25 June 2016

Soal Jawab Hukum Muslimah Mengenakan Pakaian Ketat di Hadapan Mahram

Gambar aksi menolak Miss World sesuai tema soal jawab ini, mengingat acara Miss World yang mengumbar aurat dan pakaian ketat tipis di hadapan publik :: Sumber: m.tempo.co

Soal

Apakah wanita d depan mahrom boleh memakai pakaian ketat, asal tidak tipis y bs menutupi warna kulit anggota tubuh selain mahalu zinnah? (Bintoro Siswayanti)

Jawaban

إن الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله والصّلاة والسّلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد
Pertama, Berkenaan dengan aurat wanita dihadapan mahramnya adalah yaitu semua anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahallu zinah).

Al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani rahimahullah dalam kitab Al-Nizhâm al-Ijtimâ’i, edisi Muktamadah, cet. IV, tahun 2003, dinyatakan sebagai berikut:

"Boleh laki-laki melihat wanita mahram-nya, baik Muslimah maupun bukan, lebih dari wajah dan kedua telapak tangan, yaitu semua anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahallu al-zînah)."

Dan telah ma'lum bahwa mahallu al-zînah dari wanita muslimah di hadapan mahramnya: seperti rambut, leher, tempat gelang tangan, tempat gelang kaki, tempat kalung di leher, dan anggota badan lain, yang memang layak disebut tempat hiasan. Hal ini berdasarkan dalil QS. Al-Nur [24]: 31:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Nûr [24]: 31)

Makna (وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ) dalam ilmu balaghah merupakan majaz mursal, yang bermakna mahallu al-zînah (menurut istilah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani dalam al-Nizhâm al-Ijtimâ’iy) atau mawâdhi' al-zînah (menurut istilah Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam tafsir al-Munîr) yang artinya tempat melekatnya hiasan. Ini satu sisi batasan auratnya.

Kedua, Lalu terkait pertanyaan, mengenakan pakaian yang ketat meski tidak tipis di hadapan mahram, maka hukumnya tidak boleh. Karena pakaian yang ketat meski tidak tipis sudah bisa dipastikan membentuk lekuk tubuh, dan mengenakan pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh sama artinya dengan telanjang. Berdasarkan dalil-dalil:

Pertama, Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alayhi wa sallam- bersabda :

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا ، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا.
“Dua orang dari penghuni neraka yang belum aku pernah melihatnya, (pertama) seorang kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi dengannya mereka memukuli manusia dan (kedua) kaum wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan berlenggok-lenggok, kepala mereka laksana punuk onta miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wanginya padahal wangi surga tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dalam Shahîh-nya (VI/168, no. 5633), al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath (II/224, no. 1811))

Al-Hafizh al-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahîh Muslim mengemukakan beberapa penafsiran atas kalimat (الْكَاسِيَاتُ), salah satunya adalah:

يَلْبَسْنَ ثِيَابًا رِقَاقًا تَصِفُ مَا تَحْتَهَا كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ فِي الْمَعْنَى
“Kaum wanita yang mengenakan pakaian tipis yang menggambarkan apa yang ada di baliknya seperti pakaian telanjang serupa dari segi maknanya.” (Abu Zakariya bin Syarf al-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-’Arabi, cet. II, 1392 H, juz ke-17, hlm. 190)

Hal senada disebutkan oleh al-Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H) bahwa mereka berpakaian tapi hakikatnya telanjang:

وَإِنْ كُنَّ كَاسِيَاتٍ لِلثِّيَابِ عَارِيَاتٍ فِي الْحَقِيقَةِ
“Dan meskipun mereka berpakaian tapi hakikatnya telanjang.”

Al-Qari menukil Imam al-Thibi bahwa hakikat dari pakaian itu adalah untuk menutup aurat, maka jika tidak terwujud hal tersebut maka seakan-akan mereka tidak berpakaian, inilah yang penyair tuturkan:

خُلِقُوا وَمَا خُلِقُوا لِمَكْرُمَةٍ ... فَكَأَنَّهُمْ خُلِقُوا وَمَا خُلِقُوا
رُزِقُوا وَمَا رُزِقُوا سَمَاحَ يَدٍ ... فَكَأَنَّهُمْ رُزِقُوا وَمَا رُزِقُوا
(Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dar al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VI, hlm. 2302)

Yakni telah ditafsirkan ungkapan berpakaian tapi telanjang salah satunya berkonotasi mengenakan pakaian yang tipis sehingga terlihat apa yang di balik pakaian tersebut, terlihat lekuk-lekuk tubuhnya, sehingga seakan-akan terlihat.

Dan bagaimana hukumnya? Hukumnya jelas haram berdasarkan indikasi tegas (qarînah jâzimah) kecaman-kecaman di dalamnya (مِنْ أَهْلِ النَّارِ) dan (لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ), sebagaimana ditegaskan al-Mulla Ali al-Qari bahwa hadits ini mengandung kecaman terhadap dua golongan tersebut, ini dalam tinjauan ilmu ushul fikih jelas menjadi indikasi keharaman yang tegas.

Meski dalam perinciannya para ulama semisal al-Hafizh al-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim (juz ke-17, hlm. 190) merinci lagi bahwa salah satu makna kalimat ”tidak akan masuk surga” yakni jika mereka menghalalkan keharaman-keharaman yang sudah tegas dalam hadits tersebut.

Dan ditafsirkan juga bahwasanya mereka mengenakan pakaian sempit yang menutup auratnya dari pandangan orang, akan tetapi terlihat lekuk-lekuk tubuhnya. Oleh karena itu dilarang bagi wanita mengenakan pakaian yang ketat kecuali di hadapan orang yang boleh melihat auratnya, yaitu hanya suami mereka. Dan ini sejalan dengan fatwa para guru, para ulama terkait.

Kedua, Dalil hadits dari Ibnu Usamah bin Zayd, bahwa bapaknya yakni Usamah r.a. berkata:

كَسَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُبْطِيَّةً كَثِيفَةً كَانَتْ مِمَّا أَهْدَاهَا دِحْيَةُ الْكَلْبِيُّ، فَكَسَوْتُهَا امْرَأَتِي، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَا لَكَ لَمْ تَلْبَسِ الْقُبْطِيَّةَ؟ " قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَسَوْتُهَا امْرَأَتِي. فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مُرْهَا فَلْتَجْعَلْ تَحْتَهَا غِلَالَةً، إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَصِفَ حَجْمَ عِظَامِهَا "
“Rasulullah shallallahu ’alayhi wa sallam pernah memakaikanku baju Qubthiyyah yang kencang padat. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi. Lalu aku memakaikan baju tersebut kepada istriku. Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya: ”Mengapa engkau tidak mengenakan baju Qubthiyyah-nya?”. Aku menjawab: ”Baju tersebut kupakaikan kepada istriku wahai Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW bersabda: ”Perintahkan istrimu memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Qubthiyyah tersebut menggambarkan bentuk tulangnya’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 21786 dengan sanad layyin, namun ada syawahid (penguat) dalam riwayat Abu Daud sehingga kesimpulannya hadits tersebut dihukumi hasan; disebutkan dalam al-Ahâdîts al-Mukhtârah no. 1367 karya Dhiya’uddin al-Maqdisiy disebutkan: ”Hadits hasan”).

Para ulama menyebut pakaian qibthiyyah ini yakni pakaian yang dinisbatkan kepada kaum Qibthiy, bagian dari penduduk Mesir, sebagaimana ditegaskan al-Qadhi ’Iyadh dinukil oleh Imam al-Syawkani (w. 1250 H) (Muhammad bin Ali al-Syawkani, Nayl al-Awthâr, Mesir: Dar al-Hadits, cet. I, 1413 H, juz II, hlm. 135)

Al-Syawkani pun menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa wajib bagi seorang wanita untuk menutupi tubuhnya tidak terlihat berbentuk, dan ini adalah syarat menutup aurat, dan Rasulullah SAW memerintahkan mengenakan pakaian di dalamnya karena pakaian qibthiyyah ini merupakan pakaian yang tipis tidak menutupinya akan tetapi memperlihatkan tubuhnya. (Ibid)

Imam al-Syawkani pun menjadikan hadits pertama dan kedua ini dalam satu bab khusus (بَابُ نَهْيِ الْمَرْأَةِ أَنْ تَلْبَسَ مَا يَحْكِي بَدَنَهَا) yakni larangan bagi kaum wanita untuk mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuhnya. (Ibid)

