18 Februari 2016

Memahami Hakikat Sihir (Kajian Tafsir Amir HT: Syaikh 'Atha bin Khalil Abu al-Rasytah)


Kajian Tafsir Syaikhul Ushul 'Atha bin Khalil (Amir HT)[1]
-Kajian Tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 102-[2]
Terjemah & Catatan Tambahan (Ta’liq): Irfan Abu Naveed[3]
Download Artikel Pdf: Link 4Shared

Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}
”Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)[4]

Poin Ke-2, Dan ketika Allah menurunkan wahyu kepada rasul-Nya bahwa Sulaiman adalah Nabi:
{إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا}
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 163)[5]
Kaum Yahudi berkata: ”Sesungguhnya Sulaiman dahulu adalah tukang sihir dan bukan seorang Nabi.” Kemudian mereka mengumpulkan kitab-kitab yang ditulis oleh para tukang sihir dengan bantuan syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman, dan kitab-kitab yang telah tersebar di tengah-tengah mereka (Yahudi) di Madînaturrasûl –shallallâhu ’alayhi wa sallam-[6], mereka berkata bahwa inilah kitab-kitab dimana Sulaiman AS menghukumi dengannya, lalu mereka (Yahudi) mengikutinya dan menjadikannya sebagai bahan perdebatan dengan Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-[7]:
{وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ}
”Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman.”
{مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ} 
Apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan.
Yakni apa-apa syaithan-syaithan bacakan, inspirasikan dan bisikkan kepada para tukang sihir agar mereka menuliskannya dalam kitab-kitab mereka[8]:
{يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا} 
”Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’âm [6]: 112)[9]
          Dan sungguh dahulu syaithan-syaithan golongan jin sebelum Islam (turun risalah Islam-pen.) mencuri dengar berita dari langit dan mencampuradukkan di dalamnya beragam jenis kedustaan dan membisikkannya kepada sekutu-sekutu mereka[10]:
فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ وَيُرْمَوْنَ بِهِ فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ[11]
”Maka malaikat penghuni langit dunia saling bertanya pula di antara sesama mereka, sehingga berita tersebut sampai ke langit dunia. Maka para jin berusaha mencuri dengar, lalu mereka sampaikan kepada wali-walinya (tukang sihir). Sehingga mereka dilempar dengan bintang-bintang tersebut. Berita itu mereka bawa dalam bentuk yang utuh, yaitu yang sebenarnya tetapi mereka campur dengan kebohongan dan mereka tambah-tambahkan.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan makna (يقرفون): ”Mereka (para jin) mencampurkan di dalamnya kedustaan”)[12]
Dan sungguh, para jin telah dihalangi dari perbuatan mencuri dengar berita langit setelah turunnya risalah Islam.[13]
{وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا}
”Dan sesungguhnya Kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya), akan tetapi sekarang siapa saja yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS. Al-Jin [72]: 9)
Frase (عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ) yakni pada masa kerajaan Sulaiman –’alayhi al-salâm-.
Sesungguhnya kitab-kitab sihir tersebut, para tukang sihir telah menyalinnya dengan dua jalan:
Pertama, Apa yang dibisikkan syaithan-syaithan golongan jin kepada mereka berupa (ilmu) sihir.
Kedua, Apa yang diajarkan dua malaikat, Harut dan Marut, kepada manusia dan sungguh Allah telah mengutus keduanya di Negeri Babil[14] untuk mengajari manusia ilmu sihir namun keduanya memperingatkan manusia dari perbuatan mengamalkannya, dan keduanya pun memberitahu manusia bahwa keduanya adalah ujian bagi manusia dan cobaan berat bagi mereka:
{وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ}
”Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ”Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)
          Dan Allah telah menurunkan di Bumi ini kebaikan dan keburukan untuk menguji hamba-hamba-Nya dengan keburukan dan kebaikan:
{وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً} 
”Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 35)[15]
            Dan pengajaran ilmu sihir bagi manusia merupakan cobaan bagi mereka, maka barangsiapa yang mengimani sihir[16] dan mengamalkannya maka sungguh ia telah kufur, dan barangsiapa tidak beriman kepadanya dan tidak mengamalkannya maka sungguh ia telah beruntung:
 {وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ} 
”Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. Al-Naml [27]: 40)

Poin Ke-4: Allah SWT membersihkan Nabi-Nya, Sulaiman –’alayhi al-salâm-, dari kebohongan Yahudi dan tuduhan dusta mereka, maka Sulaiman –’alayhi al-salâm- tidak kafir, dan hal tersebut dalam pembahasan ini menjadi petunjuk bahwa Nabi Sulaiman –’alayhi al-salâm- bukan tukang sihir dan tidak beriman kepada sihir, dan maka dari itu ia bukanlah seseorang yang kafir melainkan NabiyuLlah –’alayhi al-salâm- (وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ) yakni bukan seorang tukang sihir dan tidak beriman kepada sihir yang menjadi sebab kekufuran[17], dan petunjuk ini menjadi jawaban penentu, karena Yahudi telah menuduh Sulaiman –’alayhi al-salâm- dengan sihir.
           Ibnu Jarir[18] telah meriwayatkan dari Syahr bin Hawsyab[19] ia berkata: ”Orang-orang Yahudi berkata:
انْظُرُوا إِلَى مُحَمَّدٍ يَخْلِطُ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ، يَذْكُرُ سُلَيْمَانَ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّمَا كَانَ سَاحِرًا يَرْكَبُ الرِّيحَ
”Lihatlah oleh kalian Muhammad, ia telah mencampurkan antara kebenaran dan kebatilan, ia menyebut Sulaiman bersama dengan para nabi, padahal ia (Sulaiman) hanyalah seorang tukang sihir yang menunggangi angin.”[20]
Dan Yahudi tidak menuduh dengan vonis kufur, lalu Allah menjawab tuduhan mereka (وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ) yakni Sulaiman –’alayhi al-salâm- tidak mengamalkan sihir, namun penggunaan ungkapan kiasan (كَفَرَ) dalam ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa beriman terhadap sihir dan menyihir maka ia kufur secara bertahap berdasarkan ’alâqah sababiyyah dalam tinjauan bahasa arab[21] sebagaimana yang telah kami sebutkan.
          Dan begitulah bahwa Sulaiman –’alayhi al-salâm- tidaklah kufur, dan yang justru kufur adalah para syaithan:
 {وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ}
”Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ”Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Poin Ke-5: Sihir adalah menampakkan sesuatu di luar hakikatnya secara imajinatif[22] dan pengertian ini berdasarkan firman-Nya:
{سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ} 
”Mereka menyihir pandangan-pandangan manusia.” (QS. Al-A’râf [7]: 116)
{قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ}
”Berkata Musa: ”Silahkan kamu sekalian melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (QS. Thâhâ [20]: 66)
          Yakni bahwa tongkat tersebut tetaplah tongkat secara hakiki, akan tetapi tampak dalam pandangan mata bahwa ia adalah ular yang merayap cepat.         Dan secara bahasa Imam al-Jawhari[23] mengatakan:
السِحْرُ: الأُخْذَةُ وكلُّ ما لَطُفَ مَأْخَذُهُ ودَقَّ فهو سِحْرٌ[24]
Dan dikatakan:
سحرت الصبي إذا خدعته   
”Engkau telah menyihir seorang anak kecil jika engkau mengelabuinya.”[25]
Dan sihir disebutkan dalam sebagian diwan-diwan (sya’ir) arab dengan makna (العضة) dan (العضة) bagi orang arab menunjukkan kuatnya kekaburan dan kedustaan, penyair menuturkan:
أعوذ بربي من النافثات # من عضة العاضة المُعِضة
          Dan orang-orang arab pun menggunakannya -yakni istilah sihir- dalam pengertian ”tersembunyi”, karena sesungguhnya seorang penyihir melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Adapun apa yang disebut sihir maka ia adalah ilmu yang memberikan kemampuan kepada pelakunya untuk menyihir pandangan mata manusia sehingga ia melihat sesuatu di luar hakikatnya yakni tidak mengubah hakikat sesuatu kepada hakikat lainnya yang baru dalam pengertian bahwa ia tidak menghilangkan hakikat yang pertama dan menggantikannya dengan hakikat yang baru, maka dari itu jika seseorang memegang ular yang tampak dari sebuah tongkat maka ia tetap menemukannya sebagai sebuah tongkat dan jika diteliti maka ia akan menemukan kandungan-kandungan yang sama dengan sebuah tongkat yang dilemparkan dan dikhayalkan kepada kita bahwa ia adalah ular yang merayap cepat.
Dan oleh karena itu sesungguhnya para penyihir ketika melemparkan tongkat mereka, mereka tetap melihatnya sebuah tongkat akan tetapi mereka menyihir pandangan mata manusia sehingga melihatnya seekor ular, dan ketika Musa a.s. melemparkan tongkatnya dan mereka –para penyihir ini- melihatnya sebagai ular hakiki bukan tongkat yang kemudian menelan tongkat-tongkat mereka maka hilanglah hakikatnya secara sempurna, maka mereka menyadari bahwa itu bukanlah sihir karena sihir tidak menghilangkan (mengubah) hakikat benda maka mereka mengetahui bahwa apa yang telah terjadi (mujizat Musa a.s.) bukanlah sihir, melainkan kebenaran dari Rabbul ’Âlamîn sebagaimana perkataan Musa a.s. maka mereka beriman dan keimanan mereka menakjubkan.

Poin Ke-6: Firman-Nya (وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ) dan firman-Nya: (وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ) menunjukkan bahwa sihir sempurna dengan pembacaan perkataan kufur, dan ini memperjelas bahwa sihir merupakan ilmu yang sempurna pelaksanaannya dengan penggunaan lafazh-lafazh kufur dalam tahapan-tahapan atau langkah-langkahnya.[26] Adapun yang selainnya maka ia tidak disebut sihir dalam pengertian yang diketahui dari ayat ini, semisal menampakkan berbagai perkara di luar hakikatnya dengan trik-trik sulap maka hal ini dan hal-hal yang semisalnya tidak termasuk sihir dalam pengertian yang telah disebutkan di atas.

Poin Ke-7: Sanksi bagi tukang sihir –sebagaimana telah kami jelaskan- adalah sanksi murtad, karena ia kafir dalam pengertian sihir yang telah disebutkan sebelumnya, dan sungguh para sahabat telah menghukum mati para penyihir, Hafshah Ummul Mu’minin r.a. telah memerintahkan hukuman mati atas penyihir wanita yang mengakui sihirnya bahwa ia mempraktikkan sihir.
          Dan adapun apa yang diriwayatkan tentang pengingkaran ’Utsman r.a. atas apa yang dilakukan Hafshah r.a. maka hal itu adalah pengingkaran atas perbuatannya menegakkan suatu perkara tanpa izinnya padahal ’Utsman r.a. adalah seorang Khalifah kaum muslimin, namun beliau tidak mengingkari sanksi hukuman mati tersebut. Dan telah terlaksana sanksi ini yakni hukuman mati atas penyihir pada masa ’Umar r.a., maka ia adalah ijma’ sahabat karena ia hukum penguasa yang terlaksana atas masyarakat mereka tanpa ada pengingkaran. Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Sufyan dari jalur Jaza’ bin Mu’awiyyah paman al-Ahnaf bin Qays ia berkata:
أتانا كتاب عمر قبل موته بسنة أن اقتلوا كل ساحر وربما قال سفيان وساحرة 
”Telah datang kepada kami surat ’Umar setahun sebelum kematiannya bahwa ”Hukum matilah setiap penyihir –dan barangkali ’Utsman berkata- dan penyihir wanita.”
          Dan adapun apa yang kami sebutkan mengenai sebagian trik-trik yang bersifat rahasia yang mengelabui manusia jika tak dijelaskan kepada mereka, dan para tokoh dan tukang sihir menciptakan trik-trik belaka, maka pelakunya disanksi dengan sanksi ta’zir sesuai dengan bahaya yang ditimpakan kepada orang-orang yang dikelabuinya, yang berinteraksi dengannya. Dan telah diketahui bahwa bentuk sanksi ta’zir dalam Islam bisa sampai pada hukuman mati sesuai dengan jenis kejahatan yang dilakukan.
          Akan tetapi perbedaan antara hukuman mati berupa had dan ta’zir, bahwa yang pertama orang yang murtad maka ia tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan di pemakaman kaum muslimin, adapun yang kedua ia muslim yang fasiq atau fajir (ahli maksiat) sesuai dengan bentuk kejahatannya, dishalatkan dan dimakamkan di pemakaman kaum muslimin.

Poin Ke-8:
{فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ}
Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan kekuasaan Allah.
          Allah SWT menjelaskan bahwa siapa saja yang mempelajari sihir dan mengamalkannya mampu melakukan berbagai perbuatan terhadap orang-orang yang berinteraksi dengan mereka untuk menimbulkan berbagai masalah di antara orang-orang dan istri-istri mereka sehingga berujung pada perceraian dan perpecahan, kemudian Allah SWT menjelaskan perkara pokok (simpul) untuk menghapuskan apa yang mungkin muncul dalam benak pikiran manusia bahwa penyihir baginya kekuatan Allah atau asumsi bahwa ia mampu menciptakan perkara-perkara yang terlepas dari Allah SWT, Allah pun menjelaskan dalam ayat ini bahwa tidak ada yang bisa terjadi dalam Kerajaan Allah kecuali dengan izin-Nya, yakni tidak terlepas dari-Nya, dan inilah makna dari  masyiiatuLlâh (kebersamaan Allah) atau apa yang disebut dengan irâdatuLlâ(kehendak Allah), maka tidak ada hal apapun yang terjadi dalam kerajaan Allah terlepas dari-Nya, yakni setiap yang terjadi, terwujud dengan izin-Nya, kebersamaan-Nya dan kehendak-Nya.
{وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ}
”Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Takwîr [81]: 29)
          Dan hal ini bukan berarti dengan keridhaan-Nya, karena Allah tidak meridhai kekufuran dan kemaksiatan-kemaksiatan.
{إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ}
”Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (QS. Al-Zumar [39]: 7)
          Dan sesungguhnya istilah tersebut dalam pengertian ini (dipahami) berdasarkan penela’ahan nash-nash, tidak bisa ditafsirkan "izin-Nya", "kehendak-Nya", dalam hakikat secara etimologi (bahasa) dari kata kerja ” أذن” atau ” شاء” atau ” أراد” secara bahasa dan dimaknai izin atas melakukan sesuatu; tuntutan atas sesuatu atau keridhaan atasnya, akan tetapi ditafsirkan berdasarkan petunjuk makna terminologis (secara istilah) seperti sesuatu yang mengandung hakikat ’urfiyyah bagi ahli bahasa, ahli fikih, ahli usul fikih atau dalam tinjauan ilmu apapun dari berbagai disiplin ilmu.
          Dan makna frase (بِإِذْنِ اللهِ) petunjuknya agung dalam pembahasan ini, sesungguhnya apa yang tampak dari perbuatan-perbuatan para tukang sihir di hadapan manusia dengan menyihir pandangan mata manusia dan mempertontonkan sebagian perkara di luar hakikatnya terkadang menimbulkan keraguan (prasangka salah) bahwa mereka menciptakan sebagaimana Allah SWT atau mereka melakukan berbagai perkara dimana Allah tidak mampu membatalkannya, maka Allah SWT menegaskan bahwa sihir tidak akan terjadi kecuali dengan izin-Nya yakni bukan terbebas dari-Nya akan tetapi dengan iradah-Nya dan kebersamaan-Nya dalam pengertian ini, dan bahwa Allah SWT mampu membatalkan sihir mereka dan tidak akan terjadi sesuatu pun dalam kerajaan Allah SWT yang terlepas dari-Nya.

