21 Januari 2016

Pelecehan Terhadap Islam yang Terus Berulang & Solusinya (Bag. 2 dari 3)


K
aum muslimin saat ini hidup bagaikan buih dalam lautan, terombang ambing dalam gelombang fitnah yang dahsyat menimpa agama dan dunia mereka, dan salah satu tantangan tersebesarnya adalah invasi pemikiran kufur Barat yang meracuni umat ini dengan racun yang mematikan, jika Allah tidak menyelamatkan kita mungkin binasalah kita seketika itu jua. Kejahatan kaum kuffar selama ini sebenarnya menggambarkan apa yang Allah SWT firmankan:
{قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ}
”Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Âli Imrân [3]: 118)
          Ayat ini menegaskan bahwa kebencian kaum kuffar itu nyata pada lisan-lisan mereka, dan kebencian yang mereka sembunyikan lebih besar lagi. Maka pelecehan-pelecehan yang mereka tampakkan sebenarnya sebagian kecil dari kebenciannya, dan apa yang mereka sembunyikan lebih besar lagi, wal ’iyâdzu biLlâh,
          Imâm al-Mufassirîn, Al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H), ketika menafsirkan cuplikan ayat yang agung ini menjelaskan bahwa makna (من أفواههم) yakni dengan lisan-lisan mereka.[2] Al-Thabari pun menegaskan bahwa permusuhan mereka atas siapa saja yang menyelisihi apa yang menjadi pijakan mereka berupa kesesatan, merupakan sekuat-kuatnya sebab dalam permusuhan mereka terhadap orang yang beriman, karena hal tersebut merupakan permusuhan di atas motif agama.[3]
Maka pertanyaannya, apa yang bisa membungkam pelecehan demi pelecehan mereka selama ini? Itulah yang coba penyusun jelaskan solusinya berdasarkan petunjuk dalil-dalil al-Qur’an, al-Sunnah dan penjelasan para ulama mu’tabar.

A.  Pengertian Al-Istihzâ’ (Perbuatan Melecehkan)
Pelecehan atau penghinaan, dalam bahasa arab dikenal dalam istilah al-istihzâ’ (الاستهزاء). Istihzâ’ itu sendiri berasal dari kata kerja (هَزَأَ - يَهْزَأُ), yang berkonotasi sakhira (melecehkan) [4]. Sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Manzhur (w. 711 H) dalam Lisân al-’Arab [5]:
هزأ: الهُزْءُ والهُزُؤُ: السُّخْرِيةُ. هُزِئَ بِهِ وَمِنْهُ. وهَزَأَ يَهْزَأُ فِيهِمَا هُزْءاً وهُزُؤاً ومَهْزَأَةً، وتَهَزَّأَ واسْتَهْزَأَ بِهِ: سَخِرَ 
        Dimana perbuatan istihzâ’ ini mengandung pelecehan atas pihak yang dilecehkan disertai i’tiqad (keyakinan, maksud) atas pelecehannya (الاستهزاء يَقْتَضِي تحقير المستهزإ بِهِ واعتقاد تحقيره), sebagaimana ditegaskan oleh Imam Abu Hilal al-’Askariy (w. 395 H).[6] Dan yang dimaksud dengan i’tiqad dalam ungkapan Abu Hilal al-’Askariy adalah jenis perbuatan atas suatu maksud dari hal yang dii’tiqadkan.[7]
Dan secara istilah, kata al-istihzâ’ pun digunakan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah, misalnya:
{وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ}
”Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokkan mereka.” (QS. Al-An’âm [6]: 10)
          Lihat pula: QS. Al-Tawbah [9]: 65, QS. Al-Baqarah [2]: 15, QS. Al-An’âm [6]: 5, dan lainnya, begitu pula dalam al-Sunnah.[8] Dan jika ditelusuri maka makna istilah yang dipakai dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun al-Sunnah tidak keluar dari makna bahasanya dalam konotasi ”melecehkan”.  

B.  Sekilas Fakta Pelecehan Kaum Kuffar Pasca Runtuhnya Khilafah Islam
Penghinaan kaum kuffar menjadi-jadi tak lama setelah runtuhnya Khilafah era Turki ’Utsmaniyyah pada 3 Maret 1924. Hal itu ditandai dengan berbagai kejahatan kaum sekularis dipimpin Mushthafa Kamal –la’natullâhi ’alayh- diantaranya melarang muslimah Turki mengenakan jilbab, mengganti adzan berbahasa arab dengan bahasa turki, dan lain sebagainya.
Dan pelecehan yang cukup menyita perhatian publik yang dilakukan oleh Salman Rushdie dengan novelnya yang berjudul “The Satanic Verses” pada tahun 1988. Beberapa tahun lalu, Ayaan Hirsi Ali, mencari popularitas dan jabatan politik dengan menghina Islam. Politisi Belanda kelahiran Somalia ini mengecam Islam sebagai agama terbelakang dan merendahkan wanita. Hirsi juga membantu Theo Van Gogh membuat film yang berjudul, ”Submission”. Dalam film itu dia menuduh al-Quran mendorong kekacauan dan pemerkosaan terhadap seluruh anggota keluarga.
Tak berhenti di sana, pelecehan pun terus berulang, terutama terhadap simbol-simbol Islam, mulai dari pembakaran mushhaf al-Qur’an, sandal bercorak lafal Allah/Muhammad, sajadah untuk menari, terompet dari cover al-Quran, cetakan kue berlafalkan ayat-ayat al-Quran, bungkus petasan berlafalkan ayat-ayat al-Quran, celana ketat bermotif kaligrafi surat al-ikhlas, azan mengiringi nyanyian Natal dalam perayaan Natal yang dihadiri oleh Presiden Jokowi. Karpet sajadah dijadikan alas penari yang menarikan tari Saman lalu dilanjutkan para penari yang menarikan tari Bali dalam sebuah acara Kemenag DKI. Yang paling akhir adalah kasus yang diungkap oleh seorang netizen di akun facebook-nya pada Kamis (8/1/2016) bahwa ada sepatu merek La Koka bertuliskan kaligrafi Arab berupa penggalan QS Yusuf ayat 64. Sepatu itu diduga dibeli di Surabaya (hidayatullah.com, 9/1/2016).
Namun jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya ada bentuk-bentuk pelecehan lain terhadap ajaran Islam di zaman ini, misalnya: stigmatisasi negatif terhadap syari’at jihad fî sabîlillâh dan khilafah, musuh-musuh Islam pasca tragedi WTC 9/11 -makar mereka sendiri- memunculkan isu terorisme untuk melakukan upaya keji monsterisasi terhadap perjuangan penegakkan syari’at Islam, syari’at jihad dan khilafah. Upaya stigmatisasi ini dengan mengaitkan antara jihad, khilafah dan terorisme (irhâbiyyah) bisa tergolong perbuatan merendahkan dan melecehkan jika dimaksudkan untuk merendahkannya. Padahal baik jihad maupun khilafah termasuk ajaran Islam yang agung dengan perincian prinsip-prinsip syari’atnya, dan istilahnya termasuk istilah-istilah khas yang dimunculkan oleh Islam dalam al-Qur’an dan al-Sunnah.[9]
Jika dimaksudkan untuk merendahkannya maka tak ragu lagi bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan keji merendahkan ajaran Islam. Pertanyaan mendasarnya, bagaimana mengatasi pelecehan demi pelecehan tersebut? Dan membungkamnya selama-lamanya? 

