30 Mei 2016

Kritik atas ”Penelitian” IKI Ma’arif Institute: Denpasar Kota Islami?!


Kritik Metodologis & Ideologis 
Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I [1]

A.  Pengantar

Di antara tantangan yang dihadapi umat Islam kini adalah beragam kekufuran dan penyimpangan dari ajaran Islam yang dikamuflasekan dalam wujud rupa kebaikan sehingga menjadi tipu daya, dan kondisinya kian memperihatinkan ketika syi’ar-syi’ar dari kekufuran dan penyimpangan tersebut dalam kehidupan yang rusak di bawah naungan sistem Demokrasi, bisa tersiar di tengah-tengah kaum muslimin. Itu semua, sebenarnya bagian dari visi misi Iblis dan bala tentaranya, syaithan golongan jin dan manusia yang berjanji menghiasi keburukan dengan wajah kebaikan dan menyesatkan manusia dari jalan kebenaran, sebagaimana diinformasikan dalam ayat:
{قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ}
“Iblis berkata: "Ya Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.(QS. Al-Hijr [15]: 39)
Allah menginformasikan dalam ayat ini bahwa Iblis mengungkapkan berbagai pernyataan visi misi jahatnya dengan kata-kata yang diperkuat, yakni menggunakan lâm al-ibtidâ’ dan nûn al-tawkîd al-tsaqîlah (لام الابتداء ونون التوكيد), dalam kata lauzayyinanna dan laughwiyanna. Fungsi penegasan-penegasan ini memberi arti sangat serius dan menuntut keseriusan, dimana dalam ilmu balaghah dua bentuk penegasan ini menafikan adanya keraguan dan pengingkaran atas kebenaran informasi di dalamnya.[2] Artinya jelas mengandung ancaman yang nyata. Al-Hafizh Ibn al-Jawzi –rahimahullâh- menegaskan: “Maka wajib bagi orang yang berakal untuk mawas diri terhadap musuh yang satu ini (Iblis, syaithan-pen.) yang telah menyatakan permusuhannya semenjak masa Adam a.s. dan ia bersungguh-sungguh mengerahkan segenap waktunya, jiwanya untuk merusak Bani Adam dan Allah telah memperingatkan kita darinya.”[3]
Dan kata kerja (زَيَّنَ), sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) bermakna jika menampakkan kebaikannya, baik dalam bentuk perbuatan maupun perkataan[4], jika keburukan maka kebaikan yang ditampakkan tersebut merupakan kedustaan yang bisa mengelabui mereka yang lalai. Dan ketika kedustaan tersebut diyakini, maka jadilah ia khurafat yang berbahaya yang bisa menjerumuskan seseorang kepada kesesatan. Dan salah satu khurafat yang disebarkan kaum liberal baru-baru ini adalah penyematan Kota Denpasar sebagai kota paling islami, sedangkan Makassar pada indeks terbawah. Bagaimana menakar hal tersebut dengan sudut pandang Islam?