Dan dalam pembahasan ini, terkadang seseorang berkata: ”Lalu mengapa Allah tidak membatalkan sihir mereka (secara keseluruhan-pen.)?!”
Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kebaikan perbedaannya dengan keburukan, dan Allah menjelaskan kepada kita bahwa kebaikan seseorang diganjar karenanya dengan kebaikan, dan keburukan seseorang pun diganjar karenanya dengan keburukan, kemudian Allah pun mengajari kita bahwa Allah pun mampu menjadikan kita sebagai umat yang satu dalam kebaikan atau keburukan.
{وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ} 
”Jika Rabb-mu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS. Hûd [11]: 118)
          Akan tetapi Allah SWT karena hikmah yang diketahui-Nya, membiarkan kita untuk memilih (memberikan pilihan-pen.) pada apa yang kita inginkan berupa keburukan atau kebaikan dan kita diganjar karena dua perkara tersebut, maka segolongan akan masuk surga dan segolongan lainnya masuk neraka.
{وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَٰكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ}
”Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah Perkataan dari-Ku: ”Sesungguhnya akan aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. Al-Sajdah [32]: 13)
          Maka dari itu tidak ada peluang untuk bertanya-tanya mengapa Allah tidak membatalkan perbuatan para tukang sihir yang keji itu (secara keseluruhan-pen.)? Atau mengapa Allah tidak mendorong kita kepada kebaikan dalam setiap hal yang diperintahkan Allah kepada kita? Atau mengapa Allah tidak mencegah kita dari setiap perbuatan buruk sehingga kita tidak melakukan apapun kecuali kebaikan? Maka Allah telah menjelaskan kebaikan perbedaannya dengan keburukan dan membiarkan kita memilih dan hal itu merupakan hikmah dari Allah SWT.
{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} 
”Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 23)
          Akan tetapi kita dalam setiap kondisi wajib meyakini bahwa sesuatu ada dalam kekuasaan Allah, tidak akan terjadi terlepas dari-Nya SWT akan tetapi dengan Izin-Nya, Iradah-Nya dan Kehendak-Nya.

Poin Ke-9: Makna potongan firman Allah:
{وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ}
Dan sungguh mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat.
          Dan hal ini (menegaskan) yakni bahwa segala sesuatu yang ada dalam sihir itu buruk, dan hal inipun merupakan penyifatan bagi mereka yang mempelajarinya, dan sihir ini (يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ) dan penyifatan ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa siapa saja yang mempelajari ilmu sihir maka ilmu itu menimbulkan bahaya baginya dan tidak bermanfaat sama sekali bagi mereka, maka sihir seluruhnya merupakan keburukan dan berbahaya, tidak ada manfaat di dalamnya.
          Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa barangsiapa mengamalkan sihir dalam bentuk yang telah kami jelaskan sebelumnya maka tidak ada bagian untuknya di akhirat kelak karena ia telah kafir kepada Allah dan ayat-ayat-Nya.
          Makna kata (اشْتَرَاهُ) yakni membelinya, dan kalimat tersebut dalam ayat ini merupakan kiasan yakni menjadikannya sebagai profesi baginya, maka membeli sesuatu yakni menjadikannya tuntutan untuk dimanfaatkan dengan mengorbankan diri sendiri atau mengambil pengganti atasnya, dan dalam pembahasan ini yakni mengambil sihir sebagai profesi yang digeluti (bermanfaat dalam persangkaannya semata) dan seakan-akan ia membeli sihir.
{وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ}
Dan sungguh mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat.
          Ini merupakan khabari (informasi) yang bermakna tuntutan untuk meninggalkan, yakni bermakna larangan yang tegas atas perbuatan mempraktikkan sihir.
{وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}    
”Dan amat buruklah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)
          Yakni sungguh buruk apa yang mereka jual belikan diri mereka sendiri dengan sihir, maka sesungguhnya mereka melemparkan diri mereka sendiri ke dalam siksa Allah dan menghinakan jiwanya sendiri untuk masuk ke neraka jahannam (مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ) maka ini balasan yang disiapkan bagi mereka sebagai ganjaran menjual diri mereka sendiri dan menghinakannya dengan sihir, balasan ini yakni kemurkaan Allah, azabnya dan neraka jahanam, dan ini sebenar-benarnya jual beli yang paling buruk.
{لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}
”kalau mereka mengetahui”
          Yakni jika mereka mengambil manfaat dari apa yang mereka ketahui maka sesungguhnya orang yang mengetahui suatu ilmu namun ia tidak mengambil manfaat darinya dan tidak berpegangteguh dengan apa yang diketahuinya maka seakan-akan ia belum mengetahui, maka barangsiapa mengetahui bahwa sihir berakibat malapetaka namun ia mempraktikkannya maka seakan-akan ia belum mengetahuinya, dan ini termasuk penguatan dalam petunjuk atas pembahasannya, Maha Suci Allah.
