08 Juni 2016

Soal Jawab Jual Beli Makanan-Minuman di Siang Hari Ramadhan


Soal Jawab Grup Forum Kajian Tsaqafah: Link
Soal
Afwan mau tanya ustadz, orang yang jualan makanan n minuman pada siang hari saat bulan ramadhan apakah uang hasil jualan tersebut halal? Dan yang membeli makan n minum itu kebanyakan orang yang meninggalkan puasa tanpa sebab "laki-laki". (Randy Hermawan)

Jawaban (Irfan Abu Naveed)
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Pertama, Penjelasan Hukum Menurut Para Ulama

Jual beli makanan dan minuman yang ‘ain-nya atau dzatnya halal maka pada asalnya hukumnya jelas halal. Hanya saja yang menjadi masalah dalam hal ini adalah jual beli di pagi hari atau siang hari Ramadhan dimana kaum Muslim umumnya sedang ditaklif menunaikan shaum Ramadhan yang hukumnya fardhu.

Maka para ulama menyoroti sisi dimana jual beli makanan dan minuman “siap saji” (misalnya masakan) di pagi hari atau siang hari Ramadhan dimana ghalibnya orang tidak membeli makanan dan minuman kecuali untuk langsung dikonsumsi maka jual beli tersebut dianggap sebagai jual beli yang mendukung kemaksiatan, yakni memberikan jalan bagi orang yang tidak melaksanakan kefardhuan shaum tanpa ‘udzur syar’i.

Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah amat pedih.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 2)

Imam Abu Ishaq al-Tsa’labi (w. 427 H) menjelaskan:
وَلا تَعاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوانِ يعني المعصية والظلم.
“Kalimat (dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan) yakni kemaksiatan dan kezhaliman.” (Ahmad bin Muhammad Abu Ishaq al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsiir al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, cet. I, 1422 H, juz IV, hlm. 11)

Dan menolong orang yang makan minum di pagi hari atau siang hari Ramadhan tanpa ‘udzur syar’i jelas merupakan kemaksiatan, dan hukumnya haram, dikecualikan dalam hal ini adalah makan dan minumnya orang yang memang ada udzur syar’i untuk tidak shaum, misalnya seseorang yang sedang safar jauh untuk hajat syar’i dan berbagai rukhshah lainnya yang ditentukan oleh syari’ah.

Hal itu sebagaimana penjelasan dalam banyak kitab fikih syafi’iyyah berkenaan dengan memberi makan seseorang (muslim atau kafir) pada waktu pagi atau siang hari shaum Ramadhan, termasuk hukum jual beli makanan dan minuman pada orang yang diketahui atau di duga kuat berbuka sebelum waktunya pada waktu shaum Ramadhan di siang hari, dimana hukumnya disamakan seperti kasus jual beli anggur untuk produsen khamr, atau jual beli parfum dengan orang musyrik untuk dipakai mengharumkan patung sesembahannya yang dihukumi haram dengan dalil di atas.

a.    Penjelasan dalam Kutub Fikih Syafi’i

Ibarah dalam kitab Nihâyat al-Muhtâj Ilâ Syarh al-Minhâj, karya Syaikh Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), yakni tentang setiap perbuatan yang mengakibatkan kemaksiatan:

وَمِثْلُ ذَلِكَ إطْعَامُ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ كَافِرًا مُكَلَّفًا فِي نَهَارِ رَمَضَانَ، وَكَذَا بَيْعُهُ طَعَامًا عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّهُ يَأْكُلُهُ نَهَارًا....؛ لِأَنَّ كُلًّا مِنْ ذَلِكَ تَسَبُّبٌ فِي الْمَعْصِيَةِ وَإِعَانَةٌ عَلَيْهَا
“…Seperti seorang muslim mukallaf yang memberi makanan kepada orang kafir dewasa di siang hari ramadhan, begitu pula menjual makanan jika mengetahui atau menduga kuat bahwa ia akan memakannya disiang hari Ramadhan; karena seluruh perbuatan tersebut menyebabkan kemaksiatan dan menyokongnya.” (Syamsuddin Muhammad bin Abi al-‘Abbas al-Ramli, Nihâyat al-Muhtâj Ilâ Syarh al-Minhâj, Beirut: Dâr al-Fikr, 1404 H, juz III, hlm. 471)

Jika kepada orang kafir saja diharamkan, maka kepada sesama muslim perkaranya lebih kuat, dengan kata lain pembahasan di atas berlaku umum pada orang-orang baik muslim maupun kafir pada waktu-waktu shaum Ramadhan yang diduga kuat akan mengkonsumsinya pada waktu shaum tanpa udzur syar’i.

