29 Desember 2015

Hakikat & Hukum Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Pandangan Islam

Mexico City New Years 2013! (8333128248).jpg
Fireworks in Mexico City at the stroke of midnight on New Year's Day, 2013 (https://en.wikipedia.org)
Oleh: Irfan Abu Naveed
P
enting untuk disadari! Salah satu fitnah dari ketiadaan al-Khalifah yang menegakkan hukum al-Qur’an dan al-Sunnah dalam Sistem Islam, al-Khilafah, adalah tegaknya kemaksiatan yang dianggap biasa yang menimpa kaum muslimin, hal itu karena sistem rusak Demokrasi kini dengan akidah sekularisme yang melandasinya dan prinsip kebebasan yang menyokongnya merupakan lingkungan yang subur untuk kemaksiatan. Salah satunya euphoria sebagian kaum muslimin dalam perayaan tahun baru masehi.

Pertama, Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. (Dari berbagai sumber)[1]

Kedua, Pengertian Ra’s al-Sanah al-Mîlâdiyyah dalam Bahasa Para Ulama
Para ulama ketika membahas hukum perayaan tahun baru masehi, mereka menggunakan istilah ra’s al-sanah al-mîlâdiyyah (رأس السنة الميلادية), sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh al-Suyuthi[2] dan para ulama lainnya, dan jika kita telusuri istilah ini dalam bahasa para ulama ahli fikih memang bermakna tahun baru masehi (new year), hal itu sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H):
رأس الشهر ورأس السنة: أول يوم فيهما (New year , or New month) 
“Istilah ra’s al-syahr dan ra’s al-sanah: yakni awal hari pertama di dalamnya (Tahun Baru atau Bulan Baru).”[3]
            Maka dari itu bisa kita simpulkan bahwa penjelasan para ulama tersebut membahas mengenai larangan merayakan Tahun Baru Masehi, karena istilah mîlâdiy (masehi) sebagaimana disebutkan dalam kamus arab:
مِيلاديّ [مفرد]: اسم منسوب إلى مِيلاد: والمراد: ميلاد المسيح عليه السلام //عيد رأس السَّنة الميلاديّة: أول كانون الثَّاني (يناير).
Mîlâdiy (bentuk tunggal): merupakan nama yang disematkan pada istilah mîlâd (hari kelahiran), dan maksudnya: kelahiran al-Masîh a.s.//Perayaan ra’s al-sanah al-mîlâdiyyah: bulan Januari.[4]
            Dan dari pembahasan para ulama, kita menemukan bahwa mereka menggunakan istilah yang hampir serupa untuk membahas perayaan natal dan perayaan tahun baru masehi menggunakan istilah ra’s al-sanah al-mîlâdiyyah, dengan merincinya kânûn al-awwal (25 Desember = natal) dan kânûn al-tsâniy (1 Januari).[5]
Dari pengertian di atas, kita menemukan bahwa tahun baru masehi berkenaan dengan keyakinan kelahiran Isa ’alayhi al-salâm-.
Dalam sejarahnya, perayaan tahun baru merupakan kebiasaan Yahudi, yang mereka namakan dengan ra’s haysya atau perayaan tiap awal bulan, lalu datanglah kaum Nasrani yang bertaklid kepada kaum Yahudi yang merayakan perayaan tahun baru masehi. Oleh karena itulah perayaan ini termasuk perayaan khusus mereka.[6] Dalam perinciannya, ada banyak ragam tradisi dalam perayaan tahun baru masehi, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Syahatah Muhammad Shaqar dalam kitabnya Ra’s al-Sanah Hal Tahtaqil?, meringkas sejarah tahun baru masehi dari kitab al-Mawsû’ah al-‘Arabiyyah al-‘Âlamiyyah.[7]


Ketiga, Dalil-Dalil Larangan Merayakan Tahun Baru Masehi
Perayaan tahun baru masehi merupakan bagian dari peradaban khash kaum kafir, khususnya Nasrani. Kaum muslimin tidak boleh menyerupai orang-orang kafir dalam perbuatan dan perkataan mereka, dan termasuk larangan syahadah al-zûr (menghadiri perayaan batil). Dan perayaan tahun baru yang dilatarbelakangi keyakinan batil kaum Nasrani, dan tradisi jahiliyyah mereka dulu dan sekarang, semisal menyalakan lilin tengah malam, menghabiskan waktu berhura-hura menunggu detik-detik pergantian tahun, pergi ke jalan-jalan campur baur antara pria dan wanita (ikhtilâth) dalam hiruk pikuk keramaian, menyalakan kembang api dan petasan, meniup terompet dan memukul lonceng seperti tradisi-tradisi kaum kafir, didukung dengan musik-musik jahiliyyah dan lain sebagainya.
Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 910 H) ketika menjelaskan seputar berbagai perayaan kaum kuffar, beliau pun menjelaskan sub bahasan “النهي عن الاحتفال بما يسمى بليلة رأس السنة الميلادية” (Larangan Merayakan Apa yang Dinamakan Malam Tahun Baru Masehi) dalam penjelasannya:
ومما يفعله كثير من الناس في فصل الشتاء، ويزعمون أنه ميلاد عيسى عليه السلام، فجميع ما يصنع أيضاً في هذه الليالي من المنكرات، مثل: إيقاد النيران، وإحداث طعام، وشراء شمع، وغير ذلك؛ فإن اتخاذ هذه المواليد موسماً هو دين النصارى، وليس لذلك أصل في دين الإسلام. ولم يكن لهذا الميلاد ذكر في عهد السلف الماضين، بل أصله مأخوذ عن النصارى، وانضم إليه بسبب طبيعي، وهو كونه في الشتاء المناسب لإيقاد النيران. ثم إن النصارى تزعم أن يحيى عليه السلام بعد الميلاد بأيام عمد عيسى عليه السلام في ماء المعمودية، فهم يتعمدون - أعني النصارى، في هذا الوقت ويسمونه عيد الغطاس. وقد صار كثير من جُهل المسلمين يدخلون أولادهم الحمام في هذا الوقت، ويزعمون أن ذلك ينفع الولد. وهذا من دين النصارى، وهو من أقبح المنكرات المحرمة
“Dan di antara hal yang dilakukan oleh banyak manusia di musim dingin, dan mereka mengira bahwa hari itu adalah hari kelahiran Isa –‘alayh al-salâm-, dan segala hal yang diperbuat pada malam-malam tersebut merupakan kemungkaran, misalnya: menyalakan api (lilin-lilin-pen.), membuat sajian makanan, membeli lilin, dan lain sebagainya. Sesungguhnya asal-usul pelaksanaan perayaan kelahiran ini berasal dari perayaan agama Nasrani, dan tidak ada asal-usul kaitan apa pun dengan Dinul Islam. Dan hari perayaan ini tidak pernah disebutkan ada pada masa al-salaf terdahulu, akan tetapi asal-usulnya diadopsi dari kaum Nasrani, dan menjadi bagian darinya disebabkan oleh sebab alami dan keberadaannya pada musim dingin sesuai dengan kebiasaan menyalakan perapian. Kemudian sesungguhnya kaum Nasrani mengklaim bahwa Yahya –’alayhi al-salâm- beberapa hari setelah kelahiran (Isa) membaptis Isa –’alayhi al-salâm- dalam air pembaptisan, dan mereka dibaptis atas nama Kaum Nasrani pada waktu tersebut dan mereka menamainya dengan Hari Raya Paskah. Dan sungguh banyak dari orang-orang yang jahil dari kaum muslimin memasukkan anak-anak mereka ke dalam kamar mandi pada waktu tersebut, mengira bahwa hal tersebut bermanfaat bagi anaknya padahal ini termasuk ritual agama Nasrani, dan termasuk seburuk-buruknya kemungkaran yang jelas diharamkan.”[8]
·         Larangan Menghadiri Perayaan Batil
Para ulama ketika menjelaskan larangan menghadiri perayaan agama kufur atau perayaan batil, mereka menukil dalil al-Qur’an[9]:
{وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا} 
”Dan orang-orang yang tidak menyaksikan al-zûr, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqân [25]: 72)
Kata al-Zûr secara bahasa yakni al-kadzb (kedustaan) dan al-bâthil (kebatilan) sebagaimana disebutkan oleh Imam Abu Bakr al-Anbariy (w. 328 H)[10], Imam al-Zujaz[11], Imam al-Azhariy (w. 370 H)[12], Imam al-Jawhariy (w. 393 H)[13], dan Imam Ibnu Faris (w. 395 H)[14] dan para ulama ahli bahasa lainnya, hal itu sebagaimana disebutkan seorang penyair:
جاؤا بزوريْهم وجئنا بالأصمّ
Mereka datang dengan kedustaan mereka dan kami datang dengan ketulian.[15]
Makna al-zûr dalam ayat ini menurut para ulama tabi’in seperti Mujahid, al-Dhahhak, al-Rabi’ bin Anas adalah perayaan-perayaan orang-orang musyrik.[16] Hal senada disebutkan oleh Abu al-’Aliyyah, Thawus, Muhammad bin Sirin, dan selainnya.[17]
Imam Abu Muhammad al-Tustariy (w. 283 H) menafsirkan kata (الزُّورَ) yakni majelis-majelis ahli bid’ah.[18] Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) pun menegaskan bahwa ia bermakna kesyirikan dan penyembahan terhadap berhala, dikatakan pula yakni kedustaan dan kefasikan. Dan makna al-laghw adalah kebatilan.[19] Atau segala sesuatu yang batil dan tidak mengandung faidah.[20]