          Dan sungguh Rasulullah SAW telah berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَقَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَعَيْنٍ لاَ تدمع 
”Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari qalbu yang tidak khusyuk dan dari mata yang tidak bisa menangis (karena takut kepada siksa Allah).” (HR. Muslim)
          Dan penggunaan dalil ini termasuk penguatan dalam suatu pembahasan sebagaimana telah kami katakan, dan hal ini dalam KitabuLlâh tidak hanya pada satu tempat, sebagaimana hal itupun digunakan dalam petunjuk-petunjuk lainnya:
{أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ} 
”Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj [22]: 46)
{صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ}
”Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Baqarah [2]: 171)
فالذي لا ينتفع بسمعه فكأنه لا يسمع
”Maka orang yang tidak mengambil manfaat dari pendengarannya maka seakan-akan ia tidak mendengar.”
والذي لا ينتفع ببصره فكأنه لا يبصر
”Dan orang yang tidak mengambil manfaat dari penglihatannya maka seakan-akan ia tidak melihat.”
والذي لا ينتفع بنطقه فكأنه لا ينطق
”Maka orang yang tidak mengambil manfaat dari lisannya maka seakan-akan ia tidak berbicara.”
والذي لا ينتفع بعقله فكأنه لا يعقل 
”Maka orang yang tidak mengambil manfaat dari akalnya maka seakan-akan ia tidak berakal.”
Lalu firman Allah:
{وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}
”Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan Sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 103)
Yakni jika mereka beriman, mena’ati serta meninggalkan sihir maka sungguh bagi mereka ada kebaikan. Makna kalimat (لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ) Yakni jika mereka mengambil manfaat dari apa yang telah mereka ketahui mengenai akibat sihir yang buruk berupa bahaya yang akan mereka timpakan kepada manusia di dunia dan dari siksa di neraka jahanam kelak di akhirat. []


Kontak Kajian:
Irfan Abu Naveed
+628179296234








[1] Ulama ahli ushul fiqh, mujtahid, dan Amir Hizbut Tahrir.
[2] ‘Atha’ bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah), Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 112-114.
[3] Penulis buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia.
[4] Ayat ini menjadi dalil bahwa sihir sudah ada di zaman Nabi Sulaiman a.s.
[5] Ayat ini menjadi dalil qath’iy (pasti) yang menunjukkan bahwa Sulaiman –‘alayhis salâm- adalah Nabi dan Rasul. Berdasarkan petunjuk pasti (dilâlah qath’iyyah) kalimat (إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ), sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H):
إنا أرسلنا إليك، يا محمد، بالنبوة كما أرسلنا إلى نوح، وإلى سائر الأنبياء  
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu, wahai Muhammad, dengan kenabian sebagaimana kepada Nuh dan kepada seluruh nabi (setelahnya).” (Muhammad bin Jarir bin Yazid Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fii Ta’wiil al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz IX, hlm. 399)
[6] Yakni istilah lain dari Yatsrib atau al-Madiinah al-Munawwarah. Lihat: Dr. Ahmad Mukhtar ‘Abdul Hamid, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, ‘Âlam al-Kutub, cet. I, 1429 H/2008, juz III, hlm. 2080; Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H/1988, hlm. 419.
[7] Ini merupakan pengejewentahan dari keburukan kaum kuffar yang berupaya memadamkan cahaya Allah dengan beragam cara, di antaranya dengan mulut-mulut mereka sebagaimana Allah kabarkan dalam firman-Nya:
{يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ}
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Al-Shaff [61]: 8)
[8] Para ulama ketika menjelaskan hakikat sihir menegaskan bahwa ia adalah perbuatan yang sempurna dengan bantuan syaithan-syaithan golongan jin, Imam Murtadha al-Zabidi (w. 1205 H) menjelaskan:
(السِّحْرُ) عَمَلٌ يُقربُ فِيهِ إِلى الشَّيْطَان وبمَعُونة مِنْهُ   
“Sihir; suatu amal perbuatan dimana didalamnya terdapat perbuatan mendekatkan diri kepada syaithan dan bantuan darinya.” (Muhammad bin Muhammad Murtadha al-Zabidi, Tâj al-‘Arûs Min Jawâhir al-Qâmûs, Dâr al-Hidâyah, t.t, juz XI, hlm. 514)
[9] Yakni syaithan-syaithan itu saling membisiki keburukan (waswasah; bisikan-bisikan jahat), lihat: Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Umar bin al-Hasan al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb: Al-Tafsîr al-Kabîr, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, cet. III, 1420 H, juz XIII, hlm. 120; Abu al-Qasim Muhammad bin Ahmad (Ibnu Jazi al-Kalabi al-Gharnathi), Al-Tashîl li ‘Ulûm al-Tanzîl, Ed: Dr. ‘Abdullah al-Khalidi, Beirut: Syirkat Dâr al-Arqam bin Abi al-Arqam, cet. I, 1416 H, juz I, hlm. 273; ‘Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdus Salam, Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ibn Hazm, cet. I, 1416 H, juz I, hlm. 457. 
[10] Sesuai dengan firman-Nya:
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ {٢٢١} تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ {٢٢٢}
“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa.” (QS. Al-Syu’arâ [26]: 221-222)
            Al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) ketika menafsirkan ayat ini menukil pendapat Qatadah yang menegaskan bahwa kulli affâk[in] atsîm[in] yakni para dukun dimana para jin mencuri dengar berita langit kemudian mendatangi sekutu-sekutu mereka dari kalangan manusia. (Muhammad bin Jarir bin Yazid Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl al-Qur’ân, Dâr Hijr, cet. I, 1422 H/2001, juz ke-19, hlm. 414)
            Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) pun menjadikan kuhhân (para dukun) sebagai salah satu contoh golongan para pendusta nan fasik dimana syaithan-syaithan turun kepada mereka. (Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz VI, hlm. 155)
            Hal senada banyak diungkapkan para ulama dalam kitab-kitab tafsir mereka. Dan ini sebenarnya sudah cukup menjadi alasan kuat bagi mereka yang berakal untuk menjauhi para dukun, tidak berkonsultasi kepada mereka. Dan wajib bagi penguasa untuk menegakkan hukum Islam atasnya, mencegah masyarakat mendatangi mereka, bahkan wajib menutup pintu perdukunan rapat-rapat.