B.  Ma’arif Institute: Denpasar Kota Islami

Dalam laman resmi Ma’arif Institute (MI) dirilis pemberitaan berbahasa Inggris mengenai hasil penelitian IKI (Indeks Kota Islami). Penelitian tersebut diklaim oleh Direktur Penelitian MI, Ahmad Imam Mujadid Rais, dalam presentasinya di Hotel Alia Cikini, Jakarta Pusat (17/5/2016) dilakukan selama satu tahun dan mengambil sampel sebanyak 29 kota di Indonesia.[5] Dalam pemberitaan Republika disebutkan bahwa penelitian dilakukan pada awal Januari 2014 hingga Maret 2016.  
Disebutkan, “All 29 cities sampled secure variables assessed through a city, things to note are the freedom of religion and belief, legal protection, kepemimpiman and fulfillment of women’s political rights, the rights of children and the handicapped.”[6] Yakni bahwa yang menjadi poin penilaian di antaranya adalah mengenai kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan dan pemenuhan hak-hak politik kaum wanita, hak-hak anak dan kaum yang berkebutuhan khusus. Dan dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan bahwa Denpasar termasuk jajaran kota paling Islami dengan hasil poin 80.64 sejajar dengan Yogyakarta dan Bandung, meski kota Denpasar dihuni oleh mayoritas penduduk beragama Hindu dengan tolak ukur dan indikator:
Pertama, Tingkat Keamanan.
Kota aman diukur dari indikator kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan, pemenuhan hak politik perempuan, hak anak, dan hak difabel.
Kedua, Tingkat Kesejahteraan.
Indikator sejahtera diukur dari pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan kesehatan.
Ketiga, Tingkat Kebahagiaan Warga.
Tolak ukur bahagia diukur dari indikator berbagi dan kesetiakawanan serta harmoni dengan alam.
Sementara itu, kota yang paling rendah nilai indeks kota Islaminya adalah Makassar dengan skor 51,28 disusul Padang sebagai kota peringkat kedua terendah yaitu 58,37. Selengkapnya berdasarkan informasi dari twitter MI[7]




C.  Kritik Metodologis

Salah satu elemen penting dalam pengujian atas suatu hasil penelitian adalah menguji metodologi penelitian tersebut. Validitas dari metodologi ini menjadi ukuran valid tidaknya hasil penelitian tersebut. Dan jika ditelusuri hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang ganjil, ketika suatu Kota yang sarat dengan hal-hal yang bertentangan dengan akidah dan syari’at Islam justru dinilai paling Islami. Maka yang perlu dikritisi secara asasi adalah metodologi penelitian tersebut. Dengan sudut pandang sebagai berikut:

Pertama, Menakar Paradigma Kata ”Islami”
Kata islami (Islam ditambah akhiran i) maknanya adalah sifat dari kata Islam, yakni bersifat Islam. Dalam bahasa arab diungkapkan dengan istilah ” الإسلامي” untuk menyifati kata benda mudzakkar atau ” الإسلامية” untuk menyifati kata benda mu’annats. Dimana bentuk kata sifat ini tak bisa dipisahkan dari asal katanya, yakni Islam itu sendiri, misalnya tolak ukur Islam dalam istilah al-Dawlah al-Islâmiyyah, atau al-nafsiyyah al-Islâmiyyah. Dan siapapun yang benar-benar mempelajari ilmu bahasa mudah memahami poin prinsipil ini. Sehingga penilaian Islami tidaknya suatu kota jelas tidak bisa dipisahkan dari paradigma Islam itu sendiri. Sedangkan Islam itu sendiri adalah Din (manhaj al-hayât). Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.(QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)
Allah menyebut Islam sebagai dîn dan menegaskan bahwa dînuLlâh itu satu, dan ia adalah Islam yang Allah sifati dalam ayat di atas.[8] Dimana konsekuensi kedudukan Islam sebagai dîn ini, tergambar dalam pengertian Islam[9] sebagai berikut:
الإسلام هو الدين الذي أنزله الله على سيدنا محمد -صلى الله عليه وسلم- بتنظيم علاقة الإنسان بخالقه، وبنفسه، وبغيره من بني الإنسان 
Al-Islam adalah din yang Allah turunkan kepada sayyidinaa Muhammad S.A.W untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya.”[10]
Pengertian Islam sebagai dîn di atas, memperjelas kedudukan Islam sebagai ideologi, worldview yang khas mengatur segala aspek kehidupan manusia dengan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai dua pedoman utamanya. Artinya logika mendasar dalam penelitian yang menggunakan kata Islami sebagai penilaiannya mesti didasarkan pada tolak ukur penerapan Islam itu sendiri, sejauh mana penerapan akidah dan syari’ah dalam kehidupan atau dengan kata lain kesesuaian kehidupan dengan penegakkan ajaran-ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah. Dimana antara akidah dan penerapan syari’ah tidak bisa dipisahkan (lihat petunjuk dalam QS. Al-‘Ashr). Sebelumnya, Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menilai keislaman sebuah kota harusnya dilihat dari penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Lebih jauh, penerapan nilai-nilai islami juga harus dijabarkan dalam hubungan antar rakyat dan pemimpin. “Penilaian itu kan relatif. Jika orang lain mengadakan penelitian mungkin akan lain lagi hasilnya,” ujar Din di kantor pusat MUI, Rabu (18/5).[11]
Jika tolak ukurnya bertentangan dengan poin prinsipil di atas, maka jelas cacat dari asasnya, yakni cacat metodologinya. Dan itulah yang kita dapati dari penelitian IKI Ma’arif Institute ini, karena mendasarkan pada tolak ukur keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan warga yang bersifat materialistik semata, dengan paradigma liberalistik, bukan didasarkan pada paradigma Islam, yakni bukan makna hakiki keamanan, kesejahteraan dan kebahagian dalam sudut pandang Islam. Tentu mengherankan jika penilaian menggunakan kata "Islami" tapi tolak ukurnya sendiri bertentangan dengan sudut pandang akidah dan syari'at Islam!
Kecacatan tersebut sangat jelas ketika "penelitian" ini menjadikan Kota Denpasar yang dihuni mayoritas kaum musyrikin, dimana di dalamnya daging babi dijadikan pangan disyi'arkan bebas, "wisata syari'ah” ditolak, kehidupan bercorak liberal dengan dunia pariwisatanya yang dikenal dengan aurat terbuka bebas dinilai sebagai kota paling Islami. Bahkan tak perlu jauh-jauh menilai hingga ke pelosok daerahnya, pertama kali menjambangi kota ini saja, di bandara kita akan disambut dengan banyaknya syi'ar-syi'ar kesyirikan khas agama Hindu: patung sesembahan kaum musyrikin, jimat janur kuning dan kain catur yang dipajang di tiang-tiang penyangga bangunan, berada di tempat publik yang semestinya bersih dari itu semua.
Padahal Khalifah ’Umar bin al-Khaththab r.a., sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh al-Suyuthi, memberikan syarat kepada mereka –kafir ahludz dzimmah- untuk tidak menampakkan syi’ar perayaan-perayaan agama mereka di negeri-negeri kaum muslimin.[12] Realitas ini merupakan ironi di negeri mayoritas negeri kaum muslimin, yang semakin menunjukkan pentingnya tegaknya Khilafah untuk membersihkan negeri ini dari syi'ar-syi'ar jahiliyyah di ruang-ruang publik.

Kedua, Paradigma Islam
Dalam paradigma Islam, ketiga tolak ukur yang digunakan oleh MI harus dipahami dengan benar sebagai berikut:

a.    Tingkat Keamanan
Allah 'Azza wa Jalla menegaskan standarisasi ukuran keamanan dengan indikator keimanan dan menafikan kesyirikan di dalamnya:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’ām [6] : 82)
            Sedangkan kesyirikan adalah kezhaliman terbesar. Lihat: QS. Luqmân [31]: 13. Al-’Alim Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil –hafizhahullâh- menjelaskan bahwa kesyirikan yakni menempatkan makhluk pada kedudukan Sang Pencipta, yakni menempatkan makhluk tidak pada tempatnya dan siapa saja yang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya telah berbuat zhalim.[13] Dan mereka yang berbuat kezhaliman berbuat kesyirikan hakikatnya tidak mendapat keamanan hakiki selama-lamanya. Lalu bagaimana mungkin suatu kota yang mayoritas dihuni oleh kaum musyrikin, dimana syi’ar-syi’ar kesyirikan mereka tampakkan secara nyata di ruang-ruang publik sebagai kota paling Islami?! Maka paradigma apa yang dijadikan standar ukuran keamanan tersebut kalau bukan paradigma liberal yang bercorak materialistik?!

