28 April 2016

Tanya Jawab Mengenai Keutamaan QS. Al-Baqarah Sebagai Bacaan Perlindungan


Tanya Jawab dalam Grup Telegram Arsip Kajian Tsaqafah
Join telegram: Link


Pertanyaan
Asslamualykum..
ya ustdz ada Pertanyaan.
Apakah Menghatamkan Qs Al Baqoroh bisa menjadi media pengusir Jin di dlm tubuh org yg sedang gangguan?
Adakah Dalil yg menguatkan pendapat tersebut.
(Sdr. Edoy)

Jawab

Wa'alaykumussalam,wr,wb.

Pertama
, Mengenai keutamaan QS. Al-Baqarah, terutama 10 ayat di antaranya hal itu sudah direkomendasikan secara spesifik dalam al-Sunnah sebagai bacaan perlindungan dari Allah 'Azza wa Jalla:
«مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي بَيْتٍ لَمْ يَدْخُلْ ذَلِكَ الْبَيْتَ شَيْطَانٌ تِلْكَ اللَّيْلَة حَتَّى يُصْبِحَ، أَرْبَعَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِهَا، وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ، وَآيَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَخَوَاتِيمُهَا»
“Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari surat al-Baqarah dalam satu rumah, syaithân tidak akan masuk ke dalam rumah tersebut pada malam itu hingga datang waktu pagi, yaitu empat ayat pada awal surat ditambah ayat kursi dan dua ayat sesudahnya dilanjutkan dengan ayat di akhir surat’.” (HR. Muslim, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir, Ibn Hibbân dalam shahîh-nya)

Artinya, hadits ini mengandung isyarat bahwa ayat-ayat di atas berfungsi sebagai wiqâyah (perlindungan), dibaca dengan tadabbur dan keyakinan pada Allah, serta tawakal pada-Nya. Jika dimaksudkan sebagai terapi ruqyah, maka pembacaan mesti disertai tiupan atau hembusan nafas. Karena itulah yang membedakan antara ruqyah dengan tilawah atau qira'ah.

Ruqyah, sebagaimana disebutkan Dr. Muhammad Yusuf al-Jurani dalam kitab al-Ruqyah al-Syar’iyyah min al-Kitâb wa al-Sunnah al-Nabawiyyah:
هي تعويذ ( وقاية ) المريض بقراءة شيءٍ من القرآن الكريم وأسماء الله وصفاته مع الأدعية الشرعية باللسان العربي _ أو ما يعرف معناه _ مع النفث  ؛ لرفع العلة والمرض.
“(Ruqyah syar’iyyah) adalah do’a perlindungan (pencegahan) orang sakit dengan membaca ayat-ayat al-Qur’ân al-Karîm, asma-asma Allâh & sifat-sifat-Nya dan do’a-do’a syar’iyyah dengan bahasa arab -atau do’a-do’a yang tak berbahasa arab yang dipahami maknanya- dengan hembusan nafas (mengandung sedikit air ludah) untuk menghilangkan penderitaan dan penyakit.”

Kedua,
Adapun mengenai QS. Al-Baqarah dalam konteks umum, disebutkan dalam hadits lainnya, hadits dari Abu Hurairah -radhiyallâhu 'anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- bersabda:
«لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ»
”Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syaithân tidak pergi dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah.” (HR. Muslim (1774))

Dan dalam hadits riwayat Imam al-Tirmidzi, dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- bersabda:
«لا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ وَ إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ الْبَقَرَةُ لا يَدْخُلُهُ الشَّيْطَانُ»
”Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syaithân tidak memasuki rumah yang dibacakan surat al-Baqarah.” (HR. Al-Tirmidzi (2877), Abu Isa berkata: ”Hadits ini hasan shahih”, Ahmad (9030), Syu’aib al-Arna’uth: ”Hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim”)

Dan ia termasuk ke dalam keumuman bahwa al-Qur'an merupakan syifa' (penawar) dalam QS. Al-Isrâ [17]: 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ القُرْآنِ مَا هُوَ شِفاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْن
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.(QS. Al-Isrâ’ [17]: 82)

Dimana lafazh min dalam ayat ini menurut para ulama min li bayân al-jins (menjelaskan jenis) bukan bermakna min li tab'idh (sebagian), yang menunjukkan bahwa keseluruhan ayat al-Qur'an merupakan syifa' (penawar) dari Allah 'Azza wa Jalla.
Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah:
"والأظهر أن "من" هنا لبيان الجنس فالقرآن جميعه شفاء ورحمة للمؤمنين"
"Dan yang jelas bahwa lafazh min dalam ayat ini untuk menjelaskan jenis, maka al-Qur'an seluruhnya merupakan syifa' (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighâtsat al-Lahfân Min Mashâ'id al-Syaythân, Beirut: Dâr al-Ma'rifah, cet. II, 1395 H, juz I, hlm. 16)

Maka jelas bahwa surat al-Baqarah termasuk ke dalam keumuman keutamaan al-Qur'an sebagai syifa' (penawar) dalam ayat di atas. Diamalkan disertai pembenaran dan pengamalan kandungan ayat-ayat al-Qur'an, mencakup akidah dan syari'ah, tak sekedar membacanya sebagai do'a perlindungan namun dalam kehidupan sehari-hari jauh dari syari'at al-Qur'an dan al-Sunnah, semisal syari'at keharaman riba.

Ketiga, Namun perlu saya ingatkan bahwa ketika membaca al-Qur'an, termasuk mengkhatamkan QS. Al-Baqarah, niat yang menjadi landasannya adalah taqarrub ilaLlâh (mendekatkan diri pada Allah), bukan semata-mata demi mengharapkan kesembuhan. Karena ia termasuk ibadah. Ketika menjelaskan definisi Al-Qur’an para ulama, Dr. Samih ’Athif Al-Zayn menjelaskan: “(Al-Qur’an) dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya.” (Dr. Samih ’Athif Al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr Al-Kitab Al-Mishri, cet. I, 1999, hlm. 308)