Tradisi tahun baru, dengan fakta yang penulis sebutkan di atas jelas merupakan bagian dari apa yang disebutkan para ulama sebagai al-zûr (kedustaan dan kebatilan), dan Imam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa para ulama salaf terkadang menafsirkan sesuatu (kebatilan) yang tampak dengan wajah kebaikan dengan istilah syubhat atau syahwat, padahal yang ada di dalamnya berupa kebatilan, maka kesyirikan dan yang semisalnya ditampakkan dalam wujud rupa yang baik untuk menimbulkan syubhat, dan nyanyian-nyanyian (batil) ditampakkan dalam wujud rupa yang baik untuk mengundang syahwat. Dan adapun perayaan orang-orang musyrik (kafir) maka mengumpulkan keduanya; syubhat dan syahwat. Dan ia merupakan kebatilan dimana tiada manfaat sedikit pun dalam agama, dan hal-hal berupa kenikmatan yang ada, maka akan mengakibatkan penyakit (krisis penghidupan-pen.), maka jadilah ia zûr.[21]  
Pemaknaan dari potongan ayat:
{وَإِذا مروا بِاللَّغْوِ مروا كراما} 
Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Menafsirkan ayat ini, Imam al-Baghawi menjelaskan yakni jika mereka melewati majelis-majelis kelalaian dan kebatilan maka mereka lalui saja memelihara kehormatan diri bersegera memalingkan dirinya. Dikatakan: ”seseorang memuliakan dirinya dari apa-apa yang mengotorinya jika ia menyucikannya dan memuliakan dirinya dari hal tersebut.”[22]
Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) pun menukil ayat di atas untuk menjelaskan hukum keikutsertaan dalam perayaan kufur:
وأقبح منه ما أحدثوه من العبادات أو العادات؛ فإنه مما أحدثه الكافرون، وموافقة المسلمين لهم فيه من أعظم المنكرات. فكل ما يتشبهون بهم من عبادة أو عادة، فهو من المحدثات والمنكرات. وقد مدح الله عز وجل من لم يشهد أعيادهم ومواسمهم ولم يشاركهم فيها    
”Dan seburuk-buruknya perbuatan orang kafir adalah apa-apa yang dibuat-buat berupa berbagai bentuk peribadahan dan adat kebiasaan; maka sesungguhnya itu semua termasuk dari apa yang dibuat-buat oleh orang-orang kafir, dan sejalannya kaum muslimin dengan mereka di dalamnya termasuk seburuk-buruknya kemungkaran. Maka apa-apa yang kaum muslimin serupai dari mereka berupa ritual peribadatan dan adat kebiasaan maka ia termasuk perkara-perkara baru (bid’ah yang tercela) dan kemungkaran. Dan sungguh Allah ’Azza wa Jalla telah memuji siapa saja yang tidak menyaksikan hari-hari perayaan mereka dan tidak ikut serta di dalamnya.”[23]
            Syaikh ’Abdullah al-Jibrin menegaskan bahwa keharaman ikut serta dalam perayaan agama kufur merupakan kesepakatan ulama, karena di dalamnya terdapat persetujuan, keridhaan dan dukungan atas perbuatan mereka.[24] Imam al-Kattaniy al-Malikiy dalam al-Dawaahiy al-Madhiyyah (hlm. 58):
وقد اتفق أهل العلم على أنه لا يجوز الحضور معهم في شعائر دينهم
”Dan sungguh para ulama telah bersepakat bahwa tidak boleh menghadiri mereka dalam syi’ar-syi’ar agama mereka.”[25]
Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ}
Dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 2)
            Maka tidak ada keraguan bahwa keikutsertaan kaum muslimin dalam perayaan-perayaan yang batil nan haram mereka termasuk perbuatan menyokong dalam dosa.[26]
·         Larangan Merayakan Perayaan Jahiliyyah & Pensyari’atan Dua Hari Raya Islam
Dan Islam telah mengganti perayaan-perayaan jahiliyyah tersebut dengan dua perayaan: ’Ied al-Fithri, dan ’Ied al-Adhhaa. Dalil yang menyatakan keharamannya adalah hadits shahih dari Anas bin Malik –radhiyallâhu ’anhu-, yang menyatakan:
قَدَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَا اْليَوْمَانِ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
”Rasulullah saw tiba di Madinah, sementara mereka (penduduk Madinah) mempunyai dua hari, dimana mereka sedang bermain pada hari-hari tersebut, seraya berkata, ‘Dua hari ini hari apa?’ Mereka menjawab, ‘Kami sejak zaman Jahiliyyah bermain pada hari-hari tersebut.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik: Hari Raya Idul Adhha dan Hari Raya Idul Fitri.” (HR. Abu Dawud[27], Ahmad[28], dan al-Hakim[29])
Wajh al-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, bahwa kedua hari raya Jahiliyyah tersebut tidak diakui oleh Rasulullah saw. Nabi juga tidak membiarkan mereka bermain pada kedua hari yang menjadi tradisi mereka. Sebaliknya, Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik.” Pernyataan Nabi yang menyatakan, “mengganti” mengharuskan kita untuk meninggalkan apa yang telah diganti. Karena tidak mungkin antara “pengganti” dan “yang diganti” bisa dikompromikan. Sedangkan sabda Nabi saw, “Lebih baik dari keduanya.” mengharuskan digantikannya perayaan Jahiliyah tersebut dengan apa yang disyariatkan oleh Allah kepada kita.[30]
Diperkuat tindakan ‘Umar dengan syarat yang ditetapkan kepada Ahli Dzimmah telah disepakati oleh para sahabat, dan para fuqaha’ setelahnya, bahwa Ahli Dzimmah tidak boleh medemonstrasikan hari raya mereka di wilayah Islam.[31] Para sahabat sepakat, bahwa mendemonstrasikan hari raya mereka saja tidak boleh, lalu bagaimana jika kaum muslim melakukannya, maka tentu tidak boleh lagi. ‘Umar pun berpesan:
 إِيَّاكُمْ وَرِطَانَةَ الأَعاَجِمِ، وَأَنْ تَدْخُلُوْا عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فِيْ كَنَائِسِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ 
”Tinggalkanlah bahasa kaum ajam (non-Arab). Janganlah kalian memasuki (perkumpulan) kaum Musyrik dalam hari raya mereka di gereja-gereja mereka. Karena murka Allah akan diturunkan kepada mereka.” (HR. al-Baihaqi dengan Isnad yang Shahih)[32]
·         Larangan Menyerupai Orang Kafir, Fasik & Zhalim dalam Perbuatan Mereka
            Telah saya tegaskan bahwa tradisi-tradisi jahiliyyah tahunan dalam perayaan tahun baru dulu dan sekarang itu semua termasuk al-zûr (kebatilan dan kedustaan), maka keterlibatan kaum muslimin di dalamnya termasuk perbuatan menyerupai orang kafir, fasik dan zhalim dalam kebatilan, dan itu jelas diharamkan syari’ah berdasarkan banyak dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah:
Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ}
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengatakan ”râ’inâ” akan tetapi katakanlah ”unzhurnâ” dan dengarkanlah, dan bagi orang-orang kafir itu ’adzab yang amat pedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 104)
Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 104 di atas menjelaskan:
والغرض: أن الله تعالى نهى المؤمنين عن مشابهة الكافرين قولا وفعلا
”Maksudnya: Allah Ta’âlâ melarang orang-orang beriman menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan dan perbuatan mereka.”[33]
Ini menjadi dalil keharaman menyerupai orang-orang kafir baik dalam perkataan dan perbuatan. Al-Hafizh Ibn Katsir pun menukil dalil hadits dari Ibnu ’Umar –radhiyallâhu ’anhu--, ia berkata bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya[34], Abu Dawud dalam Sunan-nya[35], Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya[36]. Imam al-Mala’ al-Qari dalam Al-Mirqât mengatakan hadits ini hasan[37], dishahihkan oleh Ibnu Hibban[38])
            Tasyabbuh secara bahasa bermakna tamatstsala (menyerupai), sebagaimana disebutkan dalam kitab Syams al-’Ulûm:
[التشبه]: تشبه به: أي تَمَثَّل   
”(Al-Tasyabbuh): tasyabbaha bihi yakni tamatstsala (menyerupainya).”[39]
            Sedangkan secara istilah, tasyabbuh mengandung konotasi menjiplak dan mengikuti, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) menjelaskan:
التشبه: من شبه، المحاكاة والتقليد، ومنه: كراهة التشبه بالفساق
Al-Tasyabbuh: dari kata kerja syabbaha, menjiplak dan mengikuti, dan di antara bentuknya: dibencinya menyerupai orang-orang fasik.”[40]
Setelah menukil dalil hadits di atas, al-Hafizh Ibn Katsir pun merinci:
ففيه دلالة على النهي الشديد والتهديد والوعيد، على التشبه بالكفار في أقوالهم وأفعالهم، ولباسهم وأعيادهم، وعباداتهم وغير ذلك من أمورهم التي لم تشرع لنا ولا نُقَرر عليها 
”Di dalam hadits ini, terdapat larangan, ancaman dan peringatan keras terhadap sikap menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian (khas-pen.), ritual, ibadah mereka, dan perkara-perkara lainnya yang tidak disyari’atkan bagi kita dan tak sejalan dengan kita.”[41]
Dan bentuk penyerupaan apa yang zhahir (fisik) menggiring kepada penyerupaan batin, padahal menutup berbagai sarana dan penghantar kepada keburukan merupakan maksud Al-Syâri’ (Allah dan Rasul-Nya) dari segala arahnya, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Sa’di (w. 1376 H).[42]
Imam al-Mala’ al-Qari menjelaskan bahwa di antara makna fa huwa min hum dalam hadits ini jika menyerupai orang kafir, fasik dan fajir dalam kebatilannya maka sama-sama dalam dosa.[43]
Bahkan ia termasuk seburuk-buruknya kemungkaran, al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) pun merinci:
وأقبح منه ما أحدثوه من العبادات أو العادات؛ فإنه مما أحدثه الكافرون، وموافقة المسلمين لهم فيه من أعظم المنكرات. فكل ما يتشبهون بهم من عبادة أو عادة، فهو من المحدثات والمنكرات. وقد مدح الله عز وجل من لم يشهد أعيادهم ومواسمهم ولم يشاركهم فيها 
”Dan seburuk-buruknya perbuatan orang kafir adalah apa-apa yang dibuat-buat berupa berbagai bentuk peribadahan dan adat kebiasaan; maka sesungguhnya apa-apa yang dibuat-buat oleh orang-orang kafir dan dituruti kaum muslimin adalah seburuk-buruknya kemungkaran. Maka setiap perkara yang dituruti dari orang kafir berupa ritual peribadan dan adat kebiasaan, ia termasuk perkara-perkara baru (bid’ah yang tercela) dan kemungkaran. Dan sungguh Allah ’Azza wa Jalla telah memuji siapa saja yang tidak menyaksikan hari-hari perayaan mereka dan tidak ikut serta di dalamnya.”[44]
Dipertegas larangan menyerupai perbuatan orang-orang kafir, musyrik sebagaimana disebutkan dalam hadits, dari Ibnu ’Umar –radhiyallâhu ’anhu-, bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ»
Selisihilah orang-orang musyrik.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya, Muslim dalam Shahîh-nya, al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’, dan lainnya)[45]
Menjelaskan hadits ini, Imam Badruddin al-’Ayni (w. 855 H) menyatakan bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- telah melarang kita dari perbuatan menyerupai orang-orang kafir, dan hal tersebut merupakan perintah untuk menyelisihi mereka baik dalam perbuatan maupun perkataan.[46]

Keempat, Teladan al-Salaf al-Shâlih
Al-Hafizh al-Suyuthi menegaskan bahwa tiada seorang pun dari generasi al-salaf al-shâlih yang ikut serta dalam perayaan agama kufur:
واعلم أنه لم يكن على عهد السلف السابقين من المسلمين من يشاركهم في شيء من ذلك. فالمؤمن حقاً هو السالك طريق السلف الصالحين المقتفي لآثار نبيه سيد المرسلين (، المقتفي بمن أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين.
