10 Mei 2016

Tanya Jawab Umum Mengenai Jin (Part. I): Jin Makhluk Ghaib & Fenomena Melihat Jin



Pertanyaan-Pertanyaan

Sdr. IS, [09.05.16 10:32]
Benarkah ada manusia yg bisa melihat jin?
Bagaimana penjelasan lengkap tentang status jin qorin? Bagaimana dengan org indigo, yg bisa membaca fenomena masa depan?

Sdr. MB, [09.05.16 10:37]
Sekalian nanya tentang ruqyah, meruqyah diri sendiri apa cukup hanya dengan mendengarkan bacaan ruqyah melalui audio, dan utk mengetahui kalo jinnya masih ada atau sdh keluar bagaimana caranya dengan ruqyah mandiri, syukron jazakallah khairan

Sdr., [09.05.16 17:06]
Mohon tad, di jelaskan tentang indigo. Juga solusinya bagaimana? Trima kasih.

Sdri LT, [09.05.16 18:42]
Assalamu'alaikum, afwan mau tanya apakah manusia bisa berinteraksi/berbicara dengan jin? Jazakumullah khoir sblmny

Sdri RD, [09.05.16 18:57]
Assalamu'alaikum, ustadz.  saya mau tanya tentang bagaimana status manusia yang menyadari di dalam dirinya ada jin, tetapi manusia tersebut takut untuk meruqyah dirinya ke yang bersangkutan menangani, namun manusia itu sering mengalami kecemasan, dan gelisah di bathinnya di saat dia melakukan aktivitas2 yang mendekatkan diri kepada Allah, mohon balasannya?


Jawaban Umum

Kaidah umum berkenaan dengan bangsa jin, sesuai dengan kaidah syar’iyyah:
ما لا يدركه الحس لا يدركه العقل
"Apa-apa yang tak terjangkau penginderaan maka tak terjangkau akal"

Apa-apa yang tak terjangkau oleh penginderaan dalam hal ini maksudnya adalah alam ghaib, dan Ini mencakup ruang lingkup alam jin, maka ia bukan pembahasan dalil-dalil 'aqliyyah, tapi dalil-dalil naqliyyah dari al-Qur'an dan al-Sunnah. Termasuk ketika berbicara mengenai kasus-kasus rinci berkaitan dengan masalah jin. Jika tak ada dalil naqlinya maka tidak dibahas, dan tak boleh diyakini karena jika diyakini itu termasuk khurafat.

Pertama, Jin Termasuk Makhluk Ghaib Bagi Manusia

Pada asalnya manusia tidak bisa melihat jin, sebaliknya jin bisa melihat manusia dan mendengarkan perkataannya, itulah yang menjadikan jin termasuk makhluk ghaib karena tak kasat mata.
Jin dalam bahasa arab yakni al-jinnu (الجن) makna asalnya ‘terhalangnya sesuatu dari panca indera’. Jannatul layli wa ajannahu (جنة اليل وأجنه) yakni gelap malam menghalanginya & menyembunyikannya.[1] Hal ini sebagaimana penjelasan al-Hafizh as-Suyuthi dan Imam ar-Raghib al-Ashfahani. Dan lebih lengkapnya, Imam ar-Raghib al-Ashfahani menuturkan:
أصل الجن: ستر الشيء عن الحاسة يقال: جنة الليل وأجنة وجن عليه، فجنه: ستره، وأجنه جعل له ما يجنه
“Asal-usul kata al-jin: sesuatu yang terhalang dari panca indera dinyatakan: gelap malam menghalanginya dan menyembunyikannya. Maka: kata jannahu bermakna: menghalanginya, dan kata ajannahu bermakna menjadikannya tersembunyi.”[2]
Ar-Raghib al-Ashfahani pun menukil dalil ayat al-Qur’an:
{فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا}
Ketika malam telah gelap, ia melihat sebuah bintang...” (QS. Al-An’aam [6]: 76)
Lebih rinci, Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan makna al-secara bahasa:
وسمي جاناً لتواريه عن الأعين ، كما سمي الجنين جنيناً لهذا السبب ، والجنين متوارٍ في بطن أمه ، ومعنى الجان في اللغة الساتر من قولك : جن الشيء إذا ستره ، فالجان المذكور ههنا يحتمل أنه سمي جاناً لأنه يستر نفسه عن أعين بني آدم 
“Dinamakan n[an] karena ia tersembunyi dari pandangan mata manusia, sebagaimana al-janiin yang dinamakan begitu karena tersembunyi, yakni dalam perut ibunya, maka makna al-n secara bahasa adalah as-tir (tabir/ sesuatu yang menghalangi). Dari pernyataanmu: “janna asy-syai yakni jika ia menghalanginya”, maka kata al-jaan yang disebutkan disini mengandung makna penamaan jaanan karena ia menyembunyikan dirinya dari pandangan Bani Adam.
Hal yang sama diutarakan Dr. Ibrahim ‘Abd al-‘Alim menyatakan bahwa kata jin berasal dari kata janna (جن) yang artinya ‘menutupi sesuatu’ atau ‘segala sesuatu yang tak terlihat olehmu’. Arti lainnya adalah; menyelimuti malam (menjadi gelap gulita).[3] Dr. ‘Umar Sulaiman al-Asyqar menegaskan bahwa mereka dinamakan jin karena tersembunyinya mereka dari pandangan mata (manusia-pen.).[4]
          Maka jika ditarik kesimpulan dari berbagai penjelasan para pakar di atas, secara bahasa makhluk ini dinamai jin karena ia tersembunyi dari pandangan manusia.
Adapun definisi jin dalam istilah syar’i dijelaskan oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji:
الجن : خلاف الأنس ، والجان أبوهم. مخلوقات لا نراها ، مكلفون كالإنسان ، أصل خلقهم من النار
Al-Jin: berbeda dengan manusia, al-Jân bapak moyang mereka.[5] Makhluk-makhluk yang tidak bisa kita lihat (ghayb).[6] Mereka dikenai taklif (syari’at) sebagaimana manusia.[7] Asal penciptaan mereka (para jin) dari api.[8][9]
Imam al-Jawhari pun mengatakan bahwa al-jân adalah bapak moyangnya al-jin.[10] Imam Fakhruddin ar-Raazi pun menukil pandangan Ibn ‘Abbas dalam satu riwayat:
قال ابن عباس في رواية أخرى : الجان هو أب الجن
“Ibnu ‘Abbas mengatakan dalam riwayat lainnya: al-jaan adalah bapak moyangnya bangsa jin.”
          Setelah memaparkan perbedaan pandangan tentang nenek moyang Bangsa Jin, ar-Raazi menyatakan bahwa pendapat Ibn ’Abbas yang terakhir ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Definisi di atas didasari oleh dalil-dalil syar’iyyah:
Pertama, Al-Jân adalah bapak moyang mereka, berdasarkan dalil QS. al-Hijr [15]: 27, QS. ar-Rahmân [55]: 15.
Kedua, Mereka adalah makhluk yang tak terlihat pandangan mata manusia, berdasarkan dalil QS. al-A’râf [7]: 27.
Ketiga, Mereka makhluk yang dikenai taklif syari’at, berdasarkan dalil QS. adz-Dzâriyât [51]: 56.
Keempat, Asal penciptaan mereka dari api, berdasarkan dalil QS. al-Hijr [15]: 27, QS. ar-Rahmân [55]: 15, QS. al-A’râf [7]: 12.
          Dan mengenai manusia pada asalnya tidak bisa melihat jin, sebaliknya jin melihat manusia sebagaimana informasi (khabar) dalam ayat-ayat yang agung ini:
{إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ}
“... Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka....” (QS. Al-A’râf [7]: 27)
          Berdasarkan ayat ini, al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil –ulama mujtahid- menuturkan:
إن الجن من المغيبات عنا، فنحن لا نراهم، يقول سبحانه: ﴿يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ﴾، أي إبليس وقومه، وبعبارة أخرى الجن، حيث إن إبليس من الجن 
Jin bagi kita termasuk makhluk ghaib. Kita tidak bisa melihatnya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”[11]  Yakni iblis dan kaumnya, dengan ungkapan lain adalah jin, dimana iblis adalah termasuk jin.”[12]
            Berdasarkan dalil:
{إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ}
“Akan tetapi Iblis, ia adalah dari golongan jin.” (QS al-Kahfi [18]: 50)
Sebagaimana dijelaskan pula oleh Syaikh Prof. Dr. Muhammad Rawas Qal’ah Ji dalam Mu’jam Lughah al-Fuqahâ:
مخلوقات لا نراها
“(Jin) adalah makhluk-makhluk yang tidak bisa kita lihat”

