18 Februari 2016

Keagungan Al-Qur’an & Pentingnya Membumikannya dalam Kehidupan (Pengantar Kajian Tafsir)


Pengantar Kajian Rutin Tafsir Al-Qur’an di KPP Cianjur

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I[1]

A
l-Qur’an merupakan mukjizat abadi Rasulullah SAW sepanjang zaman, keagungannya tak disangsikan lagi terbukti dari masa Rasulullah SAW hingga saat ini, dimana al-Qur’an telah menarik perhatian banyak umat manusia karena ungkapan dan kandungan pesan-pesannya yang agung dari Allah Rabb Alam Semesta. Dr. Samih ’Athif Al-Zayn menuturkan:
القرآن هو الكتاب المنزل بلفظ عربي معجز، وحيًا تلقاه الرسول محمد-صلى الله عليه وسلم-. وهو كلام الله تعالى، نزل به الروح الأمين جبريل -عليه السلام- بألفاظه العربية ومعانيه الحقة، ليكون حجة لمحمد -صلى الله عليه وسلم-على أنه رسول الله، وليكون مرجعًا للناس يهتدون بهداه، وقربة يتعبدون بتلاوته. وهو المدوَّن بين دفتَي المصحف، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس، المنقول إلينا نقلاً متواترًا
“Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan bahasa arab yang unggul[2], wahyu yang diterima oleh Rasulullah SAW, dan ia adalah firman Allah SWT, turun melalui perantaraan Ar-Rûh Al-Amîn Jibril a.s. dengan lafazh berbahasa arab dan makna-makna yang sesuai, sebagai bukti bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah, dan rujukan bagi manusia mengambil petunjuk dengan petunjuknya, dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya, tersusun di antara lembaran-lembaran mushhaf, diawali Surat al-Fâtihah, ditutup dengan Surat An-Nâs, dan dinukil kepada kita secara mutawatir.”[3]
     Keagungannya tak disangsikan lagi mencakup ajaran yang terkandung di dalamnya, maupun untaian-untaian kalimat yang diungkapkannya. Tidak ada satupun makhluk-Nya yang mampu membuat yang serupa dengannya, karena al-Qur’an jauh lebih bermakna dari ungkapan sya’ir:
كالبدر من حيث التَفَتَّ رأيتَه * يُهْدى إلى عينَيك نورًا ثاقبًا
كالشمس في كَبِدِ السماء وضوؤُها * يَغْشَى البلادَ مَشَارِقًا ومغاربًا
“Bagaikan rembulan kemanapun engkau berpaling memerhatikannya * memancarkan kepada kedua matamu cahaya yang kuat.”
“Bagaikan matahari di langit dan sinarnya * yang menaungi negeri-negeri di Timur dan Barat.”[4]
Bahkan setiap huruf dari al-Qur’an mengandung rahasia (hikmah dan pelajaran), benar apa yang diungkapkan seorang doktor balaghah dari Al-Azhar Kairo, Dr. Hesham Mohamed Taha el-Shanshouri al-Mishri, ketika kami berdiskusi mengenai tafsir al-Qur’an menuturkan:
لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ
“Setiap huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an mengandung pelbagai rahasia (kandungan makna).”[5]
Fadhil Shalih al-Samara’i pun dalam buku Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âni menegaskan bahwa setiap kosakata (mufradat) dalam al-Qur’an mengandung ilmu dan maksud yang sesuai dalam setiap tempatnya,[6] yakni mencakup diksinya. Dimana keagungan al-Qur’an (i’jâz-nya) pun mencakup kandungan bahasa dan ungkapannya, maka tak mengherankan jika para pakar sastra arab, termasuk dari kalangan kaum kafirin salah satunya al-Walid bin al-Mughirah dari kalangan musyrikin Quraisyi tak bisa memungkirinya dengan berkata: “Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian (Bangsa Quraisyi) yang lebih mengenal sya’ir-sya’ir dariku, dan tidak ada pula yang lebih mengetahui rajaz dan qashid-nya selain diriku, Demi Allah tidak ada satupun dari apa yang dibaca Muhammad menyerupai ini semua, Demi Allah sesungguhnya ungkapan yang disampaikannya sangat manis dan apa yang dituturkannya sangat indah.”[7]
Padahal al-Walid bin Al-Mughirah adalah orang yang tidak beriman dan keras pada kekafirannya. I’jaz al-Quran itu terdapat dalam al-Quran itu sendiri. Orang yang telah mendengarkan Al-Qur’an, dan mendengarnya hingga hari kiamat akan terus merasa kagum dengan kekuatan daya tarik dan balaghah-nya, walaupun hanya sekedar mendengar satu kalimat saja dari al-Quran, sebagaimana ditegaskan oleh al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani.[8] Maka sangat relevan atsar dari ‘Utsman bin Affan r.a. yang menggambarkan kesenangan berinteraksi dengan al-Qur’an yang merupakan firman Allah S.W.T ini dalam perkataannya:
«لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
“Jika kalbu kalian telah suci maka kalian tidak akan pernah merasa puas membaca Firman Rabb kalian (al-Qur’an).[9]
            Yakni sangat senang membaca, mentadaburi, memahami dan mengamalkan ajaran al-Qur’an. Dimana sahabat ’Utsman r.a. pun menegaskan bahwa tidak ada yang lebih ia cintai ketika tiba waktu siang dan malam kecuali digunakan untuk membaca al-Qur’an (mentadaburinya-pen.).[10]
            Namun, al-Qur’an bukan lah kitab sastra yang cukup sekedar dibaca, jauh lebih dari itu sesungguhnya ia cahaya pedoman hidup manusia, dimana tiada seseorang pun yang bisa beruntung di dunia dan akhirat kecuali dengan kembali kepadanya. Tak cukup sekedar dibaca, terlebih lagi tidak jika sekedar di simpan di atas rak meja, namun perlu dibaca, dipahami isinya, ditela’ah, ditadaburi dan diamalkan kandungannya. Benar bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ {٥٦}
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Al-Dzâriyât [51]: 56)
            Namun pertanyaan mendasarnya, bagaimana kita bisa beribadah dan menjalani hidup dengan benar? Analogi sederhana, jika kita hendak melakukan perjalanan mendaki sebuah gunung misalnya, tentu hal utama yang mesti dipersiapkan adalah peta rute perjalanan dan petunjuk terkait dari pihak yang mengetahui seluk beluk gunung tersebut dibantu dengan guide yang memahami medan, begitu pula dengan kehidupan yang jauh lebih kompleks daripada perjalanan mendaki gunung. Tentu lebih membutuhkan petunjuk dari Dzat yang Maha Pencipta, Allah ‘Azza wa Jalla dan teladan dari utusan-Nya, Rasulullah SAW. Dan sudah pasti bahwa Allah ‘Azza wa Jalla lebih mengetahui apa yang baik dan buruk bagi hamba-hamba-Nya.
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ {٢١٦}
“Dan bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian, dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Dan segala puji bagi Allah, ternyata Allah tidak membiarkan Bangsa Jin dan Manusia hidup begitu saja tanpa petunjuk yang memelihara fitrah mereka yang lurus dan menuntun mereka agar hidup sesuai dengan apa yang diridhai-Nya, itulah Dinul Islam dengan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai pedoman utamanya. Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan bahwa al-Qur’an merupakan pedoman utama bagi mereka yang bertakwa?
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ {٢}
“Itulah al-Kitab (al-Qur’an) tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2)
Dan keagungan al-Qur’an itu sendiri sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla firmankan:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ  {٨٩}
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)
          Makna frase (تبيانًا لكل شيء) adalah apa-apa yang dibutuhkan oleh umat; mengetahui halal haram, pahala dan siksa, hukum-hukum serta dalil-dalil, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H)[11], Imam al-Tsa’labi[12], Imam Abu Bakr al-Jazairi[13] dan selain mereka dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an. Abu Bakar al-Jazairi menjelaskan bahwa kedudukan al-Qur’an sebagai hud[an] yakni petunjuk dari segala kesesatan dan rahmat[an] yakni rahmat khususnya bagi mereka yang mengamalkan dan menerapkannya bagi diri sendiri dan di dalam kehidupan sehingga rahmat tersebut bersifat umum di antara mereka.[14] Diperjelas bahwa Al-Qur’an pun merupakan penawar (syifâ’) bagi permasalahan hidup manusia, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ {٨٢}
“Dan Kami turunkan al-Qur’an, apa-apa yang merupakan penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 82)
    Lafazh min dalam ayat di atas, termasuk min li bayân al-jins, sehingga menunjukkan bahwa al-Qur’an seluruhnya merupakan penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman, dipertegas dalam QS. Fushshilat [41]: 44. Rahmatnya ini melingkupi manusia yang memahami kandungannya dan mengamalkannya dalam kehidupan. Dalam khutbah Haji Wada’, Rasulullah SAW berpesan:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
”Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibnu ’Abbas r.a.[15])
          Kata lan dalam kalimat «لَنْ تَضِلُّوا » merupakan bentuk penafian, jika disebutkan «لَنْ تَضِلُّوا » artinya ”kalian tidak akan pernah tersesat” atau dengan kata lain selama-lamanya mereka yang berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan al-Sunnah tidak akan pernah tersesat, karena kata lan bermakna ”tidak akan pernah” yakni li ta'bîd (selama-lamanya).
         Imam Al-Mulla’ al-Qari (w. 1014 H) pun menjelaskan bahwa dua perkara tersebut (al-Qur’an dan al-Sunnah) merupakan dua hal yang agung, dan makna «لَنْ تَضِلُّوا » yakni tidak akan pernah berada dalam kesesatan, dimana di dalamnya pun terdapat tambahan (pujian) atas kemuliaan sunnahnya dan dorongan untuk berpegang teguh terhadapnya.[16] Imam al-Munawi (w. 1031 H) pun menjelaskan bahwa keduanya merupakan perkara pokok dimana tiada yang boleh berpaling dari keduanya, dan tiada yang bisa meraih petunjuk kecuali dari petunjuk keduanya, dan terjaganya dari kemaksiatan, keberhasilan ada dengan berpegang teguh terhadap keduanya, maka kewajiban kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah merupakan hal yang diketahui bagian dari agama ini secara pasti.[17]
Al-Qur’an pun menjadi cahaya petunjuk membangun peradaban Islam yang menjadi mercusuar peradaban umat manusia. Syaikhul Azhar, Mahmud Syaltut menegaskan bahwa umat ini telah diistimewakan semenjak terbitnya fajar Islam dan tersebarnya cahaya petunjuk Ilahi mencapai area seperempat dunia dengan al-Qur’an al-Karim, sumber petunjuk tersebut dan kemuliaannya, dimana ajaran-ajaran al-Qur’an menimbulkan pengaruh positif dan produktif dalam kehidupan manusia pada umumnya, dan kaum Muslim khususnya.[18]
        Sebaliknya, siapa saja yang berpaling darinya maka baginya penghidupan yang sempit, tidak ada keberkahan (berkah: bertambah-tambah kebaikan). Tersebarnya kemaksiatan, misalnya ditandai dengan merajalelanya perzinaan (misalnya praktik prostitusi dan pergaulan bebas), tegaknya ekonomi berbasis ribawi (misalnya menjamurnya rentenir, perbankan ribawi dan lainnya), maraknya kriminalitas (pembunuhan, geng motor dan lain sebagainya), hal itu semua merupakan akibat negatif dari kehidupan yang jauh dari penerapan Islam. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ {١٢٤}
“Dan siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan kumpulkan ia pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thâhâ [20]: 124)
            Dalam tafsir yang dinisbatkan kepada Ibnu ’Abbas r.a., makna (وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي) yakni berpaling dari mentauhidkan-Ku, dan dikatakan pula yakni mengingkari Kitab Suci-Ku dan (sunnah) Rasul-Ku.[19] Sedangkan al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) menegaskan yakni menyelisihi perintah-Ku, dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku (wahyu), berpaling darinya, melupakannya dan mengambil selain petunjuknya. Dan makna (فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا) yakni di dunia tiada ketentraman baginya, tidak ada kelapangan dalam dadanya, bahkan dadanya terasa sempit, sesak dengan kesesatannya, dan jika zhahirnya ia merasa cukup, mengenakan pakaian apa yang ia mau, memakan makanan yang ia mau, dan tinggal dimanapun ia mau, namun sesungguhnya qalbunya tidak mencapai keyakinan dan petunjuk, dan ia berada dalam kekhawatiran, kehampaan dan keraguan.[20]
Dari ’Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ 
Siapa saja yang beramal tidak sesuai dengan perintah kami, maka amal perbuatan itu tertolak” (HR. Muslim[21], Ahmad[22])
            Beramal sesuai perintah tentu beramal berdasarkan hukum syari’ah, dan hukum syari’ah didasarkan pada al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai pedoman utama hidup manusia. Maka tidak ada jalan lain untuk meraih kebaikan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Dan hal itu harus diawali dengan membaca, mentadaburi, mengkaji, menela’ah dan memahami al-Qur’an, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan dengan menela’ah pula tafsirnya. Allah S.W.T berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ {٨٢}
“Maka apakah mereka tidak memikirkan al-Qur’an?” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 82)[23]
       Kata kunci dalam ayat ini yang menunjukkan al-Qur'an sebagai sumber ilmu adalah kata kerja tadabbara-yatadabbaru, dimana pokok kata ini mengandung konotasi al-tafakkur yakni berpikir mengenai sesuatu, dan aktivitas tadabbur al-Qur’ân tidak akan terwujud kecuali dengan menghadirkan kalbu dan memfokuskan perhatian terhadapnya.[24]
        Menafsirkan ayat yang agung ini, al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memikirkan al-Qur’an, dan melarang mereka berpaling darinya.[25] Tuntutan ini semakin jelas dengan memperhatikan permulaan ayat ini yang diawali dengan tanda tanya (afalâ) yang maksudnya mengingkari (istifhâm inkâri).[26] Memikirkan al-Qur’an ini dilakukan sebagai jembatan memahami al-Qur’an, dan memahami kandungan al-Qur’an merupakan prasyarat mutlak untuk mengamalkannya dalam kehidupan.

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه




[1] Staf Kulliyyat al-Syari’ah wa al-Dirasah al-Islamiyyah STIBA Ar-Raayah Sukabumi.
[2] Yakni mampu mengalahkan bantahan-bantahan atau tantangan-tantangan kaum penentang (kuffar) atasnya.
[3] Dr. Samih ‘Athif al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr al-Kitâb al-Mishri, Cet. I, 1410 H, hlm. 308.
[4] Abu al-Qâsim bin Muhammad al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafa al-Bâz, juz I, hlm. 3.
[5] Salah seorang Dosen Tafsir (seorang doktor di bidang ilmu balaghah dari salah satu Universitas Islam terkemuka di dunia, Universitas al-Azhar) di tempat penyusun bekerja di Kuliyyatusy-Syarî’ah wad-Dirâsât Al-Islâmiyyah – Jâmi’atur-Râyah.
[6] Fadhil Shalih al-Samara’i, Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âniy, Kairo: Syirkat al-‘Âtik, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 4.
[7] Taqiyuddin bin Ibrahim Al-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, jilid I, hlm. 170.
[8] Ibid.
[9] Ahmad bin Hanbal, Al-Zuhd, Dâr Ibn Rajab, cet. II, 2003, hlm. 244.
[10] Ibid.
[11] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, juz XVII, hlm. 278.
[12] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid VI, hlm. 37
[13] Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir bin Jabir Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aysar at-Tafâsîr li Kalâm al-‘Ulya al-Kabîr, Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, Cet. V, 1424 H, jilid III, hlm. 138-139.
[14] Ibid.
[15] HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/171, hadits no. 318) sanadnya shahih dan disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi, Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’  (X/114, hadits no. 20833)
[16] ‘Ali bin Muhammad Abu al-Hasan al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, Cet. I, 1422 H, juz I, hlm. 269.
[17] ‘Abdurra’uf bin Tajul ’Arifin al-Manawi al-Qahiri, Al-Taysîr bi Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Riyadh: Maktabah al-Imâm al-Syâfi’i, Cet. III, 1408 H, juz I, hlm. 447.
[18] Mahmud Syaltut, Tafsîr al-Qur’ân al-Karîm, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XII, 1424 H/2004, hlm. 7.
[19] Majduddin Abu Thahir al-Fayruz Abadi, Tanwîr al-Miqbâs Min Tafsîr Ibn ‘Abbas, Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, hlm. 267.
[20] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr al-Thayyibah, cet. II, 1420 H, juz V, hlm. 322-323.
[21] HR. Muslim dalam Shahiih-nya (V/132, hadits no. 4514).
[22] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (42/62, hadits no. 25128); Syu’aib al-Arna’uth dkk mengomentari: “Hadits ini sanadnya shahih sesuai syarat Imam Muslim.”
[23] Terjemah Al-Qur’an Departemen Agama RI dengan sedikit penyesuaian bahasa.
[24] Muhammad Shiddiq Khan bin Hasan al-Husaini, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, Beirut: Al-Maktabah al-’Ashriyyah, 1412 H/1992, juz XIII, hlm. 71.
[25] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr al-Thayyibah, cet. II, 1420 H/1999, juz VIII, hlm. 480.
[26] Muhammad Shiddiq Khan al-Husaini, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, juz XIII, hlm. 71.