Dan pengecualian dalam hal ini adalah mengenakan pakaian ketat dan tipis dihadapan suami. Karena hanya suami yang berhak melihat seluruh tubuh istrinya dan boleh memandanginya dengan syahwat. []

Wallâhu a’lam bi al-shawâb


والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

22 June 2016

Soal Jawab Hukum Menggunakan Tasbih (Tinjauan Kajian Hadharah & Hadits)


Link Bergabung dengan Grup Forum Kajian Tsaqafah: Link

Soal
Assalamu alaikum, tanya tadz, bagaimana dengan tasbih? Tasbih juga kan di pakai umat budha, termasuk madaniyah apa?
Toip S



Jawaban

Wa'alaykumussalam,wr,wb.

إن الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله والصّلاة والسّلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد

Terkait benda yang dinamakan “tasbih” baik dari bahan kayu, batu kerikil atau plastik, sejauh pengetahuan al-faqir ia tidak serta merta tergolong benda khusus (madaniyyah khâshah) Budha atau Hindu, karena:

Pertama, Terdapat perbedaan mencakup bacaan yang dibaca, filosofi jumlah biji, dan namanya:

Penggunaan biji tasbih pertama kali dapat ditelusuri ke agama Hindu, mereka menyebutnya dengan nama japa mala. Japa adalah mengulang nama dari seorang dewa atau mantra. Mala (Sanskrit: माला mālā) berarti "karangan bunga", baik karangan bunga untuk dekorasi atau untuk diletakkan dimakam (Inggris: wreath), atau karangan bunga yang dikenakan diatas kepala (garland).

Japa mala digunakan untuk mengulang bacaan mantra, untuk bentuk lain dari sadhana atau "latihan spiritual" dan sebagai bantuan dari meditasi. Jumlah mala paling umum memiliki 108 manik-manik. Bahan baku yang paling sering digunakan untuk membuat manik-manik adalah biji rudraksha sering digunakan oleh Saiwa dan tanaman ruku-ruku batang (digunakan oleh Waisnawa). (Lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Biji_tasbih: bisa dicek referensinya)

Rudraksha adalah cemara besar berdaun lebar yang bijinya secara tradisional digunakan sebagai ”tasbih” dalam agama Hindu. (Lihat: indahcraft.net)

Sedangkan kaum muslimin umumnya menyebut benda yang dirangkai tersebut dengan nama tasbih yang mengandung konotasi perbuatan menyucikan Allah, dengan rangkaian berjumlah ganjil yang didasarkan pada filosofi sesuai dengan anjuran dalam bacaan zikir yang dibaca ganjil.

Maka jelas tidak ada kesamaan, yang diharamkan dalam hal ini adalah jika seorang muslim menggunakan benda yang dirangkai ini dengan menyerupai keyakinan kaum musyrikin berikut jumlahnya yang didasarkan pada filosofi mereka.

Dan apa yang dibaca jelas berbeda antara Islam dan agama kaum musyrikin.

Kedua, Karena ada keterangan hadits-hadits yang mengisyaratkan adanya penggunaan benda seperti itu di masa salaf, didukung penjelasan para ulama terkait. Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya menuliskan satu bab. (التّسْبِيح بالحصى) yakni zikir tasbih dengan menggunakan batu kerikil.

Dalam hadits dari Sa’id bin Abi Waqqash r.a., bahwa ia bersama Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- melihat seorang wanita di tangannya ada biji-bijian atau batu kerikil, dimana ia bertasbih dengannya, lalu Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-  bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكُمْ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ؟ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِثْلَ ذَلِكَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ»
“Maukah aku beritahu engkau cara yang lebih mudah dari ini atau lebih utama? (Bacalah): “Subhanallah ‘Adada Ma Khalaqa Fi as-Sama’, Subhanallah ‘Adada Ma Khalaqa Fi al-Ardl, Subhanallah ‘Adada Ma Baina Dzalika, Subhanallah ‘Adada Ma Huwa Khaliq”, (Subhanallah -maha suci Allah- sebanyak makhluk yang Dia ciptakan di langit, Subhanallah sebanyak makhluk yang Dia ciptakan di bumi, Subhanallah sebanyak makhluk yang Dia ciptakan di antara langit dan bumi, Subhanallah sebanyak semua makhluk yang Dia ciptakan). Kemudian baca “Allahu Akbar” seperti itu. Lalu baca “Alhamdulillah” seperti itu. Dan baca “La Ilaha Illallah” seperti itu. Serta baca “La Hawla Wala Quwwata Illa Billah” seperti itu.  (HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 3568); ia mengatakan: ”Hadits hasan gharib dari Sa’ad bin Abi Waqqash r.a.”, Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 1502), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 837); Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: ”Para perawinya perawi shahih”, al-Hakim dalam al-Mustadrak ’alaa al-Shahiihayn; Syu’aib al-Arna’uth mengomentari bahwa al-Hakim menshahihkannya dan al-Dzahabi menyetujuinya)

Dan jika kita telusuri penjelasan para ulama terkait, kita akan menemukan di antaranya menegaskan kebolehan menggunakan benda tasbih ini ketika zikir, sebagaimana penjelasan sebagian di antara mereka:

Syaikh Mulla ‘Ali al-Qari ketika menjelaskan hadits Sa’d ibn Abi Waqqash di atas, dalam kitab Syarh al-Misykat, menuliskan sebagai berikut:

(تُسَبِّحُ) أَيِ: الْمَرْأَةُ (بِهِ) أَيْ: بِمَا ذَكَرَ مِنَ النَّوَى أَوِ الْحَصَى، وَهَذَا أَصْلٌ صَحِيحٌ لِتَجْوِيزِ السِّبْحَةِ بِتَقْرِيرِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَإِنَّهُ فِي مَعْنَاهَا، إِذْ لَا فَرْقَ بَيْنَ الْمَنْظُومَةِ وَالْمَنْثُورَةِ فِيمَا يُعَدُّ بِهِ
”(Tusabbihu) yakni perempuan tersebut (bihi) yakni dengan hal yang disebutkan berupa biji-bijian atau biji kerikil, dan hadits ini merupakan dasar yang shahih untuk memperbolehkan penggunaan tasbih, karena tasbih ini semakna dengan biji-bijian dan kerikil tersebut. Karena tidak ada bedanya antara yang tersusun rapi (diuntai dengan tali) atau yang terpencar (tidak teruntai) bahwa setiap itu semua adalah alat untuk menghitung dzikir.” (Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtih Syarh Misykât al-Mashâbih, Beirut: Dar al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz IV, hlm. 1601)

Syaikh Faishal bin Abdul Aziz al-Najdi (w. 1376 H):

فيه: دليل على أنَّ التسبيح بغير الأصابع جائز. لأن النبي - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لم ينهها عن ذلك، لكنه دلّها على ما هو أفضل منه.
”Di dalamnya terdapat dalil bahwa (penggunaan) biji tasbih selain menggunakan jari hukumnya boleh. Karena Nabi –shallallahu ’alayhi wa sallam- tidak melarang perempuan tersebut dari hal itu, akan tetapi (hanya) menunjukkan apa yang lebih utama darinya.” (Faishal bin Abdul Aziz al-Najdi, Tathriz Riyâdh al-Shâlihin, Riyadh: Dar al-’Ashimah, cet. I, 1423 H, juz I, hlm. 787)

Dan penjelasan lainnya, berikut dalil-dalil lainnya.

Al-Faqir Ilallâh Irfan Abu Naveed

Wallâhu a’lam bi al-shawâb []



Hukum Menyematkan Radhiyallâhu ‘anhu Kepada Para Ulama Selain Sahabat


Link Bergabung dengan Grup Forum Kajian Tsaqafah: Link

Soal

Afwan ustadz, mhn penjelasan pertanyaan sy... tentang sematan gelar ra(radhiallahu anhu) apakah gelar tsb khusus utk para shahabat rasul saw atau bgmn..krn pernah dlm tulisan media sematan gelar tsb ada di belakang nama syaikh HT (afwan ini pertanyaan tmn sy, sdh lama dan sy lupa syaikh siapa yg dituliskan ustadz, mhn maaf...)..jazakalloh atas penjelasannya. Umi Ghofaz, [17.06.16 12:27]

Jawaban

إن الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله والصّلاة والسّلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد

Sahabat digelari do'a radhiyallâhu ‘anhu (untuk laki-laki)/ ‘anhâ (untuk perempuan atau shahabiyyah) dan ‘anhum (untuk jamak), berdasarkan ayat:

{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Tawbah [9]: 100)

Ayat di atas jelas konteksnya berbicara mengenai sahabat, namun jika kita menilik ayat:

{جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ}
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 8)

Dimana sebelumnya ayat ini berbicara mengenai orang-orang yang beriman dan beramal shalih:

{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ}
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7)

Padahal orang-orang yang beriman dan beramal shalih sudah tentu bukan hanya sahabat. Dalam ayat ke-8 di atas pun terdapat kalimat (ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ) yang menunjukkan sifat dari orang-orang yang beriman dan beramal shalih ini, yang maknanya memperjelas maksud ayat:

{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama.” (QS. Fâthir [35]: 28)

Menggabungkan kedua ayat di atas, Abu Bakar al-Jashshash lalu menuturkan bahwa informasi bahwa sebaik-baiknya makhluk adalah ia yang takut terhadap Rabb-nya, dan Allah menginformasikan dalam ayat-Nya bahwa orang-orang yang berilmu di sisi Allah mereka lah yang takut terhadap-Nya, maka hasil dari dikumpulkannya dua ayat ini bahwa orang berilmu mereka adalah sebaik-baiknya makhluk Allah. (Ahmad bin ‘Ali Abu Bakar al-Râzi al-Jashshash al-Hanafi, Ahkâm al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, 1405 H, juz. V, hlm. 247) 

Kesimpulan ayat-ayat di atas mengandung petunjuk bahwa Allah meridhai para ulama, maka berdasarkan ayat-ayat di atas pula bisa ditarik simpulan kebolehan menyematkan do’a –radhiyallâhu ‘anhu- kepada para ulama selain sahabat, bahkan hukumnya dianjurkan atau sunnah, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Al-Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Syarf al-Nawawi (w. 676 H) menegaskan:

يُسْتَحَبُّ التَّرَضِّي وَالتَّرَحُّمُ عَلَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَالْعُبَّادِ وَسَائِرِ الْأَخْيَارِ فَيُقَالُ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ أَوْ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَوْ رَحِمَهُ اللَّه وَنَحْوُ ذَلِكَ
“Disunnahkan mengucapkan al-taradhdhiy (do’a radhiyallâhu ‘anhu) dan al-tarahhum (do’a rahimahullâh) untuk para sahabat, tabi’in, dan generasi setelah mereka dari para ulama, ahli ibadah dan orang-orang pilihan yang baik (shalih), maka diungkapkan radhiyallâhu ‘anhu atau rahmatullâhi ‘alayhi atau rahimahullâh dan yang semisalnya.” (Abu Zakariya Yahya bin Syarf al-Nawawi, Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut: Dâr al-Fikr, juz VI, hlm. 172)

Imam al-Nawawi pun dalam al-Majmû’ ini melemahkan pendapat yang mengkhususkan do’a radhiyallâhu ‘anhu hanya untuk sahabat semata, dan menguatkan pendapat jumhur ulama yang menganjurkannya, dan menurutnya dalil-dalilnya banyak.

Hal itu pun tergambar dari al-Hafih Abu Zakariya al-Nawawi yang menyematkan radhiyallâhu ‘anhum kepada para ulama selain sahabat dibanyak tempat dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim, di antaranya:
·         وَالْعُلَمَاءُ كَافَّةً مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فَمَنْ بَعْدَهُمْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ / قَوْلُ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ مِنَ الصَّحَابَةِ فَمَنْ بَعْدَهُمْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
Dimana fatwa Imam al-Nawawi di atas pun banyak dinukil oleh para ulama setelahnya, di antaranya dalam kitab al-Mawsû’ah al-Kuwaitiyyah (juz XI/hlm. 185). Dan ini pula yang disebutkan Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 979 H) dalam kitab Tuhfat al-Muhtâj:

وَيُسَنُّ التَّرَضِّي وَالتَّرَحُّمُ عَلَى كُلِّ خَيِّرٍ وَلَوْ غَيْرَ صَحَابِيٍّ خِلَافًا لِمَنْ خَصَّ التَّرَضِّيَ بِالصَّحَابَةِ
“Disunnahkan mengucapkan do’a radhiyallâhu ‘anhu dan do’a rahimahullâh untuk orang pilihan yang melakukan kebaikan selain sahabat berbeda dengan pendapat ulama yang mengkhususkan do’a radhiyallâhu ‘anhu untuk sahabat semata.” (Ahmad bin Muhammad al-Haitami, Tuhfat al-Muhtâj fî Syarh al-Minhâj, Mesir: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, 1357 H, juz III, hlm. 239)

Dalam kitab al-Mawsû’ah al-Kuwaitiyyah pun dinukilkan pendapat dalam ‘Umdah al-Abrâr:
يَجُوزُ التَّرَضِّي عَنِ السَّلَفِ مِنَ الْمَشَايِخِ وَالْعُلَمَاءِ
“Boleh hukumnya mendo’akan radhiyallaahu ‘anhu untuk para ulama salaf dari kalangan para syaikh, para ulama.”

Yakni berdasarkan dalil ayat QS. Al-Bayyinah: 7-8 di atas. Dan di dalam ayat yang mulia ini pun terdapat penyebutan untuk orang-orang beriman dari kalangan sahabat dan selain mereka. (al-Mawsû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah (Kuwait: Dâr al-Salâsil, juz X, hlm. 196))

Pendapat para ulama yang memperbolehkan ini pun disebutkan para ulama dalam kutub mereka di antaranya Syaikh Syihabuddin al-Nafrawi al-Maliki (w. 1126 H) yakni dari madzhab Maliki dalam kitab Al-Fawâkih al-Dawâniy ‘alâ Risâlat Ibn Abi Zayd al-Qirwaniy (Beirut: Dâr al-Fikr, 1415 H, juz II, hlm. 360)

Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

08 June 2016

Nasihat Al-’Alim Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil untuk Mempelajari Bahasa Arab

admin-ajax (1)

Al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha bin Khalil -hafizhahullah-, Amir Hizbut Tahrir saat ini (ke-3), ketika membantah pemahaman yang menafikan pentingnya pemahaman bahasa arab dalam menafsirkan al-Qur’an. Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil pun menegaskan:

ومن الجدير ذكره أن من أراد أن يفهم القرآن بغير لغته التي بها أنزل يكون قد عطّل فهم القرآن والعمل به، ويكون بذلك قد ارتكب إثما عظيما لأن القرآن قد أنزل باللغة العربية وبغيرها لا يمكن أن يفهم فهما سليما
“Dan di antara hal yang sudah semestinya disampaikan bahwa siapa saja yang ingin memahami al-Qur’an tanpa ada kemauan untuk memahami bahasanya (bahasa arab) yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa tersebut, pasti akan gagal memahami al-Qur’an dan mengamalkannya, dan karena faktor ini ia telah berdosa dengan dosa yang besar karena al-Qur’an telah turun dengan bahasa arab dan tanpa memahami bahasa arab tidak mungkin ia memahami al-Qur’an dengan pemahaman yang benar.”

Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil menambahkan:
ولهذا حرص الفقهاء على العربية وعلومها، ناهيك عن المجتهدين ليتمكنوا من فهم القرآن واستنباط الأحكام الشريعة منه
“Dan oleh karena itu, para ulama ahli fikih memerhatikan bahasa arab dan ilmu-ilmunya, belum lagi para mujtahidin (dimana salah satu syarat asasi ijtihad adalah bahasa arab-pen.), sehingga mampu memahami al-Qur’an dan menggali hukum-hukum syari’ah darinya.”

Dan dalam kitab tafsirnya pun Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil menyatakan bahwa diantara sebab kesesatan adalah kelemahan dalam memahami bahasa arab.

Lihat: al-’Alim asy-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasythah. 1427 H/ 2006. At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah). Cetakan ke-2. Beirut: Dar al-Ummah.

Artikel Lebih Lengkap:

Download Kitab-Kitab Pelajaran Bahasa Arab:



Soal Jawab Jual Beli Makanan-Minuman di Siang Hari Ramadhan


Soal Jawab Grup Forum Kajian Tsaqafah: Link
Soal
Afwan mau tanya ustadz, orang yang jualan makanan n minuman pada siang hari saat bulan ramadhan apakah uang hasil jualan tersebut halal? Dan yang membeli makan n minum itu kebanyakan orang yang meninggalkan puasa tanpa sebab "laki-laki". (Randy Hermawan)

Jawaban (Irfan Abu Naveed)
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Pertama, Penjelasan Hukum Menurut Para Ulama

Jual beli makanan dan minuman yang ‘ain-nya atau dzatnya halal maka pada asalnya hukumnya jelas halal. Hanya saja yang menjadi masalah dalam hal ini adalah jual beli di pagi hari atau siang hari Ramadhan dimana kaum Muslim umumnya sedang ditaklif menunaikan shaum Ramadhan yang hukumnya fardhu.

Maka para ulama menyoroti sisi dimana jual beli makanan dan minuman “siap saji” (misalnya masakan) di pagi hari atau siang hari Ramadhan dimana ghalibnya orang tidak membeli makanan dan minuman kecuali untuk langsung dikonsumsi maka jual beli tersebut dianggap sebagai jual beli yang mendukung kemaksiatan, yakni memberikan jalan bagi orang yang tidak melaksanakan kefardhuan shaum tanpa ‘udzur syar’i.

Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah amat pedih.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 2)

Imam Abu Ishaq al-Tsa’labi (w. 427 H) menjelaskan:
وَلا تَعاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوانِ يعني المعصية والظلم.
“Kalimat (dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan) yakni kemaksiatan dan kezhaliman.” (Ahmad bin Muhammad Abu Ishaq al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsiir al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, cet. I, 1422 H, juz IV, hlm. 11)

Dan menolong orang yang makan minum di pagi hari atau siang hari Ramadhan tanpa ‘udzur syar’i jelas merupakan kemaksiatan, dan hukumnya haram, dikecualikan dalam hal ini adalah makan dan minumnya orang yang memang ada udzur syar’i untuk tidak shaum, misalnya seseorang yang sedang safar jauh untuk hajat syar’i dan berbagai rukhshah lainnya yang ditentukan oleh syari’ah.

Hal itu sebagaimana penjelasan dalam banyak kitab fikih syafi’iyyah berkenaan dengan memberi makan seseorang (muslim atau kafir) pada waktu pagi atau siang hari shaum Ramadhan, termasuk hukum jual beli makanan dan minuman pada orang yang diketahui atau di duga kuat berbuka sebelum waktunya pada waktu shaum Ramadhan di siang hari, dimana hukumnya disamakan seperti kasus jual beli anggur untuk produsen khamr, atau jual beli parfum dengan orang musyrik untuk dipakai mengharumkan patung sesembahannya yang dihukumi haram dengan dalil di atas.

a.    Penjelasan dalam Kutub Fikih Syafi’i

Ibarah dalam kitab Nihâyat al-Muhtâj Ilâ Syarh al-Minhâj, karya Syaikh Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), yakni tentang setiap perbuatan yang mengakibatkan kemaksiatan:

وَمِثْلُ ذَلِكَ إطْعَامُ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ كَافِرًا مُكَلَّفًا فِي نَهَارِ رَمَضَانَ، وَكَذَا بَيْعُهُ طَعَامًا عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّهُ يَأْكُلُهُ نَهَارًا....؛ لِأَنَّ كُلًّا مِنْ ذَلِكَ تَسَبُّبٌ فِي الْمَعْصِيَةِ وَإِعَانَةٌ عَلَيْهَا
“…Seperti seorang muslim mukallaf yang memberi makanan kepada orang kafir dewasa di siang hari ramadhan, begitu pula menjual makanan jika mengetahui atau menduga kuat bahwa ia akan memakannya disiang hari Ramadhan; karena seluruh perbuatan tersebut menyebabkan kemaksiatan dan menyokongnya.” (Syamsuddin Muhammad bin Abi al-‘Abbas al-Ramli, Nihâyat al-Muhtâj Ilâ Syarh al-Minhâj, Beirut: Dâr al-Fikr, 1404 H, juz III, hlm. 471)

Jika kepada orang kafir saja diharamkan, maka kepada sesama muslim perkaranya lebih kuat, dengan kata lain pembahasan di atas berlaku umum pada orang-orang baik muslim maupun kafir pada waktu-waktu shaum Ramadhan yang diduga kuat akan mengkonsumsinya pada waktu shaum tanpa udzur syar’i.

Penjelasan di atas pun banyak dinukil dalam kitab fikih syafi’iyyah: Syaikh Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H) dalam kitab fikih Hâsyiyat al-Jamal ‘alâ Syarh al-Minhâj (III/92), Syaikh Sulaiman al-Bujairami al-Syafi’i (w. 1224 H) dalam kitab Hâsyiyat al-Bujayrami ‘alâ Syarh al-Minhâj (II/224), Syaikh al-Bakri al-Dimyathiy al-Syafi’i (w. 1310 H) dalam kitab I’ânat al-Thâlibiin ‘alâ Hall Alfâzh Fat-h al-Mu’iin (III/30).

b.    Penjelasan dalam Soal Jawab Fatwa Kuwait

Dalam Fatâwâ Qithâ’ al-Iftâ’ bi al-Kuwayt disebutkan soal jawab:

·        هل يجوز بيع الطعام لمن يتناوله بالنهار في رمضان للمسلمين أو غير المسلمين؟
أجابت اللجنة بما يلي:
لا يجوز بيع الطعام لمن يعلم أنه يتناوله في نهار رمضان من المسلمين إلا أن يكون له عذر يبيح له الفطر كأن يكون مسافراً أو مريضاً أما بيعه لغير المسلمين فجائز. والله أعلم.
Soal:

“Bolehkah jual beli makanan bagi seseorang yang mengkonsumsinya pada siang hari Ramadhan bagi orang-orang muslim atau non muslim?”

Jawaban Lajnah:

“Tidak boleh hukumnya menjual makanan kepada seseorang dari kaum muslimin yang diketahui bahwa ia akan mengkonsumsinya pada siang hari Ramadhan kecuali jika ada padanya ‘udzur yang memperbolehkan baginya untuk berbuka, misalnya kondisinya sebagai seorang musafir (melakukan safar) atau sakit. Adapun menjual makanan kepada non muslim (pada siang hari Ramadhan) maka hukumnya boleh, wallâhu a’lam.” 

(Lihat: Majmu’atul Ulama, Fatâwâ Qithâ’ al-Iftâ’ bi al-Kuwayt, Wizârat al-Awqâf wa al-Syu’ûn al-Islâmiyyah, cet. I, 1417 H, juz V, hlm. 122)

c.    Penjelasan dalam Soal Jawab Situs Dr. Shalih al-Munajjid

Dalam situs tanya jawab yang diasuh Dr. Shalih al-Munajjid, islamqa, pun ditegaskan bahwa tidak diperbolehkan menghidangkan makanan bagi seseorang pada siang hari di bulan ramadhan, kecuali bagi orang-orang yang memang dibolehkan untuk tidak berpuasa, seperti: orang sakit, musafir, dan lain-lain. Dan tidak ada bedanya dalam masalah ini antara muslim dan kafir. Seorang muslim yang tidak berpuasa berarti ia durhaka kepada peritah Allah. Menyediakan makanan dan minuman baginya berarti membantunya dalam hal dosa dan pelanggaran. Orang kafir pun sebenarnya juga diperintah untuk berpuasa dan hukum-hukum Islam yang lain, namun sebelumnya ia harus masuk islam terlebih dahulu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Pada hari kiamat orang kafir akan disiksa karena kekafirannya, dan karena syariat Islam tidak diterapkan, maka bertambahlah siksa bagi mereka.

Kedua, Adab Menghormati Kaum Muslimin yang Sedang Shaum

Di samping persoalan hukum, mereka yang berjual beli makanan dan minuman “siap saji” pada jam-jam siang Ramadhan pun sudah semestinya mempertimbangkan dan memerhatikan adab menghormati kaum Muslim yang sedang menunaikan ibadah shaum Ramadhan, karena pemandangan berjual beli makanan dan minuman pada bulan Ramadhan ghalib-nya atau umumnya dilakukan pada waktu menjelang berbuka shaum, dimana orang-orang sedang mempersiapkan makanan dan minuman untuk berbuka.

Permasalahan di atas, sebenarnya bisa diatur secara tertib dalam Dawlah al-Khilafah yang menjadikan akidah Islam sebagai pondasi bernegara dan pondasi kehidupan bermasyarakat, dimana negara menanamkan pendidikan berasaskan akidah Islam yang membentuk kepribadian Islam dalam diri individu-individu masyarakat dan menjaga penerapan Islam di tengah-tengah kehidupan mereka sehingga menciptakan keshalihan sosial, dan menegakkan hukuman sanksi Islam yang adil kepada mereka yang melanggar hukum syara’ yang dengannya dicegah adanya kemaksiatan serupa terulang kembali. Allâh al-Musta’ân

Wallâhu a’lam bi al-shawâb.