Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2016

Peringatan Al-Qur’an atas Fenomena Jahiliyyah: Berhukum dengan Selain Hukum Allah

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I [1] I stilah jâhiliyyah merupakan istilah qur’ani [2] , al-Qur’an al-Karim telah menyebutkannya dengan konotasi tertentu, dan menggambarkan ruang lingkupnya yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu serta kaum tertentu, dengan kata lain stigma jahiliyyah sebenarnya tidak melekat kepada kaum Kafir Qurasyi semata, tapi bisa melekat kepada kaum selainnya dan bahkan kondisi kekinian, dimana Allah ’Azza wa Jalla pun telah membimbing kita untuk berlindung dari sifat jahiliyyah: وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ {٦٧} “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah

Teladan Imam 'Abdul Qadir al-Jaylani Mengoreksi Penguasa di Atas Mimbar Masjid

Al-Imam 'Abdul Qadir al-Jaylani -rahimahullah- mengoreksi kebijakan penguasa (Khalifah) terang-terangan di atas mimbar Masjid. Yakni mengoreksi kebijakan Khalifah al-Muqtafi yang keliru karena mengamanahkan jabatan hakim peradilan kepada orang yang lalu berbuat kezhaliman-kezhaliman. Beliau lalu menasihati dan mengoreksi terang-terangan di atas mimbar di masjid ketika sang khalifah berada di dalamnya dalam perkataan dan peringatan keras: وليت على المسلمين أظلم الظالمين وما جوابك غدًا عند رب العالمين "Engkau telah mengangkat seseorang untuk kaum muslimin yang paling zhalim di antara orang-orang yang zhalim, lantas apa jawaban engkau esok hari (di Akhirat) di sisi Rabb Alam Semesta ini?!" Lalu Sang Khalifah memecat hakim tersebut. Lihat: Dr. Ali Muhammad al-Shallabi, Al-'Âlim al-Kabîr wa al-Murabbi al-Syahîr al-Syaikh ’Abd al-Qadir al-Jaylani , Kairo: Mu’assasat Iqra’, cet. I, 1428 H, hlm. 85. Komentar Irfan Abu Naveed: Apakah ulama ahlus sunna

Kontak Kajian Ust Irfan Abu Naveed M.Pd.I

Info Seputar Kajian Ruqyah & Persoalan Akidah (Ideologis dan Praktis) Bertolak dari pentingnya kajian persoalan akidah dari sudut pandang ideologis, sekaligus sebagai uslub dakwah ideologis, mencakup materi: 1- Meluruskan syubhat seputar sihir dan perdukunan 2- Meluruskan khurafat seputar alam jin.  3- Kajian solusi ideologis mengatasi permasalahan sistemik kapitalisme dan komersialisasi perdukunan dan dunia ghaib 4- Kajian solusi praktis teori dan praktik ruqyah syar'iyyah mencakup ruqyah mandiri, orang lain (keluarga, masyarakat) dan tempat serta benda. 5- Praktik ruqyah "massal" atau terbatas. Alhamdulillah, dari pengalaman di lapangan, antusiasme masyarakat terhadap kajian seperti ini sangat bagus sebagai uslub dakwah penyadaran masyarakat, ditandai dengan kehadiran dan banyaknya pertanyaan di forum. Kontak Kajian Irfan Abu Naveed & Tim G-Syirah (Tim Peruqyah Syabab): Kontak via SMS dahulu sebutkan nama dan maksud, ke no: 081 7929 6

Dokumentasi Kajian Islam "Takhayul dan Khurafat dalam Masyarakat Sekular"

Acara Kajian Islam Aktual yang diselenggarakan rutin setiap bulannya di pekan ke-3 oleh Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Cianjur.  Ahad, 16 Oktober 2016 bertempat di Koridor Timur Masjid Agung Cianjur.  Tema Kajian Islam Aktual kali ini adalah "Tahayul dan Khurafat Tumbuh Subur Dalam Masyarakat Sekuler", yang di sampaikan oleh Ustadz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I. (penulis buku Menyingkap Jin dan Dukun Hitam Putih Indonesia )

Peringatan Al-Qur’an atas Fenomena Jahiliyyah: Praktik Perdukunan & Tipuan Penggandaan Uang

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I [1] Disampaikan dalam acara kajian tafsir tematik di KPP Cianjur, 14 Oktober 2016 Link Download Makalah: Link I stilah jâhiliyyah merupakan istilah qur’ani [2] , al-Qur’an al-Karim telah menyebutkannya dengan konotasi tertentu, dan menggambarkan ruang lingkupnya yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu serta kaum tertentu, dengan kata lain stigma jahiliyyah sebenarnya tidak melekat kepada kaum Kafir Qurasyi semata, tapi bisa melekat kepada kaum selainnya dan bahkan kondisi kekinian, dimana Allah ’Azza wa Jalla pun telah membimbing kita untuk berlindung dari sifat jahiliyyah: وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ {٦٧} “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." Mereka berkata: "Apakah kamu hendak