22 Desember 2015

Inilah Hujjah Menolak Ucapan Selamat atas Perayaan Agama Kufur (Natal, Dll)

Oleh: Irfan Abu Naveed
S
ebagian kaum muslimin latah mengucapkan selamat atas perayaan agama kufur semisal natal dengan alasan sebagai bentuk toleransi, padahal alasan itu bagian dari tipu daya syaithan mengaburkan ajaran Islam yang agung, dan ucapan selamat atas perayaan agama kufur sebenarnya termasuk perbuatan yang berbahaya dan jelas diharamkan syari’ah. Berdasarkan hujjah syar’iyyah sebagai berikut:


Pertama, Ucapan Selamat Atas Perayaan Kufur Merupakan Do’a & Simpati Padanya
Dalam ’urf (tradisi) kita, ucapan selamat merupakan ungkapan do’a dan simpati atas apa yang disebutkan dalam ucapan tersebut. Ini merupakan perkara yang ma’lûm, sudah diketahui dan dipahami secara umum.
Di sisi lain, secara etimologi kata selamat pun mengandung unsur do’a, lalu apakah kita akan mendo’akan keselamatan atas perayaan agama kufur yang jelas ditolak oleh Allah?! Padahal kekufuran agama Nasrani bagian dari peringatan keras yang Allah firmankan:
{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ}
Siapa saja yang mencari selain Islam sebagai agama, sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Âli Imrân [3]: 85)
Kata lan mengandung faidah penafian yang lebih kuat maknanya daripada kata lâ, hal itu sebagaimana penjelasan para ulama pakar bahasa. Imam Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H) dalam Kitab al-’Ain menyatakan:
أَلا تَرى أَنَّهَا تُشبه فِي المَعْنى (لَا) وَلكنهَا أَوْكد
“Bukankah engkau melihat bahwa kata lan menyerupai kata dalam pemaknaannya, akan tetapi kata lan lebih kuat maknanya.”[1]
            Penjelasan ini pun dinukil oleh Imam al-Azhari dalam Tahdzîb al-Lughah.[2] Atau dalam istilah lain yakni li tab’îd (yakni untuk selama-lamanya). Dan dalam ayat di atas, kecaman tidak akan diterima diawali dengan lan (فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ) yakni tidak akan diterima selama-lamanya, ini sudah cukup menjadi indikasi tegasnya kecaman dan peringatan dalam ayat yang agung ini bagi siapa saja yang mencari selain Islam sebagai Dîn, ideologinya.
Dan kata SELAMAT dalam KBBI:
se.la.mat 1 a terhindar dr bencana; aman sentosa; sejahtera; tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan, dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal: ~ dr bahaya maut; biar lambat asal ~; 2 n doa (ucapan, pernyataan, dsb) yg mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb): doa ~; ketika ia kawin banyak handai tolannya yg memberi ucapan ~ kepadanya; 3 n pemberian salam mudah-mudahan dl keadaan baik (sejahtera, sehat dan afiat, dsb).


Kedua, Ucapan Selamat Atas Perayaan Agama Kufur Bagian dari Menyerupai Orang-Orang Kafir
            Tasyabbuh secara bahasa bermakna tamatstsala (menyerupai), sebagaimana disebutkan dalam kitab Syams al-’Ulûm:
[التشبه]: تشبه به: أي تَمَثَّل    
”(Al-Tasyabbuh): tasyabbaha bihi yakni tamatstsala (menyerupainya).”[3]
            Sedangkan secara istilah, tasyabbuh mengandung konotasi menjiplak dan mengikuti, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) menjelaskan:
التشبه: من شبه، المحاكاة والتقليد، ومنه: كراهة التشبه بالفساق
Al-Tasyabbuh: dari kata kerja syabbaha, menjiplak dan mengikuti, dan di antara bentuknya: dibencinya menyerupai orang-orang fasik.”[4]
Dan kita bisa menyaksikan bahwa ucapan selamat seperti itu merupakan ucapan yang menjadi kebiasaan di antara mereka, semisal Kaum Nasrani yang saling mengucapkan selamat dan mengirimkan kartu selamat dalam perayaan natalnya. Ini merupakan kebiasaan mereka. Maka ucapan selamat atas perayaan agama kufur merupakan perkataan yang bertentangan dengan larangan mengucapkan perkataan yang mengandung kemungkaran, ini termasuk dari apa yang Allah ’Azza wa Jalla firmankan:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ}
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengatakan ”raa’inaa” akan tetapi katakanlah ”unzhurnaa” dan dengarkanlah, dan bagi orang-orang kafir itu ’adzab yang amat pedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 104)
Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 104 di atas menjelaskan:
والغرض: أن الله تعالى نهى المؤمنين عن مشابهة الكافرين قولا وفعلا 
”Maksudnya: Allah Ta’âlâ melarang orang-orang beriman menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan dan perbuatan mereka.”[5]
Ini menjadi dalil keharaman menyerupai orang-orang kafir baik dalam perkataan dan perbuatan. Ini menjadi salah satu dasar keharaman mengucapkan ”selamat natal” atau mengucapkan selamat kepada perayaan-perayaan agama kufur lainnya.
Al-Hafizh Ibn Katsir pun menukil dalil hadits dari Ibnu ’Umar –radhiyallâhu ’anhu--, ia berkata bahwa Rasulullah –shallallahu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya[6], Abu Dawud dalam Sunan-nya[7], Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya[8]. Imam al-Mala’ al-Qari dalam Al-Mirqât mengatakan hadits ini hasan[9], dishahihkan oleh Ibnu Hibban[10])
            Setelah menukil dalil hadits di atas, al-Hafizh Ibn Katsir pun merinci:
ففيه دلالة على النهي الشديد والتهديد والوعيد، على التشبه بالكفار في أقوالهم وأفعالهم، ولباسهم وأعيادهم، وعباداتهم وغير ذلك من أمورهم التي لم تشرع لنا ولا نُقَرر عليها 
”Di dalam hadits ini, terdapat larangan, ancaman dan peringatan keras terhadap sikap menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian (khas-pen.), ritual, ibadah mereka, dan perkara-perkara lainnya yang tidak disyari’atkan bagi kita dan tak sejalan dengan kita.”[11]
Para ulama mu’tabar lainnya pun menjadikan hadits ini sebagai dalil larangan menyerupai orang kafir baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Dan jika ada yang mengklaim bahwa ucapan selamat atas perayaan agama kufur tersebut tidak bermaksud setuju atas perbuatan mereka –meski sebenarnya ucapan selamat sudah cukup menunjukkan do’a dan rasa simpati-, maka al-Hafizh al-Suyuthi setelah menggunakan dalil hadits ini menegaskan bahwa perbuatan menyerupai orang-orang kafir itu haram meskipun tidak dimaksudkan seperti itu.[12]
Dan bentuk penyerupaan apa yang zhahir (fisik) menggiring kepada penyerupaan batin, padahal menutup berbagai sarana dan penghantar kepada keburukan merupakan maksud Al-Syâri’ (Allah dan Rasul-Nya) dari segala arahnya, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Sa’di (w. 1376 H).[13]
Imam al-Mala’ al-Qari menjelaskan bahwa di antara makna fa huwa min hum dalam hadits ini jika menyerupai orang kafir, fasik dan fajir dalam kebatilannya maka sama-sama dalam dosa.[14]
Bahkan ia termasuk seburuk-buruknya kemungkaran, al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) pun merinci:
وأقبح منه ما أحدثوه من العبادات أو العادات؛ فإنه مما أحدثه الكافرون، وموافقة المسلمين لهم فيه من أعظم المنكرات. فكل ما يتشبهون بهم من عبادة أو عادة، فهو من المحدثات والمنكرات. وقد مدح الله عز وجل من لم يشهد أعيادهم ومواسمهم ولم يشاركهم فيها 
”Dan seburuk-buruknya perbuatan orang kafir adalah apa-apa yang dibuat-buat berupa berbagai bentuk peribadahan dan adat kebiasaan; maka sesungguhnya apa-apa yang dibuat-buat oleh orang-orang kafir dan dituruti kaum muslimin adalah seburuk-buruknya kemungkaran. Maka setiap perkara yang dituruti dari orang kafir berupa ritual peribadan dan adat kebiasaan, ia termasuk perkara-perkara baru (bid’ah yang tercela) dan kemungkaran. Dan sungguh Allah ’Azza wa Jalla telah memuji siapa saja yang tidak menyaksikan hari-hari perayaan mereka dan tidak ikut serta di dalamnya.”[15]
Dipertegas larangan menyerupai perbuatan orang-orang kafir, musyrik sebagaimana disebutkan dalam hadits, dari Ibnu ’Umar –radhiyallâhu ’anhu-, bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ»
Selisihilah orang-orang musyrik.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya, Muslim dalam Shahîh-nya, al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’, dan lainnya)[16]
Menjelaskan hadits ini, Imam Badruddin al-’Ayni (w. 855 H) menyatakan bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- telah melarang kita dari perbuatan menyerupai orang-orang kafir, dan hal tersebut merupakan perintah untuk menyelisihi mereka baik dalam perbuatan maupun perkataan.[17]

Catatan Penting
            Maka jelas bahwa menyerupai orang-orang kafir dalam kekhususan mereka, semisal mengucapkan selamat natal, atau mengucapkan selamat atas perayaan-perayaan kufur mereka, termasuk perbuatan yang diharamkan syari’ah Islam yang agung ini. Dan tiada kebaikan kecuali apa-apa yang sejalan dengan syari’ah.
Di sisi lain fenomena tegaknya fitnah kaum kuffar ini pun kian menuntut keberadaan penguasa yang diwajibkan Islam memelihara akidah umat ini dari berbagai penyimpangan tersebut, dan poin ini pula yang kian menunjukkan pentingnya keberadaan al-Khalifah yang tegak dalam sistem pemerintahan Islam, al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah, mewujudkan amanah dari Rasulullah - shallallâhu ’alayhi wa sallam -, dari Abu Hurairah –radhiyallâhu ’anhu-. bahwa Nabi Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayh dll)
[]





[1] Abu ’Abdurrahman al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, Kitâb Al-’Ain, Ed: Dr. Mahdi al-Makhzumi dkk, Dâr wa Maktabah al-Hilâl, juz VIII, hlm. 350.
[2] Abu Manshur Muhammad bin Ahmad bin al-Azhari, Tahdziib al-Lughah, Ed: Muhammad ’Iwadh, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabi, cet. I, 2001, juz XV, hlm. 239.
[3] Nisywan bin Sa’id al-Yamani, Syams al-‘Ulûm wa Dawâ’ Kalâm al-‘Arab min al-Kulûm, Ed: Dr. Husain bin ‘Abdullah al-‘Umari dkk, Damaskus: Dâr al-Fikr, cet. I, 1420 H, juz VI, hlm. 3370.
[4] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, hlm. 131.
[5] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz I, hlm. 257.
[6] Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (IV/515, hadits no. 5114) Ahmad Syakir mengomentarinya sanadnya shahih.
[7] Abu Dawud al-Sijistani dalam Sunan-nya (IV/78, hadits no. 4033); al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani pun mengomentari sanadnya hasan (Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Fat-h al-Bâriy Syarh Shahiih al-Bukhâriy, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz X, hlm. 271), sedangkan Ibnu Hibban menshahihkannya (Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Buluugh al-Maraam Min Adillat al-Ahkaam, KSA: Daar al-Qubs, cet. I, 1435 H, hlm. 540), Syaikh Ahmad Syakir dalam catatan kaki atas kitab Musnad Ahmad, mengomentari bahwa sanadnya hasan.
[8] Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (VI/471, hadits no. 33016);
[9] Abu al-Hasan Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VII, hlm. 2782.
[10] Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Bulûgh al-Marâm Min Adillat al-Ahkâm, KSA: Dâr al-Qubs, cet. I, 1435 H, hlm. 540.
[11] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsiir al-Qur’ân al-’Azhiim, juz I, hlm. 257.
[12] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 123.
[13] ’Abdurrahman bin Nashir bin ’Abdullah al-Sa’di, Bahjat Qulûb al-Abrâr wa Qurrat ’Uyûn al-Akhyâr fî Syarh Jawâmi’ al-Akhbâr, Maktabah al-Rusyd, cet. I, 1422 H, hlm. 146.
[14] Abu al-Hasan Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VII, hlm. 2782.
[15] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunan wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 123.
[16] Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (V/2209, hadits no. 5553); Muslim dalam Shahîh-nya (I/152, hadits no. 523); Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’ (I/150, hadits no. 709).
[17] Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa Badruddin al-‘Ayni al-Hanafi, ‘Umdat al-Qâriy Syarh Shahîh al-Bukhâriy, juz VI, hlm. 137.