b.    Tingkat Kesejahteraan & Kebahagiaan Warga
            Kesejahteraan hakiki dan kebahagian sejati bagi seorang muslim dalam Islam adalah meraih keridhaan Allah dalam kehidupan dunia dengan menegakkan ajaran Ilam dalam kehidupan: akidah maupun syari’ah, dimana kelak di akhirat mereka akan diganjar dengan kebaikan abadi di jannah-Nya. Hal itu sejalan dengan isyarat dalam ayat-ayat al-Qur’an:
وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Tawbah [9]: 72)
            Dimana keridhaan Allah terwujud dengan menunaikan ajaran Allah dan Rasul-Nya yang menjamin kehidupan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ 
 “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfâl [8]: 24)
            Menurut al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H), para ulama berselisih pendapat dalam menakwilkan kalimat (إذا دعاكم لما يحييكم), al-Saddiy menyebutkan yakni kepada al-Islam, Imam Mujahid menyebutkan yakni kepada kebenaran, ada pula yang menakwilkan yakni kepada al-Qur’an, sebagaimana perkataan Imam Qatadah yang mengungkapkan:
هو هذا القرآن، فيه الحياة والثقة والنجاة والعصمة في الدنيا والآخرة
“Yakni al-Qur’an ini, di dalamnya terdapat kehidupan, keyakinan,  keberhasilan dan keterjagaan di dunia dan akhirat.”[14]
            Jelas bahwa dengan menerapkan ajaran Allah dan Rasul-Nya, ia merupakan sebab adanya keridhaan Allah, dan itu merupakan sebab meraih kebahagiaan hakiki.

D.  Kritik Ideologis

Terlepas apa motif di balik penelitian tersebut, kita patut mengevaluasi penelitian ini yang menggunakan penilaian “Islami” tapi tidak berpijak pada tolak ukur dan standar nilai Islam itu sendiri, bahkan kesimpulannya diarahkan berkorelasi negatif dengan penerapan syari’at Islam itu sendiri, yang memperjelas bahwa tolak ukurnya bukan paradigma Islam itu sendiri, melainkan paradigma moderat (baca: liberal). Duduk persoalannya menjadi jelas dengan kesimpulan hasil menjadikan Denpasar sebagai kota paling Islami dan adanya kritik terhadap formalisasi syari’at Islam dalam kehidupan bernegara.
Disimpulkan bahwa kota yang telah menerapkan peraturan daerah syari’ah (Perda Syari’ah) justru mendapatkan skor terendah sebagai kota Islami. Bahkan tidak masuk dalam peringkat 10 besar. ”Pembentukan regulasi berbasis syari’ah di beberapa kota tidak menjamin kota tersebut lebih tinggi tingkat ke-Islamannya dibandingkan yang tidak menerapkan,” kata Rais (17/5).
Kaum muslimin harus senantiasa waspada terhadap upaya-upaya stigma negatif terhadap penegakkan syari’at Islam dalam kehidupan bernegara, mengingat Islam itu sendiri merupakan dîn yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, wajib ditegakan totalitas dalam kehidupan. Dan jika kita perhatikan seksama, maka perkaranya semakin jelas bahwa isu ini menggiring opini publik kepada keyakinan tidak perlunya penerapan syari'at Islam, cukup simbol nilai semata, yakni nilai-nilai yang pada akhirnya pun direduksi pada paradigma materialitik Barat. Yakni liberalisasi pemikiran yang merusak standar nilai dan pemahaman seseorang. Liberalisme itu sendiri merupakan paradigma khas peradaban Barat dalam kehidupan atau dalam istilah lainnya yakni the system of thought[15], sebagaimana ditegaskan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, liberalisme merupakan sistem, pandangan hidup atau ideologi Barat, maka Islam bagi Barat merupakan tantangan bagi liberalisme. Sudah tentu sebaliknya liberalisme juga merupakan tantangan bagi Islam.[16]
Pengaruhnya di dunia Islam bagaikan racun ular berbisa yang mengalir dalam darah dan cepat merusak tubuh manusia hingga menyebabkan kematian atau kelumpuhannya, hilanglah kemuliaannya, sirnalah kekuatannya. Padahal kekuatan dan kelemahan tubuh sangat dipengaruhi oleh darahnya. Jika darahnya bersih, tubuh akan menjadi sehat. Sebaliknya jika darahnya kotor, atau tidak sesuai, tubuh itu akan mengalami gangguan dan menyebabkan sakit, demikian juga umat, Jika pemikiran ideologinya kotor atau pun hilang, umat ini akan menjadi lemah dan tidak berdaya.[17] Maka mesti ada upaya serius untuk membina umat ini, menanamkan pemikiran Islam yang mustanir dan menjaganya dari berbagai bentuk pemikiran liberal.
Dan tak berhenti di sana, sesungguhnya tersebarnya pemikiran liberal dan sepak terjang kaum liberal di negeri ini merupakan buah dari tegaknya sistem jahiliyyah Demokrasi dengan prinsip kebebasan yang menyuburkannya. Maka semakin menunjukkan pentingnya mengupayakan tegaknya syari’at Islam kâffah dengan thariqah menegakkan al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah, membai’at khalifah untuk menjalankan fungsi ri’âyah (pengaturan urusan umat) dengan hukum syari’ah kâffah, dan menegakkan fungsi junnah sebagaimana sabda yang mulia Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه  
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayh) []




