21 Desember 2015

Sihir dalam Pandangan Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah (Bagian 1 dari 2)


-Kajian Tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 102-[1][2]

Terjemah & Catatan Tambahan (Ta’liq): Irfan Abu Naveed[3]
Download File Pdf: Link

Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}
”Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 101-103)[4]

Poin Ke-2, Dan ketika Allah menurunkan wahyu kepada rasul-Nya bahwa Sulaiman adalah Nabi:
{إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا}
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 163)[5]
Kaum Yahudi berkata: ”Sesungguhnya Sulaiman dahulu adalah tukang sihir dan bukan seorang Nabi.” Kemudian mereka mengumpulkan kitab-kitab yang ditulis oleh para tukang sihir dengan bantuan syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman, dan kitab-kitab yang telah tersebar di tengah-tengah mereka (Yahudi) di Madînaturrasûlshallallâhu ’alayhi wa sallam-[6], mereka berkata bahwa inilah kitab-kitab dimana Sulaiman AS menghukumi dengannya, lalu mereka (Yahudi) mengikutinya dan menjadikannya sebagai bahan perdebatan dengan Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-[7]:
{وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ}
”Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman.”
{مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ} 
Apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan.
Yakni apa-apa syaithan-syaithan bacakan, inspirasikan dan bisikkan kepada para tukang sihir agar mereka menuliskannya dalam kitab-kitab mereka[8]:
{يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا} 
”Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’âm [6]: 112)[9]
            Dan sungguh dahulu syaithan-syaithan golongan jin sebelum Islam (turun risalah Islam-pen.) mencuri dengar berita dari langit dan mencampuradukkan di dalamnya beragam jenis kedustaan dan membisikkannya kepada sekutu-sekutu mereka[10]:
فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ وَيُرْمَوْنَ بِهِ فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ[11]
”Maka malaikat penghuni langit dunia saling bertanya pula di antara sesama mereka, sehingga berita tersebut sampai ke langit dunia. Maka para jin berusaha mencuri dengar, lalu mereka sampaikan kepada wali-walinya (tukang sihir). Sehingga mereka dilempar dengan bintang-bintang tersebut. Berita itu mereka bawa dalam bentuk yang utuh, yaitu yang sebenarnya tetapi mereka campur dengan kebohongan dan mereka tambah-tambahkan.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan makna (يقرفون): ”Mereka (para jin) mencampurkan di dalamnya kedustaan”)[12]
Dan sungguh, para jin telah dihalangi dari perbuatan mencuri dengar berita langit setelah turunnya risalah Islam.[13]
{وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا}
”Dan sesungguhnya Kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya), akan tetapi sekarang siapa saja yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS. Al-Jin [72]: 9)
Frase (عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ) yakni pada masa kerajaan Sulaiman –’alayhi al-salâm-.
Sesungguhnya kitab-kitab sihir tersebut, para tukang sihir telah menyalinnya dengan dua jalan:
Pertama, Apa yang dibisikkan syaithan-syaithan golongan jin kepada mereka berupa (ilmu) sihir.
Kedua, Apa yang diajarkan dua malaikat, Harut dan Marut, kepada manusia dan sungguh Allah telah mengutus keduanya di Negeri Babil[14] untuk mengajari manusia ilmu sihir namun keduanya memperingatkan manusia dari perbuatan mengamalkannya, dan keduanya pun memberitahu manusia bahwa keduanya adalah ujian bagi manusia dan cobaan berat bagi mereka:
{وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ}
”Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ”Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)
            Dan Allah telah menurunkan di Bumi ini kebaikan dan keburukan untuk menguji hamba-hamba-Nya dengan keburukan dan kebaikan:
{وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً} 
”Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 35)[15]
                Dan pengajaran ilmu sihir bagi manusia merupakan cobaan bagi mereka, maka barangsiapa yang mengimani sihir[16] dan mengamalkannya maka sungguh ia telah kufur, dan barangsiapa tidak beriman kepadanya dan tidak mengamalkannya maka sungguh ia telah beruntung:
 {وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ} 
”Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. Al-Naml [27]: 40)

Poin Ke-4: Allah SWT membersihkan Nabi-Nya, Sulaiman –’alayhi al-salâm-, dari kebohongan Yahudi dan tuduhan dusta mereka, maka Sulaiman –’alayhi al-salâm- tidak kafir, dan hal tersebut dalam pembahasan ini menjadi petunjuk bahwa Nabi Sulaiman –’alayhi al-salâm- bukan tukang sihir dan tidak beriman kepada sihir, dan maka dari itu ia bukanlah seseorang yang kafir melainkan NabiyuLlah –’alayhi al-salâm- (وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ) yakni bukan seorang tukang sihir dan tidak beriman kepada sihir yang menjadi sebab kekufuran[17], dan petunjuk ini menjadi jawaban penentu, karena Yahudi telah menuduh Sulaiman –’alayhi al-salâm- dengan sihir.
             Ibnu Jarir[18] telah meriwayatkan dari Syahr bin Hawsyab[19] ia berkata: ”Orang-orang Yahudi berkata:
انْظُرُوا إِلَى مُحَمَّدٍ يَخْلِطُ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ، يَذْكُرُ سُلَيْمَانَ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّمَا كَانَ سَاحِرًا يَرْكَبُ الرِّيحَ
”Lihatlah oleh kalian Muhammad, ia telah mencampurkan antara kebenaran dan kebatilan, ia menyebut Sulaiman bersama dengan para nabi, padahal ia (Sulaiman) hanyalah seorang tukang sihir yang menunggangi angin.”[20]
Dan Yahudi tidak menuduh dengan vonis kufur, lalu Allah menjawab tuduhan mereka (وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ) yakni Sulaiman –’alayhi al-salâm- tidak mengamalkan sihir, namun penggunaan ungkapan kiasan (كَفَرَ) dalam ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa beriman terhadap sihir dan menyihir maka ia kufur secara bertahap berdasarkan ’alâqah sababiyyah dalam tinjauan bahasa arab[21] sebagaimana yang telah kami sebutkan.
            Dan begitulah bahwa Sulaiman –’alayhi al-salâm- tidaklah kufur, dan yang justru kufur adalah para syaithan:
 {وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ}
”Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ”Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Lihat pula: Mempelajari Sihir & Hukum Islam Bagi Tukang Sihir (Tafsir Syaikh ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah)


Catatan Tambahan (Ta'liq):



[1] Ulama ahli ushul fiqh, mujtahid, dan Amir Hizbut Tahrir.
[2] ‘Atha’ bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah), Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 112-114.
[3] Penulis buku Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia.
[4] Ayat ini menjadi dalil bahwa sihir sudah ada di zaman Nabi Sulaiman a.s.
[5] Ayat ini menjadi dalil qath’iy (pasti) yang menunjukkan bahwa Sulaiman –‘alayhis salâm- adalah Nabi dan Rasul. Berdasarkan petunjuk pasti (dilâlah qath’iyyah) kalimat (إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ), sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H):
إنا أرسلنا إليك، يا محمد، بالنبوة كما أرسلنا إلى نوح، وإلى سائر الأنبياء  
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu, wahai Muhammad, dengan kenabian sebagaimana kepada Nuh dan kepada seluruh nabi (setelahnya).” (Muhammad bin Jarir bin Yazid Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fii Ta’wiil al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz IX, hlm. 399)
[6] Yakni istilah lain dari Yatsrib atau al-Madiinah al-Munawwarah. Lihat: Dr. Ahmad Mukhtar ‘Abdul Hamid, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, ‘Âlam al-Kutub, cet. I, 1429 H/2008, juz III, hlm. 2080; Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H/1988, hlm. 419.
