Skip to main content

Sekilas Nasihat Al-‘Alim Al-Syaikh 'Atha bin Khalil untuk Berhati-Hati Terhadap Vonis Takfir Serampangan


Yaa ikhwatii fillaah…

Al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil -ulama mujtahid, amir HT- dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 1-5, beliau menjelaskan perbedaan antara status orang yang melakukan pelanggaran atas hukum syara’ (tanpa ada pengingkaran atas hukum syara’ yang qath’iy) dengan orang yang menyelisihi akidah Islam (tidak iman/kufur), beliau menjelaskan lebih lanjut:

”….Saya sampaikan hal ini karena pada saat ini kita mendengar seseorang yang mengkafirkan saudaranya dengan prasangka belaka, sehingga seakan-akan vonis takfir mudah saja bagi mereka, di sisi lain mengkafirkan seorang muslim tanpa dalil yang qath’iy adalah perkara besar dalam Islam. Rasulullah –shallallaahu ’alayhi wa sallam- bersabda:

«مَنْ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا»
”Barangsiapa berkata kepada saudaranya ”hai kafir”, maka sungguh hal itu akan kembali kepada salah seorang di antaranya.” (Hadits dari ’Abdullah bin ’Umar; HR. Ahmad[1], Malik[2], al-Bukhari[3])

Lalu al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil menyampaikan nasihat:

ولذلك فمن لاحظ من أخيه ارتكاب معصية فلا يسارع إلى تكفيره، بل يسارع إلى أمره بالمعروف ونهيه عن المنكر، ليصلح حال أخيه، فيدرك ذنبه، ويستغفر ربه سبحانه وتعالى
 
”Oleh karena itu, siapa saja yang menemukan saudaranya melakukan kemaksiatan janganlah tergesa-gesa (serampangan-pen.) mengkafirkannya, akan tetapi semestinya bersegera dalam memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan mencegahnya dari kemungkaran, untuk memperbaiki keadaan saudaranya, menyadarkannya dari dosanya, dan memohonkan ampunan kepada Rabb-nya –subhaanahu wa ta’aalaa-.”[4]



[1] Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Ed: Syu’aib al-Arna’uth dkk, Beirut: Mu’assasat al-Risaalah, cet. I, 1421 H/2001, juz X, hlm. 147, hadits no. 5914. Syu’aib al-Arna’uth dkk mengatakan hadits ini shahih.
[2] Malik bin Anas, Al-Muwaththa’ (Riwaayat Yahya bin Yahya al-Laitsi), Ed: Dr. Basyar Ma’ruf, Beirut: Daar al-Gharb al-Islaami, juz II, hlm. 579, hadits no. 2814.
[3] Muhammad bin Isma’il Abu ’Abdullah al-Bukhari, Al-Adab al-Mufrad, Mesir: Maktabah al-Khanji, cet. I, 1423 H/2003, juz I, hlm. 205, hadits no. 439.
[4] Al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Rusythah, Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah), Beirut: Dar al-Ummah, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 46.

Comments

Popular posts from this blog

Soal Jawab Mengenai Adopsi Penemuan Barat, Epistemologi Islam & Barat

Pertanyaan Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jelaskan apa yang dimaksud dekonstruksi epistemologi Islam dan apakah hal ini diperlukan masyarakat muslim hari ini? Apa yang anda pahami tentang epistemologi Barat dan apakah ada titik temu antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam? Jawaban Soal Ke-1:   Bagaimana seorang muslim merespon temuan-temuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris? Jawaban Penemuan-penemuan Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berbasis empiris, semisal ilmu teknologi, boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-‘Allamah Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhaarah al-Islaamiyyah. Ilmu pengetahuan yang berbasis empiris misalnya ilmu penyerbukan dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  - radhiyaLl â hu 'anhu - : أَنّ النَّبِيَّ  -صل

Soal Jawab Lam al-Ta'lil & Lam al-'Aqibah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an

[Kajian Bahasa Arab] Soal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Ustadz, pada materi terakhir, disebutkan لام التعليل , di kitab lain ana jumpai menggunakan istilah لام كي ، di kitab i'robul qur'an, dii'rob dengan لام العاقبة Pada ayat, فالتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدوا و حزنا... القصص:٨ Ini ketiganya statusnya sama kan Ustadz?. Atau ada perbedaan dalam istilah tersebut? Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Ada perbedaan terperinci terkait dua istilah: 1- Lam al-Ta'lil ( لام التعليل ), diistilahkan pula لامُ كي , artinya ini semakna. 2. Lam al-'Aqibah ( لام العاقبةِ ). Dalam kitab Jami' al-Durus al-'Arabiyyah, Syaikh al-Adib Mushthafa al-Ghalayayni menguraikan sebagai berikut: Pertama, Lam al-Ta'lil ( لام التعليل )/Lam Kay ( لامُ كي ): لامُ كي (وتسمى لامَ التعليل أيضاً، وهي اللام الجارّة، التي يكونُ ما بعدها علةً لما قبلها وسبباً له، فيكون ما قبلها مقصوداً لحصول ما بعدها "Lam kay (dinamakan pula

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  Oleh: Irfan Abu Naveed D ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam . Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}    “ Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan .” (QS. Al-Baqarah [2]: 191) Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ} “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kam