C.  Status Orang yang Melecehkan Islam & Syi’ar-Syi’arnya
Perbuatan melecehkan Allah, Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-, al-Qur’an al-Karim, dan hal-hal lainnya yang wajib diagungkan merupakan bentuk kekufuran. Jika pelakunya adalah seorang muslim, maka dengan perbuatan tersebut ia menjadi murtad, jika ia adalah kafir ahl al-dzimmah dan yang terikat perjanjian misalnya maka ia pun wajib dibunuh dan perjanjian yang ada otomatis batal. Dan jika pelakunya adalah kafir harbi, maka pada asalnya hubungan asal dengan kaum seperti ini adalah hubungan qitâl (peperangan).
Para ulama mu’tabar dalam kutub mereka, termasuk ketika menjelaskan pengertian al-kufr, menyebutkan bentuk istihzâ[an] sebagai salah satu bentuk kekufuran, baik perkataan maupun perbuatan yang bermaksud melakukan pelecehan (istihzâ’), sebagaimana penjelasan Imam Abu al-Baqa’ al-Hanafiy (w. 1094 H)[10], dan jika pelakunya sebelumnya muslim maka ia menjadi murtad, sebagaimana penjelasan al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) ketika menjelaskan pembahasan al-riddah.[11]
Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا قلى وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ} 
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengatakan ”râ’inâ” akan tetapi katakanlah ”unzhurnâ” dan dengarkanlah, dan bagi orang-orang kafir itu ’adzab yang amat pedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 104)
Para ulama menggunakan dalil ini untuk mengharamkan ucapan atau perkataan yang mengandung kemungkaran dan menyerupai orang kafir.[12] Termasuk kata-kata yang mengandung penghinaan terhadap Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-.
Dan kelak pelecehan tersebut akan menjadi penyesalan mendalam bagi mereka jika mereka tidak bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ ۚ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ}
”Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Yâsiin [36]: 30)
          Imam al-Azhari (w. 370 H) menjelaskan bahwa perbuatan pelecehan terhadap rasul-rasul akan menjadi penyesalan mendalam bagi mereka.[13] Karena kata seruan (harf al-nidâ’) yakni dalam ayat ini tidak membutuhkan jawaban namun sebagai peringatan bagi siapa saja yang berakal.[14]

D.  Solusi Islam: Praktis & Ideologis
Pertama, Ketakwaan Individu & Kontrol Sosial Masyarakat
Islam telah menetapkan bahwa perbuatan melecehkan Allah, Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- dan simbol-simbol Islam, baik dengan perbuatan maupun perkataan dengan beragam bentuknya merupakan kemungkaran yang besar. Kecaman-kecaman yang ada sudah cukup menjadi peringatan keras bagi mereka yang berakal. Artinya, Islam sebenarnya telah menutup celah-celah tersebut dengan membentuk insan yang bertakwa, karena orang yang bertakwa tidak akan berani melakukan perbuatan keji tersebut, namun melakukan sebagaimana yang Allah firmankan:
{ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ}    
”Demikianlah (perintah Allah) dan siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu. (QS. Al-Hajj [22]: 32)
          Karena takwa, sebagaimana disebutkan Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah merupakan rasa takut terhadap (siksa) Allah, keta’atan terhadap-Nya dan persiapan diri untuk menghadapi hari perjumpaan dengan-Nya (Hari Akhir), sebagaimana disebutkan sebagian sahabat:
الخوف من الجليل والعمل بالتنزيل والاستعداد ليوم الرحيل
Rasa takut kepada Allah Yang Maha Mulia, beramal dengan apa yang diturunkan-Nya, dan persiapan untuk hari Akhir.[15]
Dengan rasa takut dan keyakinan terhadap adanya hari penghisaban tentu menjadi penghalang yang kuat dari berbagai kemungkaran.
Syaikh Muhammad Nawawi bin ’Umar al-Syafi’i (w. 1316 H) pun menjelaskan di antara sifat terpuji (الصفات المحمودية) yang tentunya melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah (تعظيم شعائر الله) yakni syi’ar-syi’ar Din-Nya, dan yang dimaksud dengan al-sya’âir adalah konteks tempat dimana Din ini ditegakkan.[16] Dalam ulasan lainnya Syaikh Nawawi mencontohkan misalnya Masjid, Shafa - Marwah,’Arafah dan yang semisalnya.[17]
Di sisi lain, ketakwaan individu pun mendorong kepeduliaan terhadap sesama dalam bentuk kontrol sosial, yang tergambar dalam perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Dan salah satu kemungkaran tersebut adalah berbagai pelecehan terhadap Islam yang wajib dicegah, berdasarkan dalil ayat:
{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}
”Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada al-khayr (al-Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Aali Imrân [3]: 104)
           Dimana Syaikh Nawawi pun menjadikan ayat ini sebagai dalil wajib menegakkan al-amr bi al-ma’rûf wa al-nahy ’an al-munkar, dan meninggalkan perbuatan melarang dari kemungkaran termasuk kemaksiatan lisan.[18]

Kedua, Kedudukan Kekuasaan & Penguasa dalam Islam
Di sisi lain perlu disadari benar-benar bahwa pelecehan demi pelecehan yang terjadi, menunjukkan bahwa mengatasi permasalahan ini menuntut keberadaan Sistem Islam (al-Khilafah) dan penguasanya (al-Khalifah) yang menegakkan hukum-hukum Islam kaaffah, menegakkan fungsinya mencakup fungsi ri’aayah (pemelihara urusan umat) maupun fungsi junnah (perisai akidah). Karena Islam memandang penting kedudukan penguasa dan menetapkan kewajiban mengadakannya, hal itu sebagaimana disaksikan oleh dalil-dalil al-Qur’an, al-Sunnah dan aqwaal para ulama. Hingga al-Hafizh Abu Zakariya bin Syarf al-Nawawi (w. 676 H) tak kelu untuk berkata:
لَا بُدَّ لِلْأُمَّةِ مِنْ إِمَامٍ يُقِيمُ الدِّينَ، وَيَنْصُرُ السُّنَّةَ، وَيَنْتَصِفُ لِلْمَظْلُومِينَ، وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا 
”Harus ada bagi umat ini seorang Imam yang menegakkan al-Dîn, menolong sunnah, memberikan hak bagi orang-orang yang dizhalimi, serta menunaikan hak-hak dan menempatkannya pada tempatnya.”[19]
          Bahkan para ulama menyebutkannya sebagai saudara kembar (الدّين وَالسُّلْطَان توأمان)[20], dan ia sebagaimana disebutkan Imam Abu Hamid al-Ghazali (w.505 H) dan lainnya:
الدّين أس وَالسُّلْطَان حارس فَمَا لَا أس لَهُ فمهدوم وَمَا لَا حارس لَهُ فضائع
”Al-Diin itu asas dan penguasa itu penjaganya, maka apa-apa yang tidak ada asasnya maka ia akan roboh dan apa-apa yang tidak ada penjaganya maka ia akan hilang.[21]
Penuturan senada disebutkan pula oleh Imam Abu al-Hasan al-Mawardiy (w. 450 H)[22], , Imam al-Qal’iy al-Syafi’i (w. 630 H)[23], Imam Ibnu al-Azraq al-Gharnathiy (w. 896 H)[24], dan lainnya. Dan terhadap permasalahan pelecehan yang terus berulang ini, maka tergambar kedudukan penguasa dalam beberapa poin penting ini:

  • ·         Memelihara & Menyokong Ketakwaan Individu dan Masyarakat

Memelihara dan menyokong ketakwaan individu dan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab penguasa, ia bagian dari apa yang disabdakan Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. al-Bukhârî, Muslim dll)[25]
Imam al-Baghawi (w. 516 H) menjelaskan makna al-râ’i dalam hadits ini yakni pemelihara yang dipercaya atas apa yang ada padanya, Nabi shallallâhu ’alayhi wa sallam- memerintahkan mereka dengan menasihati apa-apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan memperingatkan mereka dari mengkhianatinya dengan pemberitahuannya bahwa mereka adalah orang yang akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka al-ri’âyah: adalah memelihara sesuatu dan baiknya pengurusan.[26] Dimana di antara bentuknya adalah pemeliharaan atas urusan-urusan rakyat dan perlindungan atas mereka.[27]
Dan hal itu diwujudkan dengan penyelenggaraan pendidikan yang berbasis akidah Islam dan bertujuan membentuk kepribadian Islam peserta didik; pola pikir dan pola jiwa Islam. Dan dengan penegakkan hukum-hukum Islam kâffah (totalitas) yang menciptakan kehidupan Islam ditengah-tengah umat ini, turunlah keberkahan dari langit dan bumi. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ}
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’râf [7]: 96)

  • ·         Menjaga Akidah Umat & Mencegah Pelecehan

Mencegah pelecehan demi pelecehan tersebut merupakan salah satu tanggung jawab penguasa pula, yang mulia Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- menyifati penguasa (khalifah) sebagai junnah (perisai) dalam sabdanya:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayh)
Karena sifat junnah dalam hadits ini tak terbatas dalam peperangan semata,[28] akan tetapi berkonotasi pula sebagai pelindung dari kezhaliman, penangkal dari keburukan sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibnu al-Atsir (w. 606 H)[29] termasuk mencegah invasi pemikiran-pemikiran kufur, hingga kaum muslimin bisa bangkit kembali dari kelumpuhannya, menjadi umat terbaik, serta mencegah berulangnya pelecehan demi pelecehan terhadap simbol-simbol Islam, dimana hal tersebut diwujudkan dengan penegakkan sanksi yang tegas bagi setiap pihak yang terlibat dalam perbuatan keji tersebut.
Sikap ini yang setidaknya ditunjukkan oleh khalifah di masa akhir kekhilafahan Islam –meski sedang dalam kondisi terpuruk-, Turki ’Utsmaniyyah, pada abad ke-19 M, ada pertunjukan Drama karya Voltaire berjudul “Muhammad dan Kefanatikan” yang isinya menghina Nabi Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam- akan digelar di Paris Perancis. Maka Dubes Khalifah Turki Utsmani di Paris segera memprotes hal itu kepada penguasa Paris. Semula Penguasa Paris keberatan atas protes tersebut dan mengatakan bahwa drama itu adalah kebebasan rakyat Perancis untuk berekspresi. Apalagi rakyat masih hangat dengan slogan Revolusi Perancis : Liberty-Egality-Fraternity. Namun karena Dubes Khalifah mengancamnya, akhirnya memaksa Penguasa Paris akhirnya membatalkan rencana pertunjukkan Drama tersebut. Kemudian grup Drama itu beralih pindah ke London untuk di pentaskan. Maka Dubes dari Sultan Abdul Hamid II dari Khilafah Turki Utsmani yang berada di London pun memprotesnya. Ketika pemerintah London mengatakan bahwa rakyat London memiliki hak untuk mengekspresikan kebebasan lebih besar daripada hak rakyat Paris, maka Dubes Khalifah mengancam bahwa umat Islam sedunia akan melakukan jihad akbar melawan pemerintah Inggris yang telah menghina Nabi Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam-, maka pemerintah London pun akhirnya membatalkan rencana drama yang menghina Nabi Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam- tersebut. (suara-islam.com, 03/02/2015)
Termasuk dengan penegakkan sanksi hukuman Islam yang tegas atas pelaku pelecehan tersebut dan mereka yang terlibat di dalamnya, dengan hal tersebut maka orang yang berpenyakit kedengkian dalam hatinya, tidak akan sempat menularkan penyakitnya kepada orang lain. Dan salah satu tugas penguasa, bahkan ia merupakan kewenangan khusus baginya –tidak bagi rakyat- adalah penegakkan sanksi hukuman bagi pelaku kejahatan[30], salah satunya adalah kejahatan berupa pelecehan terhadap simbol-simbol Islam.
Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) menegaskan bahwa yang diseru dalam kata (فَاجْلِدُوا) dalam QS. Al-Nûr [24]: 2, ulama umat ini bersepakat bahwa yang diseru atas kefardhuan menegakkan sanksi tersebut adalah al-Imam (al-Khalifah-pen.), kemudian mereka berhujjah dengan hal ini atas wajibnya mengangkat seorang al-Imam (al-Khalifah), mereka mengatakan karena Allah SWT memerintahkan menegakkan sanksi had, dan mereka bersepakat bahwa Dia tidak menguasakan penegakkan kefardhuan tersebut kecuali kepada seorang al-Imam (al-Khalifah)[31], Al-Razi pun mendasarkannya pada kaidah syar’iyyah:
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Hal-hal dimana suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya pun wajib.[32]
Hal senada ditegaskan oleh Imam Nizhamuddin al-Naisaburi (w. 850 H):
أجمعت الأمة على أن المخاطب بقوله فَاجْلِدُوا هو الإمام حتى احتجوا به على وجوب نصب الإمام فإن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
”Umat ini bersepakat bahwa yang diseru dari firman-Nya: ”Jilidlah” adalah al-Imam hingga mereka pun berhujjah dengannya atas wajibnya mengangkat al-Imam, karena sesungguhnya hal-hal dimana kewajiban tak sempurna kecuali dengannya maka hal-hal tersebut menjadi wajib adanya.”[33]
Maka ini semua semakin mendesak kita mengupayakan tegaknya syari’at Islam kâffah dengan thariqah menegakkan al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah, membai’at khalifah untuk menegakkan hukum Islam kâffah, menjalankan fungsi ri’âyah (pengaturan urusan umat) dengan hukum syari’ah kâffah, dan menegakkan fungsi junnah (perisai) memelihara akidah umat, Allah al-Musta’ân. []




[1] Disampaikan dalam Syi’ar Islam Cibadak, 17/1/2016, di Masjid As-Salam Karangtengah Cibadak, Kab. Sukabumi.
[2] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Ed: Ahmad Muhammad Syakir, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H/2000, juz VII, hlm. 145.
[3] Ibid.
[4] Abu Manshur Muhammad bin Ahmad bin al-Azhari, Tahdzîb al-Lughah, Ed: Muhammad ’Iwadh, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, cet. I, 2001, juz VI, hlm. 196; Abu al-Qasim Mahmud bin ’Amru al-Zamakhsyari Jarullah, Asâs al-Balâghah, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz II, hlm. 372; Abu Nashr Isma’il bin Hammad al-Jawhari, Al-Shihâh Tâj al-Lughah wa Shihâh al-’Arabiyyah, Beirut: Dâr al-’Ilm li al-Malâyîn, cet. IV, 1407 H, juz I, hlm. 82-83; Ahmad bin Faris al-Razi, Mu’jam Maqâyîs al-Lughah, Dâr al-Fikr, 1399 H, juz VI, hlm. 52.
[5] Abu al-Fadhl Jamaluddin Ibnu Manzhur al-Afriqi, Lisân al-’Arab, Beirut: Dâr Shâdir, cet. III, 1414 H, juz I, hlm. 183.
[6] Abu Hilal al-Hasan bin ‘Abdullah al-‘Askari, Al-Furûq al-Lughawiyyah, Kairo: Dâr al-‘Ilm wa al-Tsaqâfah, t.t., hlm. 254.
[7] Ibid, hlm. 92.
[8] Hadits riwayat Muslim (I/119, hadits no. 382):
عن عبدالله بن مسعود -رضي الله عنه-: وفيه: فَقَالُوا : مِمَّ تَضْحَكُ يَا رَسُولَ اللهِ ، قَالَ : مِنْ ضَحِكِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حِينَ قَالَ : أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّي وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ؟ فَيَقُولُ : إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ مِنْكَ ، وَلَكِنِّي عَلَى مَا أَشَاءُ قَادِرٌ (رواه مسلم)
[9] Coba pahami penafsiran para ulama atas ayat ini: QS. Al-Baqarah [2]: 104.
[10] Ayyub bin Musa al-Husaini Abu al-Baqa’ al-Hanafi, Al-Kulliyyât Mu’jam fî al-Mushthalahât wa al-Furûq al-Lughawiyyah, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, hlm. 764.
[11] ’Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Mu’jam Maqâlîd al-’Ulûm fî al-Hudûd wa al-Rusûm, Kairo: Maktabah al-Âdâb, cet. I, 1424 H, hlm. 59.
[12] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz I, hlm. 257; Badruddin al-‘Ayni, ‘Umdat al-Qâriy Syarh Shahîh al-Bukhâriy, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabiy, juz XVIII, hlm. 86.
[13] Abu Manshur Muhammad bin Ahmad bin al-Azhari, Tahdzîb al-Lughah, juz XV, hlm. 481.
[14] Ibid.
[15] ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1427 H/2006, hlm. 213.
[16] Muhammad Nawawi bin Umar, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq fî Syarh Sullam al-Tawfîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 103
[17] Ibid, hlm. 125.
[18] Ibid, hlm. 125.
[19] Abu Zakariya Muhyiddin bin Syarf al-Nawawi, Rawdhat al-Thâlibîn wa ‘Umdat al-Muftîn, Beirut: al-Maktab al-Islâmiy, cet. III, 1412 H, juz X, hlm. 42.
[20] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1424 H, hlm. 128.
[21] Ibid.
[22] Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Mawardi al-Baghdadi, Tashîl al-Nazhar wa Ta’jîl al-Zhafar fî Akhlâq al-Malik, Beirut: Dâr al-Nahdhah al-‘Arabiyyah, hlm. 149.
[23] Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Ali al-Qal’iy al-Syafi’i, Tahdzîb al-Riyâsah wa Tartîb al-Siyâsah, Urdun: Maktabah al-Manâr, cet. I, t.t., hlm. 95.
[24] Muhammad bin ‘Ali Syamsuddin al-Gharnathiy Ibnu al-Azraq, Badâi’i al-Silk fî Thabâi’i al-Mulk, Irak: Wizârat al-I’lâm, cet. I, t.t., hlm. 109.
[25] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (VI/2611, hadits 6719); Muslim dalam Shahîh-nya (VI/7, hadits 4751); Abu Dawud dalam Sunan-nya (III/91, hadits 2930); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (X/342, hadits 4490).
[26] Ibnu Mas’ud al-Baghawi, Syarh al-Sunnah, Beirut: Al-Maktab al-Islami, Cet. II, 1403 H, juz X, hlm. 61.
[27] Ibid.
[28] Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VI, hlm. 2391.
[29] Ibnu al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl fî Ahâdîts al-Rasûl, Maktabat Dâr al-Bayân, cet. I, 1390 H, juz IV, hlm. 63.
[30] Lihat penjelasan para ulama mengenai masalah ini.
[31] Muhammad bin ‘Umar bin al-Husain Fakhruddin al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, cet. III, 1420 H, juz XXIII, hlm. 313.
[32] Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra, Al-‘Iddatu fî Ushûl al-Fiqh, Ed: Dr. Ahmad bin ‘Ali, Cet. II, Tahun 1410 H, juz. II, hlm. 419; Sulaiman bin ‘Abdul Qawiy bin al-Thufi Najmud Din, Syarh Mukhtashar al-Rawdhah, Mu’assasatur Risalah, Cet. I, Tahun 1407 H, juz I, hlm. 314; Tajuddin ‘Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin al-Subki, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Cet. I, Tahun 1411 H, juz. II, hlm. 88.
[33] Nizhamuddin al-Hasan bin Muhammad Husain al-Naisaburi, Gharâ’ib al-Qur’ân wa Raghâ’ib al-Furqân, Ed: Zakariya ‘Amirat, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1416 H, juz V, hlm. 148.