Skip to main content

Tanya Jawab Mengenai Keutamaan QS. Al-Baqarah Sebagai Bacaan Perlindungan


Tanya Jawab dalam Grup Telegram Arsip Kajian Tsaqafah
Join telegram: Link


Pertanyaan
Asslamualykum..
ya ustdz ada Pertanyaan.
Apakah Menghatamkan Qs Al Baqoroh bisa menjadi media pengusir Jin di dlm tubuh org yg sedang gangguan?
Adakah Dalil yg menguatkan pendapat tersebut.
(Sdr. Edoy)

Jawab

Wa'alaykumussalam,wr,wb.

Pertama
, Mengenai keutamaan QS. Al-Baqarah, terutama 10 ayat di antaranya hal itu sudah direkomendasikan secara spesifik dalam al-Sunnah sebagai bacaan perlindungan dari Allah 'Azza wa Jalla:
«مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي بَيْتٍ لَمْ يَدْخُلْ ذَلِكَ الْبَيْتَ شَيْطَانٌ تِلْكَ اللَّيْلَة حَتَّى يُصْبِحَ، أَرْبَعَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِهَا، وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ، وَآيَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَخَوَاتِيمُهَا»
“Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari surat al-Baqarah dalam satu rumah, syaithân tidak akan masuk ke dalam rumah tersebut pada malam itu hingga datang waktu pagi, yaitu empat ayat pada awal surat ditambah ayat kursi dan dua ayat sesudahnya dilanjutkan dengan ayat di akhir surat’.” (HR. Muslim, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir, Ibn Hibbân dalam shahîh-nya)

Artinya, hadits ini mengandung isyarat bahwa ayat-ayat di atas berfungsi sebagai wiqâyah (perlindungan), dibaca dengan tadabbur dan keyakinan pada Allah, serta tawakal pada-Nya. Jika dimaksudkan sebagai terapi ruqyah, maka pembacaan mesti disertai tiupan atau hembusan nafas. Karena itulah yang membedakan antara ruqyah dengan tilawah atau qira'ah.

Ruqyah, sebagaimana disebutkan Dr. Muhammad Yusuf al-Jurani dalam kitab al-Ruqyah al-Syar’iyyah min al-Kitâb wa al-Sunnah al-Nabawiyyah:
هي تعويذ ( وقاية ) المريض بقراءة شيءٍ من القرآن الكريم وأسماء الله وصفاته مع الأدعية الشرعية باللسان العربي _ أو ما يعرف معناه _ مع النفث  ؛ لرفع العلة والمرض.
“(Ruqyah syar’iyyah) adalah do’a perlindungan (pencegahan) orang sakit dengan membaca ayat-ayat al-Qur’ân al-Karîm, asma-asma Allâh & sifat-sifat-Nya dan do’a-do’a syar’iyyah dengan bahasa arab -atau do’a-do’a yang tak berbahasa arab yang dipahami maknanya- dengan hembusan nafas (mengandung sedikit air ludah) untuk menghilangkan penderitaan dan penyakit.”

Kedua,
Adapun mengenai QS. Al-Baqarah dalam konteks umum, disebutkan dalam hadits lainnya, hadits dari Abu Hurairah -radhiyallâhu 'anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- bersabda:
«لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ»
”Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syaithân tidak pergi dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah.” (HR. Muslim (1774))

Dan dalam hadits riwayat Imam al-Tirmidzi, dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- bersabda:
«لا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ وَ إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ الْبَقَرَةُ لا يَدْخُلُهُ الشَّيْطَانُ»
”Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syaithân tidak memasuki rumah yang dibacakan surat al-Baqarah.” (HR. Al-Tirmidzi (2877), Abu Isa berkata: ”Hadits ini hasan shahih”, Ahmad (9030), Syu’aib al-Arna’uth: ”Hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim”)

Dan ia termasuk ke dalam keumuman bahwa al-Qur'an merupakan syifa' (penawar) dalam QS. Al-Isrâ [17]: 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ القُرْآنِ مَا هُوَ شِفاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْن
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.(QS. Al-Isrâ’ [17]: 82)

Dimana lafazh min dalam ayat ini menurut para ulama min li bayân al-jins (menjelaskan jenis) bukan bermakna min li tab'idh (sebagian), yang menunjukkan bahwa keseluruhan ayat al-Qur'an merupakan syifa' (penawar) dari Allah 'Azza wa Jalla.
Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah:
"والأظهر أن "من" هنا لبيان الجنس فالقرآن جميعه شفاء ورحمة للمؤمنين"
"Dan yang jelas bahwa lafazh min dalam ayat ini untuk menjelaskan jenis, maka al-Qur'an seluruhnya merupakan syifa' (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighâtsat al-Lahfân Min Mashâ'id al-Syaythân, Beirut: Dâr al-Ma'rifah, cet. II, 1395 H, juz I, hlm. 16)

Maka jelas bahwa surat al-Baqarah termasuk ke dalam keumuman keutamaan al-Qur'an sebagai syifa' (penawar) dalam ayat di atas. Diamalkan disertai pembenaran dan pengamalan kandungan ayat-ayat al-Qur'an, mencakup akidah dan syari'ah, tak sekedar membacanya sebagai do'a perlindungan namun dalam kehidupan sehari-hari jauh dari syari'at al-Qur'an dan al-Sunnah, semisal syari'at keharaman riba.

Ketiga, Namun perlu saya ingatkan bahwa ketika membaca al-Qur'an, termasuk mengkhatamkan QS. Al-Baqarah, niat yang menjadi landasannya adalah taqarrub ilaLlâh (mendekatkan diri pada Allah), bukan semata-mata demi mengharapkan kesembuhan. Karena ia termasuk ibadah. Ketika menjelaskan definisi Al-Qur’an para ulama, Dr. Samih ’Athif Al-Zayn menjelaskan: “(Al-Qur’an) dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya.” (Dr. Samih ’Athif Al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr Al-Kitab Al-Mishri, cet. I, 1999, hlm. 308)

Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  Oleh: Irfan Abu Naveed D ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam . Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}    “ Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan .” (QS. Al-Baqarah [2]: 191) Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ} “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kam