07 Januari 2016

Pentingnya Menuntut Ilmu: Yuk Ngaji!

Oleh: Irfan Abu Naveed
NOMOR KONTAK KAJIAN: 08179296234

S
ejarah kehidupan umat manusia, sebenarnya tak bisa terlepas dari Peradaban Islam yang menjadi mercusuar peradaban umat manusia, dan sejarah Peradaban Islam tak terlepas dari sejarah pendidikan dan tokoh-tokohnya, yakni para ahli ilmu (’ulamâ) yang berkontribusi besar di bidang pendidikan dalam upaya membangkitkan umat ini. Keharuman nama mereka, seharum jasa yang mereka persembahkan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Dan alangkah baiknya jika kita termasuk bagian dari mereka, atau setidaknya orang yang mencintai ilmu dan ahlinya sehingga terdorong untuk meniti jalannya.
Imam Syihabuddin al-Alusi (w. 1270 H) dalam tafsirnya, dan para ulama lainnya dalam kitab mereka ketika menjelaskan keutamaan menyerupai orang-orang shalih, meniti jalan mereka berpesan:
إن لم تكونوا منهم فتشبهوا * إن التشبه بالكرام فلاح
“Meskipun kalian belum menjadi seperti mereka maka serupailah * karena sesungguhnya menyerupai orang-orang yang mulia merupakan keberuntungan.”[1]
Berdasarkan keumuman dalil hadits dari Ibnu ’Umar –radhiyallâhu ’anhu--, ia berkata bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya[2], Abu Dawud dalam Sunan-nya[3], Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya[4]. Imam al-Mala’ al-Qari dalam Al-Mirqaat mengatakan hadits ini hasan[5], dishahihkan oleh Ibnu Hibban[6])
Karena lafazh tasyabbaha dalam hadits ini sifatnya umum, tidak dibatasi dengan salah satu bentuk apakah ucapan atau perbuatan, begitu pula lafazh qawm tidak dikhususkan pada suatu kaum mencakup baik buruknya artinya hadits ini bisa diterapkan pula pada kasus orang yang menyerupai orang-orang shalih, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Thibiy yakni ’âm (umum), dalam perkara-perkara kekhususan kaum yang diikuti.[7]

Perumpamaan Indah Orang yang Menuntut Ilmu & Aktif Halqah
Orang yang aktif mengkaji ilmu itu -di antaranya dalam perhalaqahan-, seperti seseorang yang punya cahaya lampu di tangannya, tak pasti selamat di tengah-tengah kegelapan yang sangat, namun dengan cahaya itu setidaknya seseorang mampu memilah jalannya dan berhati-hati jika ia tak lalai darinya, dan jika ia berjalan bersama-sama orang yang punya cahaya pula, setidaknya ada orang yang mengingatkannya ketika ia lalai atau menuntunnya ketika cahaya lampu di tangannya padam, seperti itulah ilmu yang disebutkan dalam keterangan -dengan ungkapan tasybih baligh dalam ilmu balaghah-:
العلم نور
”Ilmu itu cahaya.”
Namun orang yang tak punya cahaya sama sekali, maka bisa lebih kuat kemungkinan dirinya terjerembap, terlebih jika ia hanya berjalan sendiri dalam kegelapan tanpa keberadaan orang lain, tak berjama'ah. Itulah perumpamaan orang yang sendiri tanpa ilmu dan tak hidup berjama'ah dalam kehidupan jahiliyyah saat ini, Allah al-Musta'an. Namun yang lebih penting lagi, sesungguhnya al-Qur’an dan al-Sunnah telah memberikan perhatian besar padanya.

Rekomendasi al-Qur’an dan al-Sunnah untuk Menuntut Ilmu
Al-Qur’an dan al-Sunnah pun memberikan perhatian besar terhadap pendidikan, hal itu bisa dibuktikan dengan banyaknya ayat-ayat al-Qur’an dan al-Sunnah yang mengandung ajaran-ajaran luhur pendidikan praktis dan filosofis, dan mendorong umat manusia untuk meraih ilmu. Sehingga para ulama pun sangat memerhatikan aspek keilmuan dan pengajaran (ta’lîm) yang merupakan cara untuk memelihara keberlangsungan tsaqafah suatu umat dalam dada-dada generasinya dan tulisan-tulisan dalam khazanah buku-bukunya.
Hal itu sebagaimana disebutkan dalam buku Usus al-Ta’lîm al-Manhaji:
والتعليم هو الطريق لحفظ ثقافة الأمة في صدور أبنائها وفي سطور كتبها، سواء أكان تعليمًا منهجيًا منظمًا، أم غير منهجي
“Pendidikan merupakan cara untuk memelihara tsaqafah umat dalam dada generasinya dan (termaktub) dalam tulisan-tulisan buku-bukunya, sama saja apakah pendidikan formal terorganisir atau pendidikan informal.”[8]
Prof. Dr. ’Abdul Karim Bakkar pun menegaskan bahwa pendidikan itu sendiri adalah bagian dari sistem kehidupan yang tidak berdiri sendiri baik sisi ideologi, ekonomi, akhlak, dan lainnya.[9] Dan ia sendiri merupakan uslub (cara) untuk membentuk seorang insan sejak permulaan masa pertumbuhan.[10]
Secara filosofis, Islam telah mendorong umatnya untuk menjadi ahli ilmu, atau pencari ilmu, hal itu sebagaimana diisyaratkan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan al-Sunnah yang mulia.

Pertama, Dorongan Menjadi Ahli Ilmu
Al-Qur’an dan al-Sunnah menjadi saksi atas keutamaan mereka, Allah Yang Maha Agung memuji kedudukan mereka dengan pujian khusus (qashr) dalam firman-Nya:
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ} 
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fâthir [35]: 28)
Ayat ini mengandung pujian khusus bagi para ulama sebenar-benarnya ulama, dengan ungkapan qashr yang menggunakan perangkat pengecualian yang mengandung faidah pengkhususan yakni kata (إنما), karena jika dihilangkan kata tersebut maka hilanglah pengkhususan tersebut.[11].
Al-Hafizh Abu Ja’far al-Thabari (w. 310 H) dalam tafsirnya pun menjelaskan bahwa sesungguhnya yang takut kepada Allah sehingga menghindari siksa-Nya dengan keta’atannya kepada Allah hanyalah ulama (orang-orang berilmu), dengan kemampuannya mengetahui apa yang dikehendaki-Nya dari sesuatu apapun, dan bahwa ia pun melakukan apa yang dikehendaki-Nya, karena dengan ilmu atasnya ia yakin terhadap siksa-Nya atas kemaksiatan kepada-Nya; sehingga ia merasa takut terhadap siksa-Nya.[12]
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mengenai orang-orang beriman dan beramal shalih:
{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ}
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7)
          Menggabungkan kedua ayat di atas, Imam Abu Bakar al-Jashshash (w. 370 H) lalu menuturkan bahwa Informasi bahwa sebaik-baiknya makhluk adalah ia yang takut terhadap Rabb-nya, dan Allah menginformasikan dalam ayat-Nya bahwa orang-orang yang berilmu di sisi Allah mereka lah yang takut terhadap-Nya, maka hasil dari dikumpulkannya dua ayat ini bahwa orang berilmu mereka adalah sebaik-baiknya makhluk Allah.”[13]

