15 Desember 2015

Atribut Khusus Natal dan Perayaan Agama Kufur Lainnya dalam Timbangan Islam

M
engambil faidah dari penjelasan luar biasa al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani -rahimahullah- yang telah merinci pembahasan al-Hadhaarah wa al-Madaniyyah, kita bisa memahami hukum atribut-atribut natal dan perayaan agama kufur lainnya. Al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani telah merinci pembahasan ini dengan cukup mapan berkenaan dengan al-Hadhaarah wa al-Madaniyyah. Yang dimaksud dengan hadhaarah dan madaniyyah adalah:
الحضارة هي مجموع المفاهيم عن الحياة، والمدنية هي الاشكال المادية للاشياء المحسوسة التي تستعمل في شؤون الحياة 
”Al-Hadhaarah adalah sekumpulan pemahaman tentang kehidupan, sedangkan al-madaniyyah adalah bentuk-bentuk materi berupa benda yang terindera yang digunakan dalam urusan-urusan kehidupan.”[1]
            Al-Nabhani pun merinci bahwa hadharah (peradaban) itu merupakan perkara yang pasti khash, yakni berasal dari sudut pandang akidah tertentu, misalnya al-hadhaarah al-gharbiyyah (peradaban Barat) yang diwakili oleh dua ideologi kufur yakni kapitalisme dan komunisme, dan al-hadhaarah al-islaamiyyah (peradaban Islam) yakni tergambar dalam ideologi Islam.
Sedangkan madaniyyah yakni berupa benda-benda materi yang digunakan oleh manusia maka terbagi menjadi dua[2]:
Pertama, Madaniyyah yang khash yakni tidak bebas nilai dan mengandung filosofi akidah tertentu berasal dari peradaban tertentu, seperti patung, kalung salib dan lain sebagainya.
Kedua, Madaniyyah yang sifatnya umum, bebas nilai dan tidak mengandung filosofi akidah tertentu, tidak khusus bagi umat agama tertentu seperti sains dan hasil industri.
            Dan jika kita telusuri, jelas bahwa atribut-atribut natal dengan beragam ornamennya, warna dan bentuknya termasuk madaniyyah yang khash, sifatnya khusus. Misalnya atribut-atribut khusus natal seperti atribut Sinterklas berupa satu set pakaian, topinya, hiasan pohon-pohonnya, termasuk kalung salib dan lain sebagainya. Hal itu sebagaimana pengakuan dalam literatur-literatur atau tulisan-tulisan kaum nasrani, terlepas adanya perincian mengenai asal-usulnya, misalnya tentang pohon natal dalam situs kabarinews.com (16/12/2008) disebutkan:
Setiap perayaan Natal, simbol pohon Natal dengan bintang di pucuknya, seolah tak bisa dilepaskan. Pohon natal atau pohon cemara sebetulnya bukan suatu keharusan dalam merayakan Natal. Hanya saja filosofi pohon natal (cemara) yang daunnya tetap tumbuh hijau meski dilanda salju, dan pucuknya yang menjulang menuju ke langit, menjadi simbol rohani umat Kristiani. Mereka juga mengingkan hidup mereka bak pohon cemara, yang selalu memberikan kesaksian indah bagi orang lain, atau “evergreen”.
Maka dengan memahami kaidah yang disebutkan oleh al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani di atas, kita bisa menghukumi dan menyimpulkan bahwa atribut-atribut ini termasuk madaniyyah yang khash yakni lahir dari akidah tertentu, berkaitan dengan ciri khusus agama tertentu.
Dan bagaimana hukumnya? Al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani menegaskan keharaman menggunakan dan mengadopsinya.[3] Mengenakannya bagian dari perbuatan menyerupai orang kafir yang telah tegas diharamkan syari’ah. Allah al-Musta’ân.




[1] Al-Qadhi Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Nizhâm al-Islâm, Beirut: Dâr al-Ummah, hlm. 31.
[2] Ibid.
[3] Ibid, hlm. 32.