25 Desember 2015

Inilah Hujjah Menolak Mengikuti Perayaan Agama Kufur (Tafsir Lâ Yasyhadûna al-Zûr QS. Al-Furqân [25]: 72)


Oleh: Irfan Abu Naveed
S
alah satu fitnah di zaman ini adalah tersebarnya beragam kemaksiatan yang nyata namun seakan tidak disadari, yakni menghadiri dan ikut serta dalam perayaan yang disebutkan al-Qur’an dengan istilah al-zuur, mencakup perayaan agama kufur (seperti acara natal), perayaan kemaksiatan dan kebatilan (seperti perayaan tahun baru pada umumnya). Padahal para ulama ketika mengulas keharaman menyerupai orang-orang kafir, mereka pun menjelaskan larangan ikut serta dalam perayaan agama kufur.
Para ulama ketika menjelaskan larangan menghadiri perayaan agama kufur, mereka menukil dalil al-Qur’an[1]:
{وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا} 
”Dan orang-orang yang tidak menyaksikan al-zûr, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqân [25]: 72)

·         Pengertian Al-Zûr Secara Bahasa
Kata al-Zûr secara bahasa yakni al-kadzb (kedustaan) dan al-bâthil (kebatilan) sebagaimana disebutkan oleh Imam Abu Bakr al-Anbariy (w. 328 H)[2], Imam al-Zujaz[3], Imam al-Azhariy (w. 370 H)[4], Imam al-Jawhariy (w. 393 H)[5], dan Imam Ibnu Faris (w. 395 H)[6] dan para ulama ahli bahasa lainnya, hal itu sebagaimana disebutkan seorang penyair:
جاؤا بزوريْهم وجئنا بالأصمّ
Mereka datang dengan kedustaan mereka dan kami datang dengan ketulian.[7]
Dalam pemaknaan lainnya yang serupa, dipertegas dalam Mu’jam Dîwân al-’Arab karya Abu Ibrahim al-Farabiy (w. 350 H) bahwa semakna dengan al-zûn adalah al-zûr yakni adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah,[8] hal senada disebutkan Abu ’Ubaidah[9] dan al-Jawhariy[10].

·         Pengertian Al-Zûr & Al-Laghw dalam Tafsir Ayat
Diperkuat penafsiran atas ayat ini, maka makna al-zûr dalam ayat ini menurut para ulama tabi’in seperti Mujahid, al-Dhahhak, al-Rabi’ bin Anas adalah perayaan-perayaan orang-orang musyrik.[11] Hal senada disebutkan oleh Abu al-’Aliyyah, Thawus, Muhammad bin Sirin, dan selainnya.[12]
Imam Abu Muhammad al-Tustariy (w. 283 H) menafsirkan kata (الزُّورَ) yakni majelis-majelis ahli bid’ah.[13] Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) pun menegaskan bahwa ia bermakna kesyirikan dan penyembahan terhadap berhala, dikatakan pula yakni kedustaan dan kefasikan. Dan makna al-laghw adalah kebatilan.[14] Atau segala sesuatu yang batil dan tidak mengandung faidah.[15]
Keragaman istilah yang digunakan para ulama untuk memaknai al-zûr sebenarnya satu makna, hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) yang mengatakan:
وقول هؤلاء التابعين: إنه أعياد الكفار " ليس مخالفا لقول بعضهم: " إنه الشرك "، أو صنم كان في الجاهلية، ولقول بعضهم: إنه مجالس الخنا، وقول بعضهم: إنه الغناء؛ لأن عادة السلف في تفسيرهم هكذا: يذكر الرجل نوعا من أنواع المسمى لحاجة المستمع إليه، أو لينبه به على الجنس
”Dan perkataan para ulama tabi’in: ”sesungguhnya ia adalah perayaan orang-orang kafir” tidak bertentangan dengan perkataan sebagian mereka ”sesungguhnya ia adalah kesyirikan” atau berhala di masa jahiliyyah, dan perkataan mereka ”sesungguhnya ia adalah majelis-majelis keji”, dan perkataan sebagian mereka ”sesungguhnya ia adalah nyanyian”; karena kebiasaan al-salaf dalam penafsiran mereka memang seperti itu: yakni seseorang menyebutkan suatu jenis dengan beragam jenis penamaan sesuai dengan kebutuhan orang yang menyimak perkataannya, atau sebagai bentuk peringatan atas perkara tersebut.”[16]
            Dan maksud dari perkataan ” لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ” (mereka tidak menyaksikan al-zûr) dan bukan ” لا يشهدون بالزور” (mereka tidak mengatakan al-zûr), dimana orang-orang Arab mengatakan ” شهدت كذا” jika engkau menghadirinya (إذا حضرته). Sebagaimana perkataan Ibnu ’Abbas: ” شهدت العيد مع رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم” (saya menghadiri perayaan ’Id bersama Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam-.[17]
Namun dalam perinciannya, al-zûr merupakan kedustaan yang digambarkan seakan sesuatu yang baik sehingga apa yang tampak menyelisihi hakikatnya, hal itu sebagaimana disebutkan Al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H):
وأصل الزور تحسين الشيء، ووصفه بخلاف صفته، حتى يخيل إلى من يسمعه أو يراه، أنه خلاف ما هو به، والشرك قد يدخل في ذلك، لأنه محسَّن لأهله، حتى قد ظنوا أنه حق، وهو باطل
”Asal-usul kata al-zûr adalah membaguskan sesuatu, dan menyifatinya dengan sesuatu yang menyelisihi sifat aslinya, hingga menimbulkan khayalan kepada orang yang mendengarkannya atau melihatnya, bahwa ia berbeda dengan apa yang sebenarnya, dan kesyirikan terkadang termasuk hal tersebut (digambarkan seperti kebaikan-pen.), karena kesyirikan seakan kebaikan bagi pelakunya, hingga mereka mengira bahwa ia adalah kebaikan padahal kebatilan.”[18]
Dan dirinci pula oleh Imam Abu Hilal al-Askariy (w. 395 H) bahwa al-zûr adalah kedustaan yang diselaraskan dan dibaguskan lahiriyyahnya sebagai upaya agar ia sesuatu yang dianggap benar (padahal kedustaan-pen.).”[19]
Sebagaimana perkataan:
زورت الشَّيْء إِذا سويته وحسنته[20]
Penjelasan senada disebutkan oleh Imam al-Baghawi (w. 510 H)[21], Imam Syamsuddin al-Kirmani (w. 786 H)[22]. Imam Ibnu Taimiyyah pun menegaskannya dan merinci bahwa para ulama salaf terkadang menafsirkan sesuatu (kebatilan) yang tampak dengan wajah kebaikan dengan istilah syubhat atau syahwat, padahal yang ada di dalamnya berupa kebatilan, maka kesyirikan dan yang semisalnya ditampakkan dalam wujud rupa yang baik untuk menimbulkan syubhat, dan nyanyian-nyanyian (batil) ditampakkan dalam wujud rupa yang baik untuk mengundang syahwat. Dan adapun perayaan orang-orang musyrik (kafir) maka mengumpulkan keduanya; syubhat dan syahwat. Dan ia merupakan kebatilan dimana tiada manfaat sedikit pun dalam agama, dan hal-hal berupa kenikmatan yang ada, maka akan mengakibatkan penyakit (krisis penghidupan-pen.), maka jadilah ia zûr.[23]

·         Hukum Menghadiri & Ikut Serta dalam Al-Zûr (Perayaan Agama Kufur & Kebatilan Lainnya)
Perayaan kaum kafir, musyrik hakikatnya merupakan kedustaan, kebatilan dan pengingkaran atas Din Allah. Dan tidak ada kedustaan yang lebih besar daripada perbuatan menyekutukan Allah (kekufuran-pen.).[24] Dan bukankah perayaan natal, dan perayaan agama kufur lainnya merupakan perayaan batil agama lain? Maka jelas bahwa ayat ini:
{وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا} 
”Dan orang-orang yang tidak menyaksikan al-zûr, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqân [25]: 72)
Mengandung larangan ikut serta dalam perayaan mereka, al-Qadhi Abu Ya’la menegaskan masalah dalam larangan menghadiri perayaan orang-orang musyrik (kafir-pen.)[25], dengan perincian penjelasan:

Pertama, Kalimat ” لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ
Al-Hafizh al-Thabari menegaskan bahwa mereka tidak menyaksikan sesuatu apapun dari kebatilan; tidak kesyirikan, tidak nyanyian, tidak kedustaan dan tidak pula selainnya, dan segala sesuatu yang lazimnya merupakan al-zûr, karena Allah SWT menyebutkan keumuman dalam penyifatannya atas mereka bahwa mereka tidak menyaksikan al-zûr, maka tidak boleh simpatik sedikit pun dari hal tersebut.[26] Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (w. 852 H) pun menegaskan bahwa yang dikehendaki dari ayat ini adalah mereka tidak menghadirinya.[27] Imam al-Manawi (w. 1031 H) menjelaskan yakni tidak boleh menghadirinya, tidak mendekatinya untuk memproteksi diri dari keburukan dan pelakunya, memelihara agamanya dari apa-apa yang bisa mengotorinya karena menyaksikan kebatilan di dalamnya terkandung keterlibatan.[28]
Dan jika menyaksikan perayaan kufur dilarang, maka menyokong pelaku kebatilan dengan kebatilan mereka lebih buruk lagi. Al-Dhahhak, sebagaimana dinukil Imam al-Baghawi (w. 510 H) menegaskan yakni mereka yang tidak menyokong pelaku kebatilan dengan kebatilan mereka.[29] Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr al-Andalusi (w. 463 H) menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menyokong pelaku kebatilan dengan kebatilan mereka dan tidak condong padanya.[30]

Kedua, Kalimat ” وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
Pemaknaan dari potongan ayat:
{وَإِذا مروا بِاللَّغْوِ مروا كراما} 
Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
            Imam al-Baghawi menjelaskan yakni jika mereka melewati majelis-majelis kelalaian dan kebatilan maka mereka lalui saja memelihara kehormatan diri bersegera memalingkan dirinya. Dikatakan: ”seseorang memuliakan dirinya dari apa-apa yang mengotorinya jika ia menyucikannya dan memuliakan dirinya dari hal tersebut.”[31]
Imam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa jika Allah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan perkara kedustaan tersebut, baik menghadirinya dengan sekedar menyaksikan dan mendengarkannya, lalu bagaimana jika mengikuti lebih dari hal tersebut? Berupa perbuatan yang termasuk perbuatan al-zûr (kedustaan), lebih dari sekedar menyaksikannya? Dan ayat ini mengandung pujian bagi mereka (yang menolak menghadirinya), dimana hal ini saja merupakan dorongan kuat (targhiib) untuk tidak menghadiri perayaan kufur mereka dan lain sebagainya dari berbagai perkara kedustaan.[32]
Imam Abu al-Muzhaffar al-Sam’ani (w. 489 H) dalam tafsirnya menjelaskan maknanya yakni mereka lalui berpaling darinya sebagaimana orang yang berlalu menjaga kehormatan dirinya.[33] Hal ini mengisyaratkan tercelanya menghadiri dan ikut serta dalam perayaan agama kufur, apa pun macamnya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir pun menegaskan bahwa yang tampak jelas dari kalimat ” لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ” yakni tidak menghadirinya dan oleh karena itulah Allah berfirman: (وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا) yakni tidak menyaksikan al-zûr, dan jika ia menemukannya maka mereka melewatinya dan segera melewatinya, dan tidak mau terkotori sedikit pun oleh nya, oleh karena itulah Allah berfirman (مَرُّوا كِرَامًا).[34]
Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) pun menukil ayat di atas untuk menjelaskan hukum keikutsertaan dalam perayaan kufur:
وأقبح منه ما أحدثوه من العبادات أو العادات؛ فإنه مما أحدثه الكافرون، وموافقة المسلمين لهم فيه من أعظم المنكرات. فكل ما يتشبهون بهم من عبادة أو عادة، فهو من المحدثات والمنكرات. وقد مدح الله عز وجل من لم يشهد أعيادهم ومواسمهم ولم يشاركهم فيها    
”Dan seburuk-buruknya perbuatan orang kafir adalah apa-apa yang dibuat-buat berupa berbagai bentuk peribadahan dan adat kebiasaan; maka sesungguhnya itu semua termasuk dari apa yang dibuat-buat oleh orang-orang kafir, dan sejalannya kaum muslimin dengan mereka di dalamnya termasuk seburuk-buruknya kemungkaran. Maka apa-apa yang kaum muslimin serupai dari mereka berupa ritual peribadatan dan adat kebiasaan maka ia termasuk perkara-perkara baru (bid’ah yang tercela) dan kemungkaran. Dan sungguh Allah ’Azza wa Jalla telah memuji siapa saja yang tidak menyaksikan hari-hari perayaan mereka dan tidak ikut serta di dalamnya.”[35]
Artinya al-Suyuthi menyebutnya sebagai seburuk-buruknya kemungkaran dan perkara-perkara yang diada-adakan.