Penjelasan di atas pun banyak dinukil dalam kitab fikih syafi’iyyah: Syaikh Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H) dalam kitab fikih Hâsyiyat al-Jamal ‘alâ Syarh al-Minhâj (III/92), Syaikh Sulaiman al-Bujairami al-Syafi’i (w. 1224 H) dalam kitab Hâsyiyat al-Bujayrami ‘alâ Syarh al-Minhâj (II/224), Syaikh al-Bakri al-Dimyathiy al-Syafi’i (w. 1310 H) dalam kitab I’ânat al-Thâlibiin ‘alâ Hall Alfâzh Fat-h al-Mu’iin (III/30).

b.    Penjelasan dalam Soal Jawab Fatwa Kuwait

Dalam Fatâwâ Qithâ’ al-Iftâ’ bi al-Kuwayt disebutkan soal jawab:

·        هل يجوز بيع الطعام لمن يتناوله بالنهار في رمضان للمسلمين أو غير المسلمين؟
أجابت اللجنة بما يلي:
لا يجوز بيع الطعام لمن يعلم أنه يتناوله في نهار رمضان من المسلمين إلا أن يكون له عذر يبيح له الفطر كأن يكون مسافراً أو مريضاً أما بيعه لغير المسلمين فجائز. والله أعلم.
Soal:

“Bolehkah jual beli makanan bagi seseorang yang mengkonsumsinya pada siang hari Ramadhan bagi orang-orang muslim atau non muslim?”

Jawaban Lajnah:

“Tidak boleh hukumnya menjual makanan kepada seseorang dari kaum muslimin yang diketahui bahwa ia akan mengkonsumsinya pada siang hari Ramadhan kecuali jika ada padanya ‘udzur yang memperbolehkan baginya untuk berbuka, misalnya kondisinya sebagai seorang musafir (melakukan safar) atau sakit. Adapun menjual makanan kepada non muslim (pada siang hari Ramadhan) maka hukumnya boleh, wallâhu a’lam.” 

(Lihat: Majmu’atul Ulama, Fatâwâ Qithâ’ al-Iftâ’ bi al-Kuwayt, Wizârat al-Awqâf wa al-Syu’ûn al-Islâmiyyah, cet. I, 1417 H, juz V, hlm. 122)

c.    Penjelasan dalam Soal Jawab Situs Dr. Shalih al-Munajjid

Dalam situs tanya jawab yang diasuh Dr. Shalih al-Munajjid, islamqa, pun ditegaskan bahwa tidak diperbolehkan menghidangkan makanan bagi seseorang pada siang hari di bulan ramadhan, kecuali bagi orang-orang yang memang dibolehkan untuk tidak berpuasa, seperti: orang sakit, musafir, dan lain-lain. Dan tidak ada bedanya dalam masalah ini antara muslim dan kafir. Seorang muslim yang tidak berpuasa berarti ia durhaka kepada peritah Allah. Menyediakan makanan dan minuman baginya berarti membantunya dalam hal dosa dan pelanggaran. Orang kafir pun sebenarnya juga diperintah untuk berpuasa dan hukum-hukum Islam yang lain, namun sebelumnya ia harus masuk islam terlebih dahulu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Pada hari kiamat orang kafir akan disiksa karena kekafirannya, dan karena syariat Islam tidak diterapkan, maka bertambahlah siksa bagi mereka.

Kedua, Adab Menghormati Kaum Muslimin yang Sedang Shaum

Di samping persoalan hukum, mereka yang berjual beli makanan dan minuman “siap saji” pada jam-jam siang Ramadhan pun sudah semestinya mempertimbangkan dan memerhatikan adab menghormati kaum Muslim yang sedang menunaikan ibadah shaum Ramadhan, karena pemandangan berjual beli makanan dan minuman pada bulan Ramadhan ghalib-nya atau umumnya dilakukan pada waktu menjelang berbuka shaum, dimana orang-orang sedang mempersiapkan makanan dan minuman untuk berbuka.

Permasalahan di atas, sebenarnya bisa diatur secara tertib dalam Dawlah al-Khilafah yang menjadikan akidah Islam sebagai pondasi bernegara dan pondasi kehidupan bermasyarakat, dimana negara menanamkan pendidikan berasaskan akidah Islam yang membentuk kepribadian Islam dalam diri individu-individu masyarakat dan menjaga penerapan Islam di tengah-tengah kehidupan mereka sehingga menciptakan keshalihan sosial, dan menegakkan hukuman sanksi Islam yang adil kepada mereka yang melanggar hukum syara’ yang dengannya dicegah adanya kemaksiatan serupa terulang kembali. Allâh al-Musta’ân

Wallâhu a’lam bi al-shawâb.