”Dan ketahuilah bahwa tidak pernah ada seorang pun pada masa generasi al-salaf terdahulu dari kaum muslimin yang ikut serta dalam hal apa pun dari perayaan mereka, maka seorang mukmin yang benar (imannya) adalah seseorang yang menempuh jalan al-salaf al-shâlih yang mengikuti jejak sunnah nabi-Nya, penghulu para rasul (Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam-).”[47]
Bahkan Khalifah ’Umar bin al-Khaththab –radhiyallâhu ’anhu-, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh al-Suyuthi, memberikan syarat kepada mereka –kafir ahludz dzimmah- untuk tidak menampakkan syi’ar perayaan-perayaan agama mereka di negeri-negeri kaum muslimin.[48]
Jika kita perhatikan sikap Khalifah ’Umar bin al-Khaththab –radhiyallâhu ’anhu- sebagai seorang pemimpin negara, dengan apa yang terjadi saat ini, maka fenomena tegaknya fitnah kaum kuffar di zaman ini kian menuntut keberadaan penguasa yang diwajibkan Islam memelihara akidah umat ini dari berbagai penyimpangan, dan poin ini pula yang kian menunjukkan wajib dan pentingnya keberadaan al-Khalifah yang tegak dalam sistem pemerintahan Islam, al-Khilafah ’ala Minhaj al-Nubuwwah, mewujudkan amanah dari Rasulullah -shallallâhu ’alayhi wa sallam -, dari Abu Hurairah –radhiyallâhu ’anhu-. bahwa Nabi Muhammad –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alayh dll)[49]
Dan kita sebagaimana sya’ir yang dinukil oleh para ulama:
نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun
“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.[50]














[2] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 123.
[3] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, hlm. 217.
[4] Dr. Ahmad Mukhtar ‘Abdul Hamid ‘Umar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, ‘Âlam al-Kutub, cet. I, 1429 H, juz III, hlm. 2493.
[5] Perincian maknanya bisa dirujuk di sini: http://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/كانون-الأول/
[6] ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ahmad al-Tuwayjiriy, Al-Bida’ al-Hawliyyah, Riyadh: Dâr al-Fadhîlah, cet. I, 1421 H, hlm. 398.
[7] Syahatah Muhammad Shaqar, Ra’s al-Sanah… Hal Tahtaqil?, Iskandariyyah: Dâr al-Khulafâ’ al-Râsyidîn, hlm. 38-39.
[8] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 123.
[9] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm, Beirut: Dâr ‘Âlam al-Kutub, cet. VII, 1419 H, juz I, hlm. 479.
[10] Muhammad bin al-Qasim Abu Bakr al-Anbariy, Al-Zâhir fî Ma’âniy Kalimât al-Nâs, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1412 H, juz I, hlm. 487.
[11] Muhammad Shadiq Khan bin Hasan al-Husainiy al-Bukhariy, Fat-h al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1412 H, juz IX, hlm. 353.
[12] Muhammad bin Ahmad bin al-Azhariy, Tahdzîb al-Lughah, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabiy, cet. I, 2001, juz XIII, hlm. 163.
[13] Abu Nashr Isma’il bin Hammad al-Jawhariy, Al-Shihâh Tâj al-Lughah wa Shihâh al-‘Arabiyyah, Beirut: Dâr al-‘Ilm li al-Malâyiin, cet. IV, 1407 H, juz II, hlm. 672.
[14] Ahmad bin Faris bin Zakariya al-Qazwainiy, Majmal al-Lughah, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. II, 1406 H, juz I, hlm. 444.
[15] Ibid.
[16] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, Mathâbi’ al-Rasyîd, 1409 H, hlm. 126.
[17] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr Thayyibah, cet. II, 1420 H, juz VI, hlm. 130.
[18] Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah al-Tustariy, Tafsîr al-Tustariy, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1423 H, hlm. 114.
[19] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, juz VI, hlm. 130.
[20] Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad al-Sam’aniy, Tafsîr al-Qur’ân, Riyadh: Dâr al-Wathan, cet. I, 1418 H, juz IV, hlm. 35.
