09 Februari 2016

Membantah Kaum Liberal Pendukung LGBT (Peringatan Rasulullah SAW atas Pendukung Kemungkaran)


Oleh: Irfan Abu Naveed
(Bagian pembahasan dari kajian tentang bantahan atas kaum liberalis dalam isu LGBT)

K
aum liberalis yang pandai bersilat lidah dan digadang-gadang sebagai cendekiawan muslim namun menikam syari’at Islam, sebenarnya termasuk golongan yang dicela oleh Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- sebagai golongan munafik yang pandai bersilat lidah. Dan Islam telah melarang umatnya untuk mendukung pelaku kemungkaran dengan segala bentuk kemungkarannya, yang artinya menyesatkannya semakin terjerumus ke dalam kemungkaran. Ini menunjukkan bahwa Islam melakukan pendekatan preventif, menutup pintu kemaksiatan hingga perbuatan tersebut.

Dalil-Dalil Hadits & Penjelasannya
Hadits dari ’Umar bin al-Khaththab r.a. bahwa Rasulullah shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari umatku adalah setiap orang munafik yang pandai bersilat lidah.” (HR. Ahmad, al-Bazzar & al-Baihaqi)[1]
Hadits di atas, mengandung peringatan atas bahaya orang munafik, sekaligus celaan atas perbuatan tersebut. Dan siapa saja yang mengaku muslim namun mendukung kemungkaran dan menikam syari’at Islam jelas ia tergolong orang munafik. Dan perbuatan tersebut termasuk ke dalam hadits Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-:
لَعَنَ اللهُ مَنْ آوى محدِثاً                            
“Allah melaknat siapa saja yang melindungi orang yang melakukan kemungkaran” (HR. Muslim)
مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Siapa saja yang melakukan suatu kemungkaran atau melindungi pelaku kemungkaran maka baginya laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, dll)[2]
Imam Ibnu al-Atsir (w. 606 H) ketika menjelaskan makna (آوى محدِثاً) mengatakan:
المحدِث: الذي قد أذنب ذنباً وفَعَلَ أمراً منكراً، المعنى: من نَصَرَهُ ومنع منه، وضمَّه إليه ليحميه
“Al-Muhdits: orang yang melakukan suatu dosa dan melakukan perkara yang mungkar, maknanya: siapa saja yang menolong pelaku kemungkaran dan mendukungnya dengan kemungkarannya tersebut serta bergabung dengannya untuk melindunginya.[3]  
Kata laknat jelas mengandung pesan tercelanya perbuatan melindungi pelaku kemungkaran dengan kemungkarannya, dalam ilmu ushul fikih kata ini pun menjadi indikasi keharaman perbuatan tersebut. Bahkan indikasi bahwa ia termasuk dosa besar. Al-Qadhi ’Iyadh (w. 544 H) menjelaskan:
وقد استدلوا لما جاءت به اللعنة أنه من الكبائر  
“Dan sungguh para ulama telah berdalil bahwa hal-hal dimana kata laknat menyertainya maka ia termasuk dosa besar.[4]
Dan makna hadits ini, dinukil al-Qadhi ’Iyadh yakni azab yang menjadi konsekuensi atas dosanya tersebut, pertama dengan menjauhkannya dari surga dan memasukkannya ke dalam siksa neraka hingga Allah mengeluarkannya darinya (bagi yang masih ada keimanan dalam hatinya-pen). Dan maknanya yakni dijauhkan, namun tidak seperti laknat kepada orang-orang kafir dengan sejauh-sejauhnya dari rahmat-Nya. Dan makna laknat dari malaikat yakni do’a laknat malaikat atas perbuatannya, dan bisa jadi makna laknatnya ini malaikat tidak mendo’akan kebaikan dan tidak memohonkan ampunan baginya dan menjauh darinya dan mengeluarkannya dari kumpulan orang-orang beriman yang mereka mohonkan ampunan.[5]
Bahkan sekedar mendo’akan mereka tetap dalam kezhaliman pun merupakan bagian dari keburukan. Imam al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) memperingatkan:
من دعا لظالم بالبقاء؛ فقد أحب أن يعصى الله في أرضه
Siapa saja yang berdo’a untuk orang zhalim agar tetap eksis (dengan kezhalimannya-pen.); maka sesungguhnya ia senang ada orang yang bermaksiat kepada Allah di bumi-Nya.”[6]
Maka jelas bahwa perbuatan mereka yang menyesatkan pelaku LGBT dengan mendukung perbuatan liwâth, dan lainnya jelas merupakan perkara besar. Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) pun menggolongkan keridhaan terhadap dosa besar atau mendukungnya termasuk dosa besar.[7] Keadaan mereka yang meniti jalan kaum Luth dan mendukungnya, seperti dituturkan sya’ir:
فإن لم يكونوا قوم لوط بعينهم * فما قوم لوط منهم ببعيد
وإنهم في الخسف ينتظرونهم * على مورد من مهلة و صديد
Dan meskipun mereka bukanlah sebenar-benarnya kaum Luth # dimana kaum Luth sudah ada jauh-jauh hari dari mereka.”
”Namun sesungguhnya mereka berada dalam keterpurukan dimana kaum Luth menantikan mereka # pada hari yang ditentukan dan nanah (siksa neraka).”[8]

Nilai-Nilai Pendidikan dalam Hadits
1.     Islam menetapkan standar nilai bahwa mendukung pelaku kemungkaran dengan kemungkarannya merupakan kemungkaran itu sendiri yang mesti dikenakan sanksi hukuman, artinya Islam menetapkan standar nilai bahwa perbuatan tersebut tercela.
2.    Perbuatan mendukung pelaku kemungkaran dengan kemungkarannya berarti menjerumuskannya lebih dalam lagi ke dalam kemungkaran, merupakan perbuatan tercela dan ini dicegah oleh Islam.
3.    Perbuatan tersebut kebalikan dari perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, yakni melarang dari yang ma’ruf dan menyuruh kepada yang mungkar, dan ini menunjukkan sikap antipati terhadap kebaikan bagi orang lain, dan menghendaki keburukan baginya.






[1] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (I/289, hadits no. 143), al-Bazzar (305), al-Baihaqi dalam Al-Syu’ab (1777),  Syu’aib al-Arna’uth dalam catatan kaki Musnad Ahmad, mengatakan bahwa hadits ini sanadnya kuat.
[2] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (II/267, hadits 959); Abu Dawud dalam Sunan-nya (IV/303, hadits 4532); Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’ (VIII/29, hadits 16334); Al-Nasa’i dalam Sunan-nya (VIII/19); al-Hakim dalam Al-Mustadrak (II/141) dan ia menshahihkannya.
[3] Majduddin Abu al-Sa’adat al-Mubarak bin Muhammad (Ibnu al-Atsir), Jâmi’ al-Ushuul fii Ahâdiits al-Rasuul, Ed: ‘Abdul Qadir al-Arna’uth, Maktabah al-Hulwaani, Cet. I, juz X, hlm. 767.
[4] ‘Iyadh bin Musa Abu al-Fadhl al-Sabati, Syarh Shahiih Muslim (Ikmâl al-Mu’lim bi Fawâ’id Muslim), juz IV, hlm. 486.
[5] Ibid, hlm. 487-488.
[6] Shalih Ahmad al-Syami, Mawaa’izh al-Imaam al-Hasan al-Bashri, Beirut: Al-Maktab al-Islaami, Cet. II, 1425 H/2004, hlm. 34.
[7] Ahmad bin Muhammad bin ’Ali bin Hajar al-Haitami, Al-Zawâjir ’an Iqtirâf al-Kabâ’ir, juz I, hlm. 195.
[8] Ibn Abi Hajlah, Diiwân al-Shubâbah: http://www.alwarraq.com