapi juga mencakup perbuatan mendustakan atau mengabaikan ajarannya, al-Hafizh al-Nawawi (w. 676 H) merinci bentuk-bentuk kekufuran terhadap al-Qur’an: (1). Menghina al-Qur’an, atau suatu bagian darinya, (2). Menghina mushaf, atau melemparkannya ke tempat kotoran, (3). Mendustakan suatu hukum atau berita yang dibawa al-Qur’an, (4). Menafikan sesuatu yang telah ditetapkan al-Qur’an, atau menetapkan sesuatu yang telah dinafikan olehnya, atau meragukan sesuatu darinya, padahal ia mengetahuinya.
Segala bentuk penghinaan dan pengingkaran terhadap al-Qur’an ini, ditegaskan al-Hafizh al-Nawawi, menjadikan pelakunya kafir.[5] Dimana itu semua tercakup pula dalam pengaduan Rasulullah SAW kepada Allah SWT atas kaum yang hijrah dari al-Qur’an:
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا
“Berkatalah Rasul, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang dicampakkan.” (QS. Al-Furqân [25]: 30)
            Para ulama tafsir merinci dua kemungkinan konotasi makna kata mahjûr[an], ia berasal dari kata al-hajr, atau dari kata al-hujr. Kata al-hajr yakni al-tark (mencampakkan). Jadi, mahjûr[an] berarti matrûk[an], sesuatu yang dicampakkan, dengan tidak mengimaninya, tidak mau menerimanya, atau tidak mengamalkan ajarannya.[6] Sedangkan kata al-hujr, yakni kata-kata keji.[7] Maksudnya, perkataan yang batil dan keji terhadap al-Quran, seperti stigma sihir atau sya’ir.[8] Dalam perinciannya, para ulama merinci sikap dan perilaku yang dikategorikan sebagai hajr al-Qur’ân (mencampakkan al-Quran), di antaranya menolak untuk mengimani dan membenarkannya; tidak mau men-tadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya; berpaling darinya, di antaranya dengan mengambil jalan hidup dari selainnya.[9]
Dalam kondisi saat ini, menegakkan sistem hukum jahiliyyah yang menyalahi QS. Al-Mâ’idah [5]: 50, dan menyokong kepemimpinan jahiliyyah yang menyalahi QS. Al-Mâ’idah [5]: 51, termasuk perbuatan mengabaikan al-Qur’an yang wajib dihindari dengan segenap kemampuan.

B.   Sikap Ulama Menyikapi Segala Bentuk Penistaan Terhadap Al-Quran
Berinteraksi dengan al-Qur’an al-Karim membutuhkan ilmu dan adab, yang keduanya dipahami umat dari para ulama yang merupakan ahlul qur’an dan pewaris para nabi, dimana umat menjadikan ulama sebagai rujukan dalam upaya meneladani Nabi SAW ketika memuliakan al-Qur’an dan menghadapi penghinaan terhadapnya.
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ {٧}
”Maka bertanyalah kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 7)
Kedudukan ulama sebagai rujukan, merupakan posisi strategis dalam upaya membangun kesadaran umat, ketika ulama menunaikan tugasnya mengadopsi permasalahan umat dan memahamkan mereka terhadap solusi Islam, termasuk menghadapi kasus penghinaan terhadap al-Qur’an. Ghîrah yang ditanamkan dalam diri umat tak berhenti dalam menghadapi penghinaan terhadap al-Qur’an saja, tapi juga menyoal penegakkan hukum-hukum al-Qur’an, yang secara sistematis disisihkan dalam pengaturan kehidupan saat ini yang sekularistik. Maka peranan para ulama sangat dibutuhkan dalam membangun kesadaran politik umat, membumikan al-Qur’an dalam kehidupan sebagai jawaban atas konsekuensi keimanan.
Mencakup keteguhan mengoreksi penguasa untuk menegakkan sistem Islam dan hukum-hukumnya, termasuk sanksi hukum Islam atas penghina al-Qur’an, tanpa takut celaan para pencela atau tergiur harta dunia yang fana. Peranan inilah yang digambarkan dalam nasihat al-Hasan al-Bashri r.a. (w. 110 H):
ولولا العلماء لكان الناس كالبهائم
“Kalaulah bukan karena ulama, sungguh manusia bagaikan binatang.”[10]

