30 April 2016

Buletin Dakwah Al-Islam Hizbut Tahrir, Mengapa Tidak?! (Testimoni)


Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
(Penulis Buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia)

إِنَّ الْحَمْدَ للَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاه، وَبَعْد
        Alhamdulillah, salah satu buletin dakwah yang patut untuk diapresiasi, didukung dan disebarkan adalah buletin dakwah Al-Islam yang diterbitkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia, yang merupakan bagian dari Hizbut Tahrir secara internasional. Hizbut Tahrir sendiri memiliki tujuan agung dalam perjuangannya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ta’rif Hizb al-Tahrîr:
غاية حزب التحرير هي استئناف الحياة الإسلامية، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم. وهذه الغاية تعني إعادة المسلمين إلى العيش عيشًا إسلاميًا في دار الإسلام، وفي مجتمع إسلامي، بحيث تكون جميع شؤون الحياة فيه مسيرة وفق الأحكام الشرعية 
”Tujuan Hizbut Tahrir adalah melanjutkan kehidupan Islam, dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Dan tujuan ini yakni (terwujud) dengan mengembalikan kaum muslimin kepada kehidupan islami dalam naungan Dâr al-Islâm, dalam masyarakat islami, dimana seluruh urusan kehidupan di dalamnya sejalan dengan hukum-hukum syar’iyyah.”[1]
Salah satu media dakwah yang digunakan HTI adalah media berupa buletin dakwah, yakni buletin Dakwah al-Islam yang sejauh ini semakin berkembang, menyebar ke pelosok-pelosok daerah di banyak wilayah di Indonesia, bi fadhlillâhi Ta’âlâ-, seiring sejalan dengan perkembangan dakwah HTI itu sendiri dan meluasnya penerimaan dan dukungan masyarakat dari berbagai level dan status sosial.
Dan berangkat dari interaksi saya dengan buletin Dakwah Al-Islam, ada sejumlah kesaksian yang bisa saya sampaikan secara umum atas buletin dakwah ini, sekaligus mengingatkan –jika ada- orang yang ragu menerima buletin dakwah ini dengan beragam motifnya.

