03 Mei 2016

Sekilas Pandang: Berpikir & Bertaqlid dalam Masalah Akidah (Part. I)


Oleh: Irfan Abu Naveed
Diadaptasi dari Grup Telegram Forum Kajian Tsaqafah: Link
Di antara karakteristik akidah seorang mukmin yang kokoh dan tidak rapuh adalah keimanan yang diraih dengan jalan berpikir. Salah satunya berpikir tentang ciptaan Allah yang menunjukkan secara pasti keberadaan Sang Pencipta, yakni Allah ’Azza wa Jalla. Hal itu diisyaratkan dalam firman Allah ’Azza wa Jalla:
{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ}
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 164)
            Ketika menafsirkan ayat yang agung ini, Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil menjelaskan bahwa sesungguhnya bertafakur atas makhluk-makhluk ciptaan Allah berkonsekuensi secara qath’i kepada keyakinan bahwa bagi makhluk-makhluk tersebut ada Sang Pencipta yang Maha Agung, Maha Esa, tidak ada berhak diibadahi selain-Nya, dan tidak ada sesembahan selain-Nya.[1]
Maka seseorang yang mentadaburi ayat-ayat Allah baik ayat-ayat qur’aniyyah dan kawniyyah, seakan menapaki jalan untuk meraih keimanan yang kokoh. Allah ‘Azza wa Jalla pun mengisyaratkan karakter manusia yang berakal, yang mentadaburi ayat-ayat al-Qur’an dalam firman-Nya:
{هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ}
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Rabb yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Ibrâhîm [14]: 52)
Dan akidah yang kokoh dibangun dari argumentasi yang kokoh baik dalil-dalil naqliyyah maupun dalil-dalil ’aqliyyah, diwujudkan dalam bentuk pembenaran yang pasti yang bersesuaian dengan fakta didasarkan pada dalil. Hal itu tidak mungkin bisa diraih oleh orang yang tidak mau mentadaburi ayat-ayat Allah.
Mayoritas ulama pun melarang bertaklid dalam perkara akidah dan menjelaskan bahaya di dalamnya. Imam Abu Hayyan al-Andalusi (w. 745 H) ketika menafsirkan QS. Al-Shâffât [37]: 70-71 mengisahkan mengenai nasib kafir Quraisyi yang terjerumus ke dalam siksa neraka, akibat taklid terhadap nenek moyang yang berada dalam kesesatan (kekafiran).[2]
Para ulama pun menjelaskan keharaman bertaklid dalam akidah. Imam Taqiyuddin Abu al-Baqa’ Muhammad (w. 972 H) yang masyhur dikenal dengan nama Ibn Najjar al-Hanbali mengungkapkan bahwa Imam al-Halwani dan selainnya –yakni sahabat-sahabatnya- menyatakan larangan bertaklid dalam perkara pokok agama, ini pula yang menjadi pendapat al-Bashri dan al-Qarafi.[3] Al-‘Allamah Muhammad bin Thahir ‘Asyur (w. 1393 H) ketika menafsirkan QS. Al-Jin [72]: 5 menuturkan bahwa dalam ayat tersebut terdapat petunjuk bahaya bertaklid dalam perkara akidah, dan bahwa perkara akidah tidak boleh diadopsi dengan zhann (dugaan) semata.[4] Ini pula yang ditegaskan oleh al-Qadhi al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani –rahimahullâh-.
Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili pun menjelaskan:
إن ترك التّقليد في العقيدة والرّجوع إلى متابعة الدّليل واجب متعيّن على كلّ إنسان في أمر الدّين
“Sesungguhnya meninggalkan taklid dalam perkara akidah dan kembali kepada dalil hukumnya wajib yang ditetapkan atas setiap individu manusia dalam perkara agama.”[5]
Dalam referensi lainnya, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili pun menegaskan bahwa bertaklid dalam perkara akidah dan ibadah merupakan kesesatan,[6] yakni mengandung bahaya.
Lebih jauh lagi, Allah ‘Azza wa Jalla pun mengisyaratkan bahwa mereka yang tidak beriman, dimana mereka jelas tidak termasuk golongan ulul albâb maka tidak berfaidah sama sekali bagi mereka tanda-tanda kekuasaan Allah ’Azza wa Jalla:
{قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ}
“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Yûnus [10]: 101)
Dan hal itu sebagai akibat dari ketakaburan dan buruknya sikap mereka, Prof. Dr. Muhammad Ali al-Shabuni menjelaskan: “Ketika Allah Ta’âlâ menjelaskan rusaknya keyakinan kaum musyrikin, disebabkan oleh keras kepala mereka dan perbuatan mereka menyekutukan Sang Pencipta dengan makhluk yang tidak menciptakan apapun, disebutkan di sini wasiat-wasiat (Luqman) al-Hakim, dan hal itu merupakan wasiat yang sangat berharga dalam menyampaikan hikmah dan seruan kepada jalan petunjuk, dan sungguh wasiat-wasiat ini telah ada dimulai dengan peringatan terhadap kesyirikan yang merupakan seburuk-buruknya dosa, dan sebesar-besarnya kejahatan di sisi Allah.[7]
Bukankah tak sedikit para Orientalis yang mempelajari Islam namun tidak mengimani kebenarannya?! Sehingga mereka tetap mati dalam kekafiran. Atau gambaran dari seorang ahli sastra Arab, Al-Walid bin al-Mughirah, yang keras dalam kekafiran meski sebenarnya ia tak mampu menyangkal keagungan ungkapan al-Qur’an: “Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian (Bangsa Quraysi) yang lebih mengenal sya’ir-sya’ir dariku, dan tidak ada pula yang lebih mengetahui rajaz dan qashid-nya selain diriku, Demi Allah tidak ada satupun dari apa yang dibaca Muhammad menyerupai ini semua, Demi Allah sesungguhnya ungkapan yang disampaikannya sangat manis dan apa yang dituturkannya sangat indah.”[8]



[1] ‘Atha bin Khalil, , Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr: Sûratul Baqarah, Beirut: Dâr al-Ummah, Cet. II, 2006, hlm. 190.
[2] Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf Al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, Beirut: Dâr al-Fikr, 1420 H, jilid IX, hlm. 107.
[3] Taqiyuddin Abu al-Baqa’ Muhammad bin Ahmad, Syarh al-Kawkab al-Munîr, Maktabat al-Abikan, Cet. II, 1418 H, Bab. Al-Taqlîd, jilid IV, hlm. 535.
[4] Muhammad al-Thahir bin Muhammad bin Muhammad al-Thahir bin ‘Asyur, Al-Tahrîr wa al-Tanwîr, Tunisia: Al-Dâr al-Tûnisiyyah, 1984, juz 29, hlm. 224.
[5] Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa al-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Dâr al-Fikr al-Mu’âshir, Cet. II, 1418 H.
[6] Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa az-Zuhaili, Al-Tafsîr al-Wasîth, Damaskus: Dâr a-Fikr, Cet. I, 1422 H.
[7] Prof. Dr. Muhammad Ali al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, Kairo: Dar al-Shabuni, cet. I, 1417 H, jilid II, hlm. 451.
[8] Taqiyuddin bin Ibrahim, Al-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, jilid I, cet. VI, hlm. 170.