Skip to main content

Tanya Jawab Mengenai Dialektika Materialisme Komunisme


Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Link Bergabung dengan Grup Forum Kajian Tsaqafah: Link
Pertanyaan
Apakah ada yang bisa menjelaskan materi ttg dialektika materialisme, dan penjelasan masyarakat seperti gerigi pada ideologi komunisme lebih gamblang?
Sdr. Ramlan A

Jawaban
إن الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله والصّلاة والسّلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد
Salah satu ideologi kufur, pemikiran rusak yang sangat berbahaya mengancam umat manusia khususnya pada abad ke-18 dan abad ke-19 adalah Ideologi Komunisme, suatu ideologi yang materialistic oriented, dan mengingkari perkara-perkara metafisik (ghaib), termasuk keyakinan akan keberadaan Sang Pencipta, Allah ’Azza wa Jalla, hal itu pun tergambar dalam kebijakan-kebijakan Uni Sovyet yang mendiskreditkan agama dan tempat ibadah di masanya. 
Dan jika ada yang berupaya menyandingkan Islam dengan Komunisme, dengan menyatakan bahwa Islam dan Komunisme tidak bertentangan, dengan menyederhanakan pembahasan Komunisme atau Sosialisme sebagai konsep ekonomi semata, maka perbuatan tersebut bisa jadi lahir dari ketidakpahaman terhadap Islam dan Komunisme, atau lahir dari niat jahat untuk menyesatkan kaum awwam yang tidak memahami sejarah Komunisme. 
Komunisme (al-syuyû’iyyah) atau dalam istilah lain yakni sosialisme (al-isytirâkiyyah) sebagaimana digambarkan Syaikhul Ushul ’Atha' Ibn Khalil menjelaskan dalam kitab tafsirnya:
فمثلا لو سئلنا الحكم الشرعي في الاشتراكية، فلا نبحث معنى الاشتراكية اللغوي من اشترك أو شركاء أو شركة حسب معانيها اللغوية ونسلط الحكم عليها، بل نسلط الحكم الشرعي على المعنى الاصطلاحي لكلمة  (اشتراكية) فنجد أن أهلها سموها ب هذا الاسم للدلالة على مبدأ معين ينكر أن هناك خالقا للمادة ويعتبرها أزلية ثم يطبق أحكاما منبثقة من عقيدته هذه، فيقول بتطور المادة و إلغاء الملكيات وأنواع المساواة المبنية في ذلك النظام، وبهذا المعنى نقول إن الاشتراكية نظام كفر للنصوص الواردة حول مدلولها الاصطلاحي.
Maka sebagai contoh, apabila ditanyakan kepada kita: hukum syara’ atas sosialisme, maka kita tidak mengkaji makna sosialisme dari kata ‘sosialisasi’, ‘sekutu’ atau ‘persekutuan’ berdasarkan makna-maknanya secara bahasa dan kita menghukuminya. Akan tetapi, kita menyerahkan otoritas terhadap hukum syara’ (menghukuminya) berdasarkan makna istilah dari kata ‘sosialisme’, maka kita temukan bahwa para penganut sosialisme menamakannya dengan istilah tersebut untuk menunjukkan ideologi tertentu yang mengingkari keberadaan Sang Pencipta yang menciptakan, materi, dan menganggap ia sebagai sesuatu yang abadi, kemudian menggali hukum tertentu berdasarkan dari akidahnya ini. Maka ajaran ini menyatakan adanya evolusi materi, penghapusan kepemilikan dan semboyan-semboyan persamaan yang dibangun dari sistem ini. Berdasarkan hal ini, kita katakan bahwa sosialisme merupakan sistem kufur berdasarkan nash-nash yang telah disebutkan tentang pengertian terminologisnya.”[1]
Maka tidak mengherankan jika para ulama pada kurun abad ke-19 pun bangkit menghadapi ideologi ini, menyingkap kebatilannya dengan hujjah yang nyata. Dimana sikap mereka semakin mempertegas bahwa sejarah kehidupan para ulama tak terlepas dari perjuangan menghadapi kebatilan dan pertarungan pemikiran (al-shirâ’ al-fikriy), suatu hal yang mesti diteladani.
Misalnya al-’Allamah Muhammad al-Khudhari Husain (syaykh al-Azhar) yang menegaskan:
“Adapun orang-orang yang berpegangteguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka wajib bagi mereka memperingatkan (umat manusia) dari meridhai ajaran atheisme (dan yang semisalnya) dimanapun berada, meski kaum atheis tersebut adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka.”[2]
Hal yang sama dilakukan pula oleh Dr. Mushthafa al-Siba’i yang merumuskan formula tashfiyyat al-afkâr al-islâmiyyah (pemurnian pemikiran Islam) dalam rangka menghadapi Peradaban Barat yang rusak dan merusak dalam kitab Min Rawâi’i Hadhâratinâ. Dan salah satu ulama dan pemikir ulung, sosok yang disebut Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil sebagai mujaddid abad ini, al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani pun memaparkan kebatilan  Ideologi Komunisme dalam kitab Nizhâm al-Islâm.