Kedua, Jawaban Atas Kasus Manusia Melihat Jin?
Jadi pertanyaan-pertanyaan terkait: "Benarkah ada manusia yg bisa melihat jin?" "Kasus anak "indigo"?" "Berinteraksi dan berbicara dengan jin?"
Itu semua dikembalikan kepada pembahasan dalil-dalil naqliyyah. Jika tidak ada maka tidak bisa dibahas.
Adakah manusia yang bisa melihat jin? Jelas pada asalnya manusia tidak bisa melihat jin, adapun yang mungkin terlihat adalah terlihatnya jin yang menampakkan wujud dalam bentuknya yang lain dan itu terjadi atas idzin Allah, yang umumnya terjadi dalam kondisi tertentu, tidak pada setiap waktu dan setiap orang. Jika ada orang yang mengaku bisa melihat jin, kapan pun ia mau dan dimanapun, ini indikasi orang yang sakit, tidak normal seperti kasus dalam acara-acara di stasiun TV yang menayangkan orang-orang yang mengaku bisa berinteraksi dengan jin secara ghaib, ini khurafat, tidak normal dan orang-orangnya perlu diobati dan diluruskan kembali.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
{إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ}
“... Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka....” (QS. Al-A’râf [7]: 27)
Yang dimaksud “..dari suatu tempat yang kamu (manusia) tidak bisa melihat mereka (jin)....”  adalah jin dalam wujud aslinya. Artinya, jin dalam wujud aslinya tak bisa dilihat oleh bangsa manusia. Merujuk pada ayat ini al-‘Allamah asy-Syafi’i berpendapat:
ومن زَعَمَ أنه رآهم رُدّت شهادتُهُ وعُزِّرَ لمخالفته القرآن
“Barangsiapa mengklaim telah melihat bangsa jin, maka kesaksiannya ditolak dan di-ta’zir[13], karena jelas-jelas hal tersebut bertentangan dengan Al-Qur’ân.”
          Dikatakan:
وحمل بعضهم كلامَ الشافعي على زَاعِمِ رؤية صُوَرِهِم التي خُلِقُوا عليها.
“Sebagian ulama mengarahkan perkataan al-‘Allamah asy-Syafi’i ini terhadap orang-orang yang mengklaim melihat bentuk asli jin, sebagaimana jin itu diciptakan.”[14]
Syaikhul Islam ketika menjawab pertanyaan tentang ayat ini menjawab:  “Yang ada di dalam Al-Qur’ân bahwa mereka (jin) melihat manusia sedangkan manusia tidak melihat mereka adalah haq (kebenaran) yang menunjukkan bahwa mereka melihat manusia pada suatu keadaan sedang manusia tidak melihatnya pada keadaan tersebut.” Syaikhul Islam pun menyatakan: “Tidak ada di dalamnya (penafsiran) bahwa tidak ada seorangpun di antara manusia yang tidak melihat mereka pada suatu keadaan, bahkan terkadang di antara orang-orang shalih melihat mereka begitu juga orang-orang yang tidak shalih, akan tetapi manusia tidak melihat mereka pada setiap saat.”[15] Namun demikian, pernyataan ini tidak menunjukkan bahwa manusia mampu melihat wujud asli jin. Sebagaimana pula, tidak ada ilmu syar’i dalam Islam yang bisa mengantarkan manusia mampu melihat jin.   
Menafsirkan ayat di atas, al-Hafizh al-Qurthubi menuturkan:
قال بعض العلماء : في هذا دليل على أن الجنّ لا يُرَوْن؛ لقوله : «مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ» وقيل : جائز أن يُرَوْا؛ لأن الله تعالى إذا أراد أن يُريهم كشف أجسامهم حتى تُرى
“Sebagian ulama berkata: di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa jin tidak bisa dilihat oleh manusia berdasarkan penggalan ayat: “dari tempat yang kamu (manusia) tidak bisa melihat mereka (jin)” dan dikatakan juga: bisa saja terlihat, karena jika Allah menghendaki memperlihatkan mereka, Dia menyingkap wujud mereka hingga terlihat manusia.”[16]
Al-Hafizh al-Qurthubi pun menukil sejumlah hadits, jin-jin yang menampakkan wujud dalam bentuk yang lain. Wujud inilah yang mungkin terlihat oleh manusia. Misalnya jin kafir (syaithân) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali, perubahan wujud ini tentunya terlaksana dengan izin Allah yang Maha Kuasa. Pertama, ketika suku Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi Muhammad SAW di Makkah. Kedua, dalam perang Badr pada tahun kedua Hijriah.
{وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ ۖ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَىٰ مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ ۚ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ}
“Dan ketika syaithân menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaithân itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allâh." Dan Allâh sangat keras siksa-Nya. (QS. Al-Anfâl [8]: 48)
          Syaikhul-Islam dalam Risâlatul Jin[17] menyatakan: “Jin bisa menyerupai bentuk manusia dan binatang, seperti ular....” Pernyataan ini merujuk pada sejumlah hadits[18] yang mencapai derajat mutawâtir. Salah satunya adalah:
الْحَيَّاتُ مَسْخُ الْجِنِّ
 “Ular-ular adalah jelmaan dari jin....” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Thabrani, dan di-shahih-kan oleh al-Hakim)
Syaikh Prof. Dr. M Mutawalli Sya’rawi menegaskan: “Allâh telah menjadikan syaithân yang berasal dari golongan jin itu dari api, yang bisa berubah bentuk. Sedangkan manusia tidak dapat mengubah bentuknya dan tidak mengerti sedikit pun tentang itu. Manusia tidak dapat melihat syaithân (golongan jin-pen.), karena syaithân berada di atas kekuatan hukumnya (syaithân diciptakan dari api, tapi penciptaan manusia lebih sempurna-pen.), kecuali jika syaithân itu mengubah bentuknya misalnya menjadi manusia atau binatang, maka kita dapat melihatnya (dalam kondisi tertentu-pen.).”[19]

Wallâhu a’lam bi al-shawâb. []





[1] Lihat: Imam ar-Raghib al-Ashfahani dalam Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân dan al-Hafizh as-Suyuthi dalam Luqathul Marjaan fii Ahkaam al-Jaan.
[2] Lihat: Imam ar-Raghib al-Ashfahani dalam Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, Juz. I.
[3] Lihat: ar-Radd al-Mubîn ‘ala Bida’i al-Mu’âlijîn wa As’ilah al-Ha’irin fî Majal al-Massi wa al-Sihri wa Alaqatihi bi al-Thibbi wa al-Dîn.
[4] Lihat: ‘Aalam al-Jin wa asy-Syayaathiin (hlm. 11).
[5] QS. al-Hijr [15]: 27, QS. ar-Rahmân [55]: 15. Para ‘ulama berbeda pendapat tentang al-Jan; Muqatil, Qatadah dan Hasan menyatakan Ia adalah Iblis, namun jumhur ahli tafsir, termasuk Ibn ‘Abbas menyatakan bahwa al-Jan adalah bapaknya bangsa jin (sebagaimana Adam a.s. bapaknya bangsa manusia).
[6] QS. al-A’râf [7]: 27
[7] QS. adz-Dzâriyât [51]: 56
[8] QS. al-Hijr [15]: 27, QS. ar-Rahmân [55]: 15, QS. al-A’râf [7]: 12.
[9] Lihat: Mu’jam Lughah al-Fuqâhâ’.
[10] Lihat: Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi. 1987/ 1408 H. Luqathul Marjaan fii Ahkaam al-Jaan. Tahqiq: Mushthafa ‘Asyur. Kairo: Maktabatul Qur’an.
[11] Lihat TQS al-A’raf [7]: 27
[13] Salah satu jenis aturan persanksian dalam Islam. Lihat: kitab Nizhâm al-‘Uqûbât.
[14] Lihat: al-Kawkab al-Ajwaj, hlm. 193.
[15] Lihat: Majmû’ Al-Fatâwâ Ibnu Taimiyah, juz. 15, hlm. 7.
[16] Lihat: Al-Jaami’ li Ahkaam al-Qur’aan.
[17] Halaman 32.
[18] Lihat pula riwayat sahih Imam Bukhârî, yang mengisahkan Abu Hurairah ra diganggu jin menyerupai laki-laki saat mendapat tugas dari Rasûlullâh menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan.
[19] Dalam al-Sihru wa al-Hasadu.