17 Desember 2015

Inilah Hujjah Kaum Muslimin Wajib Menolak Menyerupai Orang Kafir

(Tinjauan Dalil-Dalil Syar’i Berdasarkan Penjelasan Ulama Mu’tabar)
Oleh: Irfan Abu Naveed
F
enomena miris! Hal itulah yang terjadi saat ini di zaman penuh fitnah, dimana mereka yang disebut penguasa negeri-negeri kaum muslimin pun tak mampu menjadi pelindung akidah umat, fitnah kaum kuffar pun merajalela dan menjadi tantangan besar bagi kaum muslimin, para da’i dan ulamanya khususnya di negeri ini.
Jika kita rinci, pembahasan terkait yang cukup penting untuk dipahami berkaitan dengan fenomena ini adalah pembahasan hukum al-tasyabbuh bi al-kuffaar, yakni perbuatan menyerupai orang-orang kafir, namun dalam pembahasannya ternyata tak terbatas pada orang kafir semata tapi juga orang fasik dan zhalim dengan keburukannya. Bahasan inilah yang akan penyusun ulas dalam kesempatan kali ini, mencakup pengertian, batasan dan hukumnya. Allah al-Musta’ân.

Pengertian Tasyabbuh
Pertama, Secara Bahasa
            Tasyabbuh secara bahasa bermakna tamatstsala (menyerupai), sebagaimana disebutkan dalam Syams al-’Uluum:
[التشبه]: تشبه به: أي تَمَثَّل    
”(Al-Tasyabbuh): tasyabbaha bihi yakni tamatstsala (menyerupainya).”[1]

Kedua, Secara Istilah
            Sedangkan secara istilah, tasyabbuh mengandung konotasi menjiplak dan mengikuti, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) menjelaskan:
التشبه: من شبه، المحاكاة والتقليد، ومنه: كراهة التشبه بالفساق
Al-Tasyabbuh: dari kata kerja syabbaha, menjiplak dan mengikuti, dan di antara bentuknya: dibencinya menyerupai orang-orang fasik.”[2]

Argumentasi Dalil Larangan Tasyabbuh
Para ulama ketika mengulas keharaman menyerupai orang-orang kafir, menggunakan dalil nash-nash al-Qur’an yang mencela perbuatan mengikuti hawa nafsu orang-orang kafir dan dalil-dalil hadits yang mengandung larangan tegas menyerupai orang kafir.
Pertama, Kecaman Atas Perbuatan Mengikuti Hawa Nafsu Orang Kafir  
Hawa nafsu (al-hawâ’) adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan al-wahyu, sebagaimana diisyaratkan dalam dalil:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ {٣} إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ {٤} 
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. Al-Najm [53]: 3-4)
Ungkapan ’an al-hawâ’ yakni bi al-hawâ’ (menurut hawa nafsunya).[3] Dan Imam Abu al-Muzhaffar al-Sam’ani (w. 489 H) dalam tafsirnya mengisyaratkan bahwa al-hawâ’ bermakna ghayr al-haq (selain dari kebenaran atau kebatilan).[4] Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam permulaan penafsiran atas ayat ini menegaskan bahwa Allah ’Azza wa Jalla telah menyucikan rasul-Nya dan syari’at-Nya dari penyerupaan dengan golongan yang menyimpang seperti Nasrani dan Yahudi.[5]
            Imam Abu Muhammad al-Tustariy (w. 283 H) menjelaskan bahwa makna (وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ) yakni tidak akan pernah berkata-kata batil, dan ucapannya itu merupakan hujjah dari hujjah-hujjah Allah SWT.[6]
Dan tidak samar bahwa akidah dan jalan hidup agama-agama kufur berasal dari hawa nafsu, karena jelas-jelas menyelisihi akidah dan syari’ah (jalan hidup) yang telah digariskan Allah ’Azza wa Jalla, bagaimana tidak? Ketika Allah menetapkan akidah yang selamat adalah akidah islam, mereka menyelisihinya dan meyakini akidah-akidah yang bertentangan dengan akidah Islam, dan asal-usul segala kekufuran ini hakikatnya merupakan hawa nafsu, hal itu sebagaimana dituturkan dalam ungkapan sya’ir:
واحذر هواك تجد رضَاه * فإنما أصل الضلالة كلها الأهواء
”Berhati-hatilah terhadap hawa nafsumu maka engkau temukan keridhaan-Nya * Karena sesungguhnya sumber kesesatan seluruhnya adalah hawa nafsu.”[7]
Sedangkan yang dimaksud dengan (إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ) yakni dari wahyu Allah, sebagaimana disebutkan para ulama dalam kitab tafsir, salah satunya al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) dalam al-Jâmi’[8] dan Imam al-Baghawi dalam Ma’âlim al-Tanzîl.[9]
Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) menjelaskan larangan menyerupai orang-orang kafir dan di antaranya adalah larangan menyerupai perayaan orang-orang Yahudi atau selain mereka dari golongan orang-orang kafir (Nasrani, Hindu, Budha dan lain sebagainya) atau orang-orang ’ajam (non arab) maupun orang-orang arab yang menyimpang, tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai mereka dalam hal apapun dari hal tersebut, Allah SWT berfirman kepada nabi-Nya, Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam-:
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ {١٨} إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ {١٩} 
”Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Jâtsiyyah [45]: 18-19)
            Lalu al-Hafizh al-Suyuthi merinci kembali bahwa hawa nafsu mereka yang tidak mengetahui adalah apa-apa yang mendorong pada kebatilan, maka sesungguhnya tidak boleh bagi seseorang yang telah mengetahui (muslim) mengikuti orang yang jahil (kafir) dalam perbuatannya yakni hawa nafsunya[10], Al-Suyuthi pun menukil dalil:
{وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ}
”Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 145)
            Setelah menukil dalil-dalil di atas, al-Suyuthi mengatakan pertanyaan retoris:
فإذا كان هذا خطابه لنبيه، فكيف حال غيره إذا وافق الجاهلين أو الكافرين وفعل كما يفعلون مما لم يأذن به الله ورسوله ويتابعهم فيما يختصون به من دينهم وتوابع دينهم؟
”Jika ini semua merupakan seruan Allah kepada nabi-Nya, lalu bagaimana dengan keadaan orang selain beliau –shallallâhu ’alayhi wa sallam- jika ia selaras dengan orang-orang jahil atau kafir dan melakukan seperti apa yang mereka lalukan dari apa-apa yang tidak Allah dan Rasul-Nya izinkan (larang-pen), serta mengikuti mereka dalam hal-hal yang mereka khususkan dalam agama mereka sendiri dan termasuk bagian dari agamanya?”[11]

Kedua, Larangan Menyerupai Orang-Orang Kafir, Sesat, Fasik & Zhalim
a.      Apa Batasan & Kriteria Penyerupaan yang Dilarang?
Larangan menyerupai orang-orang kafir mencakup perkataan mereka, hal itu sebagaimana diisyaratkan Allah ’Azza wa Jalla dalam firman-Nya:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ}
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengatakan ”râ’inâ” akan tetapi katakanlah ”unzhurnâ” dan dengarkanlah, dan bagi orang-orang kafir itu ’adzab yang amat pedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 104)
Dimana para ulama menggunakan dalil ini untuk mengharamkan ucapan atau perkataan yang mengandung kemungkaran dan menyerupai orang kafir. Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 104 di atas menjelaskan:
والغرض: أن الله تعالى نهى المؤمنين عن مشابهة الكافرين قولا وفعلا 
”Maksudnya: Allah Ta’âlâ melarang orang-orang beriman menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan dan perbuatan mereka.”[12]
Imam Badruddin al-’Ayni al-Hanafi (w. 855 H) pun menukil dalil-dalil yang sama ketika menjelaskan keharaman menyerupai orang kafir dalam perkataan.[13]
Dan berdasarkan dalil hadits dari Ibnu ’Umar –radhiyallâhu ’anhu--, ia berkata bahwa
Rasulullah –shallallahu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya[14], Abu Dawud dalam Sunan-nya[15], Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya[16]. Imam al-Mulla al-Qari dalam Al-Mirqaat mengatakan hadits ini hasan[17], dishahihkan oleh Ibnu Hibban[18])
Namun jika perbuatan menyerupai orang kafir dirinci lebih jauh maka jelas hadits ini menjadi petunjuk larangan menyerupai orang kafir dalam segala bentuk kekhususannya, dan larangan mencakup kekhususan ini telah dijelaskan oleh para ulama, baik kekhususan dalam keyakinan, ritual peribadahan, ucapan, perbuatan, pakaian dan lain sebagainya.
Dan bentuk penyerupaan apa yang zhahir (fisik) menggiring kepada penyerupaan batin, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Sa’di (w. 1376 H).[19]
Karena lafazh tasyabbaha dalam hadits ini sifatnya umum, tidak dibatasi dengan salah satu bentuk apakah ucapan atau perbuatan, begitu pula lafazh qawm tidak dikhususkan pada suatu kaum mencakup baik buruknya artinya hadits ini bisa diterapkan pula pada kasus orang yang menyerupai orang-orang shalih, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Thibiy yakni ’âm (umum), dalam perkara-perkara kekhususan kaum yang diikuti[20]. Mencakup pula pakaian dan ia yang paling tampak dalam penyerupaan[21], Imam al-Mulla al-Qari (w. 1014 H) menjelaskan:
(مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ) : أَيْ مَنْ شَبَّهَ نَفْسَهُ بِالْكُفَّارِ مَثَلًا فِي اللِّبَاسِ وَغَيْرِهِ، أَوْ بِالْفُسَّاقِ أَوِ الْفُجَّار
”(Siapa saja yang menyerupai suatu kaum): yakni menyamakan dirinya dengan orang-orang kafir, misalnya dalam pakaian dan selainnya, atau dengan orang-orang fasik atau fajir...”[22]
            Maka jelas bahwa perbuatan menyerupai orang-orang kafir yang dicela syari’ah berlaku dalam segala bentuk kekhususan mereka dalam kekufuran, kemungkarannya yang bertentangan dengan akidah dan syari’ah Islam. Ini pula yang menguatkan pembahasan keharaman penggunaan madaniyyah khaashah yakni benda-benda khusus yang dipakai dalam kehidupan yang dihasilkan dari peradaban dan akidah kufur, yang diungkapkan oleh al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani dalam kitab Nizhâm al-Islâm.[23]
           