·         Teladan al-Salaf al-Shâlih
Al-Hafizh al-Suyuthi menegaskan bahwa tiada seorang pun dari generasi al-salaf al-shâlih yang ikut serta dalam perayaan agama kufur:
واعلم أنه لم يكن على عهد السلف السابقين من المسلمين من يشاركهم في شيء من ذلك. فالمؤمن حقاً هو السالك طريق السلف الصالحين المقتفي لآثار نبيه سيد المرسلين (، المقتفي بمن أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين.
”Dan ketahuilah bahwa tidak pernah ada seorang pun pada masa generasi al-salaf terdahulu dari kaum muslimin yang ikut serta dalam hal apa pun dari perayaan mereka, maka seorang mukmin yang benar (imannya) adalah seseorang yang menempuh jalan al-salaf al-shâlih yang mengikuti jejak sunnah nabi-Nya, penghulu para rasul (Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam-).”[36]
Bahkan Khalifah ’Umar bin al-Khaththab r.a., sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh al-Suyuthi, memberikan syarat kepada mereka –kafir ahludz dzimmah- untuk tidak menampakkan syi’ar perayaan-perayaan agama mereka di negeri-negeri kaum muslimin.[37]
Jika kita perhatikan sikap Khalifah ’Umar bin al-Khaththab r.a. sebagai seorang pemimpin negara, dengan apa yang terjadi saat ini, maka fenomena tegaknya fitnah kaum kuffar di zaman ini kian menuntut keberadaan penguasa yang diwajibkan Islam memelihara akidah umat ini dari berbagai penyimpangan, dan poin ini pula yang kian menunjukkan wajib dan pentingnya keberadaan al-Khalifah yang tegak dalam sistem pemerintahan Islam, al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah, mewujudkan amanah dari Rasulullah - shallallâhu ’alayhi wa sallam -, dari Abu Hurairah –radhiyallâhu ’anhu-. bahwa Nabi Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayh dll)
Dan kita sebagaimana sya’ir yang dinukil oleh para ulama:
نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.[38]





[1] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Iqtidhaa’ al-Shirâth al-Mustaqîm, Beirut: Dâr ‘Âlam al-Kutub, cet. VII, 1419 H, juz I, hlm. 479.
[2] Muhammad bin al-Qasim Abu Bakr al-Anbariy, Al-Zâhir fii Ma’âniy Kalimât al-Nâs, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1412 H, juz I, hlm. 487.
[3] Muhammad Shadiq Khan bin Hasan al-Husainiy al-Bukhariy, Fat-h al-Bayân fii Maqâshid al-Qur’ân, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1412 H, juz IX, hlm. 353.
[4] Muhammad bin Ahmad bin al-Azhariy, Tahdziib al-Lughah, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabiy, cet. I, 2001, juz XIII, hlm. 163.
[5] Abu Nashr Isma’il bin Hammad al-Jawhariy, Al-Shihâh Tâj al-Lughah wa Shihâh al-‘Arabiyyah, Beirut: Dâr al-‘Ilm li al-Malâyiin, cet. IV, 1407 H, juz II, hlm. 672.
[6] Ahmad bin Faris bin Zakariya al-Qazwainiy, Majmal al-Lughah, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. II, 1406 H, juz I, hlm. 444.
[7] Ibid.
[8] Abu Ibrahim Ishaq bin Ibrahim al-Farabiy, Mu’jam Dîwân al-Adab, Kairo: Mu’assasat Dâr al-Sya’b, 1424 H, juz III, hlm 319.
[9] Muhammad bin Ahmad bin al-Azhariy, Tahdziib al-Lughah, juz XIII, hlm. 163.
[10] Abu Nashr Isma’il bin Hammad al-Jawhariy, Al-Shihâh Tâj al-Lughah wa Shihâh al-‘Arabiyyah, juz II, hlm. 672.
[11] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 126.
[12] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr Thayyibah, cet. II, 1420 H, juz VI, hlm. 130.
[13] Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah al-Tustariy, Tafsîr al-Tustariy, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1423 H, hlm. 114.
[14] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, juz VI, hlm. 130.
[15] Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad al-Sam’aniy, Tafsîr al-Qur’ân, Riyadh: Dâr al-Wathan, cet. I, 1418 H, juz IV, hlm. 35.
[16] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqiim, juz I, hlm. 479.
[17] Ibid.
[18] Muhammad bin Jarir bin Yazid Abu Ja’far al-Thabariy, Jâmi’ al-Bayân fii Ta’wiil al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz XIX, hlm. 314.
[19] Abu Hilal al-Hasan bin ‘Abdullah al-‘Askariy, Al-Furûq al-Lughawiyyah, Kairo: Dâr al-‘Ilm wa al-Tsaqâfah, t.t., hlm. 47.
[20] Ibid.
[21] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawiy, Ma’âlim al-Tanziil fii Tafsiir al-Qur’ân, Dâr Thayyibah, cet. IV, 1417 H, juz VI, hlm. 98.
[22] Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali (Syamsuddin al-Kirmani), Al-Kawâkib al-Darâriy fii Syarh Shahiih al-Bukhâriy, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabiy, cet. II, 1401 H, juz XI, hlm. 173. 
[23] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqiim, juz I, hlm. 482-483.
[24] Muhammad Shadiq Khan bin Hasan al-Husainiy al-Bukhariy, Fat-h al-Bayân fii Maqâshid al-Qur’ân, juz IX, hlm. 353.
[25] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqiim, juz I, hlm. 480.
[26] Muhammad bin Jarir bin Yazid Abu Ja’far al-Thabariy, Jâmi’ al-Bayân fii Ta’wiil al-Qur’ân, juz XIX, hlm. 314.
[27] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-‘Asqalani, Fat-h al-Bâriy Syarh Shahiih al-Bukhâriy, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz X, hlm. 412.
[28] ‘Abdurra’uf bin Taj al-‘Arifin bin ‘Ali al-Manawi, Faydh al-Qadiir Syarh al-Jâmi’ al-Shaghiir, Mesir: al-Maktabah al-Tijâriyyah al-Kubrâ’, cet. I, 1356 H, juz I, hlm. 442.
[29] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawiy, Ma’âlim al-Tanziil fii Tafsiir al-Qur’ân, juz VI, hlm. 98.
[30] Yusuf bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Barr al-Andalusiy, Al-Tamhiid Limâ fii al-Muwaththa’ min al-Ma’âniy wa al-Asâniid, Maghrib: Wizârat ‘Umûm al-Awqâf wa al-Syu’ûn al-Islâmiyyah, 1387 H, juz XIX, hlm. 32.
[31] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawiy, Ma’âlim al-Tanziil fii Tafsiir al-Qur’ân, juz VI, hlm. 98.
[32] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqiim, juz I, hlm. 483.
[33] Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad al-Sam’aniy, Tafsîr al-Qur’ân, hlm. 35.
[34] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, juz VI, hlm. 131.
[35] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqiiqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 125.
[36] Ibid, hlm. 126.
[37] Ibid, hlm. 125.
[38] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadriib al-Râwi fii Syarh Taqriib al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, Cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.