A.  Mengenal Buletin Dakwah Al-Islam Hizbut Tahrir Sebenar-Benarnya
          Ketika tahun 2000-an, saya termasuk orang yang tertarik melihat buletin dakwah al-Islam pada pandangan pertama, meski sebenarnya ketika pertama kali melihatnya di Masjid Agung Cianjur –jika tidak keliru ketika ba’da shalat Jum’at- saya belum bergabung bersama barisan Hizbut Tahrir, namun ketertarikan itu muncul secara alami bagian dari kecintaan terhadap Islam itu sendiri, bagaimana mungkin tidak tertarik? Padahal inilah yang saya temukan:
Pertama, Logo yang secara tegas menyi’arkan panji dengan tulisan kalimat tauhid, syahâdatayn, dan jika kita buka kitab para ulama, maka akan kita temukan bahwa ia adalah panji Rasulullah SAW, panji yang seakan dilupakan digantikan dengan bendera-bendera Nation State.
          Dan ia merupakan salah satu bentuk syi’ar Islam, dimana umat ini kini terpecah belah dalam sekat Negara Bangsa (nation state) warisan penjajah, jauh dari persatuan, dan tidak lagi mengenal bentuk negara dan bendera yang diajarkan Rasulullah SAW, hal ini sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, salah satunya hadits  dari Ibnu ‘Abbas r.a.:
كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ. 
“Bendera (liwâ’) Rasulullah SAW berwarna putih, dan panjinya (râyah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak[2])
Dan mengagungkan dan menjunjung tinggi syi’ar ini bagian dari apa yang Allah firmankan: 
{ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ}   
”Demikianlah (perintah Allah) dan siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu. (QS. Al-Hajj [22]: 32)
Yakni sikap yang lahir dari ketakwaan kepada Allah, Syaikh Muhammad Nawawi bin ’Umar al-Syafi’i (w. 1316 H) pun menjelaskan di antara sifat terpuji (الصفات المحمودية) yang tentunya melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah (تعظيم شعائر الله) yakni syi’ar-syi’ar Din-Nya, dan yang dimaksud dengan al-sya’âir adalah konteks tempat dimana Din ini ditegakkan.[3] Dalam ulasan lainnya Syaikh Nawawi mencontohkan misalnya Masjid, Shafa - Marwah,’Arafah dan yang semisalnya.[4] Namun panji, bendera seperti ini pun bagian dari syi’ar Islam.
Kedua, Buletin ini pun jelas merupakan buletin dakwah, dakwah menyeru kepada penegakkan syari’ah, menyeru umat ini melanjutkan kehidupan Islam totalitas (kâffah). Hal itu sejalan dengan ayat al-Qur’an yang menjadi syi’ar utama buletin ini:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ}  
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfâl [8]: 24)
          Menurut al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H), para ulama berselisih pendapat dalam menakwilkan kalimat (إذا دعاكم لما يحييكم), al-Saddiy menyebutkan yakni kepada al-Islam, Imam Mujahid menyebutkan yakni kepada kebenaran, ada pula yang menakwilkan yakni kepada al-Qur’an, sebagaimana perkataan Imam Qatadah yang mengungkapkan:
هو هذا القرآن، فيه الحياة والثقة والنجاة والعصمة في الدنيا والآخرة
“Yakni al-Qur’an ini, di dalamnya terdapat kehidupan, keyakinan,  keberhasilan dan keterjagaan di dunia dan akhirat.”[5]
          Bukankah isi buletin ini menyeru umat kepada al-Islam (akidah dan syari’ah)? Kebenaran? Keimanan dan Al-Qur’an? Ya, dan hal itu perkara yang tidak samar bagi mereka yang jujur. Jika di dalamnya ada kritik yang disampaikan, sesungguhnya ia bagian dari upaya menegakkan perbuatan melarang dari kemungkaran, menyelamatkan umat dari keburukan baik berupa syubhat dan makar kaum kuffar dan kaum munafik, lalu jika di dalamnya terdapat koreksi kepada penguasa, sesungguhnya ia bagian dari aktivitas muhâsabah li al-hukkâm.[6]
Sesungguhnya Hizbut Tahrir, bergerak di tengah-tengah umat, mengharapkan kebaikan bagi mereka karena Allah, menunaikan firman-Nya:    
{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}
”Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada al-khayr (al-Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli Imrân [3]: 104)
Dimana ulama nusantara yang mendunia, guru dari para masyayikh pesantren di Indonesia, Al-’Allamah Al-Syaikh Nawawi al-Bantani al-Syafi’i –dan para ulama lainnya- menjadikan ayat ini sebagai dalil wajibnya menegakkan al-amr bi al-ma’rûf wa al-nahy ’an al-munkar, dan meninggalkan perbuatan melarang dari kemungkaran termasuk kemaksiatan lisan.[7]
Lalu timbul pertanyaan kepada oknum yang tidak mau menerima buletin dakwah ini, mengapa ”takut” buletin dakwah al-Islam dengan menolaknya?! Apakah anda memiliki hujjah kelak di hadapan Allah dengan menjegal masuknya buletin dakwah ini yang artinya menjegal dakwah?!

B.  Hati-Hati Was Was Syaithan Yang Membuat Ragu Menerima Buletin Dakwah Al-Islam?
Mengapa “takut” dengan buletin dakwah al-Islam yang diterbitkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)? Hati-hati dengan was was syaithan yang membuat ragu untuk menerima buletin dakwah Al-Islam ini. Keraguan dan penolakan seperti ini bisa muncul dari motif-motif sebagai berikut:
Pertama, Ketidakpahaman terhadap isi buletin dakwah ini, namun mengedepankan prasangka buruk.
Kedua,  Kesalahpahaman terhadap isi buletin dakwah ini, dan ini bisa terjadi karena salah info dan tidak mau ber-tabayyun.
Ketiga, Kebencian terhadap buletin dakwah ini, dan ini bisa terjadi pada dua golongan:
·         Golongan kaum muslimin yang fanatisme buta pada golongan atau madzhabnya (ta’ashshub atau ‘ashabiyyah hizbiyyah) dan menyesatkan kaum muslimin lain di luar madzhab atau kelompoknya sehingga menolak setiap media dakwah dari pihak lain.
·         Golongan kaum munafikin yang benci pada dakwah Islam, ini ragam jenisnya, namun sama motifnya.