[11] Redaksi hadits ini lengkapnya dalam riwayat Muslim:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُمْ بَيْنَمَا هُمْ جُلُوسٌ لَيْلَةً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُمِيَ بِنَجْمٍ فَاسْتَنَارَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا رُمِيَ بِمِثْلِ هَذَا قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ كُنَّا نَقُولُ وُلِدَ اللَّيْلَةَ رَجُلٌ عَظِيمٌ وَمَاتَ رَجُلٌ عَظِيمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهَا لَا يُرْمَى بِهَا لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى اسْمُهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا سَبَّحَ حَمَلَةُ الْعَرْشِ ثُمَّ سَبَّحَ أَهْلُ السَّمَاءِ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ التَّسْبِيحُ أَهْلَ هَذِهِ السَّمَاءِ الدُّنْيَا ثُمَّ قَالَ الَّذِينَ يَلُونَ حَمَلَةَ الْعَرْشِ لِحَمَلَةِ الْعَرْشِ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ فَيُخْبِرُونَهُمْ مَاذَا قَالَ قَالَ فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ وَيُرْمَوْنَ بِهِ فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ  
”Dari Sahabat 'Abdullah bin 'Abbas -radhiyallâhu anhu-, ia berkata: ”Salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kaum Anshar menceritakan padaku. Ketika mereka duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, ada bintang (mateor) jatuh memancarkan cahaya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka: "Apa ucapan kalian pada masa jahiliyah ketika ada lemparan (mateor) seperti ini?" Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui, dulu kami katakan, 'pada malam ini telah dilahirkan seorang yang terhormat dan telah mati seorang yang terhormat,' lalu Rasulullah menjelaskan: "Sesunguhnya bintang itu tidaklah dilemparkan karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahiran seseorang. Akan tetapi Tuhan kita Tabâraka wa Ta'âlâ, apabila telah memutuskan sebuah perkara, bertasbihlah para malaikat yang membawa 'Arasy. Kemudian diikuti oleh para malaikat penghuni langit yang di bawah mereka, sampai tasbih itu kepada para malaikat penghuni langit dunia. Kemudian para malaikat yang di bawah para malaikat pembawa 'Arasy bertanya kepada para malaikat pembawa 'Arasy, Apa yang dikatakan Tuhan kita? Lalu mereka memberitahu apa yang dikatakan Tuhan mereka. Maka malaikat penghuni langit dunia saling bertanya pula di antara sesama mereka, sehingga berita tersebut sampai ke langit dunia. Maka para jin berusaha mencuri dengar, lalu mereka sampaikan kepada wali-walitnya (tukang sihir). Sehingga mereka dilempar dengan bintang-bintang tersebut. Berita itu mereka bawa dalam bentuk yang utuh, yaitu yang sebenarnya tetapi mereka campur dengan kebohongan dan mereka tambah-tambahkan.” (HR. Muslim)
[12] Jika dirinci hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Shahiih-nya, Al-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubrâ’, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’; Lihat: Muslim bin al-Hijaj al-Naisaburi, Shahîh Muslim, Beirut: Dâr al-Jîl, juz VII, hlm. 36, hadits no. 5877; Abu ’Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib al-Nasa’i, Al-Sunan al-Kubrâ’, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1421 H/2001, juz X, hlm. 142, hadits no. 11.208; Abu Nu’aim Ahmad bin ’Abdullah al-Ashbahani, Hilyat al-Awliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1409 H, juz III, hlm. 143; Ahmad bin al-Husain bin ’Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan al-Kubrâ’, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, cet. III, 1424 H, juz VIII, hlm. 238, hadits no. 16.512.    
[13] Ini pula yang menjadi pendapat Imam al-Zuhri, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Sibli, setelah menukil dalil hadits di atas ia berkata:
وَفِي هَذَا دَلِيل على مَا قدمْنَاهُ من أَن الْقَذْف بالنجوم قد كَانَ قَدِيما وَلكنه إِذْ بعث رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم غلظ وشدد كَمَا قَالَ الزُّهْرِيّ ملئت السَّمَاء حرسا شَدِيدا وشهبا
“Dalam hadits ini terdapat dalil atas apa yang telah kami ketengahkan bahwa klaim (ramalan) dengan nujum telah ada di zaman dahulu namun perbuatan itu saat ini ketika telah diutusnya Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- maka menjadi hal yang sangat berat dan sukar. Sebagaimana perkataan al-Zuhri, bahwa langit penuh dengan penjagaan kuat dan panah api.” (Muhammad bin ’Abdullah al-Syibliy, Âkâm al-Marjân fii Ahkâm al-Jân, Ed: Ibrahim Muhammad al-Jamal, Kairo: Maktabah al-Qur’an, hlm. 179)
[14] Babilonia, Irak.