Kedua, Dorongan Untuk Menuntut Ilmu
Banyak sekali dalil-dalil al-Qur’an maupun al-Sunnah yang mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, salah satunya adalah sabda Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-:
«إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ»
“Sesungguhnya ilmu hanya bisa diraih dengan cara belajar.”[14](HR. Al-Thabrani[15], al-Baihaqi[16], Ibnu Abdul Barr[17], Abu Nu’aim[18])
Hadits ini menggunakan redaksi al-qashr (pengkhususan) dengan adanya perangkat tersebut yakni berupa kata (إنما) –sebagaimana disebutkan dalam bahasan ilmu balaghah-. Secara etimologi, al-qashr yakni al-habs (kurungan).[19] Sedangkan secara istilah, qashr yaitu pengkhususan sesuatu dengan perkara lainnya dengan beragam gaya pengungkapan qashr yang telah diketahui[20], dalam referensi lainnya lebih terperinci yakni:
هو تخصيص أمر بآخر بطريق مخصوص أو، هو: إثبات الحكم لما يذكر في الكلام ونفيه عمّا عداه بإحدى الطرق
”Qashr merupakan pengkhususan suatu hal dengan hal lainnya dengan cara tertentu atau penetapan status (suatu hal) dengan hal yang disebutkan dalam perkataan dan menafikan hal-hal selainnya dengan salah satu metode (pengungkapan qashr).”[21]
Dan faidahnya, mengkhususkan ilmu tersebut bahwa ilmu hanya bisa diraih dengan cara belajar. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) sendiri menyifatinya sebagai ilmu yang diraih dari Nabi –shallallâhu ’alayhi wa sallam- dan para pewarisnya, yakni para ulama, dengan cara belajar (الْمَأْخُوذَ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَوَرَثَتِهِمْ عَلَى سَبِيلِ التَّعَلُّمِ).[22] Disebutkan pula dalam Al-Bahr al-Rajaz:
قَدْ قِيلَ فِي الزَّمَانِ الْأَقْدَمِ * إِنِّي رَأَيْتُ الْعِلْمَ بِالتَّعَلُّمِ
“Sungguh telah dikatakan sejak dahulu kala * sesungguhnya aku telah melihat ilmu (diraih) dengan belajar.[23]
Bahkan al-Qadhi Badruddin Ibnu Jama’ah (w. 733 H) menukil perkataan Imam Sufyan al-Tsauri dan Imam al-Syafi’i (w. 204 H) yang berkata:
ليس بعد الفرائض أفضل من طلب العلم
“Tidak ada setelah berbagai kefardhuan yang lebih utama daripada menuntut ilmu.”[24]
Maka tak mengherankan bahwa ilmu mengalami perkembangan pesat di dunia, khususnya ketika kaum muslimin memimpin peradaban umat manusia, dimana peradaban umat manusia tak bisa dilepaskan dari Peradaban Islam yang memimpin kurang lebih selama 14 abad. Menelusuri sejarah ilmu pengetahuan, sama halnya dengan menelusuri sejarah peradaban umat manusia. Al-’Allamah al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (w. 204 H) pun menasihati kita dalam sya’irnya:
تَعَلَّمْ ما استطعتَ تكُنْ أَمِيرا * ولا تَكُن جاهلاً تبقى أَسِيرا
Belajarlah dengan segenap kemampuanmu maka engkau akan menjadi pemimpin (yang terdepan-pen.) # Dan janganlah engkau menjadi orang yang bodoh tetap menjadi orang yang tertawan (tidak berkembang-pen.).”
تَعَلَّمْ كلَّ يومٍ حَرْفَ عِلْم * تَرَ الجُهَّالَ كُلُّهُم حَمِيرا
Belajarlah kalian setiap hari huruf demi huruf ilmu # engkau akan melihat orang-orang bodoh mereka semua adalah orang pandir.”[25]
          Mari terus belajar dan belajar... #YukNgaji



[1] Syihabuddin Mahmud bin 'Abdullah al-Husaini al-Alusi, Rûh al-Ma'âniy fî Tafsîr al-Qur'ân wa al-Sab'u al-Matsâniy, Beirut: Dâr al-Kutub al-'Ilmiyyah, cet. I, 1415 H, juz I, hlm. 92.
[2] Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (IV/515, hadits no. 5114) Ahmad Syakir mengomentarinya sanadnya shahih.
[3] Abu Dawud al-Sijistani dalam Sunan-nya (IV/78, hadits no. 4033); al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani pun mengomentari sanadnya hasan (Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Fat-h al-Bâriy Syarh Shahiih al-Bukhâriy, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz X, hlm. 271), sedangkan Ibnu Hibban menshahihkannya (Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Buluugh al-Maraam Min Adillat al-Ahkaam, KSA: Daar al-Qubs, cet. I, 1435 H, hlm. 540), Syaikh Ahmad Syakir dalam catatan kaki atas kitab Musnad Ahmad, mengomentari bahwa sanadnya hasan.
[4] Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (VI/471, hadits no. 33016);
[5] Abu al-Hasan Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VII, hlm. 2782.
[6] Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Bulûgh al-Marâm Min Adillat al-Ahkâm, KSA: Dâr al-Qubs, cet. I, 1435 H, hlm. 540.
[7] Ibid, hlm. 146.
[8] Tim Pakar, Usus al-Ta’lîm al-Manhaji fî Dawlat al-Khilâfah, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. I, 1425 H/2004, hlm. 9.
[9] Prof. Dr. ‘Abdul Karim Bakkar, Hawla al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah, Damaskus: Dâr al-Qalam, Cet. III, 1432 H, hlm. 17.
[10] Ibid, hlm. 20.
[11] Dr. Abdullah al-Hamid dkk, Silsilat Ta’lîm al-Lughah al-‘Arabiyyah: Al-Balâghah wa an-Naqd, KSA: Jâmi’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyyah, hlm. 69.
[12] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. I, 1420 H, juz XX, hlm. 462.
[13] Ahmad bin ‘Ali Abu Bakar al-Râzi al-Jashshash al-Hanafi, Ahkâm al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, 1405 H, juz. V, hlm. 246-247.
[14] Hadits hasan, diriwayatkan oleh al-Khathib dalam at-Târîkh (IX/227), Ibnu Asakir (XVIII/99), ad-Daruquthni dalam al-‘Ilal (VI/ 219), dan Ibn al-Jauzi dalam al-‘Ilal (I/ 85).
[15] Abu al-Qasim al-Thabrani Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub, Al-Mu’jam al-Awsath, Kairo: Dâr al-Haramayn, juz III, hlm. 118, hadits no. 2663.
[16] Abu Bakar al-Baihaqi Ahmad bin al-Husain al-Khurasani, Al-Madkhal Ilâ al-Sunan al-Kubrâ’, Ed: Dr. Muhammad Dhiya’ur Rahman, Kuwait: Dâr al-Khulafâ’, juz I, hlm. 270, hadits no. 385.
[17] Abu ‘Umar Yusuf bin Abdullah al-Qurthubi (Ibn Abdul Barr), Jâmi’ Bayân al-‘Ilm wa Fadhlihi, Ed: Abi al-Asybal al-Zuhairi, KSA: Dâr Ibn al-Jawzi, cet. I, 1414 H/1994, juz I, hlm. 545, hadits no. 903.
[18] Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abdullah al-Ashbahani, Hilyat al-Awliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Prov. Mesir: al-Sa’adah, 1394 H/1974, juz V, hlm. 174.
[19] Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’âni wa al-Bayân wa al-Badî’, Ed: Dr. Yusuf al-Shamaili, Al-Maktabah al-‘Ashriyyah, Cet. I, 1999, hlm. 165; Abdul Muta’al al-Sha’idi, Bughyat al-îdhâh Li Talkhîsh al-Miftâh, Cet. VIII, juz II, hlm. 3. 
[20] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, Riyâdh: Jâmi’atul Imâm Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyyah, Cet. II, 1425 H, hlm. 73.
[21] Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’âni wa al-Bayân wa al-Badî’, hlm. 165; Abdul Muta’al al-Sha’idi, Bughyat al-îdhâh Li Talkhîsh al-Miftâh, juz II, hlm. 3.
[22] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-‘Asqalani, Fat-h al-Bârii Syarh Shahîh al-Bukhâriy, Ed: Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi dkk, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz I, hlm. 161.
[23] Abu ‘Umar Yusuf bin Abdullah al-Qurthubi (Ibn Abdul Barr), Jâmi’ Bayân al-‘Ilm wa Fadhlihi, juz I, hlm. 545, no. 904.
[24] Badruddin Ibnu Jama’ah, Tadzkirat al-Sâmi’ wa al-Mutakallim fî Adab al-‘Âlim wa al-Muta’allim, Beirut: Dâr al-Basyâ’ir al-Islâmiyyah, Cet. III, 1433 H, hlm. 43.
[25] ’Abdurrahman al-Mushthawi, Dîwân al-Imâm al-Syâfi’i, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. III, 1426 H, Qafiyyatur-Râ’, hlm. 55.