b.      Bagaimana Hukum Menyerupai Orang Kafir, Fasik dan Zhalim dengan Perbuatan Mungkar Mereka?
Menyerupai kekhususan orang kafir jelas hukumnya haram, hal itu sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Katsir setelah menukil dalil hadits Ibnu ’Umar r.a. di atas dalam tafsirnya:
ففيه دلالة على النهي الشديد والتهديد والوعيد، على التشبه بالكفار في أقوالهم وأفعالهم، ولباسهم وأعيادهم، وعباداتهم وغير ذلك من أمورهم التي لم تشرع لنا ولا نُقَرر عليها 
”Di dalam hadits ini, terdapat larangan, ancaman dan peringatan keras terhadap sikap menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian (khas-pen.), ritual, ibadah mereka, dan perkara-perkara lainnya yang tidak disyari’atkan bagi kita dan tak sejalan dengan kita.”[24]
Al-Hafizh al-Suyuthi menggunakan dalil hadits ini menegaskan bahwa perbuatan menyerupai orang-orang kafir itu haram meskipun tidak dimaksudkan seperti itu.[25] Dan bentuk penyerupaan apa yang zhahir (fisik) menggiring kepada penyerupaan batin, padahal menutup berbagai sarana dan penghantar kepada keburukan merupakan maksud Al-Syaari’ (Allah dan Rasul-Nya) dari segala arahnya, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Sa’di (w. 1376 H).[26]
Imam al-Mulla al-Qari menjelaskan bahwa di antara makna fa huwa min hum dalam hadits ini jika menyerupai orang kafir, fasik dan fajir dalam kebatilannya maka sama-sama dalam dosa.[27]
Imam al-Shan’ani (w. 1182 H) dalam Subul al-Salaam menguraikan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa siapa saja yang menyerupai orang-orang fasik maka ia termasuk golongan mereka atau menyerupai orang-orang kafir, ahli bid’ah dalam hal apapun yang menjadi kekhususan mereka berupa pakaian, sesuatu yang dikenakan dan penampilan, para ulama berkata bahwa jika seseorang menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian seragamnya dan meyakini bahwa dengan seragam tersebut ia seperti orang kafir maka ia telah kufur namun jika tidak meyakininya maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama ahli fikih, di antaranya ada yang mengkufurkannya dan ini yang menjadi zhahir haditsnya, dan ada pula yang berpendapat bahwa ia tidaklah kufur akan tetapi harus dididik.[28]
Bahkan ia termasuk seburuk-buruknya kemungkaran, al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) pun merinci:
وأقبح منه ما أحدثوه من العبادات أو العادات؛ فإنه مما أحدثه الكافرون، وموافقة المسلمين لهم فيه من أعظم المنكرات. فكل ما يتشبهون بهم من عبادة أو عادة، فهو من المحدثات والمنكرات. وقد مدح الله عز وجل من لم يشهد أعيادهم ومواسمهم ولم يشاركهم فيها 
”Dan seburuk-buruknya perbuatan orang kafir adalah apa-apa yang dibuat-buat berupa berbagai bentuk peribadahan dan adat kebiasaan; maka sesungguhnya apa-apa yang dibuat-buat oleh orang-orang kafir dan dituruti kaum muslimin adalah seburuk-buruknya kemungkaran. Maka setiap perkara yang dituruti dari orang kafir berupa ritual peribadan dan adat kebiasaan, ia termasuk perkara-perkara baru (bid’ah yang tercela) dan kemungkaran. Dan sungguh Allah ’Azza wa Jalla telah memuji siapa saja yang tidak menyaksikan hari-hari perayaan mereka dan tidak ikut serta di dalamnya.”[29]
Bahkan ’Abdullah bin ’Amru r.a., dalam atsarnya mengatakan:
مَنْ بَنَى بِأَرْضِ الْمُشْرِكِينَ وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهُمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوتَ حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 
”Siapa saja yang membangun tempat di negeri kaum musyrikin, membuat lampu-lampu dan mengikuti perayaan mereka dan menyerupai perbuatan mereka hingga mati maka ia akan dikumpulkan bersama mereka di Hari Kiamat.”[30]
Dipertegas larangan menyerupai perbuatan orang-orang kafir, musyrik sebagaimana disebutkan dalam hadits, dari Ibnu ’Umar r.a., bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ»
Selisihilah orang-orang musyrik.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya, Muslim dalam Shahîh-nya, al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’, dan lainnya)[31]
Menjelaskan hadits ini, Imam Badruddin al-’Ayni (w. 855 H) menyatakan bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- telah melarang kita dari perbuatan menyerupai orang-orang kafir, dan hal tersebut merupakan perintah untuk menyelisihi mereka baik dalam perbuatan maupun perkataan.[32]
Dan perincian hukumnya, sebagaimana dirinci oleh Imam Syarful Haq al-’Azhim Abadi (w. 1329 H) dalam ’Awn al-Ma’buud, bahwa frase min hum dalam hadits ini sesuai dengan kadar penyerupaan atas kaum yang diserupakan didalamnya maka jika penyerupaan tersebut dalam kekufuran atau kemaksiatan atau syi’ar atas hal tersebut maka hukumnya sesuai dengan hal yang diserupakannya.[33]
Imam Mazhharuddin al-Zaydani (w. 727 H) pun merincinya:
من شَبَّه نفسَه بالكفار في اللباس وغيره من المحرَّمات، فإن اعتقد تحليلَه فهو كافر، وإن اعتقد تحريمَه فقد أَثِمَ، وكذلك من شَبَّه نفسه بالفُسَّاق، ومن شبَّه نفسَه بالنساء في اللباس وغيره فقد أَثِم.
”Siapa saja yang menyerupakan dirinya dengan orang-orang kafir dalam pakaian dan selainnya dalam berbagai keharaman, jika ia meyakini kehalalannya maka ia menjadi kafir, dan jika ia meyakini keharamannya maka sungguh ia telah berdosa, begitu pula siapa saja yang menyerupakan dirinya dengan orang-orang fasik dan siapa saja yang menyerupakan dirinya dengan kaum wanita dalam pakaian dan selainnya maka sungguh ia telah berdosa.”[34]

Catatan Penting
            Maka menyerupai orang-orang kafir dalam kekhususan mereka, semisal mengucapkan selamat natal, mengenakan atribut-atribut natal, memakai simbol bintang David dan Baphomet Yahudi, memakai penutup kepala khas penganut Hindu Bali termasuk perbuatan menyerupai orang-orang kafir dan musyrik yang diharamkan syari’ah Islam yang agung ini. Dan tiada kebaikan kecuali apa-apa yang sejalan dengan syari’ah,
Di sisi lain fenomena tegaknya fitnah kaum kuffar ini pun kian menuntut keberadaan penguasa yang diwajibkan Islam memelihara akidah umat ini dari berbagai penyimpangan tersebut, dan poin ini pula yang kian menunjukkan pentingnya keberadaan al-Khalifah yang tegak dalam sistem pemerintahan Islam, al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah, mewujudkan amanah dari Rasulullah - shallallâhu ’alayhi wa sallam -, dari Abu Hurairah –radhiyallâhu ’anhu-. bahwa Nabi Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayh dll)
[]

Link Download File (Pdf): Link Arsip












[1] Nisywan bin Sa’id al-Yamani, Syams al-‘Ulûm wa Dawâ’ Kalâm al-‘Arab min al-Kulûm, Ed: Dr. Husain bin ‘Abdullah al-‘Umari dkk, Damaskus: Dâr al-Fikr, cet. I, 1420 H, juz VI, hlm. 3370.
[2] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, hlm. 131.
[3] Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad al-Sam’aniy, Tafsîr al-Qur’ân, Riyadh: Dâr al-Wathan, cet. I, 1418 H, juz V, hlm. 284.
[4] Ibid.
[5] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz VII, hlm. 411.
[6] Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah al-Tustariy, Tafsîr al-Tustariy, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1423 H, hlm. 156.
[7] Azhariy Ahmad Mahmud, Dâ’ al-Nufûs wa Sumûm al-Qulûb: al-Ma’âshiy, Dâr Ibn Khuzaimah, hlm. 15.
[8] Muhammad bin Jarir bin Yazid Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Ed: Ahmad Muhammad Syakir, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz XXII, hlm. 498.
[9] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi al-Syafi’I, Ma’âlim al-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, cet. I, 1420 H, juz IV, hlm. 301.
[10] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunan wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 123.
[11] Ibid.
[12] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, juz I, hlm. 257.
[13] Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa Badruddin al-‘Ayni al-Hanafi, ‘Umdat al-Qâriy Syarh Shahîh al-Bukhâriy, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-’Arabiy, juz XVIII, hlm. 86.
[14] Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (IV/515, hadits no. 5114) Ahmad Syakir mengomentarinya sanadnya shahih.
[15] Abu Dawud al-Sijistani dalam Sunan-nya (IV/78, hadits no. 4033); al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani pun mengomentari sanadnya hasan (Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Fat-h al-Bâriy Syarh Shahiih al-Bukhâriy, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz X, hlm. 271), sedangkan Ibnu Hibban menshahihkannya (Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Buluugh al-Maraam Min Adillat al-Ahkaam, KSA: Daar al-Qubs, cet. I, 1435 H, hlm. 540), Syaikh Ahmad Syakir dalam catatan kaki atas kitab Musnad Ahmad, mengomentari bahwa sanadnya hasan.
[16] Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (VI/471, hadits no. 33016);
[17] Abu al-Hasan Nuruddin al-Mulla al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VII, hlm. 2782.
[18] Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Bulûgh al-Marâm Min Adillat al-Ahkâm, KSA: Dâr al-Qubs, cet. I, 1435 H, hlm. 540.
[19] ’Abdurrahman bin Nashir bin ’Abdullah al-Sa’di, Bahjat Qulûb al-Abrâr wa Qurrat ’Uyûn al-Akhyâr fî Syarh Jawâmi’ al-Akhbâr, Maktabah al-Rusyd, cet. I, 1422 H, hlm. 146.
[20] ’Abdurrahman bin Nashir bin ’Abdullah al-Sa’di, Bahjat Qulûb al-Abrâr wa Qurrat ’Uyûn al-Akhyâr fii Syarh Jawâmi’ al-Akhbâr, hlm. 146.
[21] Abu al-Hasan Nuruddin al-Mulla al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VII, hlm. 2782.
[22] Ibid.
[23] Al-Qadhi Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Nizhâm al-Islâm, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. VII, hlm. 31.
[24] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, juz I, hlm. 257.
[25] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunan wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 123.
[26] ’Abdurrahman bin Nashir bin ’Abdullah al-Sa’di, Bahjat Qulûb al-Abrâr wa Qurrat ’Uyûn al-Akhyâr fî Syarh Jawâmi’ al-Akhbâr, Maktabah al-Rusyd, cet. I, 1422 H, hlm. 146.
[27] Abu al-Hasan Nuruddin al-Mulla al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VII, hlm. 2782.
[28] Muhammad bin Isma’il bin Shalah al-Shan’ani, Subul al-Salâm, Dâr al-Hadîts, t.t., juz II, hlm. 646-647.
[29] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunan wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 123.
[30] Muhammad Asyraf bin Amir Syarf al-Haq al-‘Azhim Abadi, ‘Awn al-Ma’bûd Syarh Sunan Abiy Dâwud, Beirut: Daar al-Kutub al-’Ilmiyyah, cet. II, 1415 H, juz XI, hlm. 52.
[31] Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (V/2209, hadits no. 5553); Muslim dalam Shahîh-nya (I/152, hadits no. 523); Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’ (I/150, hadits no. 709).
[32] Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa Badruddin al-‘Ayni al-Hanafi, ‘Umdat al-Qâriy Syarh Shahîh al-Bukhâriy, juz VI, hlm. 137.
[33] Muhammad Asyraf bin Amir Syarf al-Haq al-‘Azhim Abadi, ‘Awn al-Ma’bûd Syarh Sunan Abiy Dâwud, juz XI, hlm. 52.
[34] Al-Husain bin Mahmud bin al-Hasan Mazhharuddin al-Zaydani, Al-Mafâtîh Syarh al-Mashâbîh, Kuwait: Dâr al-Nawâdir, cet. I, 1433 H, juz V, hlm. 18.