Skip to main content

Mempelajari Ilmu Sihir & Sanksi Bagi Tukang Sihir (Tafsir Syaikh ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah)


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
(QS. Al-Baqarah [2]: 102)
D
alam kehidupan di bawah naungan sistem kufur Demokrasi saat ini, banyak praktik-praktik kebatilan berupa sihir dan perdukunan yang tersebar di tengah-tengah masyarakat atas nama kebebasan. Itu semua membutuhkan solusi dan jawaban Islam, dan di antara penjelasan Syaikh ‘Atha bin Khalil -rahimahullaah- tentang sihir yang bisa kita ambil faidahnya adalah berikut ini:


Hukum Mempelajari & Mengajarkan Ilmu Sihir 
Al-‘Alim al-Syaikh Atha’ ibn Khalil ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan:
“(Sihir) diajarkan oleh dua malaikat Harut dan Marut kepada manusia. Allah telah menurunkan keduanya di negeri Babil untuk mengajarkan kepada manusia ilmu sihir, akan tetapi (Allah melalui kedua malaikat ini) memperingatkan manusia untuk tidak mengamalkan ilmu sihir dan mengabarkan kepada mereka bahwa kedua malaikat ini (yang membawa ilmu sihir) merupakan ujian bagi manusia dan cobaan berat bagi mereka (“keduanya (Harut & Marut) tidak mengajarkan (ilmu sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’.”).”
Al-Syaikh Atha’ pun menegaskan:
وتعليم السحر للناس هو ابتلاء لهم، فمن آمن بالسحر وعمل به فقد كفر، ومن لم يؤمن به ولم يعمل به فقد نجا  {إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ}
“Pengajaran ilmu sihir bagi manusia merupakan bencana bagi mereka, karena barangsiapa mengimani (pembenaran yang pasti-pen.) sihir dan mengamalkannya maka sungguh kufur dan barangsiapa yang tak mengimani sihir dan tak mengamalkannya maka selamat. (“Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”).

Penerapan Tegas Sanksi Bagi Tukang Sihir dalam Daulah al-Khilafah
Islam, sebagai agama yang solutif merinci sanksi bagi tukang sihir. Pembahasan ini dijelaskan para ‘ulama dalam banyak kitab dari beragam disiplin ilmu; akidah, tafsir dan fikih. Syaikh al-Ushul ‘Atha’ ibn Khalil menjelaskan:
“Hukuman bagi tukang sihir: -sebagaimana telah kami jelaskan- adalah hukuman bagi orang yang murtad, karena ia kafir dalam arti yang telah disebutkan sebelumnya (sihir yang dilaksanakan dengan praktik-praktik kekufuran). Para sahabat telah menghukum tukang sihir dengan hukuman mati. Hafshah ummul mu’miniin telah memerintahkan hukuman mati bagi tukang sihir wanita yang mengakui perbuatannya… Dan sanksi hukuman mati bagi tukang sihir ini telah berlaku pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab r.a., maka sanksi ini merupakan ijma’ sahabat, karena diberlakukan penguasa terhadap orang banyak di antara mereka tanpa ada pengingkaran.”
Al-‘Alim al-Syaikh Atha’ ibn Khalil pun menukil sebuah riwayat dari Sufyan dari ‘Amru dia mendengar Bajalah berkata:
“Aku seorang juru tulis Jaza’ bin Mu’awiyah, paman Ahnaf bin Qais, kemudian datanglah surat Khalîfah Umar kepada kami setahun sebelum dia wafat, yang berisi: 
اقْتُلُوا كُلَّ سَاحِرٍ وَرُبَّمَا قَالَ سُفْيَانُ وَسَاحِرَةٍ 
“Bunuhlah setiap tukang sihir laki laki..” -dan barangkali Sufyan menyebutkan; “Dan tukang sihir perempuan.”
Maka kami membunuh tiga orang tukang sihir… (HR. Ahmad & Abû Dawud, lafal Imam Ahmad)

Lihat: al-‘Alim al-Syaikh Atha’ ibn Khalil Abu ar-Rasythah. 1427 H/ 2006. At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah).Cetakan ke-2. Beirut: Dar al-Ummah.


Comments

Popular posts from this blog

Buku Menarik "Risalah Nikah & Walimah"

"RISALAH NIKAH & WALIMAH" Dilengkapi dengan Sajian Kitab Kuning (Turats) & Ilmu Kesehatan Reproduksi Pra Nikah Ikhwah fillah, bi fadhliLlahi Ta'ala wa bi tawfiqihi,  telah terbit buku Risalah Nikah & Walimah, menggambarkan kajian turats menyoal topik-topik pernikahan dan syari'at walimah dalam Islam, berikut ilmu menyoal Kesehatan Reproduksi Pra Nikah, ditulis bersama istri yang berlatarbelakang pendidikan kebidanan. Sajian menyoal fikih walimah, penyusun uraikan dalam bentuk soal jawab, disertai ibarat kitab kuning (turats), dipercantik dengan berbagai gambaran walimah syar'i. Daftar Isi Buku: Bab I Keagungan Pernikahan & Hidup Berpasang-Pasangan Bab II Tuntunan Agung Menjemput Pasangan Idaman Bab III Buah Pernikahan; Sakînah, Mawaddah dan Rahmah Bab IV Walimah Nikah Sesuai Syari'ah Bab V Sunnah Mulia; Do'a Pengantin Bab VI Tips Kesehatan Reproduksi Pra Nikah   Info & Pemesanan: wa.me/6285735533668

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.