Memahami Dialektika Materialisme
          Kritik terhadap dialektika materialisme sebenarnya sudah cukup mapan dijelaskan oleh Imam Taqiyuddin al-Nabhani, dimana beliau memaparkan secara singkat padat gambaran inti dari dialektika materialisme yang merupakan salah satu pemikiran yang lahir dari Ideologi Komunisme. Dan dialektika materialisme, bisa dikatakan menjadi filsafat resmi dari Rusia, Cina dan kelompok-kelompok komunis lainnya di seluruh dunia (Juhaya S. Pradja, 2000: 96)


Cuplikan dalam buku

Untuk memahami dialektika materialisme, secara keseluruhan dalam kitab Nizhâm al-Islâm, Imam Taqiyuddin al-Nabhani menegaskan bahwa mabda’ (ideologi) yang ada di dunia ini ada tiga, yaitu kapitalisme, sosialisme termasuk komunisme, dan Islam. Masing-masing ideologi ini memiliki akidah yang melahirkan aturan, mempunyai tolok ukur bagi perbuatan manusia di dalam kehidupan, memiliki pandangan yang unik terhadap masyarakat, dan memiliki metoda tertentu dalam melaksanakan setiap aturannya. Dari segi akidah, ideologi komunis memandang bahwa segala sesuatu berasal dari materi yang berkembang dan mewujudkan benda-benda lainnya berdasarkan evolusi materi.
          Mengenai dialektika materialisme, Imam Taqiyuddin al-Nabhani pun menjelaskan dalam kitab Nizhâm al-Islâm:
Ditinjau dari segi tolok ukur perbuatan dalam kehidupan, ideologi komunis memandang bahwa  dialektika materialisme —yaitu aturan materialisme— merupakan tolok ukur dalam kehidupan manusia. Dengan berkembangnya materi, maka berkembang pula tolok ukurnya.”
          Dari penjelasan di atas, Imam Taqiyuddin al-Nabhani memaparkan bahwa ideologi komunisme menjadikan dialektika materialisme sebagai tolak ukur perbuatan dalam kehidupan, berbeda dengan Islam yang menjadikan prinsip halal dan haram hukum syara’ sebagai tolak ukur perbuatan.
          Jika kita telusuri, dialektika materialisme itu sendiri merupakan ajaran Karl Marx (1818-1883) yang menelurkan marxisme, salah satu aliran dalam filsafat Barat. Pemikiran Karl Marx dipengaruhi oleh tiga sumber utama, yaitu filsafat klasik Jerman, sosialisme Prancis, dan ekonomi Inggris.[3] Dan metode untuk mendekati, memahami, dan mempelajari gejala alam diambil dari sistem dialektika Hegel. Materialisme dialektika merupakan ajaran mengenai hal ihwal alam.[4]
          Prinsip aliran dialektika materialisme memandang bahwa alam semesta ini bukan tumpukan yang terdiri dari segala sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah-pisah, tetapi merupakan satu keseluruhan yang bulat dan saling berhubungan. Alam ini bukan sesuatu yang diam, tetapi selalu dalam keadaan bergerak terus menerus dan berkembang. Dalam proses perkembangannya, pada alam semesta ini terdapat perubahan dari kuantitatif ke kualitatif dan sebaliknya. Perkembangan tersebut disebabkan oleh adanya pertentangan di dalam benda itu sendiri. Asas dialektika menurut F.Engels adalah the law of transformation of quality into quality, vice versa, the law of interpretation of opposite, the law of negation to negation.[5]