[1] Lulusan Pascasarjana Pendidikan & Pemikiran Islam UIKA Bogor.
[2] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, Riyâdh: Jâmi’atul Imâm Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyyah, Cet. II, 1425 H, hlm. 38-39.
[3] Al-Hafizh Ibn Al-Jawzi, Talbîs Iblîs, Dâr al-Wathan, jilid I, hlm. 203-204.
[4] Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad al-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fii Ghariib al-Qur’ân, Ed: Shafwan Adnan, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. I, 1412 H, hlm. 389.
[5] Lihat: maarifinstitute.org, 23/05/2016.
[6] Ibid.
[8] Al-Husain bin al-Hasan Abu Abdullah al-Halimi, Al-Minhâj fii Sya’b al-Îmân, Ed: Hilmi Muhammad, Daar al-Fikr, cet. I, 1399 H/1979, juz I, hlm. 86.
[9] Definisi itu sendiri merupakan deskripsi realitas yang bersifat Jâmi’ (komprehensif) dan Mâni’ (protektif). Artinya, definisi itu harus menyeluruh meliputi seluruh aspek yang dideskripsikan, dan memproteksi sifat-sifat di luar substansi yang dideskripsikan. Inilah gambaran mengenai definisi yang benar.
[10] Taqiyuddin bin Ibrahim Al-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, Beirut: Daar al-Ummah, cet. VII, hlm. 34.
[11] Lihat: muslimbandung.id, 26/05/2016.
[12] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 125.
[13] ‘Atha’ bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah), Beirut: Dar al-Ummah, cet. II, 1427 H, hlm. 70.
[14] Muhammad bin Jarir Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz XIII, hlm. 463-464.          
[15] Eamonn Butler, Classical Liberalism: A Primer, London: The Institute of Economic Affairs, 2015 (xiii).
[16] Hamid Fahmy Zarkasyi, “Liberalisasi Pemikiran Islam: Gerakan Bersama Missionari, Orientalis, dan Kolonialis”, Jurnal Tsaqafah, Vol. V (No. 1), Jumadal Ula 1430 H, hlm. 10.
[17] Muhammad Maghfur W, Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, Bangil: Al-Izzah, cet. I, 2002, hlm. 2.