Pertama, Ketidakpahaman Terhadap Isi Buletin Dakwah Al-Islam Mengedepankan Prasangka Buruk
          Penolakan terhadap buletin dakwah al-Islam bisa terjadi karena ketidakpahaman terhadap isi buletin dakwah al-Islam, namun mengedepankan kecurigaan dan prasangka buruk, ini tergambar dalam ungkapan Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H):
النَّاس أَعدَاء مَا جهلوا   
“Manusia (terkadang-pen.) menjadi musuh atas apa-apa yang tidak mereka ketahui.”[8]
Hal ini tercela, karena penolakan yang didasari oleh ketidaktahuan pasti dilatarbelakangi oleh prasangka buruk, dan prasangka buruk, sebagaimana firman-Nya:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ} 
Wahai orang-orang yang beriman jauhilah oleh kalian sebagian besar dari prasangka, karena sebagian darinya merupakan perbuatan dosa.” (QS. Al-Hujurât [49]: 12)
Ayat ini menyeru orang-orang yang beriman, dengan perintah menggunakan kata ijtanib yang lebih mendalam dan kuat maknanya daripada kata utruk, yang maknanya adalah “jauhilah”, artinya ayat yang agung ini mengandung larangan atas prasangka buruk. Dan kalimat (إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ) yang menyifati prasangka buruk sebagai perbuatan dosa, menjadi indikasi tegas atas larangan dalam ayat ini, sehingga larangan dalam ayat ini merupakan tuntutan tegas untuk meninggalkan prasangka buruk, yang menunjukkan bahwa hukumnya haram.
Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) ketika menjelaskan kata ijtanibuu menegaskan bahwa ia merupakan ungkapan tentang perkara yang harus mereka tinggalkan, dan maknanya lebih kuat (ablagh) daripada kata utruk (tinggalkanlah) (وذلك أبلغ من قولهم: اتركوه).[9] Karena kata ijtnib tak sekedar perintah untuk meninggalkan melainkan perintah untuk menjauhinya (meninggalkan sejauh-jauhnya). Dan Allah ‘Azza wa Jalla menggunakan kata ijtanib dalam ayat yang agung di atas untuk melarang prasangka buruk. Maka sudah semestinya kita menjauhinya.

Kedua, Kesalahpahaman Terhadap Isi Buletin Dakwah Al-Islam Karena Enggan Bertabayyun
          Kesalahpahaman terhadap buletin dakwah al-Islam bisa juga muncul karena salah info dan tidak mau ber-tabayyun (cek ulang, mengkaji faktanya), enggan mengkonfirmasi kepada pihak Hizbut Tahrir. Maka dalam kasus ini, saya ingatkan dengan firman Allah ’Azza wa Jalla:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ}
”Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu seseorang yang fasik membawa berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurât [49]: 6)
Ayat ini menyeru orang-orang beriman untuk melakukan konfirmasi terhadap kebenaran suatu berita jika datang padanya berita buruk mengenai saudaranya dari orang yang fasik, yang tidak bisa dipercaya. Karena makna tabayyun itu mendekati makna tatsabbut (mencari kebenaran), yakni tidak tergesa-gesa hingga benar-benar mengetahui, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Farra (w. 207 H)[10], atau dalam penjelasan al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) yakni tidak tergesa-gesa hingga mengetahui kebenarannya dan tidak tergesa-gesa menerima berita tersebut.[11]
Atau sebagaimana disebutkan Imam Abu al-Muzhaffar al-Sam’ani (w. 489 H) yakni meninggalkan ketergesa-gesaan, merenungkan dan menyikapinya dengan hati-hati dalam urusan tersebut.[12] Karena ketergesaan bisa jadi timbul dari kebodohan dan kebingungan, dari Ibnu Wahb, ia mengatakan telah mendengar Imam Malik berkata:
الْعَجَلَةُ فِي الْفَتْوَى نَوْعٌ مِنَ الْجَهْلِ وَالْخُرْقِ
”Ketergesa-gesaan dalam berfatwa merupakan jenis kebodohan dan keraguan.”[13]
Hal itu tergambar dari sikap sebagian oknum yang menolak buletin dakwah karena ketidakpahaman terhadap isi buletin namun bersegera memfatwakan tidak boleh disebarkan dan lain sebagainya.
Sesungguhnya Hizbut Tahrir terbuka untuk dikonfirmasi mengenai jati dirinya dan pemikirannya sebagaimana diungkapkan oleh Amir Hizbut Tahrir, al-’Alim al-Syaikh ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah –hafizhahullâh-, dalam tanya jawab mengenai pemikiran HT:
إننا نرحب بأي نقاش هادف على أن يكون مبنياً على ما ورد في كتبنا من أفكار وأحكام… وليس ما قيل عنا في كتب أخرى من افتراءات… أي أننا نقبل أن تقول: جاء في كتابنا كذا…، وبعد ذلك قل ما شئت من سؤال عليه أو انتقاد له، ونحن نجيبك بإذن الله، لكن لا نقبل إضاعة الوقت في نقل ما افتراه علينا بعض الحاقدين على الإسلام، فتسألنا عنه كأن تقول: جاء في كتاب فلان أنكم كذا وكذا… فهذا ما لا نحب أن نضيع الوقت فيه، بل نكل أمر المفترين إلى العزيز القهار. 
“Kami menyambut baik diskusi apapun yang berarti dan berguna dengan dasar dibangun di atas apa yang dinyatakan di buku-buku kami, baik pemikiran maupun hukum … dan bukan yang dikatakan tentang kami di buku-buku lain di antara hal-hal yang dibuat-buat … Artinya kami menerima dikatakan: di buku kami dikatakan demikian … Dan setelah itu, silahkan Anda katakan apa yang Anda inginkan, baik pertanyaan terhadapnya atau kritik atasnya, dan kami akan menjawabnya, dengan izin Allah. Akan tetapi kami tidak menerima untuk menyia-nyiakan waktu dalam mengutip apa yang dituduhkan terhadap kami oleh sebagian orang yang dengki terhadap Islam, lalu Anda tanyakan tentangnya kepada kami seperti Anda katakan: di buku Fulan dikatakan bahwa Anda begini dan begitu… Ini sesuatu yang tidak kami sukai untuk menyia-nyiakan waktu membahasnya, sebaliknya kami serahkan urusan orang-orang yang membuat-buat kebohongan itu kepada Zat yang Maha Perkasa dan Maha Mengalahkan.”     [14]
          Lalu beliau pun menegaskan di akhir jawabannya:
إننا يا أخي لم نضع في كتبنا كلمة إلا بعد دراسة مستوفاة بالأدلة وبوجه الاستدلال… لهذا فنحن على استعداد للمناقشة فيها والجواب على أي استفسار حولها.
“Kami ya Akhi, tidak menempatkan di buku kami kecuali setelah dikaji secara cukup dengan dalil-dalil dan arah istidlalnya … Untuk itu kami siap berdiskusi tentangnya dan menjawab atas permintaan penjelasan apapun seputarnya.”[15]

Ketiga, Kebencian Terhadap Buletin Dakwah Al-Islam Karena Fanatisme Buta Terhadap Golongannya
          Allah ’Azza wa Jalla memperingatkan:
{يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَداءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِما تَعْمَلُونَ}
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 8)
          Ayat ini seruan bagi orang-orang beriman, dimana Allah ’Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk bersikap adil baik dalam perbuatan maupun ucapan, sebagaimana ditegaskan oleh Muhyis-Sunnah al-Imam al-Baghawi al-Syafi’i (w. 510 H):
أَمَرَهُمْ بِالْعَدْلِ وَالصِّدْقِ فِي أَفْعَالِهِمْ وَأَقْوَالِهِمْ
“Allah memerintahkan mereka bersikap adil dan jujur baik dalam perbuatan-perbuatan mereka maupun perkataan-perkataannya.”[16]
          Dan makna (عَلى أَلَّا تَعْدِلُوا) yakni meninggalkan berbuat adil terhadap mereka dikarenakan permusuhan terhadap mereka.[17] Allah ‘Azza wa Jalla pun dalam ayat ini menurut al-Baghawi, memerintahkan berbuat adil baik terhadap kawan maupun lawan[18], dan hal tersebut merupakan ketakwaan.[19]
Bukankah menuduh tanpa bukti merupakan fitnah? Dan fitnah itu sendiri merupakan kemaksiatan lisan, yang menunjukkan ucapan yang tidak adil atau zhalim. Ayat ini pun, mengandung isyarat bahwa kebencian bisa menjadi sebab seseorang berlaku tidak adil. Adil merupakan kebalikan dari zhalim. Zhalim itu sendiri merupakan perbuatan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dan kita sudah selayaknya berlindung kepada Allah dari sikap tercela ini.

C.  Khatimah
          Diakui atau tidak, disadari atau tidak, perbuatan gegabah menolak buletin dakwah jelas merupakan perbuatan menghambat dakwah yang diharamkan oleh syari’ah, kelak orang semacam ini mesti mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Terlebih jika materi dakwah yang disampaikan dalam buletin tersebut diperlukan oleh umat dimana pihak penolak buletin dakwah ini pada saat yang sama tidak mampu memahamkan umat terhadap permasalahan serupa yang terkandung dalam materi buletin dakwah.
          Maka, saya mengajak para pembaca untuk menerima buletin Dakwah Al-Islam ini tanpa ada keraguan, syubhat dan prasangka. Silahkan baca dengan penuh keikhlasan, jauh dari prasangka buruk, niscaya para pembaca akan menemukan bahwa buletin ini tidaklah berbicara kecuali untuk meninggikan kalimat Allah hingga setinggi-tingginya, memperjuangkan Al-Islam demi mengharapkan keridhaan-Nya, sesungguhnya ia yâ ikhwah fillâh, menunaikan seruan firman Allah ’Azza wa Jalla: 
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ}
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaihan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)





[1] Hizbut Tahrir, Hizbut Tahrîr, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1431 H, hlm. 23.
[2] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak ‘alâ al-Shahîhayn (II/105, hadits no. 2506)
[3] Muhammad Nawawi bin Umar, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq fî Syarh Sullam al-Tawfîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 103
[4] Ibid, hlm. 125.
[5] Muhammad bin Jarir Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz XIII, hlm. 463-464.          
[6] Lalu jika ada yang mengklaim bahwa pihak yang menerbitkan buletin ini adalah golongan sesat, maka tuduhan itu kembali kepada penuduh sendiri yang wajib menyodorkan bukti-buktinya. Jika tidak maka ia kelak menanggung dosa memfitnah saudara muslim lainnya.
[7] Ibid, hlm. 125.
[8] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Qawâ’id al-‘Aqâ’id, Lebanon: ‘Âlam al-Kutub, cet. II, 1405 H, hlm. 101.
[9] Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad (Al-Raghib al-Ashfahani), Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. I, 1412 H, juz I, hlm. 206.
[10] Abu Zakariya Yahya bin Ziyad al-Daylami al-Farra’, Ma’âniy al-Qur’ân, Mesir: Dâr al-Mishriyyah, cet. I, t.t., juz III, hlm. 31.
[11] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz ke-22, hlm. 286.
[12] Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad al-Sam’ani, Tafsîr al-Qur’ân, Riyadh: Dâr al-Wathan, cet. I, 1418 H, juz V, hlm. 217.
[13] Ahmad bin al-Husain Abu Bakr al-Bayhaqi, Al-Madkhal ilâ al-Sunan al-Kubrâ’, Kuwait: Dâr al-Khulafâ’, hlm. 437, atsar no. 817; Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Syarh al-Sunnah, Damaskus: al-Maktab al-Islâmiy, cet. II, 1403 H, juz I, hlm. 306.
[14] Dalam Jawab Soal Seputar Penolakan Hizbut Tahrir dan Amirnya atas Berbagai Kritik dan Koreksi, 14 Rajab 1434/ 24 Mei 2013.
[15] Ibid.
[16] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi al-Syafi’i, Ma’âlim al-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabiy, cet. I, 1420 H, juz II, hlm. 28.
[17] Ibid.
[18] Ibid.
[19] Ibid.

28 April 2016

Tanya Jawab Makna Islam Rahmatan Lil Alamin & Penerapan Setiap Hukum Syari’at


Tanya Jawab dalam Grup Telegram Arsip Kajian Tsaqafah
Join telegram: Link

Pertanyaan

Ustadz sy sdh baca maqolah antum tentang  makna rahmatan lil alamin menurut ulama mu'tabar. apa benar kesimpulan saya : dengan kaidah حيثما يكون الشرع  dan seterusnya bahwa setiap hukum Islam atau secara totaltas membawa rahmat bagi manusia. siapa yang ngerjakan sholat berarti dia dapat rahmat dai syari'at sholat (tentu sesuai tuntunan Islam), siapa yang shaum maka dia mendapatkan rahmat dari syari'at shaum itu dst.

Lalu pertanyaan saya adalah bagaimana dengan umat saat ini yang mereka menerapkan sebagian hukum Islam dalam bidang ibadah mahdhoh, akhlaq, malbusat, mathumat sementara mereka tidak berhukum dengan Islam dalam persoalan muamalah dan uqubah, apakah mereka masih mendapatkan rahmat dengan keadaan spt ini?
Sdr. Irwan

Jawaban

Mengenai soal makna kata rahmat dalam QS. Al-Anbiya' [21]: 107 dan kaidah tersebut. Dan tentang apakah penerapan sebagian syari'at merupakan rahmat pula, maka bi tawfiqillah, yang ana pahami sebagai berikut:

Pertama,  Yang perlu ditekankan ketika berbicara mengenai penerapan syari'at bahwa hal itu merupakan upaya menunaikan segala kewajiban dari Allah 'Azza wa Jalla demi mengharapkan keridhaan-Nya dan bukan mengharapkan materi duniawi semata. Dan menerapkan syari'ah merupakan konsekuensi tauhid, akidah dimana dalil-dalil syara' menunjukkannya:
Misalnya dalil QS. Al-Baqarah [2]: 208:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ}
“Wahai orang-orang yang beriman masuklah ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaithan, karena ia adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Dalam ayat ini, khithâb (seruan) dari Allah, menyeru orang-orang yang beriman, memerintahkan mereka untuk menegakkan Islam totalitas, karena sebagaimana penafsiran para ulama, kata al-silm (السلم) dalam ayat tersebut meskipun ia termasuk lafazh musytarak (lafazh yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna), namun yang ditarjih bermakna al-Islam. Dan kata (كافة) bermakna (مانع لأجزائه من التفرق) yakni sesuatu yang menghalangi untuk dipecah-pecah ke dalam pecahan.