          Secara singkat, ciri-ciri dialektika materialisme mempunyai asas gerak, asas saling berhubungan, asas perubahan dari kuantitatif ke kualitatif dan asas kontradiksi intern. Dan yang terakhir ini memperjelas motif mengapa Komunisme, di awal kehadirannya senantiasa menimbulkan berbagai pertentangan, kekacauan di tengah-tengah masyarakat, menimbulkan tesis dan antitesisnya, dan pemerintahan yang berdiri di atas asas ideologi komunisme pun dikenal sebagai penguasa yang memerintah dengan tangan besi, kasus Uni Sovyet, RRC di masa-masa awal Komunisme merupakan potret jelas.
          Karena asumsinya, dari kontradiksi intern ini akan melahirkan perubahan dan perkembangan. Dalam segala hal diasumsikan ada tesis dan lawannya yakni antitesis. Kontradiksi antara tesis dan antitesis melahirkan sintesis. Sintesis ini menjadi tesis yang baru yang mendatangkan antitesis baru pula. Begitulah selanjutnya dalam setiap hal selalu terdapat pertentangan antara yang lama dan yang baru, antara yang mati dan yang lahir. Tak ada perkembangan yang timbul dengan sendirinya, kecuali sebagai pergantian atau peniadaan (negation) dari bentuknya terdahulu. Inilah yang dimaksud oleh Engels dengan teorinya, negation of negation atau negasi rangkap (Juhaya, 2000: 107).
Komentar saya: Inilah mengapa dikatakan dialektika materialisme, dimana segala hal diyakini berasal dari satu materi ke materi lainnya, sehingga lahir keyakinan evolusi, makhluk dari materi lainnya dan menolak keberadaan Sang Pencipta, Allah ’Azza wa Jalla. Dengan keyakinan segala sesuatu berasal dari perubahan lainnya, berputar-putar dalam hal yang sifatnya materialistik, menolak unsur metafisik (hal-hal ghaib) sehingga jelas pemikiran ini bertentangan dengan Islam. Sehingga mereka yang menganut pemikiran kufur ini sudah bisa dipastikan menolak standar tolak ukur halal haram menurut persepektif al-Qur’an dan al-Sunnah, berpijak pada asas materialisme, semuanya berasal dari materi, kebaikan dan keburukan lahir dari perputaran pertentangan ini. []



[1] ’Atha bin Khalil Abu ar-Rasythah, At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr: Sûratul Baqarah, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1426 H/ 2006, hlm. 120.
[2] Muhammad al-Khudhari Husain, Silsilatu Milal wa Nihal [3]: Al-Ilhâd: Asbâbuhu wa Thabâ’iuhu wa Mafâsiduhu wa Asbâb Zhuhûrihi wa ‘Ilâjuhu, Kuwait: Maktabah Ibn Taimiyyah, Cet. I, 1406 H, hlm. 3-4.
[3] Drs. Atang Abdul Hakim MA dkk, Filsafat Umum dari Metologi Sampai Teofilosofi, Bandung: Pustaka Setia, cet. I, 2008, hlm. 368.
[4] Ibid.
[5] Ibid (dengan ringkasan).

Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  Oleh: Irfan Abu Naveed D ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam . Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}    “ Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan .” (QS. Al-Baqarah [2]: 191) Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ} “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kam