11 Maret 2016

Menelusuri Akar Masalah & Solusi Keterpurukan Kaum Muslimin


Oleh: Irfan Abu Naveed
Tim Media & Tsaqafah DPD II HTI Kab. Sukabumi
Dipresentasikan Oleh: Herman Abu Abdullah[1]

U
mat ini merupakan umat terbaik yang Allah turunkan untuk umat manusia, maka keterpurukan umat ini merupakan sesuatu yang mesti dievaluasi secara mendalam, padahal Allah ’Azza wa Jalla menjadikan umat ini sebagai umat terbaik:
{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ}
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Âli Imrân [3]: 110)
            Umat yang terbaik tersebut memiliki karakteristik; menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Namun kita menemukan berbagai tragedi memilukan yang menimpa kaum muslimin; pelecehan kaum kafir dan kaum munafik atas Islam misalnya pelecehan terhadap mushhaf dan ajaran al-Qur’an, syari’at jihad dan syari’at khilafah yang distigma negatif di balik isu terorisme, penindasan atas kaum muslimin seperti kolonialisme Bangsa Yahudi -­la’natullâhi ’alayh- di Palestina, tragedi di Suriah dan lainnya. Serta fitnah tegaknya syi’ar-syi’ar jahiliyyah di tengah-tengah kaum muslimin misalnya syi’ar paganisme: patung-patung sesembahan kaum musyrikin yang dibangun di tempat-tempat publik di negeri ini[2], dan tersebarnya syi’ar kemaksiatan itu sendiri: legislasi riba di bawah UU Perbankan, perzinaan di balik lokalisasi pelacuran dan upaya-upaya massif kaum liberal untuk melegislasi penyimpangan LGBT. Semua itu tentu harus dievaluasi, dipahami akar permasalahannya dan dicarikan solusinya. Dan jika kita telusuri ada faktor internal dan eksternal terkait permasalahan ini:

Pertama, Faktor Internal: Lemahnya Konsistensi Pada Akidah & Syari’at Islam
Wajib dipahami benar-benar bahwa yang menjadi sebab kemuliaan kaum muslimin adalah Islam itu sendiri, berpegang teguh terhadap Islam merupakan sumber kemuliaannya, keagungannya dan keluhurannya, hal itu sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla:
{وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ}
”Dan bagi Allah kemuliaan itu dan bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Munâfiqûn [63]: 8)
Dan makna al-’izzah bagi orang-orang beriman dalam ayat di atas adalah pertolongan-Nya atas mereka untuk menghadapi musuh-musuh mereka dimana mereka meraih kemenangan, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Tsa’labi (w. 427 H).[3] Allah ’Azza wa Jalla pun berfirman:
{فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا}
“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)
Lalu bagaimana jika kaum muslimin meniti jalan orang-orang yang tersesat dari jalan yang lurus?! Jelas bahwa hal itu menjadi sebab kerugian dunia dan akhirat.
Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ صلى وَسَاءَتْ مَصِيرًا}
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir-pen.) kemudian Kami seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 115)
         Sebaliknya, siapa saja yang berpaling dari ajaran-Nya maka baginya penghidupan yang sempit, tidak ada keberkahan, yang ada keresahan dan kekhawatiran serta kesesatan sebagai akibat dari kehidupan yang jauh dari penerapan Islam. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ}
“Dan siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan kumpulkan ia pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thâhâ [20]: 124)
            Dalam tafsir yang dinisbatkan kepada Ibnu ’Abbas r.a., makna (وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي) yakni berpaling dari mentauhidkan-Ku, dan dikatakan pula yakni mengingkari Kitab Suci-Ku dan (sunnah) Rasul-Ku.[4] Sedangkan al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) menegaskan yakni menyelisihi perintah-Ku, dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku (wahyu), berpaling darinya, melupakannya dan mengambil selain petunjuknya. Dan makna (فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا) yakni di dunia tiada ketentraman baginya, tidak ada kelapangan dalam dadanya, bahkan dadanya terasa sempit, sesak dengan kesesatannya, dan jika zhahir-nya seseorang merasa cukup, mengenakan pakaian yang ia mau, memakan makanan yang ia mau, dan tinggal dimanapun ia mau, namun sesungguhnya qalbunya tidak mencapai keyakinan dan petunjuk, dan ia berada dalam kekhawatiran, kehampaan dan keraguan.[5] Allah ’Azza wa Jalla pun berfirman:
{وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا}
”Dan sekali-sekali Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada kaum kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 141)
Para ulama mu’tabar ketika menafsirkan ayat ini menegaskan bahwa syari’at Islam itu sendiri yang menjadikan kemenangan ada di tangan kaum muslimin, sebaliknya bahwa kemaksiatan kaum muslimin, dan meninggalkan perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran jelas memberikan peluang kepada musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya untuk menguasai kaum muslimin. Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) memaparkan perincian penafsiran ayat ini, di antaranya beliau mengingatkan bahwa sesungguhnya Allah –Ta’âlâ- tidak akan memberikan jalan bagi kaum kafir untuk menguasai orang-orang beriman kecuali jika mereka saling mendorong kepada kebatilan, tidak melarang dari kemungkaran dan menolak bertaubat maka terjadilah penguasaan musuh.[6] Berdasarkan firman-Nya:
{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ} 
”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka ia disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Al-Syûrâ [42]: 30)[7]
Menafsirkan ayat ini dan menggunakan dalil yang sama, Imam Muhammad bin ’Ali al-Syawkani (w. 1250 H) pun menyampaikan peringatan senada: “Sesungguhnya Allah –Ta’âlâ- tidak memberikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman, selama orang-orang beriman mengemban kebenaran, tidak ridha terhadap kebatilan dan tidak meninggalkan perbuatan melarang dari kemungkaran.”[8]
Benarlah apa yang disaksikan oleh ’Umar bin al-Khaththab –radhiyallâhu ’anhu- dalam atsar-nya:
إِنَّا قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلامِ فَلَنْ نَبْتَغِيَ الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ
”Kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka kami takkan pernah mencari kemuliaan dengan selainnya.”[9] 
Bukankah kita menyaksikan di zaman ini kaum yang meniti jalan kaum kafir Barat? Mereka kagum dan terpedaya pemikiran-pemikiran kufur Barat semisal liberalisme, sekularisme, pluralisme, feminisme, demokrasi, dan berdiri di barisan mereka yang menjaga dan menyebarkan pemikiran-pemikiran kufur tersebut, menyesatkan dirinya dan umat sejauh-jauhnya dari jalan yang lurus.

Kedua, Faktor Eksternal: Fitnah Sistem Demokrasi & Tersebarnya Pemikiran Kufur
Sepanjang sejarah peradabannya, kaum muslimin menghadapi banyak tantangan, namun belum pernah mereka menghadapi tantangan yang lebih serius daripada tantangan Peradaban Barat, peradaban yang terbukti menimbulkan bencana besar bagi umat manusia tak hanya bagi kaum muslimin, yang dinilai oleh Dr. Mushthafa bin Husni al-Siba’i (w. 1384 H), lebih berbahaya daripada Perang Dunia dan pendudukan kolonialis.[10] Mengapa? Karena bencana ini menimpa spiritualitas umat manusia, serta memperdaya bangsa-bangsa di dunia,[11] terlena dalam kenikmatan semu Peradaban Barat di balik slogan kebebasan (freedom). Hal itu disebabkan oleh kerusakan peradaban ini dari asas yang mendasarinya dan dari falsafah yang menjadi pandangannya[12]. Dimana sejarah Peradaban Barat pun tak bisa dilepaskan dari sejarah Filsafat Yunani, yang kemudian dibawa oleh Barat ke dunia Islam.[13] Filsafat yang berasaskan materialisme, jauh dari aspek spiritual (materialistic oriented)[14], dan mengingkari al-khabar al-shâdiq (wahyu) sebagai salah satu sumber ilmu dalam struktur keilmuannya (epistemologi). Ia bagian dari tsaqafah asing yang berbahaya, dimana para ulama telah memperingatkan kita darinya, salah satunya Imam Taqiyuddin al-Nabhani dalam ungkapannya: “Tsaqafah asing memiliki pengaruh yang besar dalam menyebarkan kekufuran dan imperialisme, tidak adanya keberhasilan dalam meraih kebangkitan, kegagalan gerakan-gerakan terorganisir, sama saja apakah gerakan sosial maupun politik, karena tsaqafah memiliki pengaruh yang besar terhadap pemikiran manusia, yang berpengaruh terhadap jalannya kehidupan.”[15]
Peradaban Barat pun tampil dengan slogan kemerdekaan dan kebebasan (freedom) menginvasi negeri-negeri kaum muslimin untuk mengelabui mereka, padahal slogan tersebut hanyalah kamuflase di balik pemikiran kufur liberalisme yang meracuni kaum muslimin dengan racun mematikan, bagaikan racun ular berbisa yang mengalir dalam darah dan cepat merusak tubuh manusia hingga menyebabkan kematian atau kelumpuhannya, hilanglah kemuliaannya, sirnalah kekuatannya, Allah al-Musta’ân. Maka memahaminya menjadi penting, sebagaimana dikatakan sya’ir yang dinukil Imam al-Ghazali (w. 505 H):
عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه
ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan # Melainkan untuk menghindarkan diri darinya.”
“Dan barangsiapa tidak mengetahui keburukan # Di antara manusia maka akan terjerumus ke dalamnya.[16]
Namun tumbuh suburnya pemikiran kufur yang melemahkan kaum muslimin terhadap Islam bukan tanpa sebab, bagaikan virus dan bakteri yang tumbuh cepat pada tempat yang tepat, begitu pula dengan pemikiran kufur, ia tumbuh subur bak cendawan di musim penghujan dalam sistem jahiliyyah Demokrasi warisan Barat, bagaimana tidak? Kaum muslimin dipaksa hidup dalam kungkungan sistem kehidupan yang tegak di atas asas sekularisme, memisahkan Islam dari pengaturan urusan kehidupan. Islam mengatur wilayah ritual peribadahan semata, sedangkan dalam pengaturan urusan kehidupan maka diserahkan kepada mereka yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang diberi kewenangan merumuskan dan menetapkan hukum, termasuk hukum-hukum yang menyelisihi Islam.
Di sisi lain hal itu pun sebagai konsekuensi buruk prinsip kebebasan dalam Demokrasi, sehingga banyak pelecehan terhadap ajaran Islam yang berlindung di balik kebebasan ini, didukung HAM yang merupakan salah satu propaganda sesat kaum kafir Barat. Kasus penghinaan-penghinaan keji kaum Liberal terhadap ajaran Islam yang agung adalah contoh paling telanjang, misalnya perkataan nyeleneh mereka tentang al-Qur’an dan lain sebagainya. Jika kita rinci bahayanya, maka secara personal pemikiran kufur Barat jelas merusak akidah, pemikiran dan perasaan seorang muslim hingga melahirkan kepribadian ganda (split of personality), ia merusak pola pikir seseorang hingga berujung pada lahirnya perbuatan mungkar, misalnya menjustifikasi LGBT dan kawin sejenis. Imam Taqiyuddin al-Nabhani menjelaskan: “Penjajah tidak sekedar menggunakan  tsaqafah, bahkan mereka meracuni masyarakat Islam dengan beragam pemikiran dan pandangan di bidang politik dan falsafah, yang merusak pandangan hidup kaum Muslim. Dengan itu mereka rusak suasana Islami yang ada serta mengacaukan pemikiran kaum Muslim dalam segala lini kehidupan. Dengan semua itu, hilanglah benteng pertahanan kaum Muslim yang alami.”[17]
         Dalam konteks kemasyarakatan, pemikiran-pemikiran kufur Barat melahirkan corak masyarakat yang oportunistik, pragmatis, hedonis, terjajah karena lemah komitmennya terhadap ajaran Islam serta lemah dalam melakukan kontrol sosial dan muhâsabah lil hukkâm, dan bahkan di antaranya menjadi pilar dan penjaga tegaknya sistem jahiliyyah. Dan inilah yang menjadi sebab utama kekalahan kaum muslimin[18], penghinaan demi penghinaan keji atas Islam dan simbol-simbolnya, penguasaan kaum kafir dan sekutunya atas mereka dan tegaknya sistem jahiliyyah. Dan dalam konteks bernegara, pemikiran kufur Barat melahirkan pemerintahan sekular yang memarjinalkan peran agama dalam pengaturan kehidupan (politik), atau dengan kata lain menjauhkan penerapan syari’ah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, memecah belah kaum muslimin dalam sekat-sekat Nation State warisan penjajah, dan tunduk di bawah arahan kaum kafir Barat, hal itu karena kaum kafir Barat, sebagaimana diungkapkan Imam Taqiyuddin al-Nabhani, berusaha agar para politikus atau orang yang bergerak dalam bidang politik mengarahkan pandangannya berkiblat pada perbuatan meminta bantuan Barat dan menyerahkan segala urusan kepadanya.[19] Dan inilah yang terjadi kita saksikan di zaman ini.
Imam Taqiyuddin al-Nabhani menjelaskan bahwa para penjajah -kaum kafir Barat- pun telah meracuni masyarakat dengan paham nasionalisme, patriotisme, sosialisme, sebagaimana mereka juga telah meracuni masyarakat dengan paham kedaerahan yang sempit. Penjajah telah menjadikan semua itu sebagai sumbu putar aktivitas-aktivitas yang bersifat sesaat. Demikian juga masyarakat diracuni dengan ilusi kemustahilan berdirinya Daulah Islam dan kemustahilan persatuan dan kesatuan negeri-negeri Islam karena katanya terdapat perbedaan kultur, penduduk, dan bahasa, sekalipun sesungguhnya mereka adalah satu umat yang terikat dengan akidah Islam, yang darinya terlahir peraturan hidup Islam. Selain itu mereka juga meracuni masyarakat dengan konsep politik yang keliru seperti slogan:  ‘Ambillah dan Mintalah’,  ‘Rakyat Adalah Sumber Kedaulatan’,  ‘Kedaulatan ada di Tangan Rakyat,  dan sebagainya. Mereka juga meracuni masyarakat dengan pemikiran-pemikiran yang salah seperti slogan: ‘Agama adalah Milik Allah’, ‘Tanah Air Milik Semua  Orang’, ‘Kita Dipersatukan oleh Penderitaan dan Cita-Cita’,  ‘Tanah Air di Atas Segalanya’,  ‘Kemuliaan bagi Tanah Air’, dan sejenisnya. Mereka juga meracuni masyarakat dengan pendapat-pendapat pragmatis yang klasik, seperti: ‘Sesungguhnya Kita Menggali Sistem Hidup Kita dari Kenyataan Hidup Kita’,  ‘Kita Harus Rela dengan Kenyataan Yang Ada’,  ‘Kita Harus Bersikap Realistis’, dan sejenisnya.[20]
Padahal jika ditela’ah secara mendalam, pemikiran-pemikiran kufur Barat sebenarnya sudah digugurkan oleh Islam dari asasnya, karena seluruh pemikiran ini bersumber dari hawa nafsu yang diperingatkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah, karena segala hal yang bertentangan dengan al-wahyu (Islam) pasti berasal dari al-hawâ’ sebagaimana isyarat agung dalam ayat:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ {٣} إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ {٤} 
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. Al-Najm [53]: 3-4)
Ungkapan ’an al-hawâ’ yakni bi al-hawâ’ (menurut hawa nafsunya).[21] Imam al-Sam’ani (w. 489 H) menjelaskan bahwa al-hawâ’ berkonotasi ghayr al-haq (selain dari kebenaran yakni kebatilan).[22] Ditegaskan firman-Nya:
{وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ}
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 48)
Ini sejalan dengan apa yang dituturkan dalam sya’ir:
وَاحْذَرْ هَوَاكَ تَجِد رِضَاهُ * فَإِنَّمَا أَصْلُ الضَّلاَلَةِ كُلّهَا الأَهْوَاء
Berhati-hatilah terhadap hawa nafsumu maka engkau temukan keridhaan-Nya * Karena sesungguhnya sumber kesesatan seluruhnya adalah hawa nafsu.”[23]
Mengadopsi pemikiran-pemikiran kufur Barat, bagian dari apa yang dikecam dalam firman-Nya:
{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ}
Siapa saja yang mencari selain Islam sebagai din-nya, maka tidak akan pernah diterima (din) itu darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Âli Imrân [3]: 85)
Dalam ayat di atas, kecaman di awali kata lan (فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ) yakni tidak akan diterima selama-lamanya (li ta’bîd) yang lebih kuat maknanya daripada kata [24], ini menjadi indikasi tegasnya kecaman dan peringatan dalam ayat yang agung ini bagi siapa saja yang mencari selain Islam sebagai dîn-nya; dimana kata dîn dalam ayat ini pun merupakan kata benda nakirah yang mempunyai makna umum (mubham)[25]; mencakup akidah, ideologi dan pemikiran kufur. Dipertegas peringatan dalam hadits, dari Ibnu ’Abbas –radhiyallâhu ’anhu-, ia berkata: “Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- bersabda:
لَتَتَّبِعُنَّ سنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ
“Sungguh kamu mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga salah seorang dari mereka masuk lubang biawak pun sungguh kamu mengikutinya.” (HR. Muslim[26])
Imam al-Mulla’ Ali al-Qari (w. 1014 H) menjelaskan makna سُنَنَ yakni jalan hidup, manhaj dan perbuatan mereka[27], dan suatu pemikiran jelas termasuk manhaj, jalan hidup yang khas lahir dari suatu peradaban. Dan hadits ini jelas mengandung larangan, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Taqiyuddin al-Nabhani[28], karena terdapat celaan atas perbuatan mengikuti manhaj dan pola pikir orang kafir. Karena dengan mengikuti manhaj dan pola pikir mereka, kaum muslimin terjangkit penyakit materialisme yang menyebabkan cinta dunia dan takut mati, hingga sulit berkorban memperjuangkan Islam dan hilanglah rasa takut dari musuh-musuh Islam terhadap mereka, benarlah apa yang disebutkan dalam hadits yang mulia:
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ «حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadap makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya, ”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, ”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagaikan buih seperti buih dalam gelombang lautan. Dan sungguh Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan Dia sungguh akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’.” Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya[29], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah[30])
            Wahn inilah yang diisyaratkan oleh Imam Taqiyuddin al-Nabhani sebagai penghadang laju dakwah untuk kebangkitan umat dalam ungkapannya: Kesulitan lain yang menghadang laju dakwah adalah sulitnya mengorbankan kehidupan dunia –berupa harta, perdagangan, dan sejenisnya- di jalan Islam dan dakwah Islam.”[31] Tentu kita berlindung kepada Allah darinya, wal ’iyâdzu billâh.

Apa yang Mesti Dilakukan?
Maka jelas bahwa dua faktor di atas menjadi faktor kelemahan dan keterpurukan kaum muslimin, sehingga tiada jalan lain kecuali dengan kembali memahami Islam dan menegakkannya dalam kehidupan sesuai dengan metode yang dicontohkan oleh Rasul-Nya, Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam-. Dan kita sebagaimana dituturkan sya’ir yang dinukil al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dan lainnya:
نَبْنِي كَمَا كَانَتْ أَوَائِلُنَا * تَبْنِي، وَنَفْعَلُ مِثْل مَا فَعَلُوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.[32]
Berdiri tegak menolong Din-Nya dan Rasul-Nya, dimana Allah –Ta’âlâ- berjanji meneguhkan kedudukan mereka dalam Islam dan dalam peperangan (jihad)[33] bagi mereka yang menolong Din-Nya:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ}
”Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)
Memahami ayat yang agung ini, dalam tinjauan ilmu balaghah, kalimat إن تنصروا الله yang menisbatkan pertolongan pada Allah sebenarnya termasuk bentuk majâz (kiasan)[34], bentuk al-îjâz bi al-hadzf (bentuk ungkapan dengan menghilangkan di antara bagiannya), seakan menisbatkan langsung pada Allah ’Azza wa Jalla, faidahnya ini sudah cukup menunjukkan besarnya kedudukan perbuatan dalam ayat di atas[35], padahal Allah Maha Kuasa, tidak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya sedikit pun, karena konotasinya mengandung beberapa makna: yakni menolong Dinullah dan jalan-Nya, menolong hizbullâh (kelompok pembela Dinullah)[36], serta menolong Rasul-Nya.[37]
Secara personal, setiap muslim wajib menegakkan prinsip al-wala’ wa al-bara’, loyal pada Islam dengan berupaya menegakkannya, dan ingkar pada pemikiran-pemikiran kufur, prinsip ini merupakan penjabaran dari prinsip ingkar pada thaghut dan beriman kepada Allah (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 256).