Dan isyarat dalam QS. Al-Nisâ’ [4]: 65:
{فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا}
“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 65)

Dalam ayat di atas, terdapat petunjuk bahwa keimanan berkaitan dengan keridhaan menegakkan hukum syari'at. Dimana ayat di atas diawali dengan qassam (sumpah) yang dalam ulasan ilmu balaghah, ia berfaidah menegaskan (tawkid) dan mengandung penekanan atas perkara yang muqsam 'alayh (yang menjadi maksud dari qassam tersebut), bahwa mereka tidak beriman hingga menjadikan Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- sebagai hakim atas perkara yang diperselisihkan. Dan menjadikan Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- sebagai hakim maknanya adalah berhukum dengan wahyu, al-Qur'an dan al-Sunnah, menegakkan keduanya dalam kehidupan.

Syaikh Nawawi bin Umar al-Bantani al-Syafi'i, yang merupakan ulama nusantara yang mendunia, dimana kitab-kitabnya merupakan salah satu rujukan di dunia pesantren menegaskan wajibnya menegakan dinul Islam, akidah syari'ah, dan berpegang teguh padanya hingga maut menjemput, dan konsisten menegakkan konsekuensi akidah (keimanan) yakni menegakkan hukum-hukum syari'ah Islam, dimana beliau menjelaskannya dalam salah satu kitabnya, Mirqât Shu'ûd al-Tashdîq fi Syarh Sullam al-Tawfîq menjelaskan:
(يجب) وجوبًا محتمًا (على كافة المكلفين) أي جميعهم (الدخول في دين الإسلام)... (والتزم) أي قبول (ما) أي شيء (لزم) أي ثبت (عليه) أي كافة المكلفين (من الأحكام) وهي ما بينه الله تعالى لنا على لسان نبيه مما يتعلق بأفعال المكلفين، وهو الواجب والسنة والمباح والمكروه والحرام
”(Wajib) dengan kewajiban yang pasti (atas seluruh orang yang mukallaf (dikenal taklif kewajiban) yakni seluruhnya (masuk ke dalam Dinul Islam)... dan (berpegang teguh) yakni menerima (apa-apa) yakni hal (lazim) yakni yang ditetapkan (atasnya) yakni atas seluruh orang yang mukallaf (berupa hukum-hukum) yakni apa-apa yang Allah jelaskan kepada kita melalui lisan Nabi-Nya berupa hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan orang yang telah ditaklif, berupa hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.” (Nawawi bin Umar al-Syafi’i, Mirqât Shu'ûd al-Tashdîq fi Syarh Sullam al-Tawfîq, hlm. 8)

Kedua, Mengenai makna kata rahmat, maka bagi para pembaca, silahkan tela'ah makna lengkapnya di sini: Link

Bahwa ia satu kata yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna. Dan makna yang dimaksud dalam QS. Al-Anbiya' [21]: 107, mesti ditarjih dengan indikasi dari dalil-dalil lainnya.

Kata al-rahmah adalah mashdar (derivat) dari kata kerja rahima, dan ia berkedudukan sebagai tujuan pengutusannya (maf’ûl li ajlihi) atau sebagai keterangan (hâl) bahwa Muhammad -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- adalah al-rahmah yang menguatkan kedudukan beliau -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- (mubâlaghah), dan dalam konteks penggunaan istilah ini Imam Al-Raghib al-Ashfahani menguraikan bahwa ia terkadang berkonotasi al-riqqah (kelembutan) atau berkonotasi al-ihsân (kebajikan). Atau al-khayr (kebaikan) dan al-ni’mah (kenikmatan). Maka ia termasuk satu lafazh yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (lafzh musytarak) yang pemaknaannya ditentukan indikasi lainnya.

Memahami makna ayat di atas, diperjelas firman-Nya:
{وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَىٰ إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ}
”Dan tidaklah engkau mengharap Al-Qur’an diturunkan kepadamu, melainkan sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al-Qashash [28]: 86)

Lihat pula QS. Al-’Ankabût [29]: 51, dimana keduanya memperjelas tidaklah Allah mengutus Muhammad -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam- kecuali sebagai rahmat bagi ciptaan-Nya dengan apa-apa yang terkandung dalam al-Qur’an al-Karim ini. Yakni kebaikan yang terkandung dalam ajaran-ajaran-Nya. Para ulama mu’tabar pun menjelaskan rahmat dalam ayat tersebut berkaitan dengan penerapan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan sebagai tuntutan akidah Islam yang diemban Rasulullah -shallaLlâhu 'alayhi wa sallam-. Di antaranya ulama nusantara yang mendunia, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H):
وما أرسلناك يا أشرف الخلق بالشرائع، إلّا رحمة للعالمين أي إلّا لأجل رحمتنا للعالمين قاطبة في الدين والدنيا
”Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syari’at-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”

