14 Desember 2015

Sekilas Tentang Kekufuran Agama Nasrani Berdasarkan Nash-Nash al-Qur’an


Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

Dalam sebuah situs nasrani (sabda.org/24-12-2008), disebutkan bahwa:

"Anak Allah"

...Ide kedua yang berkaitan dengan "Anak Allah" adalah hubungan kasih
  sayang Sang Anak yang unik kepada Bapa-Nya, yang secara langsung
  menunjukkan bahwa Kristus memunyai natur ilahi yang sama seperti
  Bapa-Nya (Yoh. 10:30-38). Yesus merujuk Allah sebagai Bapa-Nya lebih
  dari seratus lima puluh kali di keempat Kitab Injil. Matius 11:27
  (bandingkan Luk. 10:22) menyatakan posisi Yesus yang unik sebagai
  Anak. Ayat ini menyatakan bahwa hanya Yesus yang dapat mengungkapkan
  Sang Bapa kepada umat manusia, menunjukkan bahwa Ia memunyai
  hubungan yang eksklusif dengan Allah, hubungan yang tidak dimiliki
  oleh manusia lainnya. Di samping itu, pengetahuan Sang Anak di sini
  tampaknya setara dengan pengetahuan Sang Bapa, yang jelas
  menunjukkan keilahian Sang Anak.
 
  Injil Yohanes menekankan posisi Yesus yang unik sebagai Anak lebih
  dari Injil-injil Sinoptik. Empat kali Yesus disebut "Anak Tunggal"
  (Yoh. 1:14, Yoh. 1:18; Yoh. 3:16, Yoh. 3:18). 
  Penyataan-penyataan tentang keilahian
  Yesus yang esensial sebagai Anak Allah secara langsung mengajarkan
  keunikan-Nya. Misalnya, setelah Yesus menyembuhkan seorang lumpuh
  pada hari Sabat, orang-orang Yahudi menuduh Dia melanggar Taurat
  Allah yang mengharuskan orang beristirahat pada hari Sabat. Yesus
  membela tindakan-Nya dengan menyatakan bahwa karena Bapa-Nya bekerja
  pada hari Sabat, Ia juga harus bekerja, dengan demikian Ia
  "menyamakan diri-Nya dengan Allah" (Yoh. 5:18). Dalam Yohanes 10,
  Yesus berkata, "Aku dan Bapa adalah satu (dalam esensi)." Sebagai
  tanggapan atas pernyataan ini, orang-orang Yahudi mengambil batu
  hendak membunuh Yesus karena mereka menyadari bahwa Ia menyamakan
  diri-Nya dengan Allah (lihat Yoh. 10:33). Yang menarik adalah, Yesus
  tidak menyangkali pemahaman mereka terhadap klaim-Nya, tetapi justru
  menegur mereka karena kurangnya iman mereka! Sesungguhnya, salah
  satu tujuan utama dari misi Yesus adalah untuk menerangkan tentang
  Bapa kepada dunia (Yoh. 1:18) melalui penyataan natur ilahi-Nya
  sendiri, natur yang juga dimiliki oleh Bapa surgawi-Nya 
  (Yoh. 1:1,14).
 
Dari pernyataan-pernyataan di atas, maka jelas bahwa sesungguhnya kekufuran agama nasrani dengan keyakinan trinitasnya adalah sesuatu yang qath’i (pasti, 100% meyakinkan), hal itu sebagaimana ditegaskan dalam firman-firman Allah ’Azza wa Jalla:

Pertama, Kekufuran mereka yang menyekutukan Allah dengan Isa a.s.:
{لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} 
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam." Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?." Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 17)

Kedua, Kekufuran mereka yang menyekutukan Allah dengan Isa a.s., padahal Isa a.s. adalah hamba-Nya, nabi dan Rasul-Nya yang menyeru kepada mentauhidkan Allah, menolak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun:
{لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ}
”Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 72)
            Menurut Imam Abu Ja’far al-Nahhas al-Nahwi (w. 338 H), ayat ini menjelaskan bantahan yang qath’iy (tegas, pasti) atas keyakinan batil yang mempertuhankan Isa a.s[1] dengan seruan dari Isa a.s. yang justru menyeru untuk mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Ketiga, Kekufuran konsep Trinitas, sebagaimana Allah tegaskan:
{لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}   
”Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 73)
Di sisi lain, semua ayat yang membantah keyakinan batil Nasrani di atas diawali dengan dua penegasan, yakni lâm al-ibtidâ’dan kata qad di depan kata kerja lampau (al-fi’l al-mâdhiy) yang berfaidah sebagai bentuk kata-kata penegasan. Dimana dalam ilmu balaghah dua bentuk penegasan ini menafikan adanya keraguan dan pengingkaran atas kebenaran informasi di dalamnya[2], yakni kekufuran agama yang meyakini bahwa Allah itu adalah Isa a.s, padahal Nabi Isa a.s. adalah seorang hamba Allah, nabi dan rasul-Nya yang menyeru kepada mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun sebagaimana difirmankan Allah dalam ayat-ayat-Nya di atas.
Di sisi lain, kekufuran agama Nasrani bagian dari peringatan keras yang Allah firmankan:
{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ}
Siapa saja yang mencari selain Islam sebagai agama, sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Âli Imrân [3]: 85)
Kata man termasuk shighat umum, yakni siapa saja.
Kata lan, sebagaimana diungkapkan Imam al-Jauhari (w. 393 H) merupakan kata penafian untuk kata kerja yang akan datang (حرفٌ لنفي الاستقبال)[3], atau kata penafian untuk hal yang akan terjadi di masa mendatang (حرف نفي لما يأتي) sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Faris (w. 395 H)[4] yang bermakna ”tidak akan pernah”, perinciannya bisa dirujuk dalam kamus-kamus arab.[5] 
Namun faidah dari penafian kata lan ini lebih kuat maknanya daripada kata lâ, hal itu sebagaimana penjelasan para ulama pakar bahasa. Imam Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H) dalam Kitab al-’Ain menyatakan:
أَلا تَرى أَنَّهَا تُشبه فِي المَعْنى (لَا) وَلكنهَا أَوْكد
“Bukankah engkau melihat bahwa kata lan menyerupai kata dalam pemaknaannya, akan tetapi kata lan lebih kuat maknanya.”[6]
Penjelasan ini pun dinukil oleh Imam al-Azhari dalam Tahdziib al-Lughah.[7] Atau dalam istilah lain yakni li ta'biid (yakni untuk selama-lamanya). Dan dalam ayat di atas, kecaman tidak akan diterima diawali dengan lan (فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ) yakni tidak akan diterima selama-lamanya, ini sudah cukup menjadi indikasi tegasnya kecaman dan peringatan dalam ayat yang agung ini, bagi siapa saja yang mencari selain Islam sebagai Diin.
Karena hanya Islam agama yang Allah ridhai untuk dipeluk umat ini:
{إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ} 
”Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Âli Imrân [3]: 89)
Ayat ini menjelaskan kedudukan Islam sebagai agama samawi yang diturunkan oleh Allah kepada manusia yang diridhai oleh Allah, dan bukan selainnya. Diperkuat oleh firman Allah ’Azza wa Jalla yang menyatakan:
{اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا}
“Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Aku cukupkan untuk kamu nikmat-Ku, serta Aku ridhai Islam sebagai agama kamu.” (QS. Al-Mâidah [5]: 3).
Ayat ini menjelaskan, bahwa hanya Islamlah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah ’Azza wa Jalla, sementara yang lain tidak. Ini bisa difahami dari mafhûm mukhâlafah lafadz: “Aku ridhai” yang merupakan kata kerja sifat: “Aku ridhai Islam sebagai agama kamu” yang berarti: “Aku tidak meridhai selain Islam sebagai agama kamu.” Mafhûm ini diperkuat oleh nas QS. Âli Imrân [3]: 85 di atas.[8]




[1] Abu Ja’far al-Nahhas Ahmad bin Muhammad al-Nahwiy, I’raab al-Qur’aan, Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1421 H, hlm. 277.
[2] Tim Pakar, Al-Balâghah wa an-Naqd, Riyâdh: Jâmi’atul Imâm Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyyah, Cet. II, 1425 H, hlm. 38-39.
[3] Abu Nashr Isma’il bin Hamad al-Jauhari al-Farabi, Al-Shihaah Taaj al-Lughah wa Shihaah al-’Arabiyyah, Ed: Ahmad ’Abdul Ghafur, Beirut: Daar al-’Ilm li al-Malaayiin, cet. IV, 1407 H/1987, juz VI, hlm. 2197.
[4] Ahmad bin Faris bin Zakariya al-Qazwaini al-Razi, Majmal al-Lughah, Ed: Zuhair ‘Abdul Muhsin, Beirut: Mu’assasat al-Risaalah, cet. II, 1406 H/1986, juz I, hlm. 790.
[5] Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma’il, Al-Muhkam wa al-Muhiith al-A’zham, Ed: ‘Abdul Hamid Handawi, Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1421 H/2000, juz X, hlm. 361.
[6] Abu ’Abdurrahman al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, Kitâb Al-’Ain, Ed: Dr. Mahdi al-Makhzumi dkk, Dâr wa Maktabah al-Hilâl, juz VIII, hlm. 350.
[7] Abu Manshur Muhammad bin Ahmad bin al-Azhari, Tahdziib al-Lughah, Ed: Muhammad ’Iwadh, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, cet. I, 2001, juz XV, hlm. 239.
[8] KH. Drs. Hafidz Abdurrahman MA, Diskursus Islam Politik dan Spiritual, Bogor: Al-Azhar Press.