11 November 2015

Koreksi Atas Penafsiran Al-Fitnatu Asyaddu Minal Qatli, Benarkah Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

 Oleh: Irfan Abu Naveed

D
ewasa ini, kita seringkali dihadapkan dengan slogan atau ungkapan yang seakan-akan benar padahal sebaliknya, hingga ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend setter tersendiri khususnya bagi sebagian kaum awwam. Salah satunya adalah ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Dimana ungkapan ini pun sudah tak asing di telinga kita. Lalu bagaimana pemahaman yang benar? Terlebih jika ungkapan ”fitnah lebih kejam daripada membunuh” biasanya dinukil dari ayat yang agung:
{وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}  
Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 191)
Kata fitnah kembali diulang pada ayat setelahnya:
{وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ}
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 193)
            Dan ayat:
{وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ}
Dan fitnah lebih besar daripada pembunuhan. (QS. Al-Baqarah [2]: 217)

Pengertian Fitnah dalam KBBI[1]
Jika kita merujuk pada istilah fitnah dalam bahasa Indonesia, akan kita dapati sebagai berikut:
pada fitnah /fit•nah/ n perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yg disebarkan dng maksud menjelekkan orang (spt menodai nama baik, merugikan kehormatan orang): -- adalah perbuatan yg tidak terpuji;
memfitnah /mem•fit•nah/ v menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dsb).
Dan jika kita telusuri, penjelasan di atas, tidak mewakili kata fitnah yang disebutkan dalam bahasa arab, kecuali sebagiannya saja. Maka dari itu, untuk memahami maksud ayat di atas, tak bisa didasarkan pada terjemah kata bahasa indonesia semata.

Makna Kata Fitnah dalam Bahasa Arab
            Secara bahasa, kata al-fitan (jamak dari al-fitnah) bermakna memalingkan sesuatu ke dalam api, sebagaimana diungkapkan oleh Imam al-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) dalam al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân:
أصل الفَتْنِ: إدخال الذّهب النار لتظهر جودته من رداءته
“Asal-usul kata al-fitan: memasukkan emas ke dalam api untuk menampakkan keindahannya dari bagian yang cacat (rusak).”[2]
ِ            Imam Abu al-‘Ala al-Mubarakfuri (w. 1353 H) pun menukil penjelasan Imam al-Raghib al-Ashfahani di atas,[3] penjelasan serupa disebutkan pula oleh Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil dalam kitab tafsirnya.[4]
Namun jika ditelusuri lebih jauh, kata “fitnah” (الفتنة) dalam bahasa arab termasuk suatu lafazh yang mengandung lebih dari satu makna (lafzh musytarak)[5] yakni berserikat di dalamnya lebih dari satu makna[6]. Lafazh musytarak, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji yakni: 
ما وضع لأكثر من معنى ولا يتعين المراد منه إلا بقرينه
“Lafazh yang mengandung lebih dari satu makna dan maksudnya tidak bisa ditentukan kecuali berdasarkan suatu petunjuk.”[7]
Imam Ibrahim al-Harbi (w. 285 H) pun merinci makna al-fitnah yang mengandung konotasi-konotasi sebagai berikut:
Pertama, Bermakna الشرك (Kesyirikan)
Misalnya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 193 (وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ) al-Hasan memaknai al-fitnah dalam ayat ini yakni al-syirk (kesyirikan), dan QS. Al-Baqarah [2]: 217 (وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ) Mujahid memaknainya yakni al-syirk (kesyirikan), dan QS. Al-Tawbah [9]: 48 (َقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ) Qatadah memaknainya yakni al-syirk (kesyirikan).
Kedua, Bermakna الضلالة (Kesesatan)
Misalnya dalam firman-Nya QS. Âli Imrân [3]: 7: (ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ), Al-Hasan memaknai kata al-fitnah dalam ayat ini yakni al-dhalâlah (kesesatan).