[15] Jika ditelusuri lebih jauh, kata “fitnah” (الفتنة) dalam bahasa arab termasuk suatu lafazh yang mengandung lebih dari satu makna (lafzh musytarak)  yakni berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (Abdul Halim Muhammad Qunabis, Mu’jam al-Alfâzh al-Musytarakah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah, Beirut: Maktabah Lubnan, 1987, hlm. 18).
Lafazh musytarak, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji yakni:  
ما وضع لأكثر من معنى ولا يتعين المراد منه إلا بقرينه
“Lafazh yang mengandung lebih dari satu makna dan maksudnya tidak bisa ditentukan kecuali berdasarkan suatu petunjuk.” (Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ-is, cet. II, 1408 H, hlm. 430)
            Imam Ibrahim al-Harbi (w. 285 H) pun merinci makna al-fitnah yang disebutkan dalam al-Qur’an dengan beragam konotasi maknanya;
Pertama, Bermakna الشرك (Kesyirikan)
Kedua, Bermakna الضلالة (Kesesatan)
Ketiga, Bermakna النفاق (Kemunafikan)
Keempat, Bermakna البلاء (Cobaan)
Kelima, Bermakna عذاب الناس (Siksaan Manusia)
Keenam, Bermakna الحرق بالنار (Siksaan dengan Api).
Ketujuh, Bermakna الصَّدُّ، وَالِاسْتِنْزَالُ (Menghalang-halangi)
Kedelapan, Bermakna الْفِتْنَةُ الضَّلَالَةُ (Fitnah Kesesatan)
Kesembilan, Bermakna الْمَعْذِرَةُ (Argumentasi)
Kesepuluh, Bermakna الِافْتِتَانُ، وَالْإِعْجَابُ (Berbangga)
Kesebelas, Bermakna الْقَتْلُ (Pembunuhan)
            Dan kata fitnah yang berarti al-balâ’ (cobaan) pun disebutkan dalam ayat-ayat lain, misalnya dalam QS. Al-’Ankabût [29]: 2: (وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ) Mujahid memaknai يُفْتَنُونَ yakni يُبْتَلُونَ, hal yang sama diungkapkan oleh Ikrimah –radhiyallâhu ’anhu- Dan dalam firman-Nya: QS. Al-Dukhân [44]: 17: (وَلَقَدْ فَتَنَّا) al-Hasan –radhiyallâhu ’anhu- dan Mujahid memaknai kalimat فَتَنَّا yakni ابْتَلَيْنَا (kami telah mengujinya). Begitu pula dalam QS. Thâhâ [20]: 40: (وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا) yang dimaknai Ibnu ’Abbas –radhiyallâhu ’anhu- yakni ابْتَلَيْنَاكَ بَلَاءً بَعْدَ بَلَاءٍ, begitu pula penafsiran Qatadah dan Abu Ubaidah yang intinya adalah bala’. Imam Abu Ibrahim pun merincinya. (Ibrahim Ishaq al-Harbi Abu Ishaq, Gharîb al-Hadîts, Ed: Dr. Sulaiman Ibrahim Muhammad, Makkah: Jâmi’at Umm al-Qura’, cet. I, 1405 H, juz III, hlm. 930-939)
[16] Mengimaninya yakni membenarkannya.
[17] Ini merupakan penggunaan kiasan untuk hubungan sebab akibat, maka sihir merupakan sebab kekufuran.
[18] Yakni al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H).
[19] Syahr bin Hawsyab: Qatadah, Syimar bin ‘Athiyyah, Ibnu Abi Husain dan Ibnu Khutsaim meriwayatkan darinya, ia adalah asy’ariy, memiliki kunyah Abu ‘Abdurrahman dan Abu Sa’id, dan wafat pada tahun 100 H (Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Al-Târîkh al-Kabîr, Hiderabad: Dâ’irat al-Ma’ârif al-‘Utsmâniyyah, t.t., juz IV, hlm. 258-259).  
Syahr bin Hawsyab dinilai tsiqah oleh jama’ah, meski ada yang mendha’ifkannya: Golongan yang mentsiqahkannya; Yahya menyebut Syahr bin Hawsyab tsabat, dan dalam keterangan lain mengenainya, ia adalah orang Syam penganut madzhab al-Asy’ari dan ia orang yang tsiqah (Lihat: Abu Hafsh ‘Umar bin Ahmad (Ibnu Syahin), Târîkh Asmâ’i al-Tsiqât, Kuwait: al-Dâr al-Saafiyyah, cet. I, 1404 H, hlm. 111; Abu Zakariya Yahya bin Ma’in al-Baghdadi, Târîkh Ibn Ma’în, Mekkah: Markaz al-Bahts al-‘Ilm, cet. I, 1399 H, juz IV, hlm. 216 & 434). Imam al-‘Ajili (w. 261 H) menyebutnya Syâmiy (orang syam), termasuk golongan tabi’in dan tsiqah (Abu al-Hasan Ahmad bin ‘Abdullah al-‘Ajili al-Kufi, Târîkh al-Tsiqât, Dâr al-Bâz, cet. I, 1405 H, hlm. 223, no. 677)
Imam Ahmad bin Hanbal menilainya tsiqah dalam keterangan lain darinya laa ba’sa bihi. Al-Hafizh Al-Dzahabi dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menguatkan mentsiqahkannya.     