[21] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm, juz I, hlm. 482-483.
[22] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawiy, Ma’âlim al-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur’ân, juz VI, hlm. 98.
[23] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 125.
[24] ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Hamadah al-Jibrin, Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, Dâr al-‘Ashiimiy, cet. II, t.t., hlm. 581.
[25] Ibid.
[26] Ibid.
[27] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (II/345, hadits 1134); Syu’aib al-Arna’uth mengomentari bahwa hadits ini shahih
[28] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (XIX/65, hadits 12006); sanadnya shahih para perawinya perawi tsiqah syaikhayn (al-Bukhari dan Muslim).
[29] HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ’alâ al-Shahiihayn (I/434, hadits 1091); hadits ini shahih menurut syarat Muslim meski al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Al-Dzahabi dalam al-Talkhiish mengomentari bahwa hadits ini sesuai syarat Imam Muslim.
[30] Penjelasan KH. Drs. Hafidz Abdurrahman, MA.
[31] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 125.
[32] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim (Ibnu Taimiyyah al-Harraniy), Al-Fatâwâ al-Kubrâ’ li Ibn al-Taymiyyah, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, cet. I, 1408 H, juz II, hlm. 485.
[33] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1419 H, juz I, hlm. 257.
[34] Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (IV/515, hadits no. 5114) Ahmad Syakir mengomentarinya sanadnya shahih.
[35] Abu Dawud al-Sijistani dalam Sunan-nya (IV/78, hadits no. 4033); al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani pun mengomentari sanadnya hasan (Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Fat-h al-Bâriy Syarh Shahiih al-Bukhâriy, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H, juz X, hlm. 271), sedangkan Ibnu Hibban menshahihkannya (Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Bulûgh al-Marâm Min Adillat al-Ahkâm, KSA: Dâr al-Qubs, cet. I, 1435 H, hlm. 540), Syaikh Ahmad Syakir dalam catatan kaki atas kitab Musnad Ahmad, mengomentari bahwa sanadnya hasan.
[36] Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (VI/471, hadits no. 33016);
[37] Abu al-Hasan Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. I, 1422 H, juz VII, hlm. 2782.
[38] Ahmad bin ’Ali bin Hajar al-’Asqalani, Bulûgh al-Marâm Min Adillat al-Ahkâm, KSA: Dâr al-Qubs, cet. I, 1435 H, hlm. 540.
[39] Nisywan bin Sa’id al-Yamani, Syams al-‘Ulûm wa Dawâ’ Kalâm al-‘Arab min al-Kulûm, Ed: Dr. Husain bin ‘Abdullah al-‘Umari dkk, Damaskus: Dâr al-Fikr, cet. I, 1420 H, juz VI, hlm. 3370.
[40] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, hlm. 131.
[41] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhiim, juz I, hlm. 257.
[42] ’Abdurrahman bin Nashir bin ’Abdullah al-Sa’di, Bahjat Qulûb al-Abrâr wa Qurrat ’Uyûn al-Akhyâr fî Syarh Jawâmi’ al-Akhbâr, Maktabah al-Rusyd, cet. I, 1422 H, hlm. 146.
[43] Abu al-Hasan Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, juz VII, hlm. 2782.
[44] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunan wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 123.
[45] Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (V/2209, hadits no. 5553); Muslim dalam Shahîh-nya (I/152, hadits no. 523); Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ’ (I/150, hadits no. 709).
[46] Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa Badruddin al-‘Ayni al-Hanafi, ‘Umdat al-Qâriy Syarh Shahîh al-Bukhâriy, juz VI, hlm. 137.
[47] ’Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Haqîqat al-Sunnah wa al-Bid’ah: al-Amr bi al-Ittibâ’ wa al-Nahy ’an al-Ibtidâ’, hlm. 126.
[48] Ibid, hlm. 125.
[50] ’Abdullah Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, Al-Âdâb al-Syar’iyyah, Ed: Syu’aib al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, Cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 234; ‘Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6; Jalaluddin Al-Suyuthi, Tadrîb al-Râwi fî Syarh Taqrîb al-Nawawi, Dâr al-Thayyibah, juz I, hlm. 24; Muhammad bin Yazid Abul ’Abbas, Al-Kâmil fî al-Lughah wa al-Adab, Kairo: Dâr al-Fikr al-’Arabi, Cet. III, 1417 H, juz I, hlm. 132.