Ketiga, Bermakna النفاق (Kemunafikan)
Misalnya dalam QS. Al-Hadîd [57]: 14: (فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ) Mujahid memaknainya yakni al-nifâq (kemunafikan).
Keempat, Bermakna البلاء (Ujian)
            Misalnya dalam QS. Al-’Ankabût [29]: 2: (وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ) Mujahid memaknai يُفْتَنُونَ yakni يُبْتَلُونَ, hal yang sama diungkapkan oleh Ikrimah radhiyallâhu ’anhu- Dan dalam firman-Nya: QS. Al-Dukhân [44]: 17: (وَلَقَدْ فَتَنَّا) al-Hasan radhiyallâhu ’anhu- dan Mujahid memaknai kalimat فَتَنَّا yakni ابْتَلَيْنَا (kami telah mengujinya). Begitu pula dalam QS. Thâhâ [20]: 40: (وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا) yang dimaknai Ibnu ’Abbas radhiyallâhu ’anhu- yakni ابْتَلَيْنَاكَ بَلَاءً بَعْدَ بَلَاءٍ, begitu pula penafsiran Qatadah dan Abu Ubaidah yang intinya adalah bala’. Imam Abu Ibrahim pun merincinya.
Kelima, Bermakna عذاب الناس (Siksaan Manusia)
            Misalnya dalam QS. Al-’Ankabût [29]: 10: (جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ) dalam atsar Abu Ubaidah radhiyallâhu ’anhu- memaknainya yakni أذى الناس yakni siksaan manusia. Dan QS. Al-Nahl [16]: 110: {ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا}, Abu Ubaidah mengatakan yakni mereka disiksa ke dalam api.
Keenam, Bermakna الحرق بالنار (Siksaan dengan Api).
            Misalnya dalam QS. Al-Burûj [85]: 10; {إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ}, Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ’anhu- berkata yakni dengan pembakaran (حَرَّقُوا) begitu pula penafsiran al-Kisa’i yakni mereka membakarnya orang-orang beriman dengan api (حَرَّقُوهُمْ بِالنَّارِ), meski al-Hasan dan Mujahid menafsirkannya yakni dengan siksaan (عَذَّبُوا). Mujahid pun ketika menafsirkan kata (يُفْتَنُونَ) dalam QS. Al-Dzâriyât [51]: 13: {يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُونَ} yakni mereka dibakar (يُحْرَقُونَ), hal serupa dijelaskan oleh Ikrimah radhiyallâhu ’anhu-. Al-Dhahhak pun ketika menafsirkan kata tersebut, menjelaskan yakni ”mereka dibakar sebagaimana api ditempa dengan api” (يُطْبَخُونَ كَمَا يُفْتَنُ الذَّهَبُ بِالنَّارِ). Mujahid pun ketika menafsirkan QS. Al-Dzâriyât [51]: 14; (ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ) menjelaskan yakni (حَرِيقَكُمْ).
Ketujuh, Bermakna الصَّدُّ، وَالِاسْتِنْزَالُ (Menghalang-halangi)
            Misalnya dalam QS. Al-Isrâ’ [17]: 73: {إِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ}, begitu pula dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 49: {وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ}, Abu Ubaidah radhiyallâhu ’anhu- menafsirkannya yakni menyesatkanmu dan menurunkan derajatmu (يُضِلُّوكَ يَسْتَنْزِلُوكَ).
Kedelapan, Bermakna الْفِتْنَةُ الضَّلَالَةُ (Fitnah Kesesatan)
            Misalnya dalam QS. Al-Shaffât [37]: 162; {مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ}, Ibnu Abbas radhiyallâhu ’anhu- menafsirkannya yakni بِمُضِلِّينَ, pendapat serupa diungkapkan al-Dhahhak, dan dirinci oleh Al-Farra’. Begitu pula dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 41: {وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ} yakni kesesatannya (ضَلَالَتَهُ).
Kesembilan, Bermakna الْمَعْذِرَةُ (Argumentasi)
            Misalnya dalam QS. Al-An’âm [6]: 23; {ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ}, Qatadah menafsirkan yakni argumentasi (dusta) mereka (مَعْذِرَتُهُمْ).
Kesepuluh, Bermakna الِافْتِتَانُ، وَالْإِعْجَابُ (Berbangga)
            Misalnya dalam QS. Yûnus [10]: 85; {لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ} Abu Mijlaz menafsirkannya yakni: Mereka berdo’a رَبَّنَا لَا تُظْهِرْهُمْ عَلَيْنَا فَيَرَوْنَ أَنَّهُمْ خَيْرٌ مِنَّا. Mujahid menafsirkannya:
سَأَلَ رَبَّهُ أَنْ لَا يَظْهَرَ عَلَيْنَا عَدُوُّنَا، فَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ أَوْلَى بِالْعَدْلِ فَيُفْتَنُونَ بِذَلِكَ
”Mereka berdo’a kepada Rabb-nya agar Dia tidak memberikan kemenangan musuh atas diri kami, sehingga musuh-musuh tersebut mengira bahwa mereka lebih utama sehingga merasa bangga dengan hal tersebut.”
            Ikrimah radhiyallâhu ’anhu- menafsirkannya yakni agar mereka (kaum kafir) tidak merasa lebih baik daripada diri kami.
Kesebelas, Bermakna الْقَتْلُ (Pembunuhan)
            Misalnya dalam QS. Al-Nisâ’ [3]: 101; {إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا} dan QS. Yûnus [10]: 83; {عَلَى خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ}, bermakna mereka membunuhnya.[8]

Penjelasan Para Ulama Tafsir Mengenai Makna Fitnah dalam Ayat
Lalu apa makna fitnah dalam ayat-ayat di atas yang seringkali disalahtafsirkan untuk membenarkan pemahaman keliru ”fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”? Imam Mujahid pun ketika menafsirkan ayat yang agung ini:
{وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ}
Dan fitnah lebih besar daripada pembunuhan. (QS. Al-Baqarah [2]: 217)
Ia memaknainya yakni al-syirk (kesyirikan).[9]
            Disebutkan oleh al-Mubarakfuri bahwa kata al-fitnah termasuk perbuatan-perbuatan yang bersumber dari Allah dan dari hamba-Nya. Jika al-fitnah tersebut dari Allah maka ia mengandung hikmah (kebaikan) dan jika datang dari manusia di luar apa yang diperintahkan Allah maka ia tercela, dan telah ada celaan bagi manusia karena menimbulkan fitnah sebagaimana dalam firman Allah ’Azza wa Jalla:
{وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}
Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 191)
Para salaf dari golongan sahabat dan tabi’in, seperti Ikrimah, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, Abu al-’Aliyah, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, al-Dhahhak, al-Rabi’ bin Anas ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan bahwa kesyirikan lebih berat daripada dosa membunuh (الشِّرْكُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ).[10] Pendapat mereka pun dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya.[11]
Al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) pun menjelaskan:
"والفتنة أشد من القتل"، والشرك بالله أشدُّ من القتل.
“(Dan fitnah lebih berat perkaranya daripada pembunuhan) dan perbuatan menyekutukan Allah lebih besar perkaranya daripada pembunuhan.”[12]
Hal serupa ditegaskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Wahidi (w. 468 H)[13], Imam al-Sam’ani (w. 489 H) dalam tafsirnya[14], dan para ulama lainnya.
Imam Abu Bakr al-Jashshash (w. 370 H) menjelaskan secara terperinci (dan fitnah itu lebih besar perkaranya daripada pembunuhan) diriwayatkan dari segolongan ulama salaf bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat ini adalah kekufuran, dan dikatakan bahwa sesungguhnya mereka telah menimbulkan fitnah terhadap orang-orang beriman dengan siksaan dan perbuatan mereka memaksa kepada kekufuran dan mencela orang-orang beriman atas perbuatan Waqid bin Abdullah dan ia termasuk sahabat Nabi –shallallâhu ’alayhi wa sallam- yang membunuh ‘Amru bin al-Hadhrami seorang musyrik pada bulan Haram, dan mereka berkata: “Sungguh Muhammad telah menghalalkan peperangan pada bulan Haram” lalu turunlah ayat (Dan fitnah itu lebih besar perkaranya daripada pembunuhan) yakni kekufuran dan penyiksaan mereka atas orang-orang beriman di Negeri Haram (Makkah al-Mukarramah) dan di bulan Haram lebih kejam dan lebih besar dosanya daripada pembunuhan di bulan Haram.[15]
Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasythah (Amir HT) pun menjelaskan dalam kitab tafsirnya:
أصل (الفتنة) في لغة العرب عَرْضُ الذهبِ على النار لتنقيته من الغش، ثم استُعمِل في معنى الابتلاء للمؤمنين بتعذيبهم، ومحاولة صرفهم عن دينهم، وصدهم عن سبيل الله، ونشر الشرك بينهم، وهي هنا كذلك فإنها بيان من الله للمؤمنين أن لا يتقاعسوا عن قتال الكفار، فهم قد حاولوا فتنتهم عن دينهم بشتى أنواع العذاب، والفتنة أشد من القتل، فكأنهم قتلوا المؤمنين مرارا بمحاولة فتنتهم تلك، فلينشط المؤمنون في قتالهم دون هوادة.
“Asal-usul kata fitnah dalam bahasa arab adalah memanaskan emas ke dalam api untuk dibersihkan dari karat, kemudian digunakan dalam makna ujian bagi orang-orang beriman menghadapi penyiksaan mereka (kaum kafir), dan upaya kaum kafir menyesatkan orang-orang yang beriman dari Din mereka (Dinul Islam) dan menghalanginya dari jalan Allah, dan menyebarkan kesyirikan di antara mereka, dan kata fitnah dalam ayat ini pun merupakan penjelasan dari Allah bagi orang-orang yang beriman agar tidak lemah dalam memerangi orang-orang kafir tersebut, dimana mereka telah mencoba menimpakan fitnah kepada mereka dalam Din mereka dengan beragam jenis siksaan, dan fitnah ini lebih berbahaya daripada pembunuhan, seakan-akan bahwa mereka telah membunuhi orang-orang yang beriman berulang-ulang kali upaya menimpakan fitnah tersebut, maka bergeraklah orang-orang beriman dalam memerangi orang-orang kafir ini tanpa bersikap lemah.”[16]
Dan bisa dinyatakan bahwa mayoritas ahli tafsir menafsirkan fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesyirikan, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Tsa’labi (w. 427 H) dalam tafsirnya.[17]

Dalil-Dalil Al-Sunnah Penguat Penafsiran
Pertama, Kesyirikan Lebih Besar Perkaranya Daripada Pembunuhan
Dan kesyirikan, jelas lebih besar dosanya daripada dosa membunuh jiwa yang darahnya tak halal untuk ditumpahkan meski keduanya sama-sama termasuk perkara besar. Hal itu kian diperjelas dengan hadits shahih, dari Abu Hurairah –radhiyallâhu ’anhu-, bahwa Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ»
Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan
            Para sahabat bertanya: “Apa itu wahai Rasulullah?” Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- menjawab:
«الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ»
Menyekutukan Allah, mengamalkan sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali karena alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari medan jihad yang sedang berkecamuk, dan menuduh zina wanita baik-baik yang beriman.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya)[18]
            Dari hadits ini, menyekutukan Allah disebutkan pertama, dan membunuh orang yang tidak halal darahnya ditumpahkan pada urutan ketiga. Di sisi lain, jelas bahwa dosa syirik mengeluarkan pelakunya dari Islam, menghapuskan amal baiknya, menjadikannya kekal di neraka, sedangkan dosa membunuh sekalipun ia dosa yang sangat besar namun tidak lantas mengeluarkan pelakunya dari Islam. Namun sebagai tambahan, mengomentari hadits ini, Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) berkata:
وليس في تقييده ذلك بالسبع منع الزيادة عليهم و إنما فيه تأكيد اجتنابهن
“Dan dalam pembatasan hadits ini dengan tujuh perkara tidak menjadi halangan tambahan (jenis dosa besar lainnya) atasnya dan yang sesungguhnya (maksud) didalamnya adalah penegasan untuk menjauhi tujuh perkara tersebut.”[19]
Ditegaskan dalam hadits lainnya, dari ’Abdullah bin Mas’ud –radhiyallâhu ’anhu-, ia berkata: ”Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar?” Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ» 
Engkau mengadakan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang menciptakanmu.
Ibnu Mas’ud bertanya lagi: ”Lalu apa?” Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ»
Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu (yakni takut miskin-pen.).” (HR. Al-Bukhari[20], Ahmad[21], Ma’mar bin Rasyid[22] dll)

Kedua, Membunuh Lebih Besar Dosanya daripada Dosa Memfitnah
Dalam hadits di atas mengenai tujuh perkara yang membinasakan, Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- merincinya yakni:
«الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ» 
Menyekutukan Allah, mengamalkan sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali karena alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari medan jihad yang sedang berkecamuk, dan menuduh zina wanita baik-baik yang beriman.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya)
Dalam hadits ini, dosa qadzf yang hakikatnya memfitnah, disebutkan pada urutan ketujuh setelah sebelumnya, dosa membunuh jiwa yang tidak halal darahnya untuk ditumpahkan disebutkan pada urutan ketiga. Ini mengisyaratkan bahwa dosa membunuh lebih besar daripada dosa memfitnah.
Dan berdasarkan dalil hadits, dari ’Abdullah bin Mas’ud –radhiyallâhu ’anhu- berkata bahwa Nabi –shallallâhu ’alayhi wa sallam- bersabda:
«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»
Mencela seorang muslim itu suatu kefasikan dan membunuhnya merupakan kekufuran.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad[23] dan dalam Shahîh-nya[24], Muslim dalam Shahîh-nya[25], Ahmad dalam Musnad-nya[26], Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya[27], Al-Humaidi dalam Musnad-nya[28], dll)
Hadits yang mulia ini mengisyaratkan bahwa dosa membunuh lebih besar perkaranya daripada dosa lisan, seperti mencela, termasuk menuduh, hal itu ditunjukkan dari bentuk celaan Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- atas keduanya. Dosa mencela (lisan) dikatakan fusûq (kefasikan) sedangkan membunuh dikatakan kufr (yakni kufrun dûna kufrin)[29] yang menunjukkan celaan kuat. Sedangkan celaan dalam kata kufr lebih kuat daripada kata fusûq. Sebagaimana diisyaratkan Allah ’Azza wa Jalla yang berfirman:
{وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ} 
”Akan tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurât [49]: 7)
            Hal itu sebagaimana penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (w. 852 H) yang menjelaskan hadits di atas menukil dalil QS. Al-Hujurât [49]: 7 ini:
قَوْلُهُ فُسُوقٌ الْفِسْقُ فِي اللُّغَةِ الْخُرُوجُ وَفِي الشَّرْعِ الْخُرُوجُ عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَهُوَ فِي عُرْفِ الشَّرْعِ أَشَدُّ مِنَ الْعِصْيَانِ 
”Sabda Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- fusûq, yakni al-fisq yang secara bahasa bermakna al-khurûj (keluar) dan secara syar’i bermakna keluar dari keta’atan terhadap Allah dan Rasul-Nya dan al-fisq ini dalam tradisi syari’at lebih besar daripada istilah al-’ishyaan (kemaksiatan).”[30]
            Al-’Asqalani pun merinci bahwa perbuatan membunuh lebih berat daripada dosa mencela, karena membunuh berkonsekuensi pada hilangnya nyawa, dimana Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- mengungkapkannya dengan lafazh yang lebih kuat daripada lafazh al-fisq yakni al-kufr namun yang beliau –shallallâhu ’alayhi wa sallam- maksudkan bukan kufur hakiki yang mengeluarkan seseorang dari millah, melainkan beliau –shallallâhu ’alayhi wa sallam- menyebutkannya al-kufr sebagai bentuk penguatan dalam peringatan.[31]
            Imam al-Manawi (w. 1031 H) pun menjelaskan hal serupa dalam penjelasannya, yakni mengandung penyerupaan dengan perbuatan orang kafir atau kufur secara bahasa, dan mengandung unsur mubâlaghah (penguatan) dalam ancaman tersebut.[32]

Kesimpulan
Maka jelas bahwa ungkapan fitnah (keburukan lisan menuduh pihak lain melakukan suatu keburukan) lebih kejam daripada pembunuhan jelas tidak benar jika menukil dalil al-Qur’an:
{وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ}
Dan fitnah lebih berat daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 191)
Karena yang benar dari makna ayat ini bahwa kesyirikan lebih besar perkaranya daripada dosa membunuh. Meski sebenarnya baik membunuh, maupun memfitnah merupakan dua perkara besar, dosa besar. Wallâhu a’lam bi al-shawâb. []




[2] Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad (al-Raghib al-Ashfahani), Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Ed: Shafwan ‘Adnan al-Dawudi, Beirut: Dâr al-Qalam, cet. I, 1412 H, juz I, hlm. 623.
[3] Abu al-‘Ala Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jâmi’ al-Tirmidzi, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz VI, hlm. 310.
[4] ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1427 H/2006, hlm. 237.
[5] Abdul Halim Muhammad Qunabis, Mu’jam al-Alfâzh al-Musytarakah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah, Beirut: Maktabah Lubnan, 1987, hlm. 18.
[6] Dalam kitab Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’ dijelaskan bahwa Al-Musytarak itu adalah isim maf’ul berasal dari kata isytaraka fil amr (berserikat dalam suatu hal): yakni menjadi bagian darinya.
[7] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ-is, cet. II, 1408 H, hlm. 430.
[8] Ibrahim Ishaq al-Harbi Abu Ishaq, Gharîb al-Hadîts, Ed: Dr. Sulaiman Ibrahim Muhammad, Makkah: Jâmi’at Umm al-Qura’, cet. I, 1405 H, juz III, hlm. 930-939.
[9] Ibrahim Ishaq al-Harbi Abu Ishaq, Gharîb al-Hadîts, juz III, hlm. 930-939.
[10] Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin Muhammad al-Hanzhali al-Razi Ibnu Abi Hatim, Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim, Ed: As’ad Muhammad al-Thayyib, KSA: Maktabah Nazzâr Mushthafa al-Bâz, cet. III, 1419 H, juz I, hlm. 326.
[11] Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyq, Tafsiir al-Qur’ân al-’Azhiim, Ed: Sami bin Muhammad Salamah, Dâr Thayyibah, cet. II, 1420 H/1999, juz I, hlm. 525.
[12] Muhammad bin Jarir bin al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Ed: Ahmad Muhammad Syakir, Beirut: Mu’assasatur Risâlah, cet. I, 1420 H/2000.
[13] Abu al-Hasan ‘Ali bin Ahmad Al-Wahidi, Al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, Ed: Shafwan ‘Adnan Dawudi, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. I, 1415 H.
[14] Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad al-Maruzi al-Sam’ani, Tafsiir al-Qur’ân, Ed: Yasir bin Ibrahim dkk, Riyadh: Dâr al-Wathan, cet. I, 1418 H/1997, juz I, hlm. 192.
[15] Ahmad bin Ali Abu Bakr al-Râzi al-Jashshash, Ahkâm al-Qur’ân, Ed: Muhammad Shadiq al-Qamhawi, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, 1405 H.
[16] ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, hlm. 237.
[17] Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Ed: Abu Muhammad bin ‘Asyur, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, 1422 H.
[18] HR. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (IV/10, no. 2766); Muslim dalam Shahîh-nya (I/64, no. 175); Abu Dawud dalam Sunan-nya (III/74, no. 2876); Abu ’Awanah dalam Musnad-nya (I/58, no. 148); Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (12/371, no. 5561); Al-Nasa’I dalam Sunan-nya (VI/568, no. 3673); Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubrâ’ (VI/464, no. 12667).
[19] Abu Bakr Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, Ed: Dr. Abdul ‘Ali ‘Abdul Hami, Riyadh: Maktabat al-Rusyd, cet. I, 1423 H/2003, juz I, hlm. 450.
[20] Muhammad bin Isma’il Abu ‘Abdullah al-Bukhari, Al-Jâmi’ al-Shahîh al-Mukhtashar, Ed: Dr. Mushthafa Dib al-Bugha, Beirut: Dâr Ibn Katsir, cet. III, 1407 H/1987, juz VI, hlm. 2517.
[21] Abu ’Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad al-Imâm Ahmad bin Hanbal, Ed: Syu’aib al-Arna’uth dkk, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1421 H/2001, juz VII, hlm. 200-201, hadits no. 4131. Syu’aib al-Arna’uth menegaskan bahwa hadits ini shahih menurut syarat syaikhayn.
[22] Ma’mar bin Abi ‘Amru Rasyid al-Bashri, Al-Jâmi’, Ed: Habiburrahman al-A’zhami, Pakistan: Al-Majlis al-‘Ilm, cet. II, 1403 H, juz X, hlm. 464.
[23] Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim al-Bukhari, Al-Adab al-Mufrad, Riyadh: Maktabat al-Ma’ârîf, cet. I, 1419 H/1998, juz I, hlm. 221, hadits no. 431.
[24] Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim al-Bukhari, Al-Jâmi’ al-Shahîh al-Mukhtashar (Shahîh al-Bukhârî), Ed: Dr. Mushthafa Dib al-Bugha’, Beirut: Dâr Ibn Katsîr, cet. III, 1407 H/1987, juz V, hlm. 2247, hadits no. 5697.
[25] Abu al-Husain Muslim bin al-Hijaz al-Naisaburi, Al-Musnad al-Shahîh al-Mukhtashar (Shahîh Muslim), Beirut: Dâr al-Jîl, juz I, hlm. 57, hadits no. 133.
[26] Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad al-Imâm Ahmad bin Hanbal, Ed: Syu’aib al-Arna’uth dkk, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1421 H/2001, juz VI, hlm. 157-158, hadits no. 3647. Disebutkan muhaqqiq-nya bahwa hadits ini shahih sesuai syarat syaikhayn (al-Bukhari dan Muslim).
[27] Abu Dawud Sulaiman bin Dawud al-Thayalisi, Musnad Abi Dâwud al-Thayâlisi, Mesir: Dâr Hijr, cet. I, 1419 H/1999, juz I, hlm. 207, hadits no. 256.
[28] Abu Bakr ‘Abdullah bin al-Zubair al-Humaidi al-Makki, Musnad al-Humaidi, Damaskus: Dâr al-Saqâ, cet. I, 1996, juz I, hlm. 212, hadits no. 104.
[29] Muhammad bin ‘Isa Abu ‘Isa al-Tirmidzi, Al-Jâmi’ al-Shahîh Sunan al-Tirmidzi, Ed: Ahmad Muhammad Syakir dkk, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, juz V, hlm. 21, hadits no. 2635.
[30] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-‘Asqalani, Fat-h al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379, juz I, hlm. 112.
[31] Ibid.
[32] ‘Abdurra’uf bin Tajul ‘Arifin bin ‘Ali al-Manawi al-Qahiri, Faydh al-Qadîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Mesir: al-Maktabah al-Tijâriyyah al-Kubrâ’, cet. I, 1356 H, juz IV, hlm. 505.