C.   Memuliakan Al-Qur’an
Kemuliaan umat manusia sejalan dengan sikapnya terhadap al-Qur’an. Memuliakan al-Qur’an yakni menempatkan al-Qur’an sesuai kedudukan dan fungsinya, mencakup memuliakan mushhafnya, ayat-ayatnya serta kandungannya. Sikap yang dibangun, tidak sebatas ghîrah (cemburu, tidak ridha) ketika ada orang yang menghina al-Qur’an, tapi juga harus diwujudkan dalam bentuk riil mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat dan bernegara. Hal itu karena al-Qur’an merupakan pedoman hidup manusia, bukan hiasan yang menghiasi rak semata. Dalam banyak ayat-Nya, Allah menegaskan kedudukan al-Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia (hud[an] li al-nâs):
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ  {٨٩}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
Rasulullah SAW pun berpesan:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
”Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibnu ’Abbas r.a.)[11]
        Imam al-Munawi (w. 1031 H) menjelaskan bahwa keduanya merupakan perkara prinsipil, dimana tidak ada seseorang pun yang boleh berpaling dari keduanya, dan tidak ada yang bisa meraih petunjuk kecuali dari petunjuk keduanya, dan terpeliharanya seseorang dari kemaksiatan serta diraihnya keberhasilan adalah dengan berpegang teguh terhadap keduanya, maka kewajiban kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, merupakan hal yang diketahui bagian dari agama ini secara pasti.[12] Sehingga bisa disimpulkan memuliakan al-Qur’an:
a   Memuliakan mushhafnya dengan memenuhi adab-adab berinteraksi dengan al-Qur’an.
b Memuliakan ayat-ayat dan kandungannya dengan mengimaninya, membacanya, mempelajarinya, mentadaburinya dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat dan bernegara.

Di sisi lain menegakkan hukum al-Qur'an dalam kehidupan, benar-benar bisa secara sempurna ditegakkan ketika tegak sistem al-Qur’an, al-Khilâfah ’ala Minhâj al-Nubuwwah, dalam kepemimpinan Khalifah yang menunaikan fungsi ri’âyah, mengatur umat dengan syari’at Islam dan menjadi junnah (perisai) yang menjaga kehormatan Islam dan kaum Muslim. Kalau bukan ulama dan umatnya, siapa yang akan memperjuangkannya? []





[1] Muhammad al-Azhari, Tahdzîb al-Lughah, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, cet. I, 2001, VI/196.
[2] Abu Hilal al-‘Askari, Al-Furûq al-Lughawiyyah, Kairo: Dâr al-‘Ilm wa al-Tsaqâfah, t.t., hlm. 254.
[3] Ibnu Qudamah, Al-Mughni fî Fiqh al-Imâm Ahmad bin Hanbal al-Syaibâni, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1405 H, X/103.
[4] ‘Iyadh bin Musa, Al-Syifâ bi Ta’rîf Huqûq al-Mushthafâ, Oman: Dâr al-Fuyahâ’, cet. II, 1407 H, II/646.
[5] Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syarf Al-Nawawi, Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut: Dâr al-Fikr, II/170.
[6] Abu Thayyib al-Qinuji, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1412 H, IX/305.
[7] Al-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Qalam, cet. I, 1412 H, I/833.
[8] Ibn Jarir Al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, XIX/264.
[9]  Abu al-Fida’ Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Dâr Thayyibah, cet. II, 1420 H, VI/108.
[10] Ibn al-Jawzi, Âdâb al-Hasan al-Bashri, Dâr al-Nawâdir, cet. III, 1428 H, I/58.
[11] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/171, hadits no. 318) sanadnya shahih dan disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi, Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’  (X/114, hadits no. 20833)
[12] ‘Abdurra’uf al-Munawi, Al-Taysîr bi Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabat al-Imâm al-Syâfi’i, cet. III, 1408 H, I/447.

Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل