02 Februari 2016

Ragam & Bahaya Pemikiran Liberal


Oleh: Irfan Abu Naveed
Artikel di Website HTI (Majalah Al-Wa'ie): Ragam Dan Bahaya Pemikiran Liberal 

S
epanjang sejarah peradabannya, kaum muslimin menghadapi banyak tantangan, namun belum pernah mereka menghadapi tantangan yang lebih serius daripada tantangan Peradaban Barat, peradaban yang terbukti menimbulkan bencana besar bagi umat manusia tak hanya bagi kaum muslimin, hal itu disebabkan oleh kerusakannya yang sudah rusak dari asas yang mendasarinya dan dari falsafah yang menjadi pandangannya,[1] yakni materialisme yang jauh dari aspek spiritual (materialistic oriented)[2], dimana pemikiran ini tak bisa dilepaskan dari sejarah filsafat kufur Barat yang mengingkari al-khabar al-shâdiq (wahyu) sebagai salah satu sumber ilmu dalam struktur keilmuannya (epistemologi), sehingga kerusakannya tak dapat ditolerir lagi karena sudah rusak dari asasnya. Terlebih dengan akidah sekularisme yang melandasi filosofi pengaturan kehidupannya.
Peradaban Barat pun tampil dengan slogan kemerdekaan dan kebebasan (freedom) menginvasi negeri-negeri kaum muslimin untuk mengelabui mereka, padahal slogan tersebut hanyalah kamuflase di balik pemikiran kufur liberalisme yang meracuni kaum muslimin dengan racun mematikan, bagaikan racun ular berbisa yang mengalir dalam darah dan cepat merusak tubuh manusia hingga menyebabkan kematian atau kelumpuhannya, hilanglah kemuliaannya, sirnalah kekuatannya, Allah al-Musta’ân. Maka memahaminya menjadi penting, sebagaimana dikatakan sya’ir yang dinukil Imam al-Ghazali (w. 505 H):
عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه
ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan # Melainkan untuk menghindarkan diri darinya.”
“Dan barangsiapa tidak mengetahui keburukan # Di antara manusia maka akan terjerumus ke dalamnya.[3]

A. Ragam Pemikiran Liberal & Bahayanya
Ironisnya, di zaman ini pemikiran-pemikiran berbahaya seperti; pluralisme yang membiaskan konsep kebenaran tunggal Islam (lihat QS. 3: 19), multikulturalisme yang mengakomodasi multi kultur tanpa memandang benar tidaknya (lihat QS. 2:42), feminisme yang menghiasi kesesatannya dengan slogan yang mengelabui kaum muslimah (lihat QS. 6: 112), sinkritisme yang mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan (lihat QS. 2:42), pembiasan prinsip akidah atas nama toleransi (lihat QS. 109: 6), mendukung kesyirikan atas nama kearifan lokal (lihat QS. 31: 13); seluruhnya selaras dengan spirit pemikiran liberal yakni kebebasan menghalalkan dan mengharamkan apa yang dikehendaki hawa nafsunya meski itu bertentangan dengan Islam.
Jika kita rinci bahayanya, maka secara personal pemikiran kufur liberalisme merusak akidah, pemikiran dan perasaan seorang muslim hingga melahirkan kepribadian ganda (split of personality), ia merusak pola pikir seseorang hingga berujung pada lahirnya perbuatan mungkar, misalnya menjustifikasi LGBT dan kawin sejenis.
          Dalam konteks kemasyarakatan, pemikiran kufur melahirkan corak masyarakat yang oportunistik, pragmatis, hedonis, terjajah karena lemah komitmennya terhadap ajaran Islam serta lemah dalam melakukan kontrol sosial dan muhâsabah lil hukkâm. Dan inilah yang menjadi sebab utama kekalahan kaum muslimin, penghinaan demi penghinaan keji atas Islam dan simbol-simbolnya, penguasaan kaum kafir dan sekutunya atas mereka dan tegaknya sistem jahiliyyah.[4]
Dalam konteks bernegara, pemikiran kufur liberalisme melahirkan pemerintahan sekular yang memarjinalkan peran agama dalam pengaturan kehidupan (politik), atau dengan kata lain menjauhkan penerapan syari’ah dalam kehidupan bernegara.
Dan jika ditela’ah secara mendalam, pemikiran ini sebenarnya sudah digugurkan oleh Islam dari asasnya, karena seluruh pemikiran ini bersumber dari hawa nafsu yang diperingatkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah, karena segala hal yang bertentangan dengan al-wahyu (Islam) pasti berasal dari al-hawâ’ sebagaimana isyarat agung dalam ayat:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ {٣} إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ {٤} 
”Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. Al-Najm [53]: 3-4)
Ungkapan ’an al-hawâ’ yakni bi al-hawâ’ (menurut hawa nafsunya).[5] Imam al-Sam’ani (w. 489 H) menjelaskan bahwa al-hawâ’ berkonotasi ghayr al-haq (selain dari kebenaran yakni kebatilan).[6] Ditegaskan firman-Nya:
 {وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ}
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 48)
Ini sejalan dengan apa yang dituturkan dalam sya’ir:
واحذر هواك تجد رضَاه * فإنما أصل الضلالة كلها الأهواء
”Berhati-hatilah terhadap hawa nafsumu maka engkau temukan keridhaan-Nya * Karena sesungguhnya sumber kesesatan seluruhnya adalah hawa nafsu.”[7]
Dan tak bisa dipungkiri bahwa pemikiran liberal menyalahi fitrah dan tradisi umat manusia sejak lahirnya nenek moyang Bangsa Manusia, Adam a.s. yang bertakwa kepada Allah, dan mengadopsinya jelas berbahaya bagi dunia dan akhirat seseorang:
{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا}
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir-pen.) kemudian Kami seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 115)
Lihat pula QS. Al-An’âm [6]: 153, dan ancaman di akhirat kelak sebagaimana firman-Nya:
{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ}
Siapa saja yang mencari selain Islam sebagai din-nya, maka tidak akan pernah diterima (din) itu darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Âli Imrân [3]: 85)
Dalam ayat di atas, kecaman di awali kata lan (فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ) yakni tidak akan diterima selama-lamanya (li ta’bîd) yang lebih kuat maknanya daripada kata [8], ini menjadi indikasi tegasnya kecaman dan peringatan dalam ayat yang agung ini bagi siapa saja yang mencari selain Islam sebagai dîn-nya; mencakup akidah, ideologi dan pemikiran kufur.
Dan dari Ibnu ’Abbas r.a., ia berkata: “Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-bersabda:
لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ  دَخَلَ جُحْرَ ضَبٍِّ لَدَخَلْتُمْ
“Sungguh kamu mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga salah seorang dari mereka masuk lubang biawak pun sungguh kamu mengikutinya.” (HR. Al-Hâkim dalam al-Mustadrak, al-Dzahabi mengatakan hadits ini shahih)
            Imam al-Mala’ al-Qari menjelaskan makna ” سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْyakni jalan hidup, manhaj dan perbuatan mereka[9] Dan suatu pemikiran jelas termasuk manhaj, jalan hidup yang khas lahir dari suatu peradaban. Dan hadits ini jelas mengandung celaan atas perbuatan mengikuti manhaj dan pola pikir orang kafir.
         
B.  Sikap Kita
Secara personal, setiap muslim wajib menegakkan prinsip al-wala’ wa al-bara’, loyal pada Islam dan ingkar pada pemikiran-pemikiran kufur, prinsip ini merupakan penjabaran dari prinsip ingkar pada thaghut dan beriman kepada Allah:
{فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا}
“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)
Seorang muslim tidak boleh mengadopsi itu semua, melainkan wajib mencampakkannya. Di Persia misalnya, Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., panglima perang yang dikirim ’Umar ke sana telah menemukan buku-buku filsafat lama sebagai rampasan perang. Dari laporan Ibnu Khaldun (w. 808 H), Sa’ad sebenarnya ingin membawa buku-buku tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin, tapi keinginan ini langsung ditolak oleh ’Umar: Campakkan buku-buku itu ke dalam air. Jika apa yang terkandung dalam buku-buku tersebut adalah petunjuk yang besar, maka Allah telah memberikan kepada kita petunjuk-Nya yang lebih besar (al-Qur’an dan as-Sunnah). Jika ia berisi kesesatan, Allah telah memelihara kita dari bencana tersebut. Maka campakkanlah buku-buku tersebut ke dalam air atau ke dalam api.[10]
Dan secara kolektif, kita wajib memahamkan umat terhadap bahaya pemikiran ini yang jelas termasuk kemungkaran, sebagai bagian dari tanggung jawab al-amr bi al-ma’rûf wa al-nahy ’an al-munkar, menyelamatkan umat dari bahaya kemungkaran tersebut, dimana Imam al-Ghazali menegaskan bahwa pokok agama adalah mencegah dari keburukan. Sikap ini pun ditunjukkan oleh ulama besar abad ke-19, Syaikhul Azhar Muhammad al-Khudhari Husain: Adapun orang-orang yang berpegangteguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka wajib bagi mereka memperingatkan (umat manusia) dari meridhai ajaran atheisme (termasuk liberalisme-pen.) dimanapun berada, meski kaum atheis tersebut adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka.”[11]
Dan tak berhenti di sana, sesungguhnya tersebarnya pemikiran kufur di tengah-tengah umat ini terjadi karena umat hidup dalam sistem jahiliyyah Demokrasi dengan prinsip kebebasan yang menyuburkannya dan dipimpin oleh para pemimpin yang mengkhianati amanah Allah dan Rasul-Nya dengan mengenyampingkan syari’at Islam dalam mengatur urusan umat, tidak menjalankan fungsi junnah (perisai) akidah dan malah menjadi penjaga sistem jahiliyyah tersebut. Maka wajib bagi kita mengupayakan tegaknya syari’at Islam kâffah dengan thariqah menegakkan al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah, membai’at khalifah untuk menjalankan fungsi ri’aayah (pengaturan urusan umat) dengan hukum syari’ah kâffah, dan menegakkan fungsi junnah sebagaimana sabda yang mulia Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه 
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayh)
Dimana sifat junnah dalam hadits ini pun tak terbatas dalam peperangan semata,[12] akan tetapi berkonotasi pula sebagai pelindung dari kezhaliman, penangkal dari keburukan sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibnu al-Atsir (w. 606 H)[13] termasuk mencegah invasi pemikiran-pemikiran kufur, hingga kaum muslimin bisa bangkit kembali dari kelumpuhannya, menjadi umat terbaik sesuai firman-Nya:
{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ}
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Âli Imrân [3]: 110)




[1] Dr. Mushthafa al-Siba’i, Min Rawâi’i Hadhâratinâ, Beirut: Dâr al-Warrâq, cet. I, 1420 H, hlm. 7.
[2] Ibid, hlm. 8.
[3] Abu Hamid al-Ghazali, Ihyâ’ ’Ulûm al-Dîn, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, juz I, hlm. 77.
[4] Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyyah, ___. cet. I, 1415 H, hlm. 54.
[5] Abu al-Muzhaffar Manshur al-Sam’aniy, Tafsîr al-Qur’ân, Riyadh: Dâr al-Wathan, cet. I, 1418 H, juz V, hlm. 284.
[6] Ibid.
[7] Azhariy Ahmad Mahmud, Dâ’ al-Nufûs wa Sumûm al-Qulûb: al-Ma’âshiy, Dâr Ibn Khuzaimah, hlm. 15.
[8] Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, Kitâb Al-’Ain, Dâr al-Hilâl, juz VIII, hlm. 350.
[9] Nuruddin al-Mala al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VIII, hlm. 3403.
[10] Waliyyuddin ‘Abdurrahman Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldûn, Damaskus: Dâr Ya’rib, cet. I, 1425 H, hlm. 250; Ibnu Khaldun, Dîwân al-Mubtada’ wa al-Khabar fî Târîkh al-‘Arab wa al-Barbar, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. II, 1408 H, hlm. 631.
[11] Muhammad al-Khudhari Husain, Silsilatu Milal wa Nihal [3]: Al-Ilhâd, Kuwait: Maktabah Ibn Taimiyyah, cet. I, 1406 H, hlm. 3-4.
[12] Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VI, hlm. 2391.
[13] Ibnu al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl fî Ahâdîts al-Rasûl, Maktabat Dâr al-Bayân, cet. I, 1390 H, juz IV, hlm. 63.