Dan kita temukan bahwa ia berkaitan dengan kedudukan Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- sebagai pengemban risalah Islam, akidah dan syari'ah. Artinya rahmat dalam ayat di atas mengandung konotasi al-khayr (kebaikan) dengan ditegakkannya ajaran Islam. Atau dalam penjelasan Al-'Allamah Taqiyuddin al-Nabhani yakni dar'u al-mafâsid wa jalb al-mashâlih (menolak kerusakan-kerusakan dan mewujudkan kemaslahatan-kemaslahatan).

Ketiga, Lalu apakah penerapan sebagian syari'at merupakan rahmat itu sendiri. Penerapan setiap hukum syari'at merupakan kebaikan, di balik syari'at shalat maka mengandung kebaikan bagi ahlinya, begitu pula dibalik syari'at shaum. Dan bentuk kebaikan yang disebutkan dalam nash al-Qur'an atau al-Sunnah, itulah yang disebut oleh Al-'Allamah Taqiyuddin al-Nabhani sebagai hikmah, misalnya hikmah dibalik penegakkan syari'at shalat disebutkan dalam QS. Al-'Ankabut [29]: 45:
{إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ}
”Sesungguhnya shalat itu mencegah (pelakunya) dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-'Ankabut [29]: 45)

Bahwa shalat yang ditegakkan, mengandung hikmah membuahkan sikap jauh dari perbuatan fahisyah (keji) dan mungkar. Begitu pula dengan kebaikan di balik syari'at jihad, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 216:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 206)

Namun kembali kepada poin pertama dan kedua bahwa walau bagaimanapun setiap muslim dituntut untuk menegakkan syari'at Islam kâffah, totalitas dalam kehidupannya dengan segenap kemampuannya. Dimana sempurnanya kebaikan lahir dari sempurnanya penerapan Islam, dan penerapan Islam sempurna dengan tegaknya al-Khilafah al-Islamiyyah, dimana tidak sedikit syari'at Islam yang berkaitan dengan keberadaan negara, sebagaimana penjelasan para a'immah umat ini.

Tak samar kewajiban menegakkan syari’at Islam kâffah (totalitas) dalam QS. 2: 208. Maka Islam adalah rahmat bagi semesta alam dengan ajaran-ajarannya, Islam adalah rahmat dengan syari’at shaum (QS. 2: 183) sebagaimana ia pun rahmat (kebaikan hakiki) dengan keseluruhan syari’atnya; syari’at qishash (QS. 2: 178) dan syari’at jihad dalam QS. 2: 216 dimana ayat ini dan QS. 21: 107 pun menjadi dalil kaidah syar’iyyah:
حيثما يكون الشرع تكون المصلحة
”Dimana tegak syari’at maka akan ada kemaslahatan.”

Dimana kata al-syar'u dalam kaidah di atas pun disebutkan dalam bentuk tunggal (mufrad).
والله أعلم بالصواب

Tanya Jawab Mengenai Keutamaan QS. Al-Baqarah Sebagai Bacaan Perlindungan


Tanya Jawab dalam Grup Telegram Arsip Kajian Tsaqafah
Join telegram: Link


Pertanyaan
Asslamualykum..
ya ustdz ada Pertanyaan.
Apakah Menghatamkan Qs Al Baqoroh bisa menjadi media pengusir Jin di dlm tubuh org yg sedang gangguan?
Adakah Dalil yg menguatkan pendapat tersebut.
(Sdr. Edoy)

Jawab

Wa'alaykumussalam,wr,wb.

Pertama
, Mengenai keutamaan QS. Al-Baqarah, terutama 10 ayat di antaranya hal itu sudah direkomendasikan secara spesifik dalam al-Sunnah sebagai bacaan perlindungan dari Allah 'Azza wa Jalla:
«مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي بَيْتٍ لَمْ يَدْخُلْ ذَلِكَ الْبَيْتَ شَيْطَانٌ تِلْكَ اللَّيْلَة حَتَّى يُصْبِحَ، أَرْبَعَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِهَا، وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ، وَآيَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَخَوَاتِيمُهَا»
“Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari surat al-Baqarah dalam satu rumah, syaithân tidak akan masuk ke dalam rumah tersebut pada malam itu hingga datang waktu pagi, yaitu empat ayat pada awal surat ditambah ayat kursi dan dua ayat sesudahnya dilanjutkan dengan ayat di akhir surat’.” (HR. Muslim, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir, Ibn Hibbân dalam shahîh-nya)

Artinya, hadits ini mengandung isyarat bahwa ayat-ayat di atas berfungsi sebagai wiqâyah (perlindungan), dibaca dengan tadabbur dan keyakinan pada Allah, serta tawakal pada-Nya. Jika dimaksudkan sebagai terapi ruqyah, maka pembacaan mesti disertai tiupan atau hembusan nafas. Karena itulah yang membedakan antara ruqyah dengan tilawah atau qira'ah.