[7] Ini merupakan pengejewentahan dari keburukan kaum kuffar yang berupaya memadamkan cahaya Allah dengan beragam cara, di antaranya dengan mulut-mulut mereka sebagaimana Allah kabarkan dalam firman-Nya:
{يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ}
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Al-Shaff [61]: 8)
[8] Para ulama ketika menjelaskan hakikat sihir menegaskan bahwa ia adalah perbuatan yang sempurna dengan bantuan syaithan-syaithan golongan jin, Imam Murtadha al-Zabidi (w. 1205 H) menjelaskan:
(السِّحْرُ) عَمَلٌ يُقربُ فِيهِ إِلى الشَّيْطَان وبمَعُونة مِنْهُ  
“Sihir; suatu amal perbuatan dimana didalamnya terdapat perbuatan mendekatkan diri kepada syaithan dan bantuan darinya.” (Muhammad bin Muhammad Murtadha al-Zabidi, Tâj al-‘Arûs Min Jawâhir al-Qâmûs, Dâr al-Hidâyah, t.t, juz XI, hlm. 514)
[9] Yakni syaithan-syaithan itu saling membisiki keburukan (waswasah; bisikan-bisikan jahat), lihat: Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Umar bin al-Hasan al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb: Al-Tafsîr al-Kabîr, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, cet. III, 1420 H, juz XIII, hlm. 120; Abu al-Qasim Muhammad bin Ahmad (Ibnu Jazi al-Kalabi al-Gharnathi), Al-Tashîl li ‘Ulûm al-Tanzîl, Ed: Dr. ‘Abdullah al-Khalidi, Beirut: Syirkat Dâr al-Arqam bin Abi al-Arqam, cet. I, 1416 H, juz I, hlm. 273; ‘Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdus Salam, Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ibn Hazm, cet. I, 1416 H, juz I, hlm. 457. 
[10] Sesuai dengan firman-Nya:
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ {٢٢١} تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ {٢٢٢}
“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa.” (QS. Al-Syu’arâ [26]: 221-222)
            Al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) ketika menafsirkan ayat ini menukil pendapat Qatadah yang menegaskan bahwa kulli affâk[in] atsîm[in] yakni para dukun dimana para jin mencuri dengar berita langit kemudian mendatangi sekutu-sekutu mereka dari kalangan manusia. (Muhammad bin Jarir bin Yazid Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl al-Qur’ân, Dâr Hijr, cet. I, 1422 H/2001, juz ke-19, hlm. 414)
            Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) pun menjadikan kuhhân (para dukun) sebagai salah satu contoh golongan para pendusta nan fasik dimana syaithan-syaithan turun kepada mereka. (Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz VI, hlm. 155)
            Hal senada banyak diungkapkan para ulama dalam kitab-kitab tafsir mereka. Dan ini sebenarnya sudah cukup menjadi alasan kuat bagi mereka yang berakal untuk menjauhi para dukun, tidak berkonsultasi kepada mereka. Dan wajib bagi penguasa untuk menegakkan hukum Islam atasnya, mencegah masyarakat mendatangi mereka, bahkan wajib menutup pintu perdukunan rapat-rapat.
[11] Redaksi hadits ini lengkapnya dalam riwayat Muslim:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُمْ بَيْنَمَا هُمْ جُلُوسٌ لَيْلَةً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُمِيَ بِنَجْمٍ فَاسْتَنَارَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا رُمِيَ بِمِثْلِ هَذَا قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ كُنَّا نَقُولُ وُلِدَ اللَّيْلَةَ رَجُلٌ عَظِيمٌ وَمَاتَ رَجُلٌ عَظِيمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهَا لَا يُرْمَى بِهَا لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى اسْمُهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا سَبَّحَ حَمَلَةُ الْعَرْشِ ثُمَّ سَبَّحَ أَهْلُ السَّمَاءِ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ التَّسْبِيحُ أَهْلَ هَذِهِ السَّمَاءِ الدُّنْيَا ثُمَّ قَالَ الَّذِينَ يَلُونَ حَمَلَةَ الْعَرْشِ لِحَمَلَةِ الْعَرْشِ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ فَيُخْبِرُونَهُمْ مَاذَا قَالَ قَالَ فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ وَيُرْمَوْنَ بِهِ فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ  
”Dari Sahabat 'Abdullah bin 'Abbas -radhiyallâhu anhu-, ia berkata: ”Salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kaum Anshar menceritakan padaku. Ketika mereka duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, ada bintang (mateor) jatuh memancarkan cahaya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka: "Apa ucapan kalian pada masa jahiliyah ketika ada lemparan (mateor) seperti ini?" Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui, dulu kami katakan, 'pada malam ini telah dilahirkan seorang yang terhormat dan telah mati seorang yang terhormat,' lalu Rasulullah menjelaskan: "Sesunguhnya bintang itu tidaklah dilemparkan karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahiran seseorang. Akan tetapi Tuhan kita Tabâraka wa Ta'âlâ, apabila telah memutuskan sebuah perkara, bertasbihlah para malaikat yang membawa 'Arasy. Kemudian diikuti oleh para malaikat penghuni langit yang di bawah mereka, sampai tasbih itu kepada para malaikat penghuni langit dunia. Kemudian para malaikat yang di bawah para malaikat pembawa 'Arasy bertanya kepada para malaikat pembawa 'Arasy, Apa yang dikatakan Tuhan kita? Lalu mereka memberitahu apa yang dikatakan Tuhan mereka. Maka malaikat penghuni langit dunia saling bertanya pula di antara sesama mereka, sehingga berita tersebut sampai ke langit dunia. Maka para jin berusaha mencuri dengar, lalu mereka sampaikan kepada wali-walitnya (tukang sihir). Sehingga mereka dilempar dengan bintang-bintang tersebut. Berita itu mereka bawa dalam bentuk yang utuh, yaitu yang sebenarnya tetapi mereka campur dengan kebohongan dan mereka tambah-tambahkan.” (HR. Muslim)
[12] Jika dirinci hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Shahiih-nya, Al-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubrâ’, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’; Lihat: Muslim bin al-Hijaj al-Naisaburi, Shahîh Muslim, Beirut: Dâr al-Jîl, juz VII, hlm. 36, hadits no. 5877; Abu ’Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib al-Nasa’i, Al-Sunan al-Kubrâ’, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1421 H/2001, juz X, hlm. 142, hadits no. 11.208; Abu Nu’aim Ahmad bin ’Abdullah al-Ashbahani, Hilyat al-Awliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1409 H, juz III, hlm. 143; Ahmad bin al-Husain bin ’Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan al-Kubrâ’, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, cet. III, 1424 H, juz VIII, hlm. 238, hadits no. 16.512.    
[13] Ini pula yang menjadi pendapat Imam al-Zuhri, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Sibli, setelah menukil dalil hadits di atas ia berkata:
وَفِي هَذَا دَلِيل على مَا قدمْنَاهُ من أَن الْقَذْف بالنجوم قد كَانَ قَدِيما وَلكنه إِذْ بعث رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم غلظ وشدد كَمَا قَالَ الزُّهْرِيّ ملئت السَّمَاء حرسا شَدِيدا وشهبا
“Dalam hadits ini terdapat dalil atas apa yang telah kami ketengahkan bahwa klaim (ramalan) dengan nujum telah ada di zaman dahulu namun perbuatan itu saat ini ketika telah diutusnya Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- maka menjadi hal yang sangat berat dan sukar. Sebagaimana perkataan al-Zuhri, bahwa langit penuh dengan penjagaan kuat dan panah api.” (Muhammad bin ’Abdullah al-Syibliy, Âkâm al-Marjân fii Ahkâm al-Jân, Ed: Ibrahim Muhammad al-Jamal, Kairo: Maktabah al-Qur’an, hlm. 179)
[14] Babilonia, Irak.
[15] Jika ditelusuri lebih jauh, kata “fitnah” (الفتنة) dalam bahasa arab termasuk suatu lafazh yang mengandung lebih dari satu makna (lafzh musytarak)  yakni berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (Abdul Halim Muhammad Qunabis, Mu’jam al-Alfâzh al-Musytarakah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah, Beirut: Maktabah Lubnan, 1987, hlm. 18).
Lafazh musytarak, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji yakni: 
ما وضع لأكثر من معنى ولا يتعين المراد منه إلا بقرينه
“Lafazh yang mengandung lebih dari satu makna dan maksudnya tidak bisa ditentukan kecuali berdasarkan suatu petunjuk.” (Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ-is, cet. II, 1408 H, hlm. 430)
            Imam Ibrahim al-Harbi (w. 285 H) pun merinci makna al-fitnah yang disebutkan dalam al-Qur’an dengan beragam konotasi maknanya;
Pertama, Bermakna الشرك (Kesyirikan)
Kedua, Bermakna الضلالة (Kesesatan)
Ketiga, Bermakna النفاق (Kemunafikan)
Keempat, Bermakna البلاء (Cobaan)
Kelima, Bermakna عذاب الناس (Siksaan Manusia)
Keenam, Bermakna الحرق بالنار (Siksaan dengan Api).
Ketujuh, Bermakna الصَّدُّ، وَالِاسْتِنْزَالُ (Menghalang-halangi)
Kedelapan, Bermakna الْفِتْنَةُ الضَّلَالَةُ (Fitnah Kesesatan)
Kesembilan, Bermakna الْمَعْذِرَةُ (Argumentasi)
Kesepuluh, Bermakna الِافْتِتَانُ، وَالْإِعْجَابُ (Berbangga)
Kesebelas, Bermakna الْقَتْلُ (Pembunuhan)
            Dan kata fitnah yang berarti al-balâ’ (cobaan) pun disebutkan dalam ayat-ayat lain, misalnya dalam QS. Al-’Ankabût [29]: 2: (وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ) Mujahid memaknai يُفْتَنُونَ yakni يُبْتَلُونَ, hal yang sama diungkapkan oleh Ikrimah –radhiyallâhu ’anhu- Dan dalam firman-Nya: QS. Al-Dukhân [44]: 17: (وَلَقَدْ فَتَنَّا) al-Hasan –radhiyallâhu ’anhu- dan Mujahid memaknai kalimat فَتَنَّا yakni ابْتَلَيْنَا (kami telah mengujinya). Begitu pula dalam QS. Thâhâ [20]: 40: (وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا) yang dimaknai Ibnu ’Abbas –radhiyallâhu ’anhu- yakni ابْتَلَيْنَاكَ بَلَاءً بَعْدَ بَلَاءٍ, begitu pula penafsiran Qatadah dan Abu Ubaidah yang intinya adalah bala’. Imam Abu Ibrahim pun merincinya. (Ibrahim Ishaq al-Harbi Abu Ishaq, Gharîb al-Hadîts, Ed: Dr. Sulaiman Ibrahim Muhammad, Makkah: Jâmi’at Umm al-Qura’, cet. I, 1405 H, juz III, hlm. 930-939)
[16] Mengimaninya yakni membenarkannya.
[17] Ini merupakan penggunaan kiasan untuk hubungan sebab akibat, maka sihir merupakan sebab kekufuran.
[18] Yakni al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H).
[19] Syahr bin Hawsyab: Qatadah, Syimar bin ‘Athiyyah, Ibnu Abi Husain dan Ibnu Khutsaim meriwayatkan darinya, ia adalah asy’ariy, memiliki kunyah Abu ‘Abdurrahman dan Abu Sa’id, dan wafat pada tahun 100 H (Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Al-Târîkh al-Kabîr, Hiderabad: Dâ’irat al-Ma’ârif al-‘Utsmâniyyah, t.t., juz IV, hlm. 258-259).   
Syahr bin Hawsyab dinilai tsiqah oleh jama’ah, meski ada yang mendha’ifkannya: Golongan yang mentsiqahkannya; Yahya menyebut Syahr bin Hawsyab tsabat, dan dalam keterangan lain mengenainya, ia adalah orang Syam penganut madzhab al-Asy’ari dan ia orang yang tsiqah (Lihat: Abu Hafsh ‘Umar bin Ahmad (Ibnu Syahin), Târîkh Asmâ’i al-Tsiqât, Kuwait: al-Dâr al-Saafiyyah, cet. I, 1404 H, hlm. 111; Abu Zakariya Yahya bin Ma’in al-Baghdadi, Târîkh Ibn Ma’în, Mekkah: Markaz al-Bahts al-‘Ilm, cet. I, 1399 H, juz IV, hlm. 216 & 434). Imam al-‘Ajili (w. 261 H) menyebutnya Syâmiy (orang syam), termasuk golongan tabi’in dan tsiqah (Abu al-Hasan Ahmad bin ‘Abdullah al-‘Ajili al-Kufi, Târîkh al-Tsiqât, Dâr al-Bâz, cet. I, 1405 H, hlm. 223, no. 677)
Imam Ahmad bin Hanbal menilainya tsiqah dalam keterangan lain darinya laa ba’sa bihi. Al-Hafizh Al-Dzahabi dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menguatkan mentsiqahkannya.     
Dalam penjelasan Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil itu sendiri, beliau menjelaskan mengenai Syahr bin Hawsyab dalam tanya jawab mengenai riwayat hadits tentang khilafah (http://hizbut-tahrir.or.id/2013/06/28/jawab-soal-seputar-tenggat-yang-diperbolehkan-bagi-kaum-muslimin-untuk-menegakkan-al-khilafah/):
“Al-‘Ajali (w. 261 H) dalam kitabnya ats-Tsiqât ia mengatakan: Syahr bin Hawsyab: “Syâmiy –berasal dari Syam-, seorang tabi’un, tsiqah).” Al-Haytsami (w. 807 H) di dalam bukunya Majma’ az-Zawâid wa Manba’ al-Fawâid mengatakan di lebih satu tempat tentang Syahr bin Hawsyab: “(Syahr bin Hawsyab, dia telah dinilai tsiqah), (Syahr bin Hawsyab, telah diperselisihkan tentangnya, akan tetapi dia telah dinilai tsiqah oleh Ahmad, Ibn Ma’in, Abu Zur’ah dan Ya’qub bin Syaibah), (Syahr bin Hawsyab dan tentangnya ada beberapa pendapat, dan dia telah dinilai tsiqah oleh bukan hanya satu orang), (Syahr bin Hawsyab, tentangnya ada kata-kata tetapi ia telah dinilai tsiqah oleh jamaah).” Ibn Syahin (w. 385 H) dalam bukunya Târîkh Asmâ` ats-Tsiqât berkata: “(Yahya berkata, Syahr bin Hawsyab tsabata (telah ditetapkan riwayatnya) dan dalam riwayat lain darinya (Yahya), ia (Syahr bin Hawsyab) berasal dari Syam tinggal di Bashrah dan ia termasuk al-Asy’ariyîn berasal dari mereka sendiri dan dia tsiqah).”
Dan ini sudah cukup menjadi dasar diterimanya riwayat dari Syahr bin Hawsyab.
[20] Muhammad bin Jarir bin Yazid Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wiil al-Qur’ân, Daar Hijr, cet. I, 1422 H/2001, juz II, hlm. 327; Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, juz I, hlm. 236. Lengkapnya:
حدثنا القاسم قال، حدثنا الحسين قال، حدثني حجاج، عن أبي بكر، عن شهر بن حوشب قال ... إلخ
[21] Diulas dalam kajian balaghah.