Dalam penjelasan Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil itu sendiri, beliau menjelaskan mengenai Syahr bin Hawsyab dalam tanya jawab mengenai riwayat hadits tentang khilafah (http://hizbut-tahrir.or.id/2013/06/28/jawab-soal-seputar-tenggat-yang-diperbolehkan-bagi-kaum-muslimin-untuk-menegakkan-al-khilafah/):
“Al-‘Ajali (w. 261 H) dalam kitabnya ats-Tsiqât ia mengatakan: Syahr bin Hawsyab: “Syâmiy –berasal dari Syam-, seorang tabi’un, tsiqah).” Al-Haytsami (w. 807 H) di dalam bukunya Majma’ az-Zawâid wa Manba’ al-Fawâid mengatakan di lebih satu tempat tentang Syahr bin Hawsyab: “(Syahr bin Hawsyab, dia telah dinilai tsiqah), (Syahr bin Hawsyab, telah diperselisihkan tentangnya, akan tetapi dia telah dinilai tsiqah oleh Ahmad, Ibn Ma’in, Abu Zur’ah dan Ya’qub bin Syaibah), (Syahr bin Hawsyab dan tentangnya ada beberapa pendapat, dan dia telah dinilai tsiqah oleh bukan hanya satu orang), (Syahr bin Hawsyab, tentangnya ada kata-kata tetapi ia telah dinilai tsiqah oleh jamaah).” Ibn Syahin (w. 385 H) dalam bukunya Târîkh Asmâ` ats-Tsiqât berkata: “(Yahya berkata, Syahr bin Hawsyab tsabata (telah ditetapkan riwayatnya) dan dalam riwayat lain darinya (Yahya), ia (Syahr bin Hawsyab) berasal dari Syam tinggal di Bashrah dan ia termasuk al-Asy’ariyîn berasal dari mereka sendiri dan dia tsiqah).”
Dan ini sudah cukup menjadi dasar diterimanya riwayat dari Syahr bin Hawsyab.
[20] Muhammad bin Jarir bin Yazid Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wiil al-Qur’ân, Daar Hijr, cet. I, 1422 H/2001, juz II, hlm. 327; Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, juz I, hlm. 236. Lengkapnya:
حدثنا القاسم قال، حدثنا الحسين قال، حدثني حجاج، عن أبي بكر، عن شهر بن حوشب قال ... إلخ
[21] Diulas dalam kajian balaghah.
[22] Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 676 H) ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 102 menegaskan hal senada bahwa sihir asalnya bermakna al-tamwiih (kamuflase) dan al-takhyiil (khayalan) (Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad Syamsuddin al-Qurthubi, Al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, Riyadh: Dâr ‘Âlam al-Kutub, 1423 H, juz II, hlm. 43).
[23] Yakni Imam Abu Nashr Isma’il bin Hamad al-Jawhari al-Farabi (w. 393 H).  
[24] Abu Nashr Isma’il bin Hamad al-Jawhari al-Farabi, Al-Shihaah Taaj al-Lughah wa Shihaah al-‘Arabiyyah, Beirut: Daar al-‘Ilm li al-Malaayiin, cet. IV, 1407 H/1987, juz II, hlm. 679.
Lihat pula: Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Fayruz Abadi, Al-Qaamuus al-Muhiith, Beirut: Mu’assasat al-Risaalah, cet. VIII, 1426 H/2005, hlm. 405; Ayyub bin Musa al-Husaini Abu al-Baqa’ al-Hanafi, Al-Kulliyyaat Mu’jam fii al-Mushthalahaat wa al-Furuuq al-Lughawiyyah, Beirut: Mu’assasat al-Risaalah, hlm. 495; Muhammad bin Muhammad Murtadha al-Zabidi, Taaj al-‘Aruus Min Jawaahir al-Qaamuus, Daar al-Hidaayah, t.t, juz XI, hlm. 514; Zaynuddin Abu ‘Abdullah Muhammad bin Abi Bakr al-Razi, Mukhtaar al-Shihaah, Beirut: Al-Daar al-Namuudzajiyyah, cet. V, hlm. 1420 H/1999, hlm. 143.
[25] Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 676 H) menegaskan hal senada bahwa sihir dikatakan turunan dari kalimat “سحرت الصبي إذا خدعته”. (Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad Syamsuddin al-Qurthubi, Al-Jaami’ Li Ahkaam al-Qur’aan, juz II, hlm. 43). Lihat pula penjelasan Imam al-Syawkani (Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad al-Syawkani, Fat-h al-Qadiir, Beirut: Daar al-Fikr, juz I, hlm. 119)
[26] Imam Abu Bakr Ahmad al-Isma’ili al-Jurjani (w. 371 H) menjelaskan pula:
وأن السحر واستعماله كفر من فاعله، معتقدا له، نافعا ضارا بغير إذن الله
“Dan bahwa sihir dan pengamalannya, kafirlah siapa saja pelakunya dengan keyakinan padanya bahwa ia berfaidah membahayakan dengan selain idzin Allah.” (Imam Abu Bakr Ahmad bin Ibrahim al-Jurjani al-Syafi’I, I’tiqaad A’immat al-Hadiits, Riyadh: Daar al-‘Aashimah, cet. I, 1412 H, hlm. 78)