Ruqyah, sebagaimana disebutkan Dr. Muhammad Yusuf al-Jurani dalam kitab al-Ruqyah al-Syar’iyyah min al-Kitâb wa al-Sunnah al-Nabawiyyah:
هي تعويذ ( وقاية ) المريض بقراءة شيءٍ من القرآن الكريم وأسماء الله وصفاته مع الأدعية الشرعية باللسان العربي _ أو ما يعرف معناه _ مع النفث  ؛ لرفع العلة والمرض.
“(Ruqyah syar’iyyah) adalah do’a perlindungan (pencegahan) orang sakit dengan membaca ayat-ayat al-Qur’ân al-Karîm, asma-asma Allâh & sifat-sifat-Nya dan do’a-do’a syar’iyyah dengan bahasa arab -atau do’a-do’a yang tak berbahasa arab yang dipahami maknanya- dengan hembusan nafas (mengandung sedikit air ludah) untuk menghilangkan penderitaan dan penyakit.”

Kedua,
Adapun mengenai QS. Al-Baqarah dalam konteks umum, disebutkan dalam hadits lainnya, hadits dari Abu Hurairah -radhiyallâhu 'anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- bersabda:
«لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ»
”Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syaithân tidak pergi dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah.” (HR. Muslim (1774))

Dan dalam hadits riwayat Imam al-Tirmidzi, dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- bersabda:
«لا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ وَ إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ الْبَقَرَةُ لا يَدْخُلُهُ الشَّيْطَانُ»
”Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syaithân tidak memasuki rumah yang dibacakan surat al-Baqarah.” (HR. Al-Tirmidzi (2877), Abu Isa berkata: ”Hadits ini hasan shahih”, Ahmad (9030), Syu’aib al-Arna’uth: ”Hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim”)

Dan ia termasuk ke dalam keumuman bahwa al-Qur'an merupakan syifa' (penawar) dalam QS. Al-Isrâ [17]: 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ القُرْآنِ مَا هُوَ شِفاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْن
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.(QS. Al-Isrâ’ [17]: 82)

Dimana lafazh min dalam ayat ini menurut para ulama min li bayân al-jins (menjelaskan jenis) bukan bermakna min li tab'idh (sebagian), yang menunjukkan bahwa keseluruhan ayat al-Qur'an merupakan syifa' (penawar) dari Allah 'Azza wa Jalla.
Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah:
"والأظهر أن "من" هنا لبيان الجنس فالقرآن جميعه شفاء ورحمة للمؤمنين"
"Dan yang jelas bahwa lafazh min dalam ayat ini untuk menjelaskan jenis, maka al-Qur'an seluruhnya merupakan syifa' (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighâtsat al-Lahfân Min Mashâ'id al-Syaythân, Beirut: Dâr al-Ma'rifah, cet. II, 1395 H, juz I, hlm. 16)

Maka jelas bahwa surat al-Baqarah termasuk ke dalam keumuman keutamaan al-Qur'an sebagai syifa' (penawar) dalam ayat di atas. Diamalkan disertai pembenaran dan pengamalan kandungan ayat-ayat al-Qur'an, mencakup akidah dan syari'ah, tak sekedar membacanya sebagai do'a perlindungan namun dalam kehidupan sehari-hari jauh dari syari'at al-Qur'an dan al-Sunnah, semisal syari'at keharaman riba.

Ketiga, Namun perlu saya ingatkan bahwa ketika membaca al-Qur'an, termasuk mengkhatamkan QS. Al-Baqarah, niat yang menjadi landasannya adalah taqarrub ilaLlâh (mendekatkan diri pada Allah), bukan semata-mata demi mengharapkan kesembuhan. Karena ia termasuk ibadah. Ketika menjelaskan definisi Al-Qur’an para ulama, Dr. Samih ’Athif Al-Zayn menjelaskan: “(Al-Qur’an) dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya.” (Dr. Samih ’Athif Al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr Al-Kitab Al-Mishri, cet. I, 1999, hlm. 308)