16 Januari 2016

Catatan Atas Teror Opini Dibalik Bom Thamrin


Oleh: Irfan Abu Naveed

A.  Antara Analisa Sederhana, Analisa "Peramal" & Analisa Mendalam
Melihat berbagai isu yg berkembang pasca bom thamrin, kita menyaksikan analisa dangkal, analisa yg dipaksakan ala "peramal pendusta" dan analisa mendalam.
Pertama, Jika analisa hanya sampai pada pembahasan bahwa pelakunya adalah golongan bermanhaj takfiri/khawarij lalu sibuk mengulasnya dan tak melihat serta tidak mengungkap berbagai sisinya yang dibutuhkan oleh umat, maka ia analisa yang dangkal, mengapa disebut dangkal? Karena hanya melihat apa yang dipermukaan, masalahnya jika apa yang tampak dipermukaan ini merupakan desain musuh-musuh Islam yang menciptakan isu terorisme dengan kepentingan jahat terhadap Islam. Dan karena ia tidak melihat dan menganalisa keseluruhan peristiwa-peristiwa terkait dan bukti-bukti rinci penguat analisa yang mampu mengungkap dalang di balik isu terorisme yg sejak awal dimunculkan musuh-musuh islam.
Yang lebih ironi jika sebagian dari kaum muslimin pada kasus pertama ini bahkan bisa duduk bermajelis saling menguatkan opini dengan pihak yang berkepentingan dalam isu terorisme, seperti yang sudah-sudah mengundang kontroversial dan dimanfaatkan dalam proyek deradikalisasi
Hati-hati, apa yang tampak dalam pandangan mata, terkadang bagian dari tipu daya Iblis dan syaithan yang nyata:
{قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ} 
“Wahai Rabb, oleh sebab Engkau memutuskan bahwa aku tersesat, maka sungguh bahwa aku akan menghiasi (perbuatan) buruk mereka di muka bumi, dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 39)
          Allah menginformasikan dalam ayat ini bahwa Iblis mengungkapkan berbagai pernyataan visi misi kejinya dengan kata-kata yang diperkuat, yakni menggunakan لام الابتداء ونون التوكيد yaitu penegasan-penegasan yang memberi arti sangat serius dan menuntut keseriusan. Dimana dalam ilmu balaghah dua bentuk penegasan ini menafikan adanya keraguan dan pengingkaran atas kebenaran informasi di dalamnya.[1]
Al-Hafizh Ibn al-Jawzi –rahimahullâh- menegaskan: “Maka wajib bagi orang yang berakal untuk mawas diri terhadap musuh yang satu ini (Iblis, syaithan-pen.) yang telah menyatakan permusuhannya semenjak masa Adam a.s. dan ia bersungguh-sungguh mengerahkan segenap waktunya, jiwanya untuk merusak Bani Adam dan Allah telah memperingatkan kita darinya.”[2]
Kedua, Analisa yang dipaksakan yang terlihat dari pola opini yang hendak dibentuk sesuai kepentingan musuh-musuh islam sehingga sang 'analis' berperan bak wayang, kadang saking semangatnya ia lupa bahwa setiap kata-kata dan gerak-gerik komunikasinya menelanjangi dirinya. Bahkan seperti peramal pendusta, yang bicara tanpa data dan fakta namun seakan yakin dengan apa yang diucapkannya.
          Sesungguhnya mereka hendak memadamkan cahaya Allah, namun yakinlah bahwa upaya mereka tidak akan pernah berhasil!
{يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ} 
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.(QS. Al-Shaff [61]: 8)
Ketiga, Ada pula yang mampu menganalisa secara mendalam, melihat berbagai peristiwa secara keseluruhan sebagai rangkaian terkait dari grand project isu terorisme yang sejak awal dimunculkan musuh-musuh Islam -kaum kuffâr yang nyata-nyata memerangi Islam didukung boneka-bonekanya- dan ini yang mesti dimiliki setiap da'i sebagai bekal menyelamatkan umat ini dari upaya musuh-musuh Islam yang berupaya memadamkan cahaya Dînullâh ini dengan menstigma negatif ajarannya dan dari opini berbahaya dari isu terorisme ini. 
Maka memahaminya menjadi penting, sebagaimana dikatakan sya’ir yang dinukil Imam al-Ghazali (w. 505 H) dalam Ihyâ’ ’Ulûm al-Dîn (I/77):
عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه
ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan # Melainkan untuk menghindarkan diri darinya.”
“Dan barangsiapa tidak mengetahui keburukan # Di antara manusia maka akan terjerumus ke dalamnya.
Dan sesungguhnya para da'i yang ikhlas ini takkan mudah terpedaya! Maha benar Allah dengan segala firman-Nya:
{وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ}
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Âli Imrân [3]: 54)

B.   Standar Ganda: Antara Bom Thamrin dan 23.144 Bom Amerika Ke Negeri-Negeri Kaum Muslimin
Penting untuk kami ingatkan, bahwa Isu terorisme dari awal kemunculannya terutama sejak kejadian 9/11 tragedi WTC itu by design, hingga banyak ahli analisis di AS sendiri yg membongkar makar tsb siapa dalangnya? Menurut mereka justru "musuh-musuh Islam itu sendiri" yang menciptakan isu terorisme, tak ada kaitan sama sekali dengan Islam dan kaum muslimin.
Dan sesuatu yang diciptakan by design itu akan dipelihara sesuai dengan target-targetnya, waspada banyak pihak berkepentingan atas isu terorisme ini, saya melihatnya bagian dari tipu daya massif musuh-musuh Islam untuk menstigma negatif ajaran Islam. Apa yang mereka lakukan sebenarnya menggambarkan dari apa yang Allah firmankan:
 {قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ}
“Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Aali Imraan [3]: 118)
Di sisi lain jangan lupa bahwa selama tahun 2015 saja, AS telah melemparkan sekitar 23.144 BOM ke negeri-negeri kaum muslimin, jika 1 atau 2 bom saja disebut oleh mereka "terorisme", lalu angka 23.144 ini apa ya?! Link Berita: U.S. Dropped 23,144 Bombs on Muslim-Majority Countries in 2015
Allah al-Musta'än, hati-hati dan tetap waspada atas ledakan isu yaa ikhwah, bahkan lebih jauh lagi pengalihan isu!

C.   Pernyataan Hizbut Tahrir Indonesia Mengutuk Bom Thamrin

Pernyataan Hizbut Tahrir Indonesia
Mengutuk Bom Thamrin
NO: 280 14 Januari 2016 /04 Rabiul Akhir 1437 H

Sebagaimana telah diberitakan secara meluas bahwa pada Kamis 14 Januari 2016 sekitar jam 10.40 telah terjadi serangkaian ledakan dan tembakan di Menara Cakrawala dan Pos Polisi di Jalan MH Thamrin, Jakarta. Peristiwa ini telah mengakibatkan 7 orang tewas, termasuk 5 pelaku, 1 orang WNA dan 1 warga sipil, serta puluhan lainya luka-luka. Berkenaan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:
  • Mengutuk dengan keras pelaku peledakan dan serangan itu sebagai tindakan dzalim luar biasa. syariat Islam dengan tegas melarang siapapun dengan motif apapun membunuh dirinya sendiri, membunuh orang tanpa haq, merusak milik pribadi dan fasilitas milik umum, apalagi bila tindakan itu menimbulkan korban dan ketakutan yang meluas.
  • Menyerukan kepada semua pihak, khususnya kepolisian dan media massa, untuk bersikap hati-hati menanggapi spekulasi yang mengaitkan bom Thamrin itu dengan kelompok, gerakan atau organisasi Islam. Dari sekian kemungkinan, bisa saja peledakan bom itu sengaja dilakukan oleh orang atau kelompok, atau bahkan negara tertentu untuk mengacaukan masyarakat dan negara ini demi kepentingan politik dan ekonomi mereka sambil mendiskreditkan organisasi Islam dan kegiatan dakwahnya, serta melakukan rekayasa sistematis dan provokasi keji untuk terus menyudutkan negara Indonesia sebagai sarang terorisme.
  • Meminta kepada pihak kepolisian untuk segera menangkap pelaku dan dalang peledakan dan serangan, serta mengungkap motif dibalik tindakan itu. Hanya dengan cara ini saja segala macam spekulasi yang bisa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat bisa dihentikan.
  • Menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk tetap teguh, sabar dan istiqamah dalam perjuangan demi terwujudnya kehidupan Islami melalu tegaknya syariah dan Khilafah. Tidak gentar terhadap setiap tantangan, hambatan dan ancaman hingga cita-cita mulia itu benar-benar terwujud.
Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir.[] Link





[1] Tim Pakar, Al-Balâghah wa al-Naqd, Riyâdh: Jâmi’atul Imâm Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyyah, Cet. II, 1425 H, hlm. 38-39.
[2] Al-Hafizh Ibn Al-Jawzi, Talbîs Iblîs, Dâr al-Wathan, jilid I, hlm. 203-204.