Seorang muslim pun tidak boleh mengadopsi pemikiran-pemikiran kufur Barat, melainkan wajib mengingkari dan mencampakkannya. Di Persia misalnya, Sa’ad bin Abi Waqqas –radhiyallâhu ’anhu-, panglima perang yang dikirim ’Umar ke sana telah menemukan buku-buku filsafat lama sebagai rampasan perang. Dari laporan Ibnu Khaldun (w. 808 H), Sa’ad sebenarnya ingin membawa buku-buku tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin, tapi keinginan ini langsung ditolak oleh ’Umar: Campakkan buku-buku itu ke dalam air. Jika apa yang terkandung dalam buku-buku tersebut adalah petunjuk yang besar, maka Allah telah memberikan kepada kita petunjuk-Nya yang lebih besar (al-Qur’an dan as-Sunnah). Jika ia berisi kesesatan, Allah telah memelihara kita dari bencana tersebut. Maka campakkanlah buku-buku tersebut ke dalam air atau ke dalam api.[38]
Dan secara kolektif, kita wajib memahamkan umat terhadap bahaya pemikiran-pemikiran ini yang jelas termasuk kemungkaran, sebagai bagian dari tanggung jawab al-amr bi al-ma’rûf wa al-nahy ’an al-munkar, menyelamatkan umat dari bahaya kemungkaran tersebut. Sikap ini pun ditunjukkan oleh ulama besar abad ke-19, Syaikhul Azhar Muhammad al-Khudhari Husain: Adapun orang-orang yang berpegangteguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka wajib bagi mereka memperingatkan (umat manusia) dari meridhai ajaran atheisme (termasuk pemikiran kufur lainnya) dimanapun berada, meski kaum atheis tersebut adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka.”[39]
Dan tak berhenti di sana, sesungguhnya tersebarnya pemikiran kufur di tengah-tengah umat ini terjadi karena umat hidup dalam sistem jahiliyyah Demokrasi dengan prinsip kebebasan yang menyuburkannya dan dipimpin oleh para pemimpin yang tunduk pada arahan-arahan kaum kafir Barat. Maka wajib bagi kita mengupayakan tegaknya syari’at Islam kâffah dengan thariqah menegakkan al-Khilâfah ’alâ Minhâj al-Nubuwwah, membai’at khalifah untuk menjalankan fungsi ri’âyah (pengaturan urusan umat) dengan hukum syari’ah kâffah, dan menegakkan fungsi junnah sebagaimana sabda yang mulia Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam-:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه 
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayh)
[]

Link Download: Link 4Shared atau Link Media Fire



[1] Disampaikan dalam Halqah Syahriyyah DPD II HTI Kab. Sukabumi, 13/03/2016, di Masjid As-Salam Cibadak.
[2] Seperti yang kami saksikan sendiri: patung hinduisme di tempat umum seperti Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali dan di Kab. Purwakarta Jawa Barat.
[3] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, cet. I, 1422 H, jilid IX, hlm. 322.
[4] Majduddin Abu Thahir al-Fayruz Abadi, Tanwîr al-Miqbâs Min Tafsîr Ibn ‘Abbas, Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, hlm. 267.
[5] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr al-Thayyibah, cet. II, 1420 H, juz V, hlm. 322-323.
[6] Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Syamsuddin al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Riyadh: Dâr ‘Âlam al-Kutub, 1423 H, juz V, hlm. 417.
[7] Ibid.
[8] Muhammad bin ‘Ali al-Syawkani, Fat-h al-Qadîr, Beirut: Dâr Ibn Katsîr, cet. I, 1414 H, hlm. 609.
[9] Abu Abdullah al-Hakim, Al-Mustadrak, Kairo: Dâr al-Haramayn, 1417 H, juz I, hlm. 120.
[10] Dr. Mushthafa bin Husni al-Siba’i, Min Rawâi’i Hadhâratinâ, Beirut: Dâr al-Warrâq, cet. I, 1420 H, hlm. 6.
[11] Ibid.
[12] Ibid, hlm. 7.
[13] Ibid.
[14] Ibid, hlm. 8.
[15] Taqiyuddin al-Nabhani, Al-Takattul Al-Hizbiy, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. IV, hlm. 5
[16] Abu Hamid al-Ghazali, Ihyâ’ ’Ulûm al-Dîn, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, juz I, hlm. 77.
[17] Taqiyuddin al-Nabhani, Al-Takattul Al-Hizbiy, hlm. 6.
[18] Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyyah, ___. cet. I, 1415 H, hlm. 54.
[19] Taqiyuddin al-Nabhani, Al-Takattul Al-Hizbiy, hlm. 6.
[20] Ibid.
[21] Abu al-Muzhaffar al-Sam’aniy, Tafsîr al-Qur’ân, Riyadh: Dâr al-Wathan, cet. I, 1418 H, juz V, hlm. 284.
[22] Ibid.
[23] Azhariy Ahmad Mahmud, Dâ’ al-Nufûs wa Sumûm al-Qulûb: al-Ma’âshiy, Dâr Ibn Khuzaimah, hlm. 15.
[24] Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, Kitâb Al-’Ain, Dâr al-Hilâl, juz VIII, hlm. 350.
[25] Hafidz Abdurrahman, Diskursus Islam Politik Spiritual, Bogor: Al-Azhar Press, cet. II, 1428 H, hlm. 8.
[26] HR. Muslim no. 6875, bab. Ittibâ’ Sunan al-Yahuudiy wa al-Nashârâ.
[27] Nuruddin al-Mulla ‘Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VIII, hlm. 3403.
[28] Taqiyuddin bin Ibrahim, Muqaddimah al-Dustûr aw al-Asbâb al-Mûjibah Lahu, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1420 H, juz I, hlm. 44.
[29] Abu Dawud Sulaiman al-Sijistaniy, Sunan Abiy Dâwud, Beirut: Dâr al-Kitâb al-’Arabiy, Wizârat al-Awqâf al-Mishriyyah, juz IV, hlm. 184, hadits no. 4299.
[30] Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Ashbahani, Hilyat al-Awliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Mesir: Al-Sa’âdah, 1394 H, juz I, hlm. 182.
[31] Taqiyuddin al-Nabhani, Al-Takattul Al-Hizbiy, hlm. 20.
[32] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6.
[33] Ahmad bin Muhammad al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, juz IX, hlm. 31.
[34] Abu Ja’far al-Nahhas Ahmad bin Muhammad al-Nahwi, I’râb al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1421 H, juz IV, hlm. 119.
[35] Ini diulas dalam kajian balaghah.
[36] Fakhruddin Muhammad bin Umar al-Tamimi al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1421 H, juz VIII, hlm. 42.
[37] Abu al-Muzhaffar Manshur al-Sam’aniy, Tafsîr al-Qur’ân, juz V, hlm. 170; Ahmad bin Muhammad al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, juz IX, hlm. 31.
[38] Waliyyuddin ‘Abdurrahman Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldûn, Damaskus: Dâr Ya’rib, cet. I, 1425 H, hlm. 250; Ibnu Khaldun, Dîwân al-Mubtada’ wa al-Khabar fî Târîkh al-‘Arab wa al-Barbar, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. II, 1408 H, hlm. 631.
[39] Muhammad al-Khudhari Husain, Silsilatu Milal wa Nihal [3]: Al-Ilhâd, Kuwait: Maktabah Ibn Taimiyyah, cet. I, 1406 H, hlm. 3-4.