Skip to main content

Jin Mencuri Berita Langit dalam Penjelasan Syaikh 'Atha bin Khalil Abu al-Rasytah


Terjemah & Ta'liq: Irfan Abu Naveed

Syaikhul Ushul al-'Alim 'Atha bin Khalil Abu al-Rasytah -hafizhahullah- menjelaskan mengenai jin yang mencuri berita langit:

“Dan sungguh dahulu syaithan-syaithan golongan jin sebelum Islam (turun risalah Islam-pen.) mencuri dengar berita dari langit dan mencampuradukkan di dalamnya beragam jenis kedustaan dan membisikkannya kepada sekutu-sekutu mereka:

فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ وَيُرْمَوْنَ بِهِ فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ
”Maka malaikat penghuni langit dunia saling bertanya pula di antara sesama mereka, sehingga berita tersebut sampai ke langit dunia. Maka para jin berusaha mencuri dengar, lalu mereka sampaikan kepada wali-walinya (tukang sihir). Sehingga mereka dilempar dengan bintang-bintang tersebut. Berita itu mereka bawa dalam bentuk yang utuh, yaitu yang sebenarnya tetapi mereka campur dengan kebohongan dan mereka tambah-tambahkan.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan makna (يقرفون): ”Mereka (para jin) mencampurkan di dalamnya kedustaan”)[1]

Dan sungguh, para jin telah dihalangi dari perbuatan mencuri dengar berita langit setelah turunnya risalah Islam.
{وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا}
”Dan sesungguhnya Kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya), akan tetapi sekarang siapa saja yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS. Al-Jin [72]: 9)[2]

Catatan Tambahan Irfan Abu Naveed:

Pertama, Mengenai hadits yang dinukil al-Syaikh di atas:

Jika dirinci hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Shahiih-nya, Al-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubraa’, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubraa’; Lihat: Muslim bin al-Hijaj al-Naisaburi, Shahiih Muslim, Beirut: Daar al-Jiil, juz VII, hlm. 36, hadits no. 5877; Abu ’Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib al-Nasa’i, Al-Sunan al-Kubraa’, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasat al-Risaalah, cet. I, 1421 H/2001, juz X, hlm. 142, hadits no. 11.208; Abu Nu’aim Ahmad bin ’Abdullah al-Ashbahani, Hilyat al-Awliyaa’ wa Thabaqaat al-Ashfiyaa’, Beirut: Daar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1409 H, juz III, hlm. 143; Ahmad bin al-Husain bin ’Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan al-Kubraa’, Beirut: Daar al-Kutub al-’Ilmiyyah, cet. III, 1424 H, juz VIII, hlm. 238, hadits no. 16.512.

Kedua, Apa yang dijelaskan al-Syaikh sesuai dengan firman-Nya:
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ {٢٢١} تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ {٢٢٢} 
“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa.” (QS. Al-Syu’araa [26]: 221-222)

Al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) ketika menafsirkan ayat ini menukil pendapat Qatadah yang menegaskan bahwa kulli affaak[in] atsiim[in] yakni para dukun dimana para jin mencuri dengar berita langit kemudian mendatangi sekutu-sekutu mereka dari kalangan manusia.[3]

Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) pun menjadikan kuhhân (para dukun) sebagai salah satu contoh golongan para pendusta nan fasik dimana syaithan-syaithan turun kepada mereka.[4]

Ketiga, Mengenai pernyataan al-Syaikh bahwa para jin telah dihalangi dari perbuatan mencuri dengar berita langit setelah turunnya risalah Islam, hal senada banyak diungkapkan para ulama dalam kitab-kitab tafsir mereka. Dan mengenai terhalangnya jin mencuri dengar berita langit pasca risalah Islam, ini pula yang menjadi pendapat Imam al-Zuhri, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Sibli, setelah menukil dalil hadits di atas ia berkata:

وَفِي هَذَا دَلِيل على مَا قدمْنَاهُ من أَن الْقَذْف بالنجوم قد كَانَ قَدِيما وَلكنه إِذْ بعث رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم غلظ وشدد كَمَا قَالَ الزُّهْرِيّ ملئت السَّمَاء حرسا شَدِيدا وشهبا
 “Dalam hadits ini terdapat dalil atas apa yang telah kami ketengahkan bahwa klaim (ramalan) dengan nujum telah ada di zaman dahulu namun perbuatan itu saat ini ketika telah diutusnya Rasulullah SAW maka menjadi hal yang sangat berat dan sukar. Sebagaimana perkataan al-Zuhri, bahwa langit penuh dengan penjagaan kuat dan panah api.”[5]




[1] ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr, Beirut: Dâr al-Ummah, Cet. II, 1427 H, hlm. 113-114.
[2] Ibid.
[3] Muhammad bin Jarir bin Yazid Al-Thabari, Jaami’ al-Bayaan ‘an Ta’wiil al-Qur’aan, Daar Hijr, cet. I, 1422 H/2001, juz ke-19, hlm. 414.
[4] (Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir, Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim, Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz VI, hlm. 155.
[5] Muhammad bin ’Abdullah al-Syibliy, Aakaam al-Marjaan fii Ahkaam al-Jaan, Ed: Ibrahim Muhammad al-Jamal, Kairo: Maktabah al-Qur’an, hlm. 179.

Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Mendudukkan Hadits “Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak yang Mulia” (Part. I)

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I A.   Mukadimah Di zaman ini umat islam seringkali disuguhkan dengan berbagai syubhat yang cukup mengkhawatirkan karena merusak pemahaman dan lebih jauh lagi amal perbuatan. Dan di antara syubhat yang berbahaya dan nyata bahayanya adalah kekeliruan memahami hadits-hadits yang mulia untuk menjustifikasi pemahaman yang salah sehingga malah bertentangan dengan maksud dari hadits-hadits itu sendiri, menjauhkan umat dari perjuangan menegakkan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan. Di antaranya hadits-hadits yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah – shallallâhu ‘alayhi wa sallam - untuk menyempurnakan akhlak yang mulia: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. ” Beberapa waktu yang lalu, dalam diskusi mengenai kitab Nizham al-Islam salah satu panelis menjadikan hadits tentang akhlak sebagai dalil untuk menolak wajibnya menegakkan Negara Islam, Khilafah Islamiyyah.

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل