Skip to main content

Nasihat Al-’Alim Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil untuk Mempelajari Bahasa Arab

admin-ajax (1)

Al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha bin Khalil -hafizhahullah-, Amir Hizbut Tahrir saat ini (ke-3), ketika membantah pemahaman yang menafikan pentingnya pemahaman bahasa arab dalam menafsirkan al-Qur’an. Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil pun menegaskan:

ومن الجدير ذكره أن من أراد أن يفهم القرآن بغير لغته التي بها أنزل يكون قد عطّل فهم القرآن والعمل به، ويكون بذلك قد ارتكب إثما عظيما لأن القرآن قد أنزل باللغة العربية وبغيرها لا يمكن أن يفهم فهما سليما
“Dan di antara hal yang sudah semestinya disampaikan bahwa siapa saja yang ingin memahami al-Qur’an tanpa ada kemauan untuk memahami bahasanya (bahasa arab) yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa tersebut, pasti akan gagal memahami al-Qur’an dan mengamalkannya, dan karena faktor ini ia telah berdosa dengan dosa yang besar karena al-Qur’an telah turun dengan bahasa arab dan tanpa memahami bahasa arab tidak mungkin ia memahami al-Qur’an dengan pemahaman yang benar.”

Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil menambahkan:
ولهذا حرص الفقهاء على العربية وعلومها، ناهيك عن المجتهدين ليتمكنوا من فهم القرآن واستنباط الأحكام الشريعة منه
“Dan oleh karena itu, para ulama ahli fikih memerhatikan bahasa arab dan ilmu-ilmunya, belum lagi para mujtahidin (dimana salah satu syarat asasi ijtihad adalah bahasa arab-pen.), sehingga mampu memahami al-Qur’an dan menggali hukum-hukum syari’ah darinya.”

Dan dalam kitab tafsirnya pun Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil menyatakan bahwa diantara sebab kesesatan adalah kelemahan dalam memahami bahasa arab.

Lihat: al-’Alim asy-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasythah. 1427 H/ 2006. At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah). Cetakan ke-2. Beirut: Dar al-Ummah.

Artikel Lebih Lengkap:

Download Kitab-Kitab Pelajaran Bahasa Arab:



Comments

Popular posts from this blog

Buku Menarik "Risalah Nikah & Walimah"

"RISALAH NIKAH & WALIMAH" Dilengkapi dengan Sajian Kitab Kuning (Turats) & Ilmu Kesehatan Reproduksi Pra Nikah Ikhwah fillah, bi fadhliLlahi Ta'ala wa bi tawfiqihi,  telah terbit buku Risalah Nikah & Walimah, menggambarkan kajian turats menyoal topik-topik pernikahan dan syari'at walimah dalam Islam, berikut ilmu menyoal Kesehatan Reproduksi Pra Nikah, ditulis bersama istri yang berlatarbelakang pendidikan kebidanan. Sajian menyoal fikih walimah, penyusun uraikan dalam bentuk soal jawab, disertai ibarat kitab kuning (turats), dipercantik dengan berbagai gambaran walimah syar'i. Daftar Isi Buku: Bab I Keagungan Pernikahan & Hidup Berpasang-Pasangan Bab II Tuntunan Agung Menjemput Pasangan Idaman Bab III Buah Pernikahan; Sakînah, Mawaddah dan Rahmah Bab IV Walimah Nikah Sesuai Syari'ah Bab V Sunnah Mulia; Do'a Pengantin Bab VI Tips Kesehatan Reproduksi Pra Nikah   Info & Pemesanan: wa.me/6285735533668

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.