28 April 2016

Tanya Jawab Makna Islam Rahmatan Lil Alamin & Penerapan Setiap Hukum Syari’at


Tanya Jawab dalam Grup Telegram Arsip Kajian Tsaqafah
Join telegram: Link

Pertanyaan

Ustadz sy sdh baca maqolah antum tentang  makna rahmatan lil alamin menurut ulama mu'tabar. apa benar kesimpulan saya : dengan kaidah حيثما يكون الشرع  dan seterusnya bahwa setiap hukum Islam atau secara totaltas membawa rahmat bagi manusia. siapa yang ngerjakan sholat berarti dia dapat rahmat dai syari'at sholat (tentu sesuai tuntunan Islam), siapa yang shaum maka dia mendapatkan rahmat dari syari'at shaum itu dst.

Lalu pertanyaan saya adalah bagaimana dengan umat saat ini yang mereka menerapkan sebagian hukum Islam dalam bidang ibadah mahdhoh, akhlaq, malbusat, mathumat sementara mereka tidak berhukum dengan Islam dalam persoalan muamalah dan uqubah, apakah mereka masih mendapatkan rahmat dengan keadaan spt ini?
Sdr. Irwan

Jawaban

Mengenai soal makna kata rahmat dalam QS. Al-Anbiya' [21]: 107 dan kaidah tersebut. Dan tentang apakah penerapan sebagian syari'at merupakan rahmat pula, maka bi tawfiqillah, yang ana pahami sebagai berikut:

Pertama,  Yang perlu ditekankan ketika berbicara mengenai penerapan syari'at bahwa hal itu merupakan upaya menunaikan segala kewajiban dari Allah 'Azza wa Jalla demi mengharapkan keridhaan-Nya dan bukan mengharapkan materi duniawi semata. Dan menerapkan syari'ah merupakan konsekuensi tauhid, akidah dimana dalil-dalil syara' menunjukkannya:
Misalnya dalil QS. Al-Baqarah [2]: 208:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ}
“Wahai orang-orang yang beriman masuklah ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaithan, karena ia adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Dalam ayat ini, khithâb (seruan) dari Allah, menyeru orang-orang yang beriman, memerintahkan mereka untuk menegakkan Islam totalitas, karena sebagaimana penafsiran para ulama, kata al-silm (السلم) dalam ayat tersebut meskipun ia termasuk lafazh musytarak (lafazh yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna), namun yang ditarjih bermakna al-Islam. Dan kata (كافة) bermakna (مانع لأجزائه من التفرق) yakni sesuatu yang menghalangi untuk dipecah-pecah ke dalam pecahan.

Dan isyarat dalam QS. Al-Nisâ’ [4]: 65:
{فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا}
“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 65)

Dalam ayat di atas, terdapat petunjuk bahwa keimanan berkaitan dengan keridhaan menegakkan hukum syari'at. Dimana ayat di atas diawali dengan qassam (sumpah) yang dalam ulasan ilmu balaghah, ia berfaidah menegaskan (tawkid) dan mengandung penekanan atas perkara yang muqsam 'alayh (yang menjadi maksud dari qassam tersebut), bahwa mereka tidak beriman hingga menjadikan Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- sebagai hakim atas perkara yang diperselisihkan. Dan menjadikan Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- sebagai hakim maknanya adalah berhukum dengan wahyu, al-Qur'an dan al-Sunnah, menegakkan keduanya dalam kehidupan.

Syaikh Nawawi bin Umar al-Bantani al-Syafi'i, yang merupakan ulama nusantara yang mendunia, dimana kitab-kitabnya merupakan salah satu rujukan di dunia pesantren menegaskan wajibnya menegakan dinul Islam, akidah syari'ah, dan berpegang teguh padanya hingga maut menjemput, dan konsisten menegakkan konsekuensi akidah (keimanan) yakni menegakkan hukum-hukum syari'ah Islam, dimana beliau menjelaskannya dalam salah satu kitabnya, Mirqât Shu'ûd al-Tashdîq fi Syarh Sullam al-Tawfîq menjelaskan:
(يجب) وجوبًا محتمًا (على كافة المكلفين) أي جميعهم (الدخول في دين الإسلام)... (والتزم) أي قبول (ما) أي شيء (لزم) أي ثبت (عليه) أي كافة المكلفين (من الأحكام) وهي ما بينه الله تعالى لنا على لسان نبيه مما يتعلق بأفعال المكلفين، وهو الواجب والسنة والمباح والمكروه والحرام
”(Wajib) dengan kewajiban yang pasti (atas seluruh orang yang mukallaf (dikenal taklif kewajiban) yakni seluruhnya (masuk ke dalam Dinul Islam)... dan (berpegang teguh) yakni menerima (apa-apa) yakni hal (lazim) yakni yang ditetapkan (atasnya) yakni atas seluruh orang yang mukallaf (berupa hukum-hukum) yakni apa-apa yang Allah jelaskan kepada kita melalui lisan Nabi-Nya berupa hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan orang yang telah ditaklif, berupa hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.” (Nawawi bin Umar al-Syafi’i, Mirqât Shu'ûd al-Tashdîq fi Syarh Sullam al-Tawfîq, hlm. 8)

Kedua, Mengenai makna kata rahmat, maka bagi para pembaca, silahkan tela'ah makna lengkapnya di sini: Link

Bahwa ia satu kata yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna. Dan makna yang dimaksud dalam QS. Al-Anbiya' [21]: 107, mesti ditarjih dengan indikasi dari dalil-dalil lainnya.

Kata al-rahmah adalah mashdar (derivat) dari kata kerja rahima, dan ia berkedudukan sebagai tujuan pengutusannya (maf’ûl li ajlihi) atau sebagai keterangan (hâl) bahwa Muhammad -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- adalah al-rahmah yang menguatkan kedudukan beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- (mubâlaghah), dan dalam konteks penggunaan istilah ini Imam Al-Raghib al-Ashfahani menguraikan bahwa ia terkadang berkonotasi al-riqqah (kelembutan) atau berkonotasi al-ihsân (kebajikan). Atau al-khayr (kebaikan) dan al-ni’mah (kenikmatan). Maka ia termasuk satu lafazh yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (lafzh musytarak) yang pemaknaannya ditentukan indikasi lainnya.

Memahami makna ayat di atas, diperjelas firman-Nya:
{وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَىٰ إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ}
”Dan tidaklah engkau mengharap Al-Qur’an diturunkan kepadamu, melainkan sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al-Qashash [28]: 86)

Lihat pula QS. Al-’Ankabût [29]: 51, dimana keduanya memperjelas tidaklah Allah mengutus Muhammad -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- kecuali sebagai rahmat bagi ciptaan-Nya dengan apa-apa yang terkandung dalam al-Qur’an al-Karim ini. Yakni kebaikan yang terkandung dalam ajaran-ajaran-Nya. Para ulama mu’tabar pun menjelaskan rahmat dalam ayat tersebut berkaitan dengan penerapan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan sebagai tuntutan akidah Islam yang diemban Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-. Di antaranya ulama nusantara yang mendunia, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H):
وما أرسلناك يا أشرف الخلق بالشرائع، إلّا رحمة للعالمين أي إلّا لأجل رحمتنا للعالمين قاطبة في الدين والدنيا
”Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syari’at-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”

Dan kita temukan bahwa ia berkaitan dengan kedudukan Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- sebagai pengemban risalah Islam, akidah dan syari'ah. Artinya rahmat dalam ayat di atas mengandung konotasi al-khayr (kebaikan) dengan ditegakkannya ajaran Islam. Atau dalam penjelasan Al-'Allamah Taqiyuddin al-Nabhani yakni dar'u al-mafâsid wa jalb al-mashâlih (menolak kerusakan-kerusakan dan mewujudkan kemaslahatan-kemaslahatan).

Ketiga, Lalu apakah penerapan sebagian syari'at merupakan rahmat itu sendiri. Penerapan setiap hukum syari'at merupakan kebaikan, di balik syari'at shalat maka mengandung kebaikan bagi ahlinya, begitu pula dibalik syari'at shaum. Dan bentuk kebaikan yang disebutkan dalam nash al-Qur'an atau al-Sunnah, itulah yang disebut oleh Al-'Allamah Taqiyuddin al-Nabhani sebagai hikmah, misalnya hikmah dibalik penegakkan syari'at shalat disebutkan dalam QS. Al-'Ankabut [29]: 45:
{إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ}
”Sesungguhnya shalat itu mencegah (pelakunya) dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-'Ankabut [29]: 45)

Bahwa shalat yang ditegakkan, mengandung hikmah membuahkan sikap jauh dari perbuatan fahisyah (keji) dan mungkar. Begitu pula dengan kebaikan di balik syari'at jihad, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 216:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 206)

Namun kembali kepada poin pertama dan kedua bahwa walau bagaimanapun setiap muslim dituntut untuk menegakkan syari'at Islam kâffah, totalitas dalam kehidupannya dengan segenap kemampuannya. Dimana sempurnanya kebaikan lahir dari sempurnanya penerapan Islam, dan penerapan Islam sempurna dengan tegaknya al-Khilafah al-Islamiyyah, dimana tidak sedikit syari'at Islam yang berkaitan dengan keberadaan negara, sebagaimana penjelasan para a'immah umat ini.

Tak samar kewajiban menegakkan syari’at Islam kâffah (totalitas) dalam QS. 2: 208. Maka Islam adalah rahmat bagi semesta alam dengan ajaran-ajarannya, Islam adalah rahmat dengan syari’at shaum (QS. 2: 183) sebagaimana ia pun rahmat (kebaikan hakiki) dengan keseluruhan syari’atnya; syari’at qishash (QS. 2: 178) dan syari’at jihad dalam QS. 2: 216 dimana ayat ini dan QS. 21: 107 pun menjadi dalil kaidah syar’iyyah:
حيثما يكون الشرع تكون المصلحة
”Dimana tegak syari’at maka akan ada kemaslahatan.”

Dimana kata al-syar'u dalam kaidah di atas pun disebutkan dalam bentuk tunggal (mufrad).
والله أعلم بالصواب