27 Januari 2016

Jawaban atas Syubhat Dibalik Kritikan ”Bombastisasi” Khilafah (Bag. 1)


Oleh: Irfan Abu Naveed[1]

إِنَّ الْحَمْدَ للَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاه، وَبَعْد

D
iantara fitnah yang dihadapi kaum muslimin di masa ini adalah tegaknya sistem kehidupan jahiliyyah[2], tercerai berainya kaum muslimin dalam sekat-sekat Nation State (Negara Bangsa) warisan penjajah; jauh dari persatuan. Umat islam pun digempur dengan ragam pemikiran yang menjauhkan mereka dari cahaya kebangkitannya, terjangkit penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati), benarlah apa yang disebutkan dalam hadits yang mulia:
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ «حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ» 
”Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadap makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya, ”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, ”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagaikan buih seperti buih dalam gelombang lautan. Dan sungguh Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan Dia sungguh akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’.” Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya[3], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah[4])
        Para ulama pun bangkit menyeru umat untuk bangkit kembali dengan Islam, dan salah satu ulama, pemikir ulung tersebut adalah al-Qadhi al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani –rahimahullâh- (w. 1977 M) yang mendirikan Hizbut Tahrir dan memimpin gerakan ini selama puluhan tahun berdakwah di tengah-tengah masyarakat. Dalam perjalanannya, HT menghadapi berbagai tantangan pemikiran dari Peradaban Barat, maupun pemikiran orang-orang yang skeptis, pragmatis, terpengaruh paham sepilis dan lain sebagainya. Namun itu semua sama sekali tidak mampu membendung gerak dakwah HT yang menyeru kepada Allah, kepada penegakkan hukum-hukum Allah dalam naungan al-Khilafah, bi fadhlillâhi Ta’âlâ. Hal itu sebagaimana janji Allah bagi mereka yang menolong agama-Nya dalam firman-Nya yang agung:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ}
”Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)

A.  Mengenal Hizbut Tahrir (HT) Sebenar-Benarnya dan Sejujur-Jujurnya
Hizbut Tahrir memiliki tujuan agung dalam perjuangannya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ta’rif Hizb al-Tahriir:
غاية حزب التحرير هي استئناف الحياة الإسلامية، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم. وهذه الغاية تعني إعادة المسلمين إلى العيش عيشًا إسلاميًا في دار الإسلام، وفي مجتمع إسلامي، بحيث تكون جميع شؤون الحياة فيه مسيرة وفق الأحكام الشرعية 
”Tujuan Hizbut Tahrir adalah melanjutkan kehidupan Islam, dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Dan tujuan ini yakni (terwujud) dengan mengembalikan kaum muslimin kepada kehidupan islami dalam naungan Dâr al-Islâm, dalam masyarakat islami, dimana seluruh urusan kehidupan di dalamnya sejalan dengan hukum-hukum syar’iyyah.”[5]
Khilafah, menurut HT, bukanlah tujuan itu sendiri melainkan menjadi thariqah untuk menegakkan al-Islam kâffah (totalitas), karena banyak hukum-hukum Islam yang wajib ditegakkan terbengkalai karena ketiadaan Khilafah ini, ini sejalan dengan apa yang dijelaskan para ulama dalam kutub mereka mengenai wajibnya dan pentingnya kedudukan Khilafah.
Maka tidak benar jika ada tuduhan lainnya bahwa kekuasaan, kesenangan duniawi yang menjadi tujuan HT, itu bertentangan dengan apa yang digaungkan oleh HT dan para syababnya selama ini dalam banyak kitab kajian resminya, dalam selebaran-selebarannya, dari halqah-halqah pembinaan rutin dan pembinaan umumnya, dalam pengajian-pengajian dan lain sebagainya. Bukan demi kekuasaan materi duniawi, melainkan karena dorongan keimanan, akidah islam yang kuat yang mendorong para syababnya terus bergerak meski ada celaan dari orang-orang yang mencela, hal itu sama sekali tidak menggoyahkan gerak perjuangannya bi fadhlillâhi Ta’âlâ. Sehingga tuduhan itu semua menunjukkan dua hal; kejahilan terhadap HT, atau kebencian yang mendarah daging hingga tenggelam dalam asumsi-asumsi buruk sepihak mengenai HT, dan kita berlindung dari dua keburukan ini, wal ’iyâdzu billâh.
Di  sisi lain, jika materi duniawi yang menjadi tujuan HT, sedangkan saya menyaksikan besarnya pengorbanan guru-guru saya –bukan saya yang masih lemah berkorban ghafarallâhu lanâ- selama ini untuk dakwah baik waktu, tenaga, materi dan pikiran, ada pula di luar sana yang justru disiksa karena menyuarakan kebenaran, dibungkam dalam dinginnya jeruji besi karena di atas kebenaran namun tetap istiqamah dalam perjuangan! Ketahuilah yâ ikhwah, jika bukan karena dorongan keimanan, kerinduan pada tegaknya hukum-hukum Islam dan panji-panjinya niscaya banyak dari mereka yang sudah berguguran di medan perjuangan! Kenyataannya tidak! Maka tentu tidak ada celah menuduh HT bertujuan demi meraih kekuasaan duniawi semata.
Namun dalam perjalanan dakwahnya, salah satu kritikan tersebut diungkapkan oleh Sdr. Muafa Abu Haura (disingkat MAH) dengan memunculkan istilah ”bombastisasi khilafah” untuk disematkan pada aktivitas dakwah yang memperjuangkan tegaknya syari’ah kâffah dengan thariqah tegaknya al-Khilafah, maka agar tak terjebak pada syubhat di balik istilah, ada permasalahan mendasar terkait istilah ini dan apa yang menjadi dasar darinya:
Pertama, Pengertian dan batasan ”bombastisasi khilafah” kaitannya dengan HT? Sehingga tidak menjadi fitnah salah alamat. Dan kita tidak terjebak pada syubhat di balik istilah ini, mesti dituntaskan terlebih dahulu untuk mendudukkan persoalannya secara adil.
Kedua, Pengertian dan batasan ”bombastisasi khilafah” kaitannya dengan perkataan para ulama yang mengecam sikap ghuluw dalam masalah imamah/khilafah? Sehingga tidak menjadi penukilan yang salah alamat, yakni menisbatkan perkataan ulama dalam konteks yang tidak sejalan dengan apa yang dimaksudkannya.
Namun, di antara kritik saya atas apa yang ditampakkan dari argumentasi Sdr. MAH ini sebagai berikut:

B.  Kaburnya Pengertian ”Bombastisasi” Khilafah & Jawaban-Jawaban atas Syubhat Terkait
Pertama, Kaburnya Batasan Istilah ”Bombastisasi” Khilafah & Bentuk Logical Fallacy
          Istilah bombastisasi khilafah, merupakan istilah dari Sdr. MAH dengan gambaran yang jelas hiperbola, ini termasuk bentuk logical fallacy, melambungkan fakta dan istilahnya untuk disematkan pada pihak yang distigma sehingga mudah untuk dibantah atau dijatuhkan, tentu tidak adil.
Padahal ini menjadi hal yang urgen jika lantas ”bombastisasi” khilafah ini menurut Sdr. MAH hukumnya tidak boleh, terlarang, tidak proporsional; maka ini berkaitan dengan hukum Islam yang tidak sepele, sehingga Sdr. MAH wajib menjelaskan batasan dari istilah bombastisasi khilafah agar tak menjadi istilah karet yang bisa disematkan serampangan (seperti istilah terorisme), hingga berujung pada fitnah yang tidak ditemukan realitasnya pada pihak yang dikritisi dan malah menjadi boomerang bagi upaya perjuangan menegakkan khilafah yang memang hukumnya wajib, padahal Sdr. MAH sendiri maish mengakui bahwa Khilafah itu wajib.
          Namun sayangnya Sdr. MAH tidak merinci pengertian istilah ini secara mapan, kecuali dari kritikan dan penukilannya maka saya meraba-raba maksudnya adalah sikap ghuluw dalam mengopinikan khilafah (”kesusu” khilafah), sikap ghuluw terhadap khilafah menurut pemahaman Sdr. MAH atas pernyataan Imam Ibnu Taimiyyah yang sedang mengkritisi keras firqah Rafidhah yang ghuluw dalam masalah imamah.

Kedua, Syubhat Umum: Bahwa Tujuan Manusia Hidup di Dunia adalah untuk Ma’rifat Kepada-Nya, Bukan untuk Menegakkan Khilafah
       Jika ada yang menyatakan bahwa Allah membuat kita hadir di dunia ini bukan untuk mengejar apa yang dinamakan kejayaan, kesejahteraan, adikuasa, dan yang semakna dengannya. Maka perkataan ini tidak sesuai dengan realitas dari pihak yang dikritisi (syabab/ah HT), sebagaimana di awal sudah penyusun tegaskan bahwa khilafah itu sendiri bukanlah tujuan HT, apalagi kekuasaan duniawi dan kesenangan materi belaka. Maka poin ini tidak perlu ditanggapi kecuali mengingatkan bahwa pihak penuduh perlu jujur dan teliti dalam memahami pihak yang dikritisinya agar tak tenggelam dalam asumsi dan suu’ al-zhann semata, Allah al-Musta’ân.
Di sisi lain perlu diluruskan bahwa, pada satu sisi benar bahwa Allah ’Azza wa Jalla menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, ma’rifat kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya ini merupakan perkara asasi, pondasi sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Dzâriyât [51]: 56, ini perkara yang ma’lum diketahui oleh orang awwam dari kaum muslimin sekalipun.
Lalu bagaimana dengan HT? Jelas itu merupakan hal yang ma’lum dipahami sebagai bagian dari apa yang diadopsi oleh HT, hal itu dibuktikan dari beberapa segi:
Pertama, Pembahasan akidah sebagai pembahasan pembuka dalam pembinaan umum bagi mereka yang baru mengaji di HT, hingga berlanjut menjadi dâris (pelajar HT), pada bahasan kitab Nizhâm al-Islâm, bab pertama yakni bab thariqul iimân (jalan menuju keimanan) dimana dalam bab ini, siapapun yang mengkajinya dengan jujur akan mengakui besarnya perhatian HT terhadap perkara keimanan yang menjadi landasan geraknya memperjuangkan agama Allah.
Kedua, Imam Taqiyuddin al-Nabhani pun dalam kitab-kitab resmi mutabanath –yakni pandangan yang jelas diadopsi HT-, terutama dalam kitab Nizhâm al-Islâm dan kitab Mafâhiim Hizb al-Tahriir sudah memahamkan kita konsep penyatuan antara materi dan ruuh, amal perbuatan adalah materi, sedangkan ruuh yang dimaksud adalah kesadaran hubungannya dengan Allah, inilah yang dinamakan aspek ruuhiyyah yang mesti menyertai setiap gerak gerik manusia, dan ini yang menjadi pemahaman syabab/ah HT dalam setiap gerak geriknya. Saya kira, penuduh pun pernah mendapatkan kebaikan ilmu ini dari para gurunya dengan mengaji kitab dasar yang pertama dalam kajian HT, yakni Nizhâm al-Islâm.
Ketiga, HT pun dalam kitab Min Muqawwimât al-Nafsiyyah al-Islâmiyyah memahamkan dan mendorong para syababnya untuk bersegera melaksanakan syari’ah, cinta dan benci karena Allah yang dilandasi oleh keimanan.
Dan bukankah pengakuan cinta pada-Nya, ma’rifat kepada-Nya harus dibuktikan dalam amal nyata? Jika sekedar mengaku cinta tapi tak ada bukti maka cinta itu sebatas pengakuan semata, karena cinta dan ma’rifat kepada-Nya mesti dibuktikan dengan takwa pada-Nya, menunaikan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya inilah takwa sebagaimana dijelaskan oleh Imam Taqiyuddin al-Nabhani dalam Nizhâm al-Islâm. Takwa itu sendiri, sebagaimana disebutkan oleh Amir HT, Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil –hafizhahullâh- yakni rasa takut terhadap (siksa) Allah, keta’atan terhadap-Nya dan persiapan diri untuk menghadapi hari perjumpaan dengan-Nya (Hari Akhir), sebagaimana disebutkan sebagian sahabat:
الخوف من الجليل والعمل بالتنزيل والاستعداد ليوم الرحيل
Rasa takut kepada Allah Yang Maha Mulia, beramal dengan apa yang diturunkan-Nya, dan persiapan untuk hari Akhir.[6]
Pertanyaan mendasarnya, bagaimana kita membuktikan ketakwaan tersebut? Jika banyak hukum-hukum Allah terabaikan? Kemungkaran merajalela? Apakah kita akan diam sembari mengaku cinta pada-Nya? Ma’rifat kepada-Nya? Takwa kepada-Nya tanpa membuktikannya dengan memperjuangkan agama-Nya tegak di muka bumi? Syi’ar-syi’ar-Nya diagungkan? Padahal Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ}    
”Demikianlah (perintah Allah) dan siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu. (QS. Al-Hajj [22]: 32)
Ini merupakan salah satu dalil tanda takwa seseorang. Bukankah Allah menciptakan kita berikut seperangkat sistem kehidupan? Aturan-aturan syari’at-Nya? Dan manusia dituntut untuk bertakwa dengan segenap kemampuannya, ini pada satu sisi. Ingat bahwa Allah pun berfirman kepada orang-orang yang beriman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ}
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaihan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)
Ayat ini jelas menunjukkan wajibnya menegakkan akidah dan syari’at Islam kâffah (totalitas), sebagaimana penjelasan para ulama mu’tabar: Link
Keempat, Islam itu sendiri, sebagaimana dipahami oleh para ulama di antaranya al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani –dalam definisi yang memenuhi syarat-syaratnya[7]- dan ini yang jelas menjadi pemahaman HT yakni sebagaimana disebutkan dalam kitab Nizhâm al-Islâm:
الإِسْلاَمُ هُوَ الديْن الذي أنزله الله على سيدنا محمد -صلى الله عليه وسلم- بتنظيم علاقة الإنسان بخالقه، وبنفسه، وبغيره من بني الإنسان 
“Al-Islam adalah din yang Allah turunkan kepada sayyidinâ Muhammad -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya.”[8]
Penjelasan serupa disebutkan oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H), bahwa Islam adalah Din yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad -shallallâhu ‘alayhi wa sallam-, mencakup akidah, syari’ah dan akhlak.[9] Dalam perinciannya, ruang lingkup Al-Islam:
Pertama, Mengatur hubungan manusia dan Pencipta-Nya mencakup akidah dan peribadahan-peribadahan;
Kedua, Mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri mencakup akhlak, makanan dan pakaian;
Ketiga, Mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia mencakup mu’amalah, dan hukum-hukum persanksian.[10]
Pada sisi lainnya, jika syari’at Allah tersebut belum tegak, maka orang yang mengaku cinta dan ma’rifat kepada-Nya akan tergerak memperjuangkan agama Allah hingga tegak, ini merupakan bukti kecintaan pada-Nya, pada syari’at-Nya. Ini merupakan perkara yang jelas dan tuntas dipahami oleh para syabab/ah HT sebagai dasar atau pondasi amalnya dalam aktivitas perjuangannya. Hal itu sebagaimana isyarat agung dalam QS. Muhammad [47]: 7, bahwa Allah ’Azza wa Jalla berjanji meneguhkan kedudukan mereka yang menolong Din-Nya dan ini menjadi prasyarat bagi turunnya pertolongan-Nya:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} 
”Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)
          Maka jika ada tuduhan lain yang menyelisihinya itu adalah tuduhan zhalim tak pada tempatnya yang bisa lahir dari kejahilan penuduh atau kebenciannya pada pihak yang dituduh, dan kita berlindung kepada Allah dari kedua hal tersebut, karena sikap adil dalam menilai merupakan karakteristik orang yang bertakwa:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ}
”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 8)
        Perbuatan, sepak terjang dan lisan seseorang bisa menyingkap apa yang tersembunyi di balik maksudnya, ghafarallâhu lanâ wa lahum.


C. Inilah Sikap yang Dicontohkan Generasi Terbaik Umat yang Jelas Diakui Keshalihannya, Benar dalam Cinta Mereka Pada-Nya & Pada Rasul-Nya
Disisi lain jika isu ”bombastisasi khilafah” ini dianalogikan dengan sikap dalam mencari harta maka perlu ditegaskan bahwa ini simplifikasi persoalan, logikanya tidak sesederhana itu. Sebagaimana tidak bisa dibandingkan antara kewajiban dan kedudukan al-Khilafah dalam penerapan hukum-hukum syari’ah dan mencari harta dunia. Upaya memperjuangkan tegaknya al-Khilafah dengan analogi sederhana mencari harta duniawi, bagi saya merupakan bentuk pengkerdilan atas kefardhuan dan pentingnya kedudukan al-Imamah/al-Khilafah yang disaksikan oleh al-Qur’an, al-Sunnah, Ijma’ al-Sahabat, perkataan dan sya’ir para ulama mu’tabar.
Dan sikap terbaik dalam menghadapi realitas ketiadaan al-Khilafah saat ini adalah menyaksikan dan meneladani sikap sebaik-baiknya generasi umat ini, yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}
”Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Tawbah [9]: 100)
        Mereka lah salafunâ al-shâlih, jika kita telusuri sikap mereka dalam menyikapi persoalan penegakkan Khilafah, pengangkatan Khalifah maka duduk persoalannya kian terang benderang:

Pertama, Diskusi Alot Para Sahabat yang Zuhud dalam Mempersoalkan Sosok Khalifah
Para sahabat Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- jelas zuhud terhadap dunia, namun sikap mereka yang sibuk membicarakan kekhilafahan pasca wafatnya Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- di Saqifah Bani Sa’idah, hingga terjadi diskusi yang cukup alot sebenarnya sudah cukup menunjukkan pentingnya mengupayakan keberadaan al-Khalifah tidak bisa dianalogikan dengan upaya mencari harta duniawi, tegaknya al-Khilafah berkaitan dengan tegaknya berbagai urusan agama dan dunia ini, bahkan salah seorang ulama mu’tabar, al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra (w. 458 H) ketika mengomentari peristiwa bersejarah diskusi alot antara tokoh-tokoh Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin ini, ia menegaskan:
فلولا أن الإمامة واجبة لما ساغت تلك المحاورة والمناظرة عليها 
”Dan jika seandainya Imamah itu tidak wajib, maka takkan berlangsung diskusi alot tersebut dan perdebatan tentangnya.”[11]
Sebelumnya, al-Qadhi Abu Ya’la menegaskan bahwa al-Imamah (al-Khilafah) hukumnya wajib berdasarkan dalil al-sam’u (yakni dalil-dalil naqli-pen.).[12]
Penjelasan senada ditegaskan oleh al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) dalam kitab tafsirnya.[13]. Bahkan al-Qurthubi menegaskan:
وأنها ركن من أركان الدين الذي به قوام المسلمين، والحمد لله رب العالمين
”Dan bahwa ia (al-Imamah/al-Khilafah) merupakan rukun (perkara prinsipil sangat penting-pen) dari rukun-rukun Din ini dimana dengannya tegak kokoh kaum muslimin, dan segala puji bagi Allah.”[14]

Kedua, Sikap Sahabat yang Jelas Mencintai Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- & Benar dengan Cintanya Lebih Mendahulukan Persoalan Mengangkat Khalifah daripada Menguburkan Jenazah Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam-
Di sisi lain, para sahabat dalam perisitiwa agung Saqifah Bani Sa’idah pun jelas lebih mendahulukan pengangkatan Khalifah daripada pemakaman jenazah Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam-, ini merupakan contoh paling kuat untuk menafsirkan pentingnya keberadaan al-Khalifah bagi umat dalam bentuk perbuatan yang nyata dari generasi al-salaf al-shâlih, ini merupakan ijma sahabat yang jelas menjadi dalil wajibnya menegakkan al-Imamah/al-Khilafah.
Dalam Ma’âlim al-Sunan, Imam al-Khaththabi (w. 388 H) dalam satu bab khusus (ومن باب الخليفة يستخلف) menjelaskan:
ولذلك رُئيت الصحابة يوم مات رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يقضوا شيئا من أمر دفنه وتجهيزه حتى أحكموا أمر البيعة ونصبوا أبا بكر إماما وخليفة وكانوا يسمونه خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم طول عمره
“Oleh karena itulah para sahabat pada hari wafatnya Rasulullah -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- belum melakukan hal apapun untuk pemakaman jenazah beliau -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- dan pengurusannya hingga mereka berhasil menegakkan perintah bai’at dan mengangkat Abu Bakar sebagai Imam dan Khalifah dan mereka –sahabat- menjulukinya dengan julukan Khalifatu Rasuulillâh -shallallâhu ‘alayhi wa sallam- sepanjang masa hidupnya.”
Imam al-Khaththabi (w. 388 H) setelah menyebutkan dalil ijma’ sahabat pun menegaskan bahwa wajib menegakkan al-Khilafah dengan bahasa sharîh, jelas sejelas-jelasnya dalam penjelasannya, tidak samar bagi mereka yang berakal dan masih jeli pandangan matanya, al-Khaththabi menegaskan:
وذلك من أدل الدليل على وجوب الخلافة وأنه لا بد للناس من إمام يقوم بأمر الناس ويمضي فيهم أحكام الله ويردعهم عن الشر ويمنعهم من التظالم والتفاسد
“Dan dalil tersebut (ijma’ sahabat) merupakan sejelas-jelasnya dalil atas wajibnya menegakkan al-Khilafah dan bahwa harus ada seorang Imam (Khalifah-pen.) bagi masyarakat yang berdiri memerintah masyarakat, mengatur mereka dengan hukum-hukum Allah, menjauhkan mereka dari keburukan, menghalangi mereka dari perbuatan saling menzhalimi dan saling merusak.”
          Di akhir penjelasannya, Al-Khaththabi pun menegaskan:
وكل ذلك يدل على وجوب الاستخلاف ونصب الإمام
“Dan itu semua menunjukkan atas wajibnya mengangkat pengganti khalifah dan mengangkat al-Imam (al-Khalifah).”[15]
Dan sikap kita sebagaimana dituturkan sya’ir yang dinukil al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dan lainnya:
نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun”
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.”
[16]
Diperkuat dengan kesaksian para ulama berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah mengenai wajibnya dan pentingnya kedudukan Khilafah yang menunjukkan sesuatu yang mendesak merupakan perkara yang ma’lum, tidak ada yang bisa membantahnya kecuali mereka yang belum tahu atau menyembunyikan ilmunya. Sedikit saja diantaranya:
Imam al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) bertutur:
ولولا السلطان لأكل الناس بعضهم بعضاً   
“Jika seandainya tiada al-sulthân (al-khalifah) maka sungguh manusia akan menzhalimi satu sama lain.”[17]
        Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) pun tak ragu untuk berkata:
والفتنة: إذا لم يكن إمام يقوم بأمر الناس 
“Fitnah terjadi jika tidak ada Imam (Khalifah) yang berdiri untuk mengatur manusia (dengan hukum-hukum Islam-pen.).”[18]
Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) menegaskan bahwa yang diseru dalam kata (فَاجْلِدُوا) dalam QS. Al-Nûr [24]: 2, ulama umat ini bersepakat bahwa yang diseru atas kefardhuan menegakkan sanksi tersebut adalah al-Imam (al-Khalifah-pen.), kemudian mereka berhujjah dengan hal ini atas wajibnya mengangkat seorang al-Imam (al-Khalifah), mereka mengatakan karena Allah SWT memerintahkan menegakkan sanksi had, dan mereka bersepakat bahwa Dia tidak menguasakan penegakkan kefardhuan tersebut kecuali kepada seorang al-Imam (al-Khalifah)[19], Al-Razi pun mendasarkannya pada kaidah syar’iyyah:
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Hal-hal dimana suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya pun wajib.[20]
Hal senada ditegaskan oleh Imam Nizhamuddin al-Naisaburi (w. 850 H):
أجمعت الأمة على أن المخاطب بقوله فَاجْلِدُوا هو الإمام حتى احتجوا به على وجوب نصب الإمام فإن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
”Umat ini bersepakat bahwa yang diseru dari firman-Nya: ”Jilidlah” adalah al-Imam hingga mereka pun berhujjah dengannya atas wajibnya mengangkat al-Imam, karena sesungguhnya hal-hal dimana kewajiban tak sempurna kecuali dengannya maka hal-hal tersebut menjadi wajib adanya.”[21]
Dan masih banyak lagi kesaksian mereka yang saling menguatkan dan merinci sebagai bukti kuat mendesaknya keberadaan Khalifah dengan Sistem al-Khilafahnya, tak ada ulama mu’tabar yang menyangkalnya, lalu apakah kita yang bukan ulama akan menyangkalnya? Dan semoga saja kita termasuk sebenar-benarnya thâlib al-’ilm, yang sudah semestinya menyadari kadar ilmunya.
Secara keseluruhan, maka ini semua semakin mendesak kita mengupayakan tegaknya syari’at Islam kâffah dengan thariqah menegakkan al-Khilâfah ’ala Minhâj al-Nubuwwah, membai’at khalifah untuk menegakkan hukum Islam kâffah, menjalankan fungsi ri’âyah (pengaturan urusan umat) dengan hukum syari’ah kâffah, dan menegakkan fungsi junnah (perisai) menjaga kebaikan umat, Allah al-Musta’ân. []






[1] Penulis buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia, Ketua Tim Media & Tsaqafah DPD II HTI Kab. Sukabumi.
[2] Istilah ini merupakan istihal qur’aniy, untuk menggambarkan kejahilan terhadap akidah Islam (tauhid uluhiyyah) dan hukum Allah.
[3] Abu Dawud Sulaiman al-Sijistaniy, Sunan Abiy Dâwud, Beirut: Dâr al-Kitâb al-’Arabiy, Wizârat al-Awqâf al-Mishriyyah, juz IV, hlm. 184, hadits no. 4299.
[4] Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Ashbahani, Hilyat al-Awliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Mesir: Al-Sa’âdah, 1394 H, juz I, hlm. 182.
[5] Hizbut Tahrir, Hizbut Tahriir, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1431 H, hlm. 23.
[6] ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1427 H/2006, hlm. 213.
[7] Definisi itu sendiri merupakan deskripsi realitas yang bersifat Jâmi’ (komprehensif) dan Mâni’ (protektif). Artinya, definisi itu harus menyeluruh meliputi seluruh aspek yang dideskripsikan, dan memproteksi sifat-sifat di luar substansi yang dideskripsikan. Inilah gambaran mengenai definisi yang benar.
[8] Al-Qadhi Taqiyuddin bin Ibrahim Al-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. VII, hlm. 34.
[9] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H/1988, juz I, hlm. 68.
[10] Al-Qadhi Taqiyuddin bin Ibrahim Al-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, hlm. 34.
[11] Muhammad bin al-Husain (al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra), Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah li al-Farra’, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. II, 1421 H, juz I, hlm. 19.
[12] Muhammad bin al-Husain (al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra), Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah li al-Farra’, juz I, hlm. 19.
[13] Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Syamsuddin al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Riyadh: Dâr ‘Âlam al-Kutub, 1423 H, juz I, hlm. 264.
[14] Ibid.
[15] Abu Sulaiman Hamd bin Muhammad bin Ibrahim bin al-Khathab (Al-Khathabi), Ma’âlim al-Sunan: Syarh Sunan Abi Dâwud, Halb: Al-Mathba’ah al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1351 H/1932, juz III, hlm. 6.
[16] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadrîb al-Râwi fî Syarh Taqrîb al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, Cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.
[17] Abu al-Faraj Ibn al-Jawzi, Âdâb al-Hasan al-Bashri, Dâr al-Nawâdir, Cet. III, 1428 H, juz I, hlm. 58.
[18] Abu Bakr Ahmad bin Muhammad  al-Khallal, Al-Sunnah, Ed: Dr. ‘Athiyyah al-Zahrani, Riyadh: Dâr al-Râyah, Cet. I, 1410 H, juz III, hlm. 81. Dalam catatan kaki kitab ini disebutkan bahwa atsar ini sanadnya shahih dan madzhab ahlus sunnah memandang wajibnya mengangkat Imam (khalifah) yang memelihara kemaslahatan masyarakat. Lihat pula: Muhammad bin al-Husain (al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra), Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah li al-Farra’, juz I, hlm. 19.
[19] Muhammad bin ‘Umar bin al-Husain Fakhruddin al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, cet. III, 1420 H, juz XXIII, hlm. 313.
[20] Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra, Al-‘Iddatu fî Ushûl al-Fiqh, Ed: Dr. Ahmad bin ‘Ali, Cet. II, Tahun 1410 H, juz. II, hlm. 419; Sulaiman bin ‘Abdul Qawiy bin al-Thufi Najmud Din, Syarh Mukhtashar al-Rawdhah, Mu’assasatur Risalah, Cet. I, Tahun 1407 H, juz I, hlm. 314; Tajuddin ‘Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin al-Subki, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Cet. I, Tahun 1411 H, juz. II, hlm. 88.
[21] Nizhamuddin al-Hasan bin Muhammad Husain al-Naisaburi, Gharâ’ib al-Qur’ân wa Raghâ’ib al-Furqân, Ed: Zakariya ‘Amirat, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1